
"Emm… Benar, Dok. Ada apa, ya?” Rey bertanya dengan ragu.
“Tidak, yang anda lakukan sudah bagus. Untung saja anda segera menghentikan pendarahannya. Jika hal itu tidak segera diatasi, kondisinya pasti akan sangat serius,” ungkapnya.
“Jadi, apa keadannya sekarang baik-baik saja?” tanya Rey.
“Untuk sekarang, kami belum bisa memastikannya. Yang jelas untuk saat ini, dia telah melewati masa kritis. Keadannya perlahan mulai stabil,” tuturnya.
“Jadi begitu, untung saja. Terimakasih karena telah menyelamatkannya, Dok.” Rey berterimakasih kepada dokter.
“Tidak, tidak masalah. Menyelamatkan nyawa seorang pasien adalah tugas saya,”tuturnya. “Kalau begitu, saya permisi.”
"Permisi?” seru seseorang kepada Rey.
Rey menoleh ke arah sumber suara yang tengah memanggilnya. Seseorang yang tengah berbicara kepada Rey ternyata adalah seorang perawat. Rey mengernyitkan kedua alisnya. Lalu, bertanya kepada perawat itu, “Oh, iya. Ada perlu apa ya?” tanyanya.
“Setelah ini, mohon bayar administrasi di sana ya.” Sambil menunjuk ke tempat pembayaran administasi.
“Oh, baiklah. Terimakasih,” ucap Rey.
Rey mengerti dengan apa yang dimaksud oleh perawat itu. Akan tetapi, perawat itu tetap berada di tempatnya sembari menatap wajah Rey. Rey menyondongkan kepalanya beberapa derajat, karena ia tidak mengerti kenapa perawat it uterus menatapnya dengan cara yang aneh.
“Permisi, kenapa kau terus menatapku?” tanya Rey.
Perawat itu megela nafasnya.
“Maaf, apa anda bisa menyingkir dari jalan?” pintanya.
__ADS_1
Rey akhirnya tersadar, lalu Reflek menyingkir dari jalannya. Perawat itu membawa begitu banyak alat-alat kesehatan yang Rey sendiri tidak tahu apa nama semua itu.
Setelah Rey menyingkir dari jalannya, perawat itu pun mendorong alat-alat berat itu sembari mengucapkan terimakasih kepada Rey. Salahkan Rey yang tidak peka.
Di sisi lain, Rey sendiri beranja daru tempatnya. Dia mengindahkan pesan dari pewrawat, lalu bergegas menuju tempat pembayaran administrasi.
Setelah selesai membayarkan tagihan rumah sakit, Rey berniat untuk pulang ke rumah. Namun, Rey mengurungkan niatnya. Banyak pikiran-pikiran dan kemungkinan-kemungkinan yang mengganggunya. Dia tidak mungkin bisa meninggalkan Hana sendirian di rumah sakit.
Rey tahu betul tentang keluarga Hana. Kedua orangtua Hana yang terlalu sibuk, tidak akan segera datang untuk menjaganya.
Di sampng itu, jika Rey meninggalkan Hana sendirian di kamar rumah sakit, kemungkinan besar setelah sadar, Hana pasti akan melakukan tindakan bodoh.
Kondisi fisik dan mental Hana saat ini belum benar-benar stabil. Entah apa yang akan terjadi, jika ia ditinggalkan sendiri ketika dia telah sadar.
“Aissh!!! Kenapa curut itu terus-terusan menggangguku? Oke, aku akan menjaganya, tapi bukan karena khawatir, tapi karena aku merasa bersalah telah membuatnya seperti ini. Oke, Rey. Lakukan saja semestinya,” batin Rey. Batinnya terus meronta-ronta, karena menkhawatirkan Hana. Namun, Rey berusaha keras ntuk mengelak pikiran-pikiran semacam itu.
Pada akhirnya, Rey memutuskan untuk kembali. Dia berjalan menuju kamar VIP rumah sakit, tempat Hana dirawat. Dia mendorong daun pintu dan masuk ke dalamnya. Dilihatnya Hana yang terbaring lemah, pucat pasi, dengan selang infus yang dipasangkan menyambung uratnya.
Rey duduk di samping Hana sembari memperhatikan pergelangan tangan kiri Hana yang tadinya sempat mengucurkan banyak darah.
