DENDAM PERNIKAHAN

DENDAM PERNIKAHAN
Terkuak


__ADS_3

Kondisi Hana akhirnya stabil kembali. Mereka yang ada di sana pun akhirnya bisa menghela nafasnya. Untung saja, tidak ada masalah dengan nadi di pergelangan tangan Hana yang terluka. Mereka semua sangat bersyukur akan hal itu.


Setelah tugas mereka selesai, tanpa banyak kata, dokter dan kedua perawat itu pun bergegas keluar dari ruangan. Namun sebelum itu, langkah mereka terhenti karena Rey memanggilnya.


“Dokter,” panggil Rey.


Dokter menoleh kea rah Rey dan menatap redup wajah Rey.


“Iya, apa ada masalah?” tanyanya.


“Tidak, tidak ada. Saya hanya ingin berterimakasih. Terimkasih karena telah menyelamatkannya,” ungkapnya.


Kedua perawat yang turut menghentikan langkahnya pun diminta untuk pergi terlebih dahulu oleh sang dokter.


Karena tidak ada keperluan lain dan di samping mereka sangat sibuk, mereka pun mwematuhi perkataan dokter.


Mereka berdua keluar dari rungan dan berlalu pergi untuk melakukan kesibukannya. Sedangkan sang doter tetap berpijak pada tempatnya, lalu menghampiri Rey.


Dia melangkahkan kakinya menuju Rey, lalu berhenti tepat di hadapan Rey. Dokter tersenyum kepada Rey sembari menepuk bahu Rey.


“Tidak, seharusnya saya yang berterimakasih. Sudah tugas saya sebagai dokter, untuk menyelamatkan setiap pasien saya. Saya patut berterimakasih kepada anda. Terimakasih karena sudah menjaganya. Jika dia tidak dalam penjagaan, kemungkinan yang lebih buruk mungkin akan terjadi. Terimakasih karena telah menjaganya,” ungkapnya.


“Anda tidak perlu berterimakasih kepada saya. Bagaimanapun juga, saya harus berterimakasih, karena tidak mudah bagi seorang dokter untuk menyelamatkan setiap pasiennya,” ujar Rey.


Dokter itu kembali menampilkan senyuman ramahnya kepada Rey.


"Pasien beruntung karena memiliki keluarga seperti anda,” kata dokter.


“Emm… itu … Iya.” Rey menggaruk-garuk belakang kepalanya. Rey terlanjur mengatakan bahwa dia adalah keluarga Hana, jadi bagaimana lagi. Dokter menganggapnya keluarga Hana.


“Kalau begitu, saya permisi.”


Dokter keluar dari bangsal VIP tempat Hana dirawat sembari menampilkan senyumnya. Kemudian, Rey menyondongkan setengah tubuhnya. Dia menatap Hana yang kembali terbaring lemah. Rey yang melihat kondisi Hana saat ini pun hanya bisa menghela nafas panjangnya.


Hari sudah hampir larut. Rey menilik arloji miliknya yang menunjukkan pukul 11.26. WIB. Dia sendiri tidak sadar bahwa sudah jam segitu. Waktu memang sangat cepat berlalu.

__ADS_1


“Hoam … .” Rey menguap.


Dia merasakan kantuk yang perlahan mempengaruhi kesadarannya. Setelah itu, tiba-tiba saja…


“Kenapa lampu tiba-tiba padam?” gumam Rey. “Ah, mungkin sudah memasuki jam malam. Sudah peraturnnya mungkin, semua lampu kamar rumah sakit ini pasti dimatikan. Tunggu, bukankah ini bangsal VIP? Apa mungkin listrik diperlakukan sama rata? Baiklah, aku paham kalau tagihan listrik rumah sakit sangat mahal.” Rey mengoceh sendirian dalam kegelapan.


Gelap gulita, Rey mencari sesuatu untuk menerangi ruangan. Meski lampu dimatikan, tetapi setiap kamar pasti disediakan lampu tidur.


Rey ingat bahwalampu tidur sudah pasti diletakkan di meja samping tempat tidur Hana. Namun, untu mencapai lampu tidur, ia perlu sesuatu untuk menerangi jalannya, karena saat ini ia berada jauh di depan pintu.


Rey mulai merogoh saku celananya untuk menemukan phonsellnya. Namun kosong, dia tidak menemukan phonsellnya di kedua saku celananya.


“Ah, aku sampai lupa. Pasti handphone-ku tertinggal di mobil,” ujar Rey. Dia baru teringat bahwa ketika dia memasuki rumah sakit, phonsellnya dia tinggalkan di mobil saking tergesa-gesanya dia.


