
"Aish! Kenapa semua itu harus menggangguku? Rey, kau adalah musuh bebuyutan Hana. Sudah sepantasnya kau memperlakukan Hana dengan cara itu. Hana bukanlah apa-apa, dia adalah pembunuh ibumu. Han, tidak bisakah kau melepaskanku? Bahkan dalam pikiranku saja, kau tidak mau berhenti menggangguku. Aagrh! Rey, kau tidak perlu perduli tentang bagaimana perasaan Hana. Dia tak lebih dari sampah kertas!" ucap Rey dengan geram.
Rey mebasuh mukanya beberapa kali dan melihat pantulan dirinya di cermin. Rey menatap tajam gambar dirinya, tanpa berkedip sekali pun.
Tatapan kebencian Rey seolah-olah ditujukan hanya untuk Hana. Seluruh darah di otaknya memaksa Rey untuk membenci Hana. Akan tetapi, lain dengan hati Rey.
Rey merasa terganggu ketika memikirkan Hana yang menangis karenanya. Dalam hati Rey . . . ia mengkhawatirkan tentang keadaan mental Hana, setelah Rey mengatakan fakta yang selama ini ia percayai kepadanya.
Rey berusaha menyingkirkan perasaan kemanusiaannya untuk Hana. Rey tak ingin menganggap Hana sebagai manusia, melainkan musuh terbesarnya yang melebihi posisi binatang.
"Rey, kau harus ingat . . . Hana bukanlah sesuatu yang harus kukhawatirkan. Jika bisa, aku pasti akan membunuhnya suatu hari nanti. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, seperti ketika Hana membunuh ibuku dengan tangannya," cetus Rey dengan geram.
Tatapan mata Rey tetap tertuju kepada pantulan sosok dirinya. Tatapan tajamnya memiliki aura pembunuh yang sangat kuat, seperti kilatan api dan halilintar yang bisa memecahkan kaca yang ada di hadapannya.
"Dia hanyalah mainan. Dia adalah tikus yang harus kupermainkan sepanjang hari. Dia adalah tikus yang akan kumakan sendiri suatu hari nanti." Rey terhening kembali. "Rey, berhentilah mengkhawatirkan Hana!!!" teriak Rey dengan lantang.
Ctar!!! Suara kaca yang benar-benar dipecahkan oleh Rey.
Emosi dalam diri Rey yang tak bisa ia kendalikan itu, membuatnya secara sadar meninju cermin yang ada di depannya. Rey meninju cermin itu, hingga membuat cermin yang ada di hadapannya pecah.
Rey bahkan tidak sadar tentang perihnya kepalan tangan yang mengalirkan darah segar. Pecahan kaca membuat kepalan tangan Rey terluka. Dan beberapa pecahan kaca itu menancap di daging jari-jari Rey.
Tes . . . tes . . . darah segar menetes ke atas lantai keramik kamar mandi pria di kampusnya.
***
Hana membuang tisu toilet yang telah ia gunakan untuk mengelap wajahnya yang rembes ke tempat sampah. Lalu, Hana melihat arlojinya.
__ADS_1
Hana pun tersontak, ketika melihat arlojinya telah menunjukkan pukul 16.05 WIB. Hana baru ingat jika dia ada janji dengan Johandra untuk bertemu di kafe yang ada di seberang kampus.
Hana mulai panik, lalu ia mengeluarkan cermin yang ia bawa di dalam tasnya. Melihat matanya yang bengkak, Hana pun bingung harus menutupinya dengan cara apa.
Makeup Hana telah luntur dan wajahnya masih saja rembes. Hana pun memutuskan untuk kembali ke toilet untuk menghapus bersih makeup di wajahnya.
Ketika Hana sampai di toilet, toilet kali ini tampak sepi dan tidak ada siapa pun di sana. Hana bergegas membuka keran dan membasuh mukanya dan melunturkan makeupnya.
Hana menatap dirinya yang tampak berantakan di cermin. Rambut yang ia gerai telah kusut dan acak-acakan, karena Hana mengacak-acak rambutnya.
Karena rambutnya terlihat seperti singa yang menyerupai mak lampir, Hana pun menarik karet rambut yang ada di pergelangan tangannya. Lalu, Hana pun merapikan rambutnya dan menguncirnya, agar ia tidak kelihatan terlalu berantakan.
