
terlihat seorang gadis sedang melamun di jendela kamarnya, gadis itu tampak lesu seakan dia sudah muak dan bosan dengan dunia yang dia tinggali sekarang.
" Huh, sampai kapan aku akan hidup seperti ini?" tanya gadis itu pada dirinya sendiri.
" Sungguh aku sangat melelahkan, kapan mamah akan menjemput ku?" Ucap gadis itu lagi sambil tersenyum miris meratapi hidupnya. Sejak sepuluh tahun yang lalu, tepatnya setelah kematian sang ibu, hidupnya tidak sama lagi. Ayah yang seakan lupa bahwa dirinya ada, ibu tiri yang jahat dan adik yang licik, sungguh paket yang lengkap.
" Dan untuk suami pintar ku itu, entah motivasi dari mana hingga ingin balas dendam padaku, lucu sekali." Ucap Adisha sinis, dia kesal terhadap lelaki yang sekarang menyandang status sebagai suaminya itu, bisa - bisanya ingin membalas dendam padanya, entah dendam apa yang dimaksud suaminya itu, Adhisa pun tidak tahu. Tapi yang pasti dia merasa tidak pernah mempunyai masalah dengan lelaki itu, bahkan bertemu sebelumnya pun tidak pernah.
" Hmm tapi berkat itu juga aku bisa bebas dari neraka itu, mungkin kalau aku sedikit lebih lama di sana aku akan segera menjadi tengkorak." Ucap Adisha lega sekaligus marah. Dia lega bisa terbebas dari rumahnya itu dan dia marah karena mengingat perlakuan ibu dan adik tirinya yang kejam dan licik itu.
" Sungguh aku tidak rela membiarkan mereka tinggal di sana karena di sana banyak kenangan bersama mamah, tapi aku harus menyiapkan rencana untuk menghancurkan mereka dan aku akan memanfaatkan pernikahan ini sebaik - baiknya." Ucap Adisha yakin, dia akan membalas perlakuan mereka dengan setimpal, dia juga curiga kalau kematian ibunya ada sangkut pautnya dengan mereka akan tetapi Adisha tidak punya bukti, dia harus bersabar.
bosan dengan posisi duduknya, Adisha pun bangun dan melangkahkan kaki menuju pintu.
Saat akan menyentuh gagang pintu, pintu pun terbuka dari luar sehingga keningnya terpentok bagian pintu itu.
" Aduhh." Ringis Adiha sembari menyentuh keningnya.
" Ehh." Kaget seorang lelaki yang membuat pintu tadi.
" Kamu ini apa - apain sih, jadi kepentok kan!" Kesal adhisa kepada lelaki itu.
" Kok aku sih?" Tanya Xanandra tak terima dirinya di salahkan.
" Ya kamu lah, kan kamu yang buka pintunya." Ucap Adisha kekeh menyalahkan Xanandra, karena menurutnya kalau Xanandra tidak membuka pintu itu, dia tidak akan terpentok pintu seperti sekarang.
" Ya aku mana tau kalo kamu ada di sana." Balas Xanandra tidak mau mengalah.
" Udah ah males." Ucap Adisha melengos melewati Xanandra dengan kaki di hentakan.
" Lah, kenapa tuh cewek?" Heran Xanandra melihat tingkah Adhisa.
Tidak ingin mengambil pusing, Xanandra pun masuk ke dalam kamar untuk mengambil barang yang akan dia bawa ke kantor.
__ADS_1
Sedangkan sekarang Adisha sedang berada di taman belakang rumah dengan mulut yang sedari tadi tak berhenti mengomel.
" Apaan sih, kan dia yang salah harusnya dia ngaku salah dong." Gerutu Adisha kesal.
" Bikin badmood aja." Ucap Adisha kesal menendang kerikil kecil yang ada di sana.
" Ada apa nih kakak ipar, kok mukanya masam gitu?" Tanya seorang lelaki tiba - tiba terdengar di telinga Adisha.
Adhisa pun menengok ke belakang, dan dia melihat adik iparnya tengah berjalan ke arahnya dengan cengir khasnya.
" Tidak apa-apa." Ucap Adisha singkat, dia tidak terlalu mengenal adik iparnya ini, jadi akan lebih baik dia menjaga jarak darinya sebab dia tidak tahu apakah tingkah ramah tamah adik iparnya ini asli atau hanya sekedar topeng.
" Ya ampun kakak ipar ku ini cuek sekali, ano jadi sedih loh." Ucap Reano dengan nada sedih yang kentara di buat - buat.
