DENDAM PERNIKAHAN

DENDAM PERNIKAHAN
Ternyata Berhasil


__ADS_3

"Ha-Hana, berhenti, aku mohon berhenti. Berhenti bersikap seperti ini. H-Hana, aku juga masih pria normal. Awas saja jika kau sudah sadar. Aku pasti akan menagih hutangmu kali ini, " gagap Rey.


Rey merasa tidak nyaman, ketika Hana yang berada di bawah obat perangsang seksual tengah melancarkan aksi di bawah kesadarannya. Rey yang sudah tidak tahan pun, akhirnya menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu ia menginjak rem dan menghentikan mobilnya.


Padahal, Hana dan Rey duduk di kursi yang berbeda. Hana duduk di kursi depan, di samping tempat Rey mengemudi. Akan tetapi, entah bagaimana Hana bisa saja melewati batas dan terus merogoh ke dalam jarak kancing kemeja Rey yang terbuka.


"H-Hana, kumohon berhenti! Aku sudah tidak tahan lagi. Kenapa bisa sampai seperti ini?" Rey bertanya-tanya dengan heran. Sesaat kemudian, Rey akhirnya terpkirkan oleh sesuatu. "Sepertinya, berengsek Johandra itu memberikan dosis yang tinggi kepada Hana. Sial!" gerutu Rey dengan geretak geraham giginya. "Kita tidak bisa terus seperti ini. Aku juga tidak bisa membawamu pulang ke rumahmu, ataupun ke rujmahku." Rey merasa bimbang dengan apa yang harus ia lakukan terhadap Hana.


Rey berushaha memikirkan sesuatu dengan keras. Ia bingung harus membawa Hana dengan kondisi yang tidak wajar seperti ini ke mana.


Jika Rey membawa Hana pulang ke rumahnya, Rey tidak tahu harus mengatakan hal apa kepada kedua orangtua Hana. Dan jika ia membawanya ke rumahnya sendiri, pasti ayahnya akan mengomel ribuan kata seperti burung berkicau di pagi hari.


"Sudahlah, lakukan seperti biasa saja!" Rey tampak frustasi, karena kehabisan pikiran.


Rey kemudian menjauhkan tubuh Hana kembali. Sabuk pengaman Hana ia ikat sekuat mungkin agar tidak lepas seperti tadi. Lebih tepatnya tidak terlepas, tetapi Hana sengaja melepaskannya di bawah kesadarannya. Maka dari itu, Rey menguatkan sabuk pengaman Hana.


Rey mengeluarkan lakban, lalu ia mengikat tubuh Hana di kursi dengan dengan kuat. Kemudian, Rey kembali ke tempatnya semula.


Rey berusaha menahan tawanya, ketika ia melihat Hana yang tampak aneh. "Hana, kapan lagi aku bisa melihatmu dengan penampilan seperti ini? Ada baiknya juga, curut sepertimu menjadi lebih kalem dari biasanya." Rey merasa puas melihat Hana yang tampak tak berdaya, dengan tubuh yang diikat dengan lakban.


Kemudian, Rey kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya. Setelah lama menyetir, akhirnya... ia kembali berhenti.


Setelah itu, Rey menarik Hana keluar dari dalam mobilnya dan menggendongnya kembali di punggungnya.


"Minta cek-nya," ucap Rey kepada seorang resepsionis hotel.

__ADS_1


"Selamat datang! Kau adalah pelanggan VIP kami. Ingin kamar seperti apa? Kamar VIP? Atau kamar seperti biasanya?" tanya resepsionis itu dengan ramah.


"Beri aku yang biasanya," ucap Rey.


Rey terkejut saat ia tiba-tiba disentuh oleh seorang pria bersetelan jas hitam yang rapi. Pria itu tampak seperti orang dengan status sosial tinggi. Ia tampak sok akrab kepada Rey, padahal mereka baru saja bertemu.


"Siapa kau?" tanya Rey dengan sikap cuek dan lirikan mata tajamnya.


Pria itu menatap wajah Rey sekilas, lalu menilik Hana yang berada di punggung Rey dengan nyaman.


"Kalian masih muda, tapi sudah sangat bergairah. Kau pasti seorang mahasiswa, kan? Pacarmu tampak tidak normal, dia pasti berada di bawah ... ." Pria itu menggantung ucapannya. "Obat perangsang." Lalu ia mendekatkan bibirnya ke dekat telinga rey dan mebisikkan kata terkhirnya.


