
"Mas, tolong ijinkan aku menikah lagi!" Suara itu terdengar melengking.
Jantungku terasa berhenti berdetak, saat Rahma, istriku meminta ijin untuk menikah.
Mataku nanar menatap wajah oval yang kini terlihat semakin kinclong. Teganya dia punya niatan untuk menikah lagi, disaat kondisiku terpuruk seperti ini.
"Kamu harus setuju, Mas. Aku ini wanita normal, aku butuh nafkah batin. Untuk apa kau memberimu banyak uang, jika kebutuhan batinku nggak bisa kamu penuhi." Rahma menatapku sinis.
"Ehm ..., ehm ...," hanya itu suara yang mampu terlontar dari bibirku. Keadaan saat ini memaksaku untuk pasrah. Jangankan membela diri, melakukan protespun diri ini sudah tidak mampu.
"Sudahlah, Mas. Kesabaranku sudah habis. Mau sampai kapan aku menunggumu sembuh. Sudah 2 tahun lebih kau tergeletak nggak berdaya seperti ini. Jangankan membaik, bahkan keadaanmu justru semakin memburuk."
"Ehm ..., ehm ..." Aku berusaha menentang kata-kata Rahma.
Ya, keadaanku memang semakin memburuk dari hari kehari. Dan itu disebabkan karena sikap acuh tak acuh Rahma padaku.
Dia memang seperti tak berniat untuk mengurusku. Obat-obatan yang diberikan oleh pihak rumah sakit tempatku berobat, tak pernah diberikan oleh Rahma tepat waktu.
Dia hanya akan memberi, saat aku ribut meminta obat itu. Itupun jarang sekali.
Sering aku dibiarkan tidur dengan keadaan alas yang basah oleh air kencingku sendiri. Bahkan beberapa kali, Rahma sengaja membiarkan kotoranku menempel pada pampers sampai seharian penuh.
Tapi aku tak bisa protes, sebab kondisiku sekarang memang sepenuhnya bergantung pada Rahma.
"Jangan coba menentang keputusanku, Mas. Diam dan terima saja, atau aku akan membuangmu ketempat sampah." Rahma menatapku jijik.
Mataku perlahan memanas, rasa sakit yang teramat sangat singgah di ulu hati.
Teganya Rahma menodai janji pernikahan kami dulu, dan memilih untuk berlabuh didermaga lain.
Kemana perginya perempuan yang dulu pernah sangat mencintaiku, kemana hilangnya sifat sabar dan penyayang yang selalu berhasil membuatku merasa damai saat bersamanya.
Mungkinkah Rahmaku sudah mati? Lalu siapa perempuan yang kini berdiri penuh keangkuhan dihadapanku ini?
"Jangan cengeng! Kalau kau jadi aku, mungkin kaupun juga akan melakukan hal yang sama." Rahma berlalu meninggalkanku.
"Eh ..., ehm ...! Aku berusaha memanggil Rahma, tapi istriku itu bersikap acuh seolah tak mendengar teriakanku.
__ADS_1
Semoga Rahma tidak benar-benar membuat ucapannya menjadi kenyataan ...
*****
"Saya terima, nikah dan kawinnya Rahma Anisa binti Raharjo, dengan mahar cincin emas 10 gram, dan uang tunai sepuluh juta rupiah dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah ...!!!!"
Air mataku tumpah, saat suara laki-laki itu mengucap ijab kabul atas nama istriku. Hatiku bagai tersayat, saat kata 'Sah' itu menggema memenuhi ruang kamar kontrakan ini.
Dihadapanku, tampak sepasang pengantin yang wajahnya dipenuhi oleh rona kebahagiaan. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang kurasakan saat ini.
Sakit, perih, kecewa, semua rasa duka berkumpul menjadi satu dan dengan sengaja singgah dihati.
Sungguh, aku merasa menjadi laki-laki paling sial dan menderita didunia ini.
Bagaimana tidak, perempuan yang sangat aku cintai, yang bahkan keberadaannya disisi dipertahankan mati-matian, kini dengan tega berpindah kelain hati dan menduakanku.
Ah, Rahma, sungguh kau kejam sekali!
"Selamat ya Pak Nandar dan Mbak Rahma. Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri." Pak Penghulu menyalami istriku dan suami barunya secara bergantian.