“Eissh, curut!!! Apa kau yakin ini dirimu? Di mana curut yang keras kepala dan tidak mau kalah? Aku hanya tak habis pikir, kenapa kau… Bisa-bisanya sampai menyayat pergelangan tanganmu sendiri? Apa kau adalah curut yang selama ini kukenal? Tidak mungkin, kan? Melihatmu yang seperti ini, aku seperti tidak pernah mengenalmu. Di mana dirimu yang selalu menjunjung tinggi keadilan? Kau selalu tidak terima, jika melihat sedikit saja diskriminasi pada orang lain. Tapi, kenapa kau memilih cara seperti ini, dibandingkan mencari sebuah keadilan? Aku kira kau kuat, tapi ternyata… Kau sangat lemah.” Rey berbicara kepada Hana yang terbaring dan belum sadarkan diri. “Sudahlah! Untuk apa aku mengatakan semua hal ini? Seperti orang gila saja, berbicara kepada orang yang tertidur,” kata Rey.
Rey bangkit dari tempat duduknya, berbalik membelakangi Hana, lalu berjalan meninggalkannya. Rey berencana keluar dari ruangan itu untuk membelikan beberapa buah-buahan, minuman, dan camilan. Namun, sebelum ia sempat melakukannya, langkahnya terhenti seketika, tatkala mendengar Hana yang tengah mengucapkan sesuatu.
Rey menolehkan kepalanya, memusatkan perhatiannya kepada sosok Hana. Ternyata, Hana masih terbaring dengan kedua netra yang tertutup. Dia masih belum sadarkan diri, tetapi berbicara dalam lelapnya.
“Tidak, jangan lakukan itu padaku. Aku mohon, aku tidak mau melakukannya. Tidak jangan lakukan, aku mohon jangan lakukan. Jangan!!!” Hana sepontan terbangun.
__ADS_1
Hana saat ini dalam posisi terduduk sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, kedua netranya membelalak antusias. Lalu, ia memundur-mundurukan tubuhnya, sembari menutupi telinganya dengan kedua lengannya.
“Aaaa!!!” Hana menjerit keras. Mentalnya tidak stabil dan tampak frustasi.
Rey yang meihat Hana yang dalam kondisi seperti itu, dengan sigap berbalik kembali dan berlari menghampiri Hana. Dia memeluk Hana dengan erat, tetapi Hana berusaha memberontak.
Hana memukul punggug Rey dengan keras, sedangkan Rey berusaha menahan serangan yang dilancarkan Hana kepadanya.
"Pergi!!! Menjauh dariku! Jangan sentuh aku!” teriak Hana sembari memberontak berusaha melepaskan pelukan Rey.
“Aku Rey, Hana. Jangan takut! Ini aku. Aku di sini, aku tidak pergi ke mana-mana. Semua baik-baik saja, semua akan baik-baik saja.” Berusaha menenagkan Hana.
“Jangan sentu aku! Pergi!!!” Hana tidak henti-hentinya mengusir Rey pergi darinya.
“Tenglah Hana, semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu di sisimu, aku tidak akan pergi ke mana-mana,” ucap Rey.
Hana mulai sedikit lebi tenang. Kemudian, ia menangis dengan keras di pelukan Rey. Rey semakin mengeratkan pelukannya, tanpa melonggarkan sedikit pun.
“Tenang, Hana. Semua akan baik-baik saja,” ujar Rey.
Selang beberapa menit kemudian, seorang dokter bersama dua orang perawat pun masuk ke dalam kamar tempat Hana dirawat. Rey telah menangkan Hana, tetapi Hana tak berhenti menangis. Kemudian, salah seorang pun menyuntikkan obat penenang ke infus.
Pada akhirnya, Hana berhenti menangis dan tertidur kembali. Rey melepaskan pelukannya dan membaringkan Hana di atas kasur.
Dokter dan perawat tengah sibuk memeriksa keadaan Hana. Salah seorang perawat tengah mencatat di nota milknya, entah apa yang dicatat olehnya. Mungkin tentang detail kondisi pasien. Di sisi lain, dokter pun mulai memeriksa kondisi Hana dengan dibantu seorang perawat lainnya.
Dokter membenarkan selang infus Hana, karena posisinya yang salah. Rey terlalu sibuk menenangkan Hana, hingga dia tidak sadar bahwa darah Hana tersedot infus, naik hampir ke kantong infus. Untung saja semua itu tidak terjadi, karena pada saat dokter dan kedua perawat datang, mereka langsung menanganinya.
__ADS_1