
Di dalam sebuah kamar terdapat sepasang suami istri yang baru saja melangsungkan acara pernikahan. Kamar tersebut sudah di hias dengan khas layaknya kamar pengantin baru, dengan bunga mawar bertebaran di kasur yang di buat berbentuk hati serta di tengahnya terdapat dua buah handuk yang sudah di bentuk menjadi dua ekor angsa yang saling berhadapan dan lampu utama yang sudah di matikan yang hanya menyisakan lampu tidur yang menyala. Suasana tersebut sangat cocok untuk melakukan kegiatan suami istri apalagi untuk sepasang pengantin baru.
Akan tetapi tampaknya suasana itu tidak berlaku untuk sepasang pengantin yang satu ini, pasalnya suasana Keduanya sangatlah aneh dan mencekam terlihat dari tatapan tajam sang wanita kepada pasangannya yang hanya di balas tatapan santai namun tersirat merendahkan dari pasangannya itu.
Keduanya tengah duduk di sebuah sofa kecil yang sudah tersedia di sana dengan posisi yang saling berhadapan di dampingi dua gelas dan 1 botol wine yang tersedia di meja.
" Tidak baik menatap suamimu dengan tatapan seperti itu, istriku." kekeh Xanandra meneguk wine yang tersedia di sana dengan kaki yang di silangkan sembari menatap istrinya itu dengan tatapan meremehkan.
Melihat tatapan sang suami, tangan Adisha mengepal, dirinya tersinggung akan tetapi dia sadar di mana posisinya sekarang, dia tidak bisa bersikap sembarangan dan hanya bisa memendam kekesalan di dalam hatinya.
Apalagi mengingat keluarganya yang sudah membuangnya sekarang, dia hanya bisa sabar dan mencari tahu sebenarnya dendam apa yang laki - laki itu punya terhadapnya.
Salah satu alasan mengapa dia tetap menerima lamaran laki - laki ini karena dirinya sudah tidak kuat menerima perbuatan keluarganya kepada dirinya dan lebih memilih berada di sisi laki - laki ini. Selain itu, dia juga punya alasan lain mengapa dia menerimanya dan itu berhubungan dengan masa lalunya yang mungkin bersangkutan dengan dendam yang laki - laki ini katakan padanya.
" Memangnya tatapan saya seperti apa, tuan Xanandra?" tanya Adisha melembutkan tatapannya sembari tersenyum manis yang terlihat sekali di paksakan.
Mendengar jawaban sang istri, Xanandra menaikan alisnya dengan bibir yang tertarik membentuk seringai kecil.
" Entahlah, mungkin semacam tatapan singa betina yang sedang birahi." ejek Xanandra.
Tentu ucapan Xanandra semakin membuat kekesalan dan amarah Adisha meningkatkan, terlihat dari rona wajah yang kian memerah karena emosi yang tertahan.
" Haha sepertinya pengamatan anda tidak terlalu baik ya tuan." Jawab Adisha dengan nada sinis.
" Ya sepertinya begitu, atau mungkin karna pencahayaan kamar ini yang tidak terlalu baik, sepertinya kamar ini khusus untuk pasangan yang akan memadu kasih." Ucap Xanandra dengan ringan akan tetapi Adisha tahu ada makna yang tersembunyi dari ucapannya itu, maka dari itu Adisha memilih untuk diam dan tidak menjawabnya.
Adisha mengalihkan ekstensinya Kepada segelas wine yang sedari tadi belum dia minum, dia memutuskan untuk mengambil wine itu dan meneguknya.
" Aku tiba - tiba menjadi kasihan jika mengingat hal - hal yang mereka persiapkan untuk menghias kamar ini sedemikian rupa hingga cantik seperti ini." Tiba - tiba Xanandra mengatakan hal yang aneh menurut Adisha, dia pun langsung mengalihkan tatapannya kepada Xanandra yang terlihat sedang memperhatikan sekeliling kamarnya dengan ekspresi sedih.
" Apakah istriku ini tidak mau mengabulkan harapan mereka seperti harapan mereka terhadap pasangan lainnya." Akhirnya Adisha mengerti kenapa laki - laki ini mengatakan hal aneh sebelumnya. Sepertinya suaminya ini ingin bermain-main dengannya, jika seperti itu maka Adisha akan dengan senang hati meladeninya permainan suaminya ini.
" Jika dipikirkan lagi aku juga merasa sedih suamiku, pasti mereka capek menata bunga hingga menjadi cantik seperti itu." jawab Adisha yang membuat Xanandra cukup tersentak kaget, dia tidak mengira Adisha akan menjawab ucapannya seperti itu. Apalagi mendengar panggilan Adisha kepada dirinya.
__ADS_1
Melihat ekspresi kaget suaminya, Adhisa pun tersenyum puas dalam hati. Adisha pun semakin berani dalam meladeni permainan suaminya itu.
Di langkahkan kaki Adisha menuju suaminya dengan langkah pelan sambari tersenyum manis kepada Xanandra.
Setelah tepat berada di pinggir kursi yang di tempati Xanandra, Adisha kembali mengejutkan suaminya dengan kelakuannya, pasalnya Adisha sekarang mendudukkan dirinya di pangkuan Xanandra dengan tangan yang membelai lembut wajah mulus Xanandra.
" Apa yang kamu lakukan?" tanya Xanandra gugup, tentu dia gugup karena sungguh seumur hidupnya dia tidak pernah sedekat ini dengan wanita manapun.
" pertanyaan apa itu suamiku, bukankah kita harus melakukan apa yang seharusnya di lakukan oleh sepasang suami isteri." Jawab Adisha dengan suara yang mendayu serta tatapan mata yang menggoda, dalam hati dia terkekeh puas melihat wajah Xanandra yang terlihat kaget akan kelakuan itu.
Mendengar jawaban Adisha, Xanandra pun semakin gugup sehingga tidak mampu berbicara, dirinya tidak mengira Adisha seberani ini, karena menurut rumor yang beredar Adisha adalah perempuan yang pemalu hingga jarang menampakkan dirinya.
" Kamu tidak akan mengecewakan mereka yang sudah mempersiapkan kamar ini dengan sedemikian rupa kan?" Melihat ekspresi Xanandra yang semakin tak terkendali, Adisha pun menanyakan pertanyaan yang familiar di telinga Xanandra.
Sekarang Xanandra sedikit menyesal karena sudah bermain-main dengan yang namanya wanita. Awalnya Xanandra ingin mengerjai Adhisa karena setahu dirinya Adisha itu pemalu dan dia akan menggoda Adisha lalu membuat Adisha mencintainya setelah itu dia akan menghancurkan ekspetasi Adisha lalu membuat Adisha menderita sedikit demi sedikit seperti keinginannya.
Akan tetapi melihat kelakuan Adisha sekarang, sepertinya dia akan mengubah rencananya lagi dengan lebih teliti.
" Apakah istriku ini ingin melakukannya?" Tanya Xanandra menatap mata istrinya itu dengan tatapan menggoda, tampaknya dia telah mendapatkan kewarasannya kembali.
Tidak lama kemudian bibir keduanya pun bertemu, entah siapa yang memulai, pergulatan kedua bibir pun terjadi dan suhu ruangan pun kian memanas.
Setelah lima menit berlalu Adisha pun melepaskan pagutan bibirnya, terlihat benang saliva yang terhubung di antara kedua bibir itu.
Merasa kurang, Xanandra pun menarik tengku Adisha, berniat melanjutkan kegiatan tadi akan tetapi Adisha menahannya.
" Sebentar." Ucap Adisha dengan nafas yang sedikit terengah-engah.
" Kenapa?" Tanya Xanandra dengan nafas yang memburu, sungguh hasratnya sudah tidak bisa di tahan lagi. dia ingin segera melampiaskannya.
" Sepertinya kita tidak bisa melanjutkannya." Ucap Adisha dengan nada tenang sembari mengusap saliva yang tersisa di bibirnya.
Tentu saja ucapnya Adisha membuat Xanandra tidak terima dan mengeram marah.
__ADS_1
" Kenapa?" Tanyanya dengan nada serak dan pelan karena hasratnya yang tertahan.
" Aku baru ingat kalau sekarang aku sedang dapat tamu bulannan." Jawab Adisha enteng sembari bangun dari pangkuan Xanandra.
" Jadi kita lanjutkan lain kali saja ya, suamiku." Ucap Adisha lalu mengecup pipi Xanandra.
Setelah itu dia pergi dari sana melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana.
Melihat kepergian sang istri, Xanandra pun semakin marah dan kesal, dia tahu Adisha sengaja berbuat seperti itu dan bodohnya dia tadi sempat terlena oleh perbuatan Adisha.
Sekarang dia hanya bisa diam dan memendam kekesalan dan emosi di dalam hati, karena tidak mungkin dia melampiaskannya kepada Adisha, bukan karena kasian kepada Adisha, tapi karena dia tidak ingin wajahnya ini muncul di TV dengan kasus penganiayaan terhadap istri di malam pertamanya.
Setelah lama berdiam diri di sofa akhirnya Xanandra memutuskan pergi ke balkon kamarnya.
" Huh bodohnya aku percaya hanya berdasarkan rumor." kekeh Xanandra menertawakan dirinya karena menilai Adisha hanya berdasarkan rumor yang beredar.
Setelah melihat kelakuan Adisha bahkan dirinya sampai di permainkan seperti itu membuat dirinya ingin membanting siapapun yang menyebarkan rumor perihal sifat pemalu Adisha, karena rumor sialan itu membuat dirinya lengah dan malah dirinya yang di permainkan.
" Tapi tidak apa, ini malah menjadi semakin menarik." Monolog Xanandra dengan bibir yang terangkat keatas membentuk seringai.
Dirinya tiba - tiba teringat satu hal penting dan mengambil handphone miliknya dari saku jas yang dia paka, lalu menelponnya salah satu kontak yang ada di dalam handphonenya itu.
" Cari tahu apapun mengenai wanita yang bernama Adisha Lezana, putri kedua keluarga Lezana, saya tunggu secepatnya." Tanpa menunggu jawaban dari sang penerima telepon, Xanandra langsung mematikan teleponnya begitu saja dan memasukkan kembali handphone ke dalam saku jasnya.
Karena udara semakin dingin, Xanandra pun kembali menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Melihat Adisha yang sudah tertidur pulas di atas kasur, Xanandra pun menghampiri Adisha dan merebahkan tubuhnya di samping istrinya itu.
" Tak ku sangka ternyata wanita yang kukira seekor kelinci ini nyatanya adalah seekor singa heh, aku sangat menantikan pemberontakan apa yang di lakukan olehmu." Ucap Xanandra sembari menatap istrinya yang tertidur pulas dengan tangan yang mengelus lalu mencengkram kuat helai ujung rambut bagian bawah istrinya.
Setelah itu Xanandra pun memilih untuk memejamkan mata dan tertidur mengisi energi untuk hari esok.
...bersambung...
__ADS_1
*** Hallo teman - teman terimakasih sudah membaca karya saya, mohon dukungan dari teman - teman sekalian dengan cara like, komen dan vote cerita ini, terimakasih, Sampai jumpa di episode selanjutnya.***