Dendam Suami Lumpuh

Dendam Suami Lumpuh
Bab 3


__ADS_3

Aku dibawa kembali kerumah Mama. Rumah yang sudah lebih dari 10 tahun ku tinggalkan. Rumah yang tak pernah kukunjungi, walau hanya sekedar berdiri memandangnya dari jauh saja.


Rumah yang selama 22 tahun menjadi saksi tumbuh kembangku, menjadi saksi suka duka yang pernah kulalui bersama Mama dan Almarhum Papa, sebelum akhirnya memilih untuk pergi.


Ya, kini aku kembali kerumah penuh kenangan. Rumah yang sebenarnya sangat kurindukan, namun rindu itu tersisih oleh ego.


"Ya Allah, Gusti. Den Azwar!" Seorang perempuan seusia Mama berlari menghampiri, saat pintu depan baru saja terbuka.


"Den Azwar kemana saja? Kenapa nggak pulang-pulang? Mbok kangen. Ya Allah, Den, kenapa sekarang jadi seperti ini?" Perempuan itu meraung sambil merangkulku.


Dia adalah Mbok Asih, pengasuh yang sudah kuanggap seperti keluarga sendiri.


"Ehm ..., ehm ..."


'Ya Allah, Mbok. Aku juga kangen.' Batinku.


Mbok Asih terus merangkulku, tangisnya kini semakin pecah tatkala melihatku tak mampu untuk berbicara normal.


Ingin kuelus punggung perempuan yang sudah mengasuhku ini. Namun apa daya, kondisiku saat ini sangat tak memungkinkan.


"Sudah, Mbok. Biarkan Azwar istirahat dulu. Kalau Mbok kangen, nanti bisa temani Azwar istirahat dikamar."


Kulirik Mama, jemarinya sibuk menghapus air mata yang sudah turun kepipi. Mama menangis.


Mungkinkah sebenarnya hati Mama rapuh melihat keadaanku sekarang? Atau hanya terbawa suasana karena tangisan memilukan dari Mbok Asih? Entahlah.


"Iya, Nya. Ayo Den, Mbok anter ke kamar." Tangan keriput Mbok Asih berganti mendorong kursi rodaku.


Perlahan aku memasuki ruang tamu, kemudian ruang tengah dan sampai keruang keluarga. Tak ada yang berubah. Didinding ruangan ini, masih terpajang rapi foto-fotoku. Mulai dari aku bayi, hingga remaja.


Mataku tertuju ada sebuah foto berukuran besar, dimana gambarku, Mama dan Papa berdiri serasi dengan senyum mengembang di masing-masing bibir.


Ah, andaikan waktu itu aku tak terpikat oleh pesona Rahma, mungkin saat ini aku masih bisa berdiri disamping Papa.


"Mbok, bawa kekamar tamu saja." Suara Mama memecah lamunan.


Mbok Asih perlahan mendorongku masuk kekamar yang berada tepat disamping ruang keluarga. Satu-satunya kamar yang berada dilantai bawah.


"Hari ini saya sudah membuat janji dengan Dokter Herman. Mungkin 15 menit lagi beliau sampai." Mama mengambil alih pegangan kursi roda dari tangan Mbok Asih.


"Mbok siapkan bubur saja, biar saya yang mengurus Azwar." Mama menutup pintu kamar pelan, setelah Mbok Asih berlalu.


Tak ada percakapan yang terjadi antara aku dan Mama setelah itu. Mama hanya menempatku didepan jendela kaca yang mengarah langsung ