
Terlihat sepasang suami istri tengah melangkahkan kakinya di anak tangga menuju ruang makan yang di sambut oleh suara seorang lelaki yang tampak sedikit lebih muda dari keduanya.
" Wah wah lihat lah pengantin baru ini, baru sekarang keluar kamar, tampaknya keponakanku akan segera launching nih." Seru lelaki tersebut dengan nada menggoda menatap pasangan suami istri itu yang sekarang sudah mendudukan diri di kursi.
" Kamu ini hobi sekali menggoda kakakmu, tahanlah dulu, apa kamu tidak lihat kakak ipar mu itu sekarang tampak malu?" Ucap seorang lelaki paruh baya yang duduk tepat di sebelah lelaki tersebut.
" maaf pah, Ano terlalu tidak sabar pengen jadi uncle." Jawab pemuda yang bernama Reano Slaminto yang di ketahui sebagai adik dari Xanandra.
" Tenang saja no, tak lama lagi mimpi mu itu akan segera tercapai, ya gak sha?" Ucap Xanandra sembari menatap Adisha dengan Sirat mata menggoda akan tetapi bibirnya membentuk senyum seringai.
" Hahha tentu, do'a kan saja yang terbaik untuk kami." jawab Adisha sambil tersenyum meladeni permainan suaminya, tampaknya dia tahu peran apa yang akan di mainkan suaminya itu di hadapan semua orang.
" Wahhh beneran? ano gak sabar pengen nimang ponakan ano nanti." binar revano cerah penuh semangat karena keinginannya sedari dulu akan segera tercapai. Dia itu melihat teman-temannya mempunyai seorang adik dan ponakan yang lucu, dia juga ingin. Akan tetapi dia sadar kalo dia tidak bisa punya adik jadi harapan satu-satunya yaitu keponakan, anak dari kakaknya.
Adisha yang melihat itu hanya diam menatap adik iparnya itu dengan prihatin, karena tampaknya keinginannya itu sulit tercapai atau bahkan mustahil. Karena, dia tahu hubungan dia dan suaminya bukan seperti hubungan pasangan pada umumnya, selain itu dia juga tidak ingin memiliki keturunan dari lelaki yang sekarang menjadi suaminya karena kedepankan pasti akan rumit dan sulit, dia tidak ingin anaknya menjadi korban.
" Papah menanti kabar baiknya." ucap lelaki paruh baya itu yang bernama Andra Slaminto, Ayah dari Xanandra dan Revano. Dia menatap anak dan menantunya dengan tatapan rumit.
Mendengar ucapan Andra, sepasang suami istri itu hanya membalasnya dengan senyuman. Dan acara makan yang tertunda itu pun di lanjutkan dengan khidmat tanpa gangguan.
...****...
Hening, itu lah suasana yang sekarang tengah di alami oleh Xanandra. Dia sekarang sedang duduk di kursi yang ada di dalam ruang kerja ayahnya. Selepas makan tadi, dia di suruh untuk 'berkunjung' ke ruang kerja ayahnya.
Dan di sinilah dia sekarang, seperti sedang di interogasi oleh polisi, dia duduk tepat di depan ayahnya dengan berbataskan sebuah meja yang biasa ayahnya gunakan untuk bekerja.
__ADS_1
" Apa rencanamu Xanandra?" suara itu memecah keheningan, nada yang berbeda dengan nada yang tadi dia dengar di meja makan. suara yang dia dengar sekarang terdengar tegas dan berwibawa berbeda dengan tadi yang terdengar lebih ramah.
" Maksud ayah apa?" Jawab Xanandra pura-pura bingung meski dia tau apa yang di maksud oleh ayahnya itu.
mendengar jawaban sang anak, Andra pun menatap anaknya dengan tatapan lebih tajam.
" Kamu pasti tau apa yang ayah maksud!"
melihat tatapan ayahnya itu tak membuat Xanandra takut, dia sudah biasa mendapatkan tatapan seperti itu, terlebih lagi sewaktu masa remajanya dulu yang sering membuat mendiang ibunya pusing akan kelakuannya. Mengingat itu, Xanandra menggeram marah mengingat penyebab kematian ibunya yang dia ketahui ada sangkut pautnya dengan orang yang sekarang menjadi istrinya itu.
" Jika ayah sudah tahu, untuk apa bertanya." Ucap Xanandra datar dengan raut wajah yang dingin.
" Hahh, sebaiknya kamu urungkan rencana mu itu." Ucap Andra menghelan nafas lelah, dia lelah menghadapi tingkah anaknya yang seenaknya tanpa berpikir apa yang akan terjadi kedepannya.
" Belum terlambat, jalani saja pernikahan yang normal dan berbahagialah." Ucap Andra menatap sang anak dengan serius.
" Sayang sekali ayah, aku tidak mau biaya yang aku keluarkan sia sia tanpa menjalankan rencana yang sudah aku rancang." Ucap Xanandra enteng sambil membenarkan duduknya.
" Akan ayah ganti." Jawabannya
" Ayah sendiri tahu, bukan itu yang aku maksud." Ucap Xanandra menatap sang ayah dengan tatapan datar.
" hufh, Apapun itu sebaiknya segeralah hapus rencana mu itu, atau kau akan menyesal di kemudian hari." Sekali lagi Andra menghelan nafas, sungguh dia kesal dengan anaknya ini, dia hanya tidak ingin di kemudian hari anaknya ini menyesal akibat rencana yang di buatnya.
" Untuk apa aku menghapus rencana ini ayah? kau tahu bukan sudah lima tahun semenjak kejadian itu aku menunggu hari ini tiba." Ucap Xanandra dengan sedikit emosi terlihat tangannya sudah terkepal erat.
__ADS_1
" Tentu ayah tahu, tapi bukan hal baik dengan melibatkan dia ke dalam rencana mu itu." Sekali lagi sang ayah menasehati anak yang ada di depan itu dengan nada lembut berharap sang anak agar luluh.
" Apanya yang bukan hal baik, jelas - jelas dia terlibat dalam kejadian lima tahun lalu." Ucap Xanandra dengan nada kesal yang kentara.
" Bukan kah dia juga korban, dia juga kehilangan orang yang di sayangnya?" Jawab Andra mengungkap fakta yang jelas Xanandra ketahui.
" Tapi tetap saja, dia terlibat dalam kejadian itu." Seru Xanandra memalingkan wajahnya ke samping.
" Apa kau tidak berpikir, bagaimana mungkin anak berusia empat belas tahun bisa melakukan hal seperti itu, terlebih lagi salah satu Keluarganya juga ikut menjadi korban." Ucap Andra mencoba membuka pemikiran anaknya yang entah mengapa tiba-tiba menjadi bodoh sejak lima tahun lalu, tapi untungnya jika mengenai perusahaan dia bisa mengurusnya dengan baik sehingga perusahaan turun temurun itu tidaklah bangkrut.
Mendengar ucapan sang ayah, Xanandra pun terdiam, dia mengingat kejadian lima tahun yang lalu, di mana dia bertemu dengan seseorang yang bisa di bilang mempengaruhinya untuk membalas dendam seperti sekarang.
Saat itu dia juga mengatakan kalimat seperti yang ayahnya saat ini katakan, akan tetapi orang itu bilang kalau mungkin saja memang benar bukan Adisha yang melakukannya akan tetapi Ayah Adisha lah pelaku sebenarnya, jadi bukankah apa yang dia lakukan sekarang sama saja dengan membalas dendam terhadap Ayah Adisha. Karena, tentu seorang ayah akan merasa sakit apabila anaknya menderita.
" Tentu saja aku tahu, tapi aku yakin ayah dia lah dalang di balik kejadian itu." Ucap Xanandra menatap ayahnya dengan mata penuh keyakinan.
" Alasan apa yang membuat mu yakin bahwa Nendra lah pelakunya, bukankah istrinya nya juga ikut menjadi korban?" Tanya Andra menatap anaknya heran.
" Bukankah tidak lama setelah itu dia langsung menikah dengan wanita lain, terlepas dari dia teman lama ayah, bukan kah dalam dunia bisnis dia itu termasuk saingan ayah? Masuk akal bukan jika dia ingin menyingkirkan istrinya demi menikahi wanita itu dan ingin membuat ayah terburuk akibat kehilangan ibu ?" Ucap Xanandra mengungkapkan apa yang ada di pikirannya dengan gamblang.
Mendengar ucapan anaknya itu, Andra pun terdiam, memikirkan apa yang di katakan anaknya itu cukup logis dan dia mulai goyah dengan pendiriannya terkait keluarga Adisha yang tidak terlibat dalam kejadian itu.
...Bersambung...
*** Hallo teman - teman terimakasih sudah membaca karya saya, mohon dukungan dari teman - teman sekalian dengan cara like, komen dan vote cerita ini, terimakasih, Sampai jumpa di episode selanjutnya.***
__ADS_1