Netra tajam milik Rey menajam seketika, pada saat pria bersetelan jas itu membisikkan kata terakhir di telinganya. "Enyah kau!" Rey membalas dengan sikap cueknya dan menyuruh pria itu segera pergi.


"Kau sepertinya seorang pelanggan di hotel ini. Kau masih sangat muda, tapi pasti sudah banyak wanita yang pernah kau coba. Aku merasa sedikit iri," ucapnya sembari menampilkan senyuman liciknya. "Atau... apa kau ingin mendapatkan tips dariku?" tanyanya.


"Santai saja. Selamat menikmati momen bergairah kalian," ucapnya. Lalu ia berlalu pergi dari hadapan Rey.


"Ini kuncinya. Kamar biasanya, kamar 2067. Terimakasih," ucap resepsionis hotel sembari memberikan kunci hotel kepada Rey.


"Terimakasih," ucap Rey sembari mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Resepsionis cantik itu menutup mulutnya dan sedikit terpesona oleh pesona Rey.


Setelah Rey menerima kunci kamarnya, ia pun membawa Hana ke kamar 2067, kamar tempat biasanya Rey beristirahat dan bersenang-senang dengan banyak wanita.


Ketika telah sampai di dalam kamar, Rey langsung melemparkan tubuh Hana di atas kasur. "Kau terlihat sangat kurus dan tidak berdaging, tapi ternyata... kau sangat berat seperti kerbau," celetuk Rey.

__ADS_1


Rey kemudian membenarkan posisi Hana. Ia meletakkan kepala Hana di atas bantal dan menyelimuti tubuhnya.


Kemudian, Rey berbalik dan berencana meninggalkan Hana sendiri di kamar. Namun, tiba-tiba saja Hana menyaut lengan Rey. Rey menghentikan langkahnya, lalu melirik lengannya yang dicengkram oleh Hana dengan kuat.


"Jangan pergi." Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Hana.


Rey mengerutkan keningnya. "Apa dia sudah sadar?" Ia bertanya-tanya.


Tanpa aba-aba, Hana menarik Rey dengan kuat, sehingga Rey ikut terjatuh di atas kasur. Rey menahan tubuhnya di lingkaran tubuh Hana dengan kedua lengan kekarnya.


Rey menatap Hana dengan tatapan nanarnya yang begitu dalam. Setelah itu... Rey tidak sadar bahwa saat ini, ia tengah mengendus di leher Hana. ******* Hana tiba-tiba saja membuat Rey mengembalikan kesadarannya.


Rey menjauh dari tubuh Hana dan langsung bangkit dari atas ranjang. "Tidak bisa seperti ini. Aku bisa bermain dengan wanita mana pun, asalkan itu bukan Hana. Apa bedanya aku kawin dengan anjing?" cetus Rey dengan kesal.


Kemudian, Rey berjalan keluar dari kamar hotel dengan kaki yang terhentak-hentak. Rey meninggalkan Hana sendiri di sana. Rey keluar dengan tergesa-gesa, tanpa.mengunci pintu kamar.


Rey tidak pernah menyangka, bahwa hal itu adalah kesalahan terbesar baginya. Ia tidak sadar bahwa sedari tadi, seseorang tengah mengikutinya dan bersiap untuk melancarkan aksi dari pikiran jahatnya.


Dua orang dengan pikiran jahatnya akhirnya keluar dari balik tembok persembunyiannya. Mereka saling pandang dan tersenyum dengan puas.


"Dia sudah pergi. Sudah kubilang, dia tidak akan pernah tahan berada dalam satu ruangan dengan wanita yang sangat ia benci," ucapnya kepada teman yang ada di sampingnya.


"Kau benar. Perkiraanmu memang tidak pernah salah, Resti," ucap Johandra dengan senyum liciknya kepada Resti.


Pada akhirnya, mereka saling mengungkapkan identitas mereka masing-masing. Mereka tidak lain adalah pasangan licik, Johandra dan Resti. Mereka saling pandang dan tersenyum dengan puasnya.

__ADS_1


Kali ini, Resti yang lebih dulu mengacungkan telapak tangannya di hadapan Johandra. Johandra menarik setengah bibirnya, lalu menyambutnya.


Toss!


__ADS_2