
Asap tipis menari-nari di udara, seiring hembusan nafas yang keluar dari mulutnya. Morgan menyadarkan punggungnya di kursi kebesarannya sambil menikmati sebatang rokok yang di bakarnya, terkadang ia akan memejamkan mata untuk menikmati kesunyiannya, kesendirian tanpa ada sandaran tempat dirinya melepas lelah.
Sikapnya yang dingin dan arogan terhadap bawahannya, membuatnya semakin kesepian karena tak ada satupun yang berani berkutik didepannya. Tak ada yang tahu gejolak batin yang menderanya.
Terdengar derap langkah kaki beberapa orang yang mendekat, seketika itu Morgan membuka matanya.
"Tuan. Bos Viktoria mengirimkan para wanita muda ini untuk menemani tuan, sebagai ucapan selamat atas keberhasilan tuan menaklukkan beberapa gangster yang berada di bawah kekuasaan serigala hitam." Ucap Alex sambil mengantarkan para wanita itu kehadapan Morgan.
Matanya langsung menatap setiap jengkal tubuh wanita-wanita yang ada di depannya. Terlihat sangat jelas wanita-wanita itu masih muda, cantik dan juga sangat menggoda. Tapi entah kenapa ia merasa tak tertarik dengan mainan yang ada di depannya itu.
"Katakan pada bos kalian, aku terima hadiahnya, dan karena kalian sudah menjadi milikku, aku perintahkan kalian pergi dari sini dan aku tidak menginginkan wanita penghibur seperti kalian menginjakkan kaki di sini. Cepat pergi sebelum aku berubah pikiran!" perintah Morgan. yang tak berselera melihat wanita-wanita itu.
Mereka pun segera berlari keluar sesuai perintah Morgan dan meninggalkan markas dengan ketakutan.
Aditiya terkejut dengan sikap Morgan yang tiba-tiba menolak wanita-wanita itu. "Tuan, kenapa tuan menolak mereka? Bukankah Tuan-"
"Ini bukan tempat pelac*uran, jika aku menginginkan aku bisa pergi ke sana."
"Baiklah saya paham. Jika tuan Rudolf masih ada, dia pasti akan sangat bangga dengan sikap tuan yang bijak, bisa memilah dan membedakan antara pribadi dan kepentingan bersama," ucap Aditiya yang baru saja datang dan duduk di salah satu sofa.
Sedangkan Alex masih tak percaya dengan bosnya yang membuang wanita-wanita cantik itu dengan percuma. Andai dia di tawari satu, mungkin ia akan mengiyakannya.
"Alex... Kenapa kamu masih berdiri di situ, apa masih ada yang ingin kamu katakan?" tanya Aditiya dengan santai.
"Anu.. Bos... Itu... Ah sudahlah. Saya permisi dulu." Alex 'pun membalikkan badan dan ingin pergi.
__ADS_1
"Tunggu!" Morgan menghentikan langkah Alex. Alex pun membalikkan badan dan kembali dan menatap Morgan. Hanya Alex yang berani menatap Morgan secara langsung. Sejak pertemuannya pertama kali itu. Morgan sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Usianya yang muda dan penuh ambisi membuat Morgan semakin menyukainya.
"Kau menginginkan gadis-gadis tadi?" Tanya Morgan dan Alex hanya menggaruk kepala malu-malu.
"Pergilah, habiskan waktumu seharian ini untuk bersenang-senang. Tidak ada kesempatan kedua untuk hari esok. Cepat pergi, menghilang lah dari pandanganku!" perintah Morgan dan dengan senang hati Alex bergegas pergi.
* * * *
Disisi lain, Lusiana sedang di bantu dua Maid mengenakan baju, setelah selesai mengobati luka-luka yang belum sembuh.
Lusiana benar-benar hidup seperti hewan. Di kurung dalam kamar sepanjang hari. Tak ada celah sedikitpun untuk dia bisa keluar dari kamar tersebut.
Aditiya yang di beri tanggung jawab untuk menjaga dan mengawasi Lusiana.