Tidak ada pilihan lain, Rey harus mencapai lampu tidur dengan berjalan di kegelapan. Tidak ada bedanya dengan mata terpejam, untung saja ada sedikit cahaya yang terpancar dari alat patient monitor. Rey berjalan ke arah Hana secara hati-hati. Meski sudah hati-hati, dia malah tersandung oleh sesuatu.


Rey tersandung dan hampir saja menindih tubuh Hana yang terbaring di atas ranjang. Untung saja, Rey dengan sigap menahan keseimbangannya dengan kedua lengannya.


Rey menatap wajah Hana dengan tatapan kasihan. Rey mengangkat mengangkat salah satu lengannya.


“Tidak, Rey. Kau tidak boleh melunak kepadanya. Dia adalah Hana, musuhmu yang nyata. Seharusnya aku senang, jika musuh yang paling kubenci ini mendapatkan sebuah karmanya. Tapi kenapa… Aku sama sekali tak bahagia?” batin Rey.


Rey reflek menegakkan tubuhnya kembali, karena sangat berhati-hati jika saja dia salah menyentuh, ataupun menyenggol luka yang ada di pergelangan tangan Hana.


“Dia yang terbaring seperti ini terlihat sangat menyedihkan. Tapi kenapa… dia terlihat manis, ketika tidak banyak tingkah?” gumam Rey.


PLAK!!! Reflek menampar wajahnya dengan keras. Satu tamparan di pipi kanan, satu lagi di pipi kiri. Dia menampar kedua pipinya dengan tangannya sendiri.


“Rey, fokuslah! Sadarkan dirimu sendiri! Apa kau tidak sadar dengan apa yang baru saja kau katakan? Gila! Semua ini terasa gila. Dunia benar-benar sudah gila,” cercanya kepada diri sendri, lalu mengalihkannya kepada dunia.


Rey menampar wajahnya sebanyak dua kali, hanya untuk menyadakan dirinya dari perkataannya terhadap Hana.


Rey tidak boleh tertarik kepada Hana sama sekali. Dia tidak boleh jatuh cinta kepadanya. Cukup sekali, cinta untuk Hana telah mati. Tanaman yang telah mati tidak dapat dihidupkan kembali.


Rey berbalik membelakangi Hana. Rey bergegas keluar, tetapi ia lupa dengan tujuan awalnya.

__ADS_1


“Aisshh …,” desis Rey.


Rey lupa menghidupkan lampu tidur. Dia berjalan mundur, lalu menarik tali lampu tidur yang dapat menyalakan sinarnya. Setelah menyala, dia pun bergegas keluar dari kamar.


Rey kembali terhenti, pada saat ia tengah berada di luar pintu. Sebelum ia mrapatkan daun pintu, dia menilik sosok Hana untuk memastikan bahwa dia saat ini baik-baik saja. Tidak! jika terus mengkhawatirkannya, dia tidak akan pernah bisa berlalu pergi meninggalkannya.


Tanpa pikir panjang, dia menutup pintu dan berlalu pergi.


***


Dua orang mahasisiwi yang tampak akrab, tengah berbincang-bincang santai. Tiba-tiba, salah satu dari mereka membuat susasana yang santai itu sekan menegang.


"Hei, apa kau sudah melihatnya?”


“Apaan?”


“Aissh… makanya, rajin-rajin buka grup.”


“Ada apa di grup? Apa ada sesuatu yang sangat seru?”


“Bukan hanya seru saja, tapi sesuatu yang sangat seru dan mengejutkan”


“Benarkah?”


“Alright! I’m not lyng. This is really something very surprising. You definitely won’t believe it.”


“Is it really so surprising like that?”


“Yes, real! Kau bisa lihat sendiri di grup komunitas mahasiswa kampus kita. Tidak, mungkin sudah tertimbun di grup milikmu. Kau bisa melihat di gallery phonsellku saja. Aku sudah sempat mendownload-nya. Benar-benar, aku tidak bisa percaya.” Menunjukkan sebuah video kepada temannya.


“What?!! I’m speechless. Apakah dia sudah gila? Aku benar-benar tidak menyangka. Bukankah dia yang disebut ‘SUMMER’ itu ya? Siapa nama aslinya? Rey… Reyana?”


“Reyhana!!!” seru mereka secara bersamaan.


“Di sini… wajahnyya terlihat sangat jelas. Kira-kira, siapakah orang yang sempat merekamnya?”

__ADS_1


“Hei, tidak penting siapa orang yang sempat merekamnya. Topik utamanya itu, Reyhana ini. Aku memang dari awal tidak menyukainya, tidak menyukai wajahnya dan segala sesuatu tentangnya. Citranya yang bagus sebagai gadis yang diidamkan banyak pria, siapa yang tahu jika ternyata dia adalah gadis murahan.


__ADS_2