DENDAM PERNIKAHAN

DENDAM PERNIKAHAN
Mistake


__ADS_3

Johandra dan Resti keluar sepenuhnya dari tempat persembunyiannya. Pikiran jahat mereka menuntun langkahnya menuju kamar tempat Hana berada. Resti mulai menggenggam gagang pintu kamar dan mendapati bahwa pintu kamar itu tak terkunci.


Keduanya saling pandang dengan tatapan mata berbinar. Mereka merasa bahwa rencana yang telah mereka susun itu akan berhasil kali ini. Mengetahui pintu yang tak terkunci, mereka pun segera memasuki kamar.


Keduanya melihat Hana yang tengah terbaring di atas kasur. Johandra menebak bahwa Hana yang tak sadarkan diri, masih berada di bawah pengaruh obat yang diberikan Johandra kepadanya.


“Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan?” tanya Johandra kepada Resti.


“Hei, apa kau bosoh? Apa lagi? Kau bisa memilikinya. Reyhana, gadis ini akan menjadi milikmu sepenuhnya hari ini. Kau bilang akan merengut kesuciannya,” ujar Resti.


Johandra menampilkan senyum sumringahnya. Dia tidak pernah berpikir bahwa kegagalannya itu bisa berubah menjadi suatu keberhasilan mutlak. Johandra tak bisa merebut Hana dari perlindungan Rey, tetapi dia bisa mendapatkannya setelah Rey meninggalkannya.


Rey membuat kesalahan besar, karena meninggalkan Hana sendirian di kamar hotel, serta lupa mengunci pintu kamar. Kesempatan seperti ini tentu saja menjadi kesempatan emas bagi kedua manusia yang berpikiran jahat kepada Hana.


Resti keluar kamar untuk berjaga-jaga, sedangkan Johandra yang saat ini berada dalam satu ruangan yang sama dengan Hana, tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi. Dia mulai menghampiri Hana dan menggaulinya. Johandra tak sebaik itu, ia bahkan lebih keji.


Johandra mengeluarkan satu butir pil dalam saku kemejanya dan memaksa Hana untuk menelannya. Reaksi pil itu meningkat kembali, meski Hana tak sadarkan diri.


Setelah puas melakukannya kepada Hana, ia pun merapikan pakainnya kembali. Kemudian, ia keluar dari kamar. Tampak Resti yang tengah berdiri di depan pintu, menunggu sambil mengawasi keadaan sekitar.


Orang asing yang berlalu lalang, tentunya tidak akan terlalu perduli dengan urusan orang lain. Karena mereka juga dating ke hotel karena satu urusan yang sama. Meskipun tidak sama, tetapi urusan yang mirip dan semacamnya.

__ADS_1


“Kau sudah puas?” tanya Rasti kepada Johandra.


“Hmm… Biar aku pikirkan dulu. Sepertinya… aku sama sekali belum puas. Aku tidak akan puas jika hanya merasakannya sekali. Dia benar-benar … .”


“Lupakan itu! Simpan pikiran cabulmu itu. Aku sudah lelah berdiri sendiri di sini hampir satu jam. Aku akan pulang. Kau pulang sendiri saja sana. Karena semuanya sudah berhasil, dan aku mendapatkan apa yang kuinginkan, kurasa sepertinya kita tidak perlu terlalu dekat. Meskipun kau temanku dari kecil, kau tidak pernah berguna. Hanya beban,” celetuk Resti.


Resti berlalu meninggalkan Johandra. Sedangkan Johandra pun hanya bisa menatap punggung Resti yang berlalu meninggalkannya.


Johandra terhening, tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Dalam lubuk hatinya merasa terlukai ketika Resti mengatakan bahwa dia tidak berguna. Selama ini yang Johandra lakukan selalu salah di mata Resti. Bukan hanya Resti saja, bahkan keluarganya menganggapnya rendah dan tak berguna.


Sikap keluarga Johandra kepadanya selalu disaksikan oleh Resti selama mereka tumbuh bersama. Hal itulah yang membuat Resti merendahkannya, seperti keluarga Johandra sendiri yang selalu merendahkannya. Semuanya selalu Johandra terima dengan lapang dada.