"Hana, ada apa denganmu? Kau adalah Hana, kau tidak pantas diperlakukan seperti ini oleh siapa pun, termasuk Rey sekali pun. Maafkan aku, Tante Rini. Sepertinya aku tetap teguh pada pemikiranku. Aku tidak mungkin menyakiti Tante yang selalu baik kepadaku," batin Hana.
Setelah Hana membasuh wajahnya dan merapikan dirinya, Hana pun keluar dari toilet. Hana mulai mengembalikan semangat hidupnya yang baru saja dilunturkan oleh Rey.
***
Johandra yang saat ini tengah duduk di salah satu bangku kafe pun mulai membereskan barang-barangnya dan buku milik Hana di atas mejanya. Ketika Johandra telah bersiap untuk pergi, Johandra tiba-tiba terhenti.
Johandra terhenti, ketika melihat sosok Hana yang saat ini tengah berdiri di depan pintu kafe. Mata mereka saling bertemu dan bertatap beberapa saat.
Johandra terpaku dan tak beranjak dari tempatnya. Kemudian, Hana berjalan ke arah Johandra untuk menghampirinya. Sedangkan Johandra hanya bisa menatap Hana yang berjalan ke arahnya, tanpa beranjak sedikit pun.
Hana menghentikan langkahnya, ketika ia tepat berada di hadapan Johandra. Lalu, ia pun lebih dulu angkat bicara, "Apa kau akan pergi?" tanya Hana dengan datar tanpa ekspresi.
Johandra melonggarkan tas ranselnya, baru ia mulai menjawab Hana, "Tadinya aku mau pergi, karena aku kira kau tidak akan datang. Namun ternyata, kau benar-benar datang," ungkap Johandra.
__ADS_1
"Aku orang yang memenuhi janjiku. Aku sudah datang. Apa kau kecewa, karena aku benar-benar datang?" tanya Hana tetap tanpa ekspresi.
"Apa kau baru saja menangis?" Johandra tidak memperdulikan perkataan Hana dan mebalasnya dengan mengalihkan pembicaraan.
Hana yang mendengar lontaran pertanyaan Johandra pun langsung mengedipkan kedua matanya. Ekspresi Hana yang tampak tanpa ekspresi mulai berubah.
"Di mana barang milikku?"
Hana pun tak menjawab pertanyaan dari Johandra dan langsung menagih barang miliknya yang akan diberikan kepada Hana, ketika Hana setuju bertemu dengan Johandra di tempat mereka berpijak saat ini.
"Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Johandra.
Mereka saling berbicara tanpa topik pembicaraan yang sejalan. Hana tampak tidak peduli dengan pertanyaan Johandra yang tampak seakan-akan memperdulikannya.
Sedangkan Johandra tetap menanyakan pertanyaan yang menanyakan perihal tentang Hana. Ia mengabaikan permintaan Hana, tentang meminta bukunya untuk dikembalikan.
"Di mana buku milikku?" tanya Hana sekali lagi, sembari mengadahkan telapak tangannya di hadapan Johandra.
"Siapa yang membuatmu menangis?" Johandra menanyakan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
Hana pun menarik nafas panjangnya, lalu menghela nafasnya. Hana menjatuhkan tangannya yang teradah di hadapan Johandra kembali.
"Hekh!" Hana menyeringai dan memalingkan wajahnya, lalu berakata lagi, "Memangnya apa hubungannya denganmu?" tanya Hana sembari memalingkan matanya ke arah lain.
"Duduk dulu, baru aku akan memberikan barang milikmu!" perintah Johandra.
Hana yang memalingkan wajahnya ke arah lain pun akhirnya menatap wajah Johandra. Hana mengerutkan kedua alisnya, karena ia merasa bahwa dirinya terasa mudah dipermainkan dan diperintah begitu saja oleh orang lain.
__ADS_1
Namun, Hana tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah Johandra. Sedangkan Johandra sudah lebih dulu duduk di tempat duduknya kembali.
Johandra saat ini tengah memainkan phonsellnya dan menunggu Hana agar duduk di seberangnya.