DENDAM PERNIKAHAN

DENDAM PERNIKAHAN
Episode 5


__ADS_3

" Sebentar, sepertinya ada kesalahpahaman pahaman di sini." Seru Adisha dengan panik, pasti suaminya itu salah mengira siapa itu pihak pertama dan kedua.


" Semua sudah jelas, tidak ada yang namanya kesalahpahaman, tapi jika kamu menginginkan tubuhku, aku tidak keberangkatan kok." Ucap Xanandra dengan percaya diri penuh terlihat dari dagunya yang sedikit terangkat sombong.


" Jangan terlalu percaya diri dulu, pasti kamu salah mengira siapa pihak pertama dan kedua." Ucap Adisha menatap Xanandra tajam, sungguh dia mual dengan kepercayaan diri suaminya itu.


" Bukankah sudah pasti pihak pertama itu aku dan kamu sebagai pihak keduanya?" Tanya Xanandra dengan heran, dia berpikir bahwa sudah pasti kalau dia itu pihak pertama pasalnya dia kan lelaki yang sudah pasti menjadi pihak pertama.


" Hahaha, Xanandra Xanandra, tidak ku sangka ternyata kamu tidak terlalu pintar ya." Ledek Adisha menatap Xanandra dengan pandangan mengejek.


" Sudah pasti aku pihak pertama, bukankah aku sendiri yang membuat surat perjanjian ini." Ucap Adisha dengan nada bangga yang kentara, dia puas melihat wajah bodoh suaminya, dalam hati Adisha menyayangkan karena dia tidak memegang handphone sekarang, kalau tidak dia sudah pasti akan mengabadikan wajah suaminya itu sekarang.


" Aku tidak mau tau, pokoknya aku yang akan menjadi pihak pertamanya." Ucap Xanandra dengan nada yang menekankan, sungguh sekarang dia sangat lah malu, pokoknya dia harus menjadi pihak pertama demi menyelamatkan harga dirinya.


" Apa-apaan, aku yang membuat surat perjanjian ini, pokoknya aku yang akan tetap menjadi pihak pertama." Ucap Adisha dengan nada ketus yang kentara.


" Ohh, hanya karena kamu yang membuat surat perjanjiannya jadi kamu yang akan menjadi pihak pertama begitu? baiklah tunggu sampai besok aku akan membuat surat perjanjian yang baru dan aku yang akan menjadi pihak pertamanya." Ucap Xanandra bangkit dari kursi dan pergi meninggalkan Adisha yang jengkel melihat kelakuan kekanakan Xanandra.


" HEYYY, APA-APAAN ITU XANANDRA? DASAR KE KANAK-KANAKAN!!" Teriak Adisha emosi dengan kelakuan suaminya itu, hanya karena pihak pertama, Xanandra tidak jadi menandatangani surat perjanjian yang dia buat dan memutuskan untuk membuat surat perjanjian baru.


" Aku tidak habis pikir dengan kelakuannya itu." Keluh Adisha lelah mengusap dadanya dengan sabar guna menetralkan emosinya.


" Aku jadi ragu dengan keputusan ku menikah dengannya, bisa - bisa aku mati muda karena emosi." Lirih Adisha mulai meragukan keputusannya apakah benar atau salah.


...***...


" Apa - apaan wanita itu? bisa-bisanya dia ingin menjadi pihak pertama. Aku tidak akan membiarkan dia menjadi lebih unggul dariku dalam hal apapun, meskipun hanya dalam kontrak pernikahan." Ucap Xanandra yang sekarang tengah duduk di kursi ruang kerjanya, menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi sambil menghelan nafas kesal karena perbuatan istrinya yang menurutnya lancang.

__ADS_1


" dia pikir dia siapa? alasanku menikahinya hanya karena balas dendam yang ingin aku tuntaskan, seharusnya dia tidak berbuat macam-macam dan sadar dirilah karena dia tau itu." Bisik Xanandra marah mengingat alasan mengapa dia harus menikahi Adisha, dan dia berpikir seharusnya Adisha bisa menempati dirinya dan sadar akan posisinya yang sekarang di bawah kendali Xanandra.


" Mungkin benar jika dia tidak terlibat secara langsung dengan peristiwa sepuluh tahun lalu, tapi dia adalah anak dari 'dalang' yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi dan aku harus membuat dia hancur hingga lenyap secara perlahan sehingga 'dia' bisa merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya." Ucap Xanandra yang tidak sadar bahwa Adisha juga korban, dia juga kehilangan orang yang paling berharga dari hidupnya bukan hanya dirinya saja.


Dan jika Xanandra berpikir jika membuat istrinya menderita dan lenyap perlahan akan membuat 'dia' merasakan apa yang dirinya rasakan.


Mengingat perihal kontak pernikahan, Xanandra tanpa menunggu waktu lagi segera menghubungi asistennya.