Sedangkan aku, hanya bisa menyaksikan kemesraan sepasang pengantin baru itu dari tempatku berbaring saat ini, tanpa mampu untuk berbuat sesuatu.
*****
"Ahh ..., Mas." Lenguhan Rahma terdengar jelas ditelingaku. Bukan hanya suara, bahkan adegan Rahma dan suami barunya yang sedang bergumul dan berbagi peluh terpampang jelas didepan mata.
Mereka sengaja melakukan malam pertama dikamar ini. Sengaja mempertontonkan sesuatu yang sangat menjijikan padaku.
Aku berusaha menutup mata, dan tak memperdulikan suara-suara rintihan itu. Tapi nihil. Bayangan adegan menjijikan yang sedang mereka lakukan, terus melintas didepan mata.
Hingga akhirnya, teriakan dan lenguhan panjang Rahma bergema, sebagai pertanda bahwa adegan menjijikan itu telah usai.
"Terima kasih, Mas. Aku benar-benar puas. Hasrat yang sudah kutahan selama 2 tahun ini, akhirnya tersalurkan juga." Rahma berucap ditengah deru nafas yang masih terdengar memburu.
__ADS_1
"Iya sayang." Suara bariton milik maduku menyahut pelan. "Tapi, apa nggak masalah kita melakukannya disini? Aku merasa nggak enak pada suami pertamamu."
"Kenapa harus nggak enak? Itu justru bagus, agar dia tahu dan sadar bahwa dia memang butuh madu untuk memberikan nafkah batin padaku."
"Sudah untung aku nggak menceraikan dan membuangnya. Jadi dia harus menerima dan sadar diri." Rahma berucap dengan nada sinis, membuat ulu hatiku semakin nyeri.
"Jangan begitu, sayang. Biar bagaimanapun, dulu dia pernah memberimu kepuasaan. Ya, walaupun sekarang, dia tak ubahnya seperti daging busuk yang teronggok sia-sia. Nggak ada gunanya." Maduku itu terkekeh, membuat hatiku semakin nyeri.
Beraninya dia menghinaku. Apa dia tidak sadar, jika dia hanya laki-laki asing berjiwa pengecut, yang dengan liciknya merebut Rahma, ditengah kondisiku sekarang ini.
"Sudah, Mas. Untuk apa kita membahas lelaki cacat itu. Lebih baik, kau memberiku kepuasan lagi. Masih kuat kan?" Terdengar tawa genit Rahma.
****
"Sayang, apa nggak apa-apa meninggalkan pria lumpuh ini sendirian?" Lelaki yang baru kemarin menikahi Rahma, menatapku remeh.
Kata-kata yang dia ucapkan seolah menegaskan, jika aku hanyalah seorang pria penyakitan yang tidak berguna.
"Biasanya juga seperti ini. Toh, kita hanya pergi 3 hari. Jadi nggak usah khawatir. Dia bisa mengurus dirinya sendiri." Rahma memberi instruksi agar maduku itu mengangkat, lalu memindahkan tubuhku ke kursi roda.
"Kenapa nggak sewa saja perawat atau Art untuk menemaninya? Kalau ada apa-apa dengannya, bagaimana? Secara, dia kan lumpuh."
"Nggak perlu! Buang-buang uang saja." Rahma melirikku tajam.
"Seperti biasa ya, Mas. Kau harus bisa mengurus dirimu sendiri sampai aku kembali dari berbulan madu. Ingat, jangan membuat kekacauan, atau kau akan berakhir di tempat sampah." Rahma menepuk pipiku pelan.
Perempuan yang sudah kunikahi selama 10 tahun itu menggamit lengan maduku, lalu berjalan keluar, meninggalkan aku seorang diri dalam keadaan tak berdaya diatas kursi roda.
'Tega sekali kau, Rahma! Apa salahku, hingga kau tega melakukan semua ini?' Tangisku dalam hati.
Dari mesin mobil terdengar menjauh, menandakan jika Rahma dan suami barunya telah pergi meninggalkan rumah.
Sepuluh menit berlalu, suara ketukan hak sepatu pada lantai terdengar mendekat.
"Benar kan apa kataku, jika istrimu itu berhati busuk. Sekarang kau lihat sendiri, seperti apa kelakuannya. Menjijikan!" Seorang perempuan setengah baya dengan penampilan modis berdiri dihadapanku.
'Mama' Batinku berucap pelan.
__ADS_1