Melihat reaksi Reano, Adisha hanya memutar bola matanya malas dan melangkahkan kakinya pergi.
" Ehh kakak ipar mau kemana?" Tanya Reano berjalan mengikuti Adisha.
" Jahat sekali, padahal ano cuman ingin menjaga kakak ipar saja." Ucap Reano dengan nada sedih dan tersakiti.
" Aku tidak perlu di jaga, akan lebih baik kamu Istirahat saja, nikmati waktu libur mu sebelum masuk kuliah besok." Ucap Adisha mengusir Reano secara halus sambil tersenyum paksa.
" Kakak ipar perhatian sekali, ano jadi senang." Ucap Reano tersenyum senang dengan bibir melengkung lebar hingga matanya menyipit.
" Yaudah ano pergi dulu ya, kakak ipar hati - hati." Ucap Reano kepada Adisha yang di balas anggukan.
Lalu Reano pun pergi dari sana dengan Adisha menatap punggung Reano hingga tak terlihat lagi.
" Ada apa dengannya? apa hanya perasaanku saja?" Ucap Adisha pada diri sendiri, dia merasa Reano aneh, padahal selama sarapan tadi dia biasa saja ketika melihat Reano akan tetapi tadi dia merasa perasaan tidak nyaman hinggap di hatinya.
" Tapi wajahnya tidak asing, aku seperti sudah pernah melihatnya, tapi dimana ya?" Bingung Adisha hingga keningnya berkerut.
Pusing dengan pemikirannya yang tak kunjung menemukan titik temu, Adisha pun melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
...***...
Terangnya matahari telah di gantikan dengan sinar rembulan, aktivitas manusia pun semakin berkurang digantikan dengan waktu istirahat.
Seperti sekarang, terlihat sepasang suami istri yang sedang duduk di kursi yang saling berhadapan dengan meja sebagai penengahnya, dan di atas meja itu pula terdapat selembar kertas dan satu buah pulpen yang entah akan digunakan untuk apa.
" Jadi apa yang akan kamu katakan sekarang?" Tanya Xanandra menatap istrinya malas, pasalnya sewaktu dirinya tengah asik menikmati waktunya di balkon sembari menikmati sebatang rokok di tangannya, istrinya itu lantas menyeret dirinya masuk ke dalam kamar dengan alasan akan ada yang ingin dia sampaikan dan itu sangatlah penting.
" Liat kertas ini." Titah Adisha menyodorkan kertas yang berada di atas meja itu agar lebih dengan kepada Xanandra.
Melihat kertas yang di sodorkan sang istri, Xanandra pun lantas memfokuskan dirinya kepada kertas itu dan membaca apa yang ada di sana.
" Perjanjian rumah tangga?" Tanya Xanandra guna memastikan maksud Adisha.
" Ya, aku ingin pernikahan ini di lakukan sesuai dengan poin yang tertera dalam kertas itu." Jawab Adisha dengan percaya diri.
Mendengar jawaban Adisha, Xanandra pun membaca poin perjanjian itu dengan suara yang lantang sembari mengangkat kertas dengan tangannya.
" Poin pertama, pihak pertama di larang mencampuri urusan pihak kedua, begitu pula sebaliknya." Ucap Xanandra membaca poin pertama perjanjian itu, dan merasa itu cukup wajar dan itu juga sesuai dengan keinginannya.
" Poin kedua, pihak pertama tidak wajib memberikan hak yang di miliki oleh pihak kedua meskipun itu hak yang wajar bagi pasangan suami istri." Ucap Xanandra membaca poin kedua, dan pada poin ini dia bingung.
" Apa hak yang kamu maksud?" Ucap Xanandra dengan heran. Apakah hak yang di maksud oleh istrinya itu hak yang mewajibkan Xanandra perihal nafkah yang wajib Xanandra berikan kepada istrinya atau kah hak yang lain.
" Hak hubungan suami istri." Jawab Adisha menahan malu, meskipun begitu dia tetap memberikan jawaban tanpa adanya drama yang lain.
" Ohh, jadi maksudmu aku tidak perlu memberikan tubuh ku ini meskipun kamu ingin?" Tanya Xanandra dengan mata berkedip sebelah jail.
Sebenarnya dia cukup kaget dengan jawaban istrinya itu akan tetapi dia dengan cepat mengontrol ekspresi dirinya.
...Bersambung...
*** Hallo teman - teman terimakasih sudah membaca karya saya, mohon dukungan dari teman - teman sekalian dengan cara like, komen dan vote cerita ini, terimakasih, Sampai jumpa di episode selanjutnya.***
__ADS_1