" Luki, buat kontak pernikahan atas nama aku dan istriku, pastikan aku pihak pertamanya." Ucap Xanandra pada lawan telponnya memberi nada penekanan di akhir kalimat.


Sedangkan lawan telpon yang bernama Luki itu, terdiam bingung mendengar perintah mendadak dari tuannya.


" Hah, bisa anda ulangi lagi ? Sepertinya Indra pendengaran saya sedikit bermasalah, tuan." Ucap Luki mengira bahwa indra pendengarannya bermasalah sehingga mendengar sesuatu yang aneh.


" Tidak, kamu tidak salah dengar, buat kontak pernikahan seperti yang tadi saya bilang, saya tunggu sampai besok." Tanpa mendengar jawaban dari lawan bicara Xanandra mematikan telpon sepihak.


Sedangkan disisi lain, Luki masih terdiam menatap handphone genggamnya dengan tatapan rumit.


Meskipun ini bukan pertama kalinya tapi kesekian kalinya bosnya itu mematikan telepon seenaknya, tapi yang membuatnya bingung itu perintah yang bosnya berikan.


" Kontrak pernikahan? kontrak pernikahan apa yang dimaksud? apakah masalah harta Gono-gini?" Monolog Luki bingung akan perintah bosnya.


" Bukankah itu artinya dia memiliki niat untuk bercerai? apa penyebabnya? apakah..." Luki menggantung ucapannya pemikiran yang tiba-tiba terlintas di otaknya.


" Jika memang itu penyebabnya, aku turut prihatin untukmu sebagai bawahan sekaligus sahabatmu kawan." dengan dramatis dia menyeka matanya seolah-olah tengah meneteskan air mata.


...***...

__ADS_1


Setelah lama menenangkan diri di ruang kerja, Xanandra pun memutuskan untuk pergi ke kamar dikarenakan hari sudah semakin malam dan rasa kantuk yang sudah menyerang.


setelah masuk ke dalam kamar, Xanandra melihat istrinya tengah duduk di atas kasur, menyenderkan punggungnya ke punggung kasur sembari mengetik sesuatu yang tidak Xanandra ketahui di laptopnya.


" Untuk surat kontrak baru akan sampai besok, aku harap kamu langsung menandatanganinya tanpa banyak protes." Ucap Xanandra yang entah sejak kapan sudah duduk di pinggir kasur bersiap untuk masuk ke dalam selimut.


" Memangnya siapa yang protes lebih dulu?" Gerutu Adisha dengan pandangan yang tetap fokus ke layar dan tangan yang tetap mengetik di laptop.


Mendengar gerutuan Adisha, Xanandra hanya diam memejamkan matanya, karena menurutnya tidak ada gunanya meladeni istrinya itu karena Adisha ternyata orang yang keras kepala dan tidak bisa Xanandra tindas hanya dengan kata-kata, dia akan memikirkan cara lain untuk membuat Adisha menderita.


" Capek-capek aku membuatnya, dan sekarang berakhir di tong sampah hanya karena masalah sepele, sungguh kekanak-kanakan." Ternyata kekesalan Adisha tak juga kunjung usai, dia tetap menggerutu kesal. Aneh sekali, padahal selama ini meskipun Adisha bukan orang yang gampang di tindas akan tetapi Adisha tipe orang yang pendiam.


Sifat Adisha yang sekarang ini mirip dengan sifat Adisha yang sudah 10 tahun hilang, entahlah kenapa sifat yang sudah lama hilang itu kini timbul kembali setelah menikah.


" Apakah kamu tidak bisa diam hah? telingaku panas mendengar ocehan mu." Sungguh Xanandra merasa jengkel sekarang, dia ragu untuk membuat Adisha menderita selama pernikahannya, karena sekarang saja dia yang dibuat menderita oleh istrinya itu.


" yasudah, tidak usah di dengarkan, gitu aja kok repot." Adisha berucap ketus kepada suaminya yang sekarang tengah menatap tajam ke arahnya.


" Sekali lagi kamu membuka mulutmu itu, akan aku pastikan kamu tidak akan bisa membuka mulutmu selamanya." Tekan Xanandra dengan nada menyeramkan.


" Aku tidak main-main, Adisha." lanjut Xanandra karena melihat mulut Adisha yang hendak terbuka.


Sedangkan Adisha hanya bisa diam, sekarang dia sedikit takut kepada suaminya itu.


"Akan lebih baik jika aku tidak terlalu memprovokasinya, dia berbahaya." Ucap Adisha dalam hati.


...Bersambung...

__ADS_1


*** Hallo teman - teman terimakasih sudah membaca karya saya, mohon dukungan dari teman - teman sekalian dengan cara like, komen dan vote cerita ini, terimakasih, Sampai jumpa di episode selanjutnya.***


__ADS_2