Aditiya masuk dan menghampiri Lusiana, hanya untuk menyampaikan pesan dari Morgan.
"Kenapa aku harus menemuinya? Apakah dia ingin menghukum lagi? Kenapa dia tidak membunuhku saja, agar dia puas membunuhku dengan tangannya sendiri?"
"Anda tidak akan bisa mati dengan mudah Nona. Bahkan jika Nona memohon seribu kali, Tuan Morgan tidak akan mengabulkan itu." jelas Aditiya.
"Kalian semua benar-benar jahat, Tidak punya hati. Kalian hanya bisa menyiksa saja dan menyakiti orang saja. Apa pantas Pria seperti itu menjadi pimpinan? Hah..."
"Tutup mulut Nona, sekali lagi kamu berani menghina, Aku akan menyiksamu jauh lebih kejam dari Tuan Morgan. Asal kamu tahu, tangan ini ingin sekali segera melenyapkan kamu, sejak pertama kali kamu menginjakkan kaki di markas ini. Sama seperti Ayahmu dengan mudahnya memfitnah dan membunuh Dragon dengan keji." Aditiya benar-benar marah dan hampir tidak bisa mengontrol emosinya untuk segera melenyapkan Lusiana atas dendam yang masih tersimpan. Untung saja para maid itu masih mengingatkan Aditiya untuk tahan emosi.
******
__ADS_1
"Tolong... Tolong aku..." suara lirih yang sudah tak bertenaga, menghebohkan markas Dragon. Bagaimana tidak, Salah satu anak buah Morgan yang pergi bersama dengan Alex kembali dengan bersimbah darah di tubuhnya, luka tusukan di beberapa bagian tubuhnya yang fatal, membuat nafasnya terputus -putus dan berada di ambang kematian.
Salah satu anak buah datang menghampiri Morgan dengan tergesa-gesa, dan segera menemukan Morgan yang tengah duduk di meja makan dan hendak makan malam bersama Gion.
"Tuan-" ia menghentikan ucapannya sejenak, mengatur nafas yang memburu. " gawat tuan, Adul tuan, Adul di tikam." tuturnya, sambil menunjuk keluar, agar Morgan segera memeriksanya.
Braaakkk....
Morgan memukul meja, selera makannya langsung hilang. Ia pun segera meraih mantel hitam yang sebelumnya tergantung di belakang kursi.
Dengan langkah lebarnya, Morgan segera menghampiri Adul yang masih tergeletak dengan nafas terputus-putus.
" T-tuan, se-selamat A-alex, d-dia di- se- se-kap, Anak buah Se-serigala Hitam, di- dia ter-terluka. hah... hah.." Adul pun hampir memutus nyawa.
Kkrrraakkk
Morgan mematahkan leher Adul, agar tak merasakan sakit lagi. Adul pun terkulai di lantai tanpa nyawa lagi.
"Eesssttt. mengerikan... orang sudah sekarat, malah di patahkan lehernya, menyiksa," lirih Gion, yang melihat langsung apa yang di lakukan Morgan, sangat keji memang, tapi begitulah Morgan.
" Jika kamu tak ingin melihat hal seperti ini, lebih baik masuk kamar dan tidur. Aku tidak pernah menyuruhmu untuk melihat apa yang aku lakukan, Kau terlalu lemah dalam hal ini sikapmu sama seperti banci." Hina Morgan, namun Gion tidak tersinggung, Ia sudah paham betul dengan sikap Morgan.
Morgan pun memerintahkan untuk menyisihkan mayat Adul dan membuangnya sejauh-jauhnya.
"Siapkan pasukan, malam ini kita habisi mereka semuanya. Tidak ada kata besok atau lusa, kita selesaikan semuanya malam ini juga!" Perintah Morgan setengah berteriak. Amarahnya memuncak, tak ada kata lain yang bisa di ungkap selain 'Bantai habis mereka semua'.
__ADS_1
To be continued 🙂🙂🙂