DENDAM PERNIKAHAN

DENDAM PERNIKAHAN
Sayatan di Pergelangan Tangan


__ADS_3

Hana terbangun dengan kepala yang terasa sangat pusing. Dia memegangi kepalanya yang terasa seakan hampir meledak. Hana berusaha mengumpulkan kesadaranya.


Pandangan matanya samar, remang-remang tak terlihat jelas. Namun, Hana sebisa mungkin untuk menahan rasa sakit yang ia rasakan. Bukan hanya kepalanya saja yang terasa sakit, tetapi seluruh tubuhnya terasa nyeri. Apalagi di bagian tengah-tengah selangkangannya.


Hana menghela nafasnya. Kemudian memejamkan matanya kembali, sembari menyadarkan dirinya. Namun, setelah kesadarannya perlahan mulai kembali, keanehan merajai pikirannya. Hana membuka kedua matanya. Netranya tak luput dari tiap pernik ruangan tempat saat ini ia berada.


“Di mana ini? Kenapa aku bisa ada di sini?” gumamnya.


Hana menundukkan pandangannya. Pada saat itu juga, ia terhenyak tatakala menyaksikan keadannya saat ini.


Dia melihat tubuhnya yang polos, tak memakai sehelai kai pun. Kemudian, Hana menghempas selimut yang menutupi tubuhnya. Dia semakin terkecoh, ketika melihat sesuatu yang benar-benar tidak ingin dia percayai.


"Aaaa!!!” Hana berteriak. Dia tampak frustasi sembari mengacak-acak rambutnya. “Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin aku melakukan kesalahan seperti ini. Tidak, aku tidak mungkin melakukan perbuatan kotor seperti ini. Siapa yang melakukannya padaku? Kenapa meeka tega sekali melakukannya? Apa salahku?” Hana bertanya-tanya di dalam hatinya.


Hana merasa dia akan gila saat itu uga. Mendapati dirinya saat ini, membuatnya merasa jijik, dia semakin membenci diirnya sendiri.


Hana menampar-nampar wajahnya dengan kasar. Airmata tak lagi bisa terbendung oleh kelopak mata indahnya. Akhirnya, Hana menangis sejadi-jadinya.


Bisakah dunia hancur saat itu juga?


Hana merasakan kehancuran besar. Tidak adil baginya, jika dunia tidak ikut hancur bersamanya. Dia ingin hancur bersama duniq dan seisinya, agar siapa pun orang yang melakukan perbuatan keji kepadanya terkubur dalam dunia kehancuran bersamanya.

__ADS_1


Hana merangkul lututnya, menangis memeluk dirinya sendiri. Tidak ada penghiburan lain, selain dirinya yang memaksa untuk terus bertahan. Betapa menyedihkan dirinya saat ini, itulah yang terngiang-mgiamg dalam pikirannya.


Hana sepontan menghentikan tangisannya. Hana mengabaikan seluruh rasa sakit yang saat ini diderita olehnya. Akal sehatnya telah menghilang entah ke mana. Disautnya sebuah vas bunga kaca, lalu dia bantingkan ke atas lantai.


Vas kaca yang rapuh itu pun hancur berantakan. Menyedihkan, Hana membandingkan vas kaca itu dengan dirinya saat ini.


Sama dengannya, menyedihkan, hancur berkeping-keping dan berantakan. Namun, tujuan Hana memcahkan vas kaca itu bukanlah untuk melihat sesuatu yang sama menyedihkannya dengannya.


Dengan sigap, Hana menurunkan tubuhnya dan mengambil salah satu serpihan pecahan kaca yang hancur. Akal sehat Hana telah menghilang, dia menggenggam erat pecahan kaca itu, hingga membuat telapak tangannya meneteskan darah segar. Tatapan matanya tajam bak mata elang, tetapi terkandung kehampaan dan keputusasaan.


Kemudian, Hana beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju kamar mandi dan masuk ke dalamnya. Diliriknya sebuah kran dan bak mandi, lalu dihidupkannya keran itu. Air yang mengalir dari keran mengisi bak mandi secara perlahan.


SREK!!!


Netra Hana berkunang-kunang, sendi lututnya mulai melemas. Lalu, tubuh Hana pun merosot. Dia terjatuh ke atas lantai dengan kondisi pipi kirinya yang ia sandarkan di bak mandi. Lengan kirinya tak hentinya meneteskan darah. Darahnya menetes, lalu menggenang bercampur air yang ditampung di dalam bak mandi.