Johandra menyikapinya dengan candaan, bahkan visual nakal yang ia dapatkan hanya untuk mendapatkan sedikit saja perhatian dari keluarganya. Jika semua hal sempurna yang ia lakukan selalu mendapatkan cercaan dan hinaan, ia pun merubah karakternya yang pendiam menjadi brutal. Namun, tentu saja semua itu semakin dinilai hina oleh anggota keluarganya yang sempurna dan tak pernah ada kecacatan nasab sepanjang sejarahnya.


Realita dunia yang mengejar takdir dan mengitari hiudup, tetap berjalan semestinya. Kebahagiaan bersifat nafsu yang hanya sementara, tidak membuat beban hidup ataupun masalah utama siapa pun lenyap bak debu diterbangkan oleh angin.


"Johandra, sebenarnya apa yang selama ini sedang kau lakukan? Sejak kapan aku berubah amoral seperti ini?” gumam Johandra, mengkritisi diri sendiri.


Lama melamun dan terpaku di tempatnya, akhirnya ia pun beranjak pergi dari tempat itu juga. Dia keluar dari pintu utama hotel dan berlalu pergi entah ke mana.


SEBELUMNYA . . .

__ADS_1


Rey berjalan keluar dari hotel dan meninggalkan Hana di hotel sendirian. Langkah kakinya tergesa-gesa. Ia menghampiri mobilnya yang dipakirkan di tempat parkir. Dia membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalamnya.


Rey menyandarkan punggungnya sembari berusaha merilekskan pikirannya. Kepalanya terasa sedikit pusing, maka dari itu ia memejamkan matanya dan berusaha untuk mengistirahatkan dirinya.


“Rey, bukankah ini yang kau mau? Bukankah kau akan bahagia jika saja aku, orang yang membunuh ibumu akan segera mati. Mungkin kau memang benar, aku adalah pembunuh ibumu. Sekeras apa pun aku mengelaknya, takdir lebih tahu segalanya. Rey, terimakasih karena pernah menjadi temanku. Aku mencintaimu. Selamat tinggal.”


“Tidak, Hana! TIDAK!!!” teriak Rey, kemudian terbangun dari lelapnya. “Hanya mimpi? Kenapa mimpi ini… terasa tak asing?” Rey berpikir keras tentang mimpi yang baru saja ia alami.


Rey terbangun dari lelapnya secara sepontan. Sebuah fatamorgana tidur yang membangunkannya. Akhirnya, Rey pun mengingatnya.


“Benar, aku pernah memimpikan kejadian ini sebelumnya. Hana yang bunuh diri di dalam mimpiku. Aku sudah dua kali memimpikan kejadian yang sama. Apa mungkin… Tidak, ini semua hanyalah mimpi. Tapi kenapa aku merasa… seperti kejadian nyata.”


Hati Rey merasa tak tenang, karena terus-terusan digentayangi perasaan gelisah. Setelah lama berpikir, akhirnya ia pun turun dari mobilnya. Dia berjalan kembali ke arah hotel untuk menemui Hana di kamar. Untung saja, kala itu Rey tidak pergi ke mana-mana. Dia tertidur di mobil yang diparkirkan di tempat halaman parkiran hotel yang mewah itu.


Klek… Pintu kamar tak terkunci. Rey lupa tidak mengunci pintu kamar. Rey menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha untuk menghilangkan segala kegelisahannya. Setelah merasa sedikit tenang, akhirnya Rey pun memasuki kamar tempat dia meninggalkan Hana. Namun ternyata… kosong.


Tak nampak sosok Hana di mana pun. Padahal, Rey telah mencari keseluruhan kamar. Akan tetapi, ia tak juga menemukan sosoknya.


Di manakah sosok Hana?


“Hana, ke mana dia?” batin Rey bertanya-tanya. Perasaannya semakin panik kala mendapati bahwa Hana tak berada di tempatnya. “Apakah dia sudah pulang? Tidak, dia tidak bisa pulang sendirian tanpa tas dan phonsellnya. Semua barangnya ada padaku,” gumam Rey.

__ADS_1


Rey pun akhirnya teringat bahwa ada satu tempat yang belum dia periksa. Kamar madi, dia melewatkan tempat itu. Kemungkinan Hana berada di dalam kamar Mandi. Rey pun bergegas menuju kamar mandi. Ternyata…


“Hana, apa yang kau lakukan?!!!” Rey histeris.


__ADS_2