Dendam Suami Lumpuh

Dendam Suami Lumpuh
Bab 11


__ADS_3

Aku terus menatap foto Mama yang terpajang didinding ruang tengah. Hatiku kembali ngilu. Entah kenapa aku masih belum ikhlas dan menerima semua yang telah terjadi dengan lapang dada.


Perasaan sedih, kecewa dan bersalah bercampur menjadi satu. Menjadi beban tersendiri untuk mentalku saat ini.


"Den, ada Pak Fendi didepan." Suara Mbok Asih mengusikku.


Aku menatap Mbok Asih, lalu memberinya isyarat untuk mendorong kursi rodaku.


"Azwar, ini Pak Heri. Dia adalah bawahan Pak Robi sekaligus tangan kanan Alamarhum Papamu." Paman Fendi membawa seorang lelaki berperawakan tinggi besar kedahadapanku.


"Salam kenal, Pak. Saya Azwar." Aku mengenalkan diri sambil menjabat tangannya.


Ada perasaan aneh yang bergelayut saat aku melihat manik mata lelaki didepanku ini. Wajahnya terlihat tenang dan kalem, tapi entah kenapa, kilat matanya terlihat tajam dan sadis.


"Saya tahu. Anda ini anak Tunggal Almarhum Tuan Bagas dan Almarhumah Nyonya Puspa, kan." Pak Heri tersenyum padaku. Senyum yang terkesan dipaksa.


"Saya ikut sedih mendengar kecelakaan yang menimpa Almarhumah Nyonya Puspa. Tapi, semua sudah kehendak dari Allah. Sekuat apapun kita berusaha menolak, jika sudah waktunya untuk pergi, pasti akan tetap pergi."


Aku hanya menanggapi ucapan Pak Heri dengan seulas senyum. Mendengar nama Mama disebut, ulu hatiku kembali ngilu.


"Terimaksih banyak, Pak," ucapku lirih.


"Apa Herman pernah datang kemari, setelah pemakaman Mamamu?" Paman Fendi bertanya pelan.


Aku menggeleng. "Mungkin dia sibuk."


"Dia memang selalu sibuk, saking sibuknya bahkan dia nggak punya waktu untuk mencari pendamping hidup." Paman Fendi mendesah pelan.


Aku memang sempat mendengar dari Mama, jika Dokter Herman masih melajang sampai saat ini. Bahkan hingga usianya menginjak kepala 5, tak ada tanda-tanda jika dia akan mengakhiri masa lajangnya.


Padahal tidak sedikit perempuan-perempuan cantik dan mapan yang mendekatinya. Tapi entah Kenapa, tak satupun yang berhasil menarik perhatian dan hati Dokter Herman. Begitu cerita yang kudengar dari Mama.


"Azwar, tujuan saya membawa Pak Heri kemari, adalah untuk menggantikan posisi Pak Robi. Dia yang akan membantumu mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan bisnis Almarhumah Mamamu." Paman Fendi menjelaskan.


"Karena sekarang Puspa sudah meninggal, otomatis semua aset dan kekayaannya akan jatuh kepadamu sebagai anak tunggalnya."


"Tentang hal itu, apa nggak bisa menunggu nanti saja? Aku masih ingin fokus mencari keberadaan Pak Robi. Aku sangat yakin, kalau dia masih hidup." Aku menatap Paman Fendi tenang.


"Baiklah. Kalau begitu, biar Pak Heri saja yang mengurus dan mengatur semuanya. Kau hanya perlu memberikan surat kuasa yang memberi hak penuh pada Pak Heri." Paman Fendi menyodorkan kertas bermaterai padaku, surat kuasa.

__ADS_1


Aku menatap surat kuasa itu. "Nanti akan kutandangani, Paman. Tapi sekarang aku harus pergi, ada yang harus kuurus terlebih dahulu ...," ucapku lirih.


"Lebih cepat lebih baik, Azwar. Kita nggak bisa membiarkan semua bisnis yang ditinggalkan Mamamu terkatung-katung tanpa kejelasan. Harus ada orang yang menghandel semuanya." Paman Fendi menatapku serius.


*****


"Apa yang kita lakukan disini?"


"Menunggu seseorang." Gadis itu menatap kesekeliling, bahkan berkali-kali kepalanya terdongak kearah gang sempit diujung jalan.


"Siapa?"


"Nanti juga Kak Azwar tahu, siapa yang ingin kita temui."


Seorang perempuan nampak keluar dari gang, sesaat setelah Suci selesai berbicara. Penampilannya tampak modis dan glamour, tapi terlihat begitu norak dan kampungan.


"Itu dia." Suci mengarahkan dagu kearah perempuan itu.


"Siapa dia?"


"Istri sahnya Nandar, Mbak Sarah." Suci menatap perempuan yang berjalan semakin mendekat itu lekat.


"Siapa laki-laki ini? Sugar Daddy barumu?" Tatapan penuh ejekan perempuan itu tujukan padaku.


Apakah laki-laki dengan keadaan dan kondisi sepertiku saat ini memang selalu dipandang sebelah mata oleh sebagian orang?


Atau hanya orang-orang yang berjiwa arogan dan sombong saja yang selalu menatapku penuh ejekan?


Suci hanya diam, tak menjawab atau menanggapi pertanyaan perempuan didepan kami.


"Jadi hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku? Cepatlah, aku nggak punya banyak waktu." Perempuan bernama Sarah itu menatap Suci malas.


"Duduk dulu, kita bicara santai." Suci menanggapi gaya sombong Sarah dengan sikap tenang.


"Duduk? Ditempat ini? Hah, konyol sekali. Apa kau pikir aku mau mengotori pakaian mahalku dengan debu yang menempel pada kursi ini?" Sarah tetap berdiri, dilipatnya kedua tangan didepan dada.


"Kenapa Mbak menyalahkan debu, sudah benar memang tempatnya disana. Jika ingin duduk tenang dan pakaian mahalmu tetap bersih, berusahalah sedikit untuk menyingkap debu itu." Suci berucap tanpa menatap Sarah, yang masih tetap berdiri diam ditempat semula.


"Apa Mbak benar-benar nggak ingin tahu tentang apa yang akan kusampaikan?" Suci mengulas senyum.

__ADS_1


"Jangan mempermainkanku, Suci! Katakan, apa yang ingin kau sampaikan!" Suara Sarah melengking tinggi.


"Oke, oke." Suci mengeluarkan sebuah amplop coklat, kemudian memberikannya pada Sarah.


Perempuan itu tersentak setelah mengeluarkan isi didalam amplop coklat tersebut dan melihatnya. Wajah Sarah memerah dan kedua matanya melotot tajam. Dadanya terlihat turun naik, sedangkan nafasnya terdengar memburu.


"Kurang ajar! Dari mana kau mendapatkan ini! Katakan!" Sarah meraih dan meremas kerah kemeja yang dikenakan Suci.


Reflek aku menarik tangan Sarah dan berusaha melepaskannya.


"Jangan ikut campur!" Sarah membentakku, kemudian mendorong tubuhku yang duduk diatas kursi roda, hingga hampir terjengkang.


"Kak Azwar!" Suci reflek berdiri ingin menolongku, tapi tubuhnya kembali ditarik oleh Sarah.


"Katakan dari mana kau mendapatkan ini?!" Tatapan Sarah tajam menghujam.


Suci terkekeh pelan. Tak ada sedikitpun rasa takut diraut wajah gadis itu.


"Kenapa? Mbak nggak menyangka kalau suami tercinta Mbak tega melakukan hal itu?"


"Siapa perempuan itu? Dan dimana dia tinggal saat ini?" Sarah terlihat menahan amarah.


"Semua info tentang selingkuhan suamimu, ada dibelakang foto itu," jelas Suci lirih.


Sarah melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah kemeja Suci, kemudian membalik foto yang dipegangnya.


"Kurang ajar kalian! Tunggu, akan kubalas keculasan kalian padaku." Sarah mendesis pelan.


Perempuan itu kemudian berbalik, dan tanpa sepatah katapun dia berjalan meninggalkan aku dan Suci.


"Ingat, Mbak, jangan bawa-bawa namaku didepan Suamimu dan seljngkuhannya nanti! Suci berteriak lantang.


"Persetan denganmu!" Sarah sempat berbalik, kemudian berteriak. Sebelum akhirnya menghilang dibalik tembok gang sempit diujung jalan.


Suci mengulas senyum kearahku. Aku akui, gadis didepanku ini memang cerdik dan licik. Dia sengaja menggunakan kemarahan istri Nandar, untuk memberi pelajaran kepada Rahma.


"Ayo kak, kita juga harus pergi. Aku nggak ingin ketinggalan tontonan gratis ..., dan mentertawakan Mbak Rahma serta Nandar ..." Senyum sinis terkembang dibibir tipis Suci ...


Akupun begitu, tidak sabar ingin melihat reaksi terkejut Rahma dan Nandar, ketika Sarah mendatangi mereka nantiĀ  ...

__ADS_1


Langkah awal balas dendam yang epic ...


__ADS_2