“Hana, apa yang kau lakukan?!!!” Tiba-tiba terdengar suara jeritan seseorang yang menyerukan namanya. Hana yang berada dalam kondisi setengah sadar pun berusaha membuka matanya dan memastikan siapa yang tengah datang menghampirinya. Namun, belum sempat ia melakukannya, Hana sudah tak sadarkan diri.


Seseorang yang tiba-tiba datang adalah Rey. Rey tertegun tatkala melihat kondisi Hana saat ini. Tanpa banyak kata-kata, Rey mengangkat tubuh Hana dan mengeluarkanya dari dalam kamar mandi.


Rey membaringkan tubuh Hana di atas kasur. Kemudian, Rey melepaskan seluruh pakaian yang atasan yang dikenakannya. Dia menyobek kaos dalamnya menjadi ukuran panjang. Benar, Rey menggunakannya sebagai ganti kain kasa untuk menghentikan pendarahan di pergelangan tangan Hana.

__ADS_1


Situasi saat ini tak lagi memungkinkannya untuk membeli kain kasa dan sebagainya. Dia hanya bisa melakukan pertolongan pertama seadanya. Rey mengikat kencang pergelangan tangan Hana untuk menghentikan pendarahannya.


“Hana, apa sebenarnya yang kau lakukan sekarang? Kenapa kau … .” Rey menggantung ucapannya, kala melihat penampakan yang menjelaskan segala pertanyaan menggebu-gebu yang tersimpan di dalam otaknya. Percikan noda darah di atas seprei menjawab semua pertanyaan yang terpendam di dalam otaknya.


“Siapa bajingan yang berani melakukannya kepada Hana?!! Jika aku menemukannya, aku pasti akan langsung membunuhnya,” geramnya.


Sesaat kemudian, Rey teringat akan satu hal. Sebuah kebodohan hakiki yang menuntunnya menemukan sebuah jawaban. Dengan bodoh dan cerobohnya, Rey lupa menguci pintu kamar. Hotel, tempat banyaknya kesalahan yang mirip bisa terjadi sewaktu-waktu.


Rey merasa bersalah kepada Hana. Namun, saat ini bukan saatnya untuk menyelediki dan merenungkan kesalahannya. Saat ini, keselamatan Hana adalah proritas utama.


Untung saja, Rey hari ini memakai pakaian dobel-dobel. Long Cout, dalamnya kemeja lengan pendek, lalu kaus. Kausnya sudah digunakan untuk menghentikan pendarahan di pergelangan tangan Hana, kini sudah sobek tak karuan. Sedangkan saat ini, Rey hanya akan mengenakan kemejanya kembali. Tubuh Hana yang polos harus ia tutupi. Karena melihat dress yang dikenakan Hana sobek tak karuan, Rey pun menutupi tubuh polos Hana dengan long cout miliknya, atau disebut jaket panjang.


Rey mengangkat tubuh Hana dan menggendongnya dalam rangkulannya. Mereka keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil Rey untuk menuju ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Rey pun kembali mengangkat tubuh Hana dan membawanya ke UGD. Seorang dokter pun datang untuk menyelamatkan dan menangani kondisi Hana.


Hana menyayat pergelangan tangannya sendiri yang membuat urat nadinya terluka. Urat nadi atau pembuluh darah nadi adalah pembuluh darah yang letaknya lebih dalam dan berfungsi mengalirkan oksigen dan nutrisi ke berbagai organ tubuh. Pembuluh darah di pergelangan tangan itu lebih banyak. Apabila menyayat pergelangan dan mengenai pembuluh darah, maka akan mengeluarkan darah yang cukup banyak.


Hingga pada akhirnya, dokter pun berhasil menyelamakan Hana. Kemudian dokter itu pun menghampiri Rey, karena dia adalah orang yang membawa Hana.


“Siapa wali pasien?” tanyanya.


“Saya keluarganya, Dok.” Rey mengaku sebagai keluarga Hana agar semuanya lebih simple. “Bicara saja kepada saya. Bagaimana dengan kodisinya, Dok?” tanyanya.

__ADS_1


“Untuk saat ini, kami berhasil untuk menyelamatkannya. Apakah anda yang menghentikan pendarahannya dengan menekan pergelangan tangannya dengan kain?” tanyanya balik.


__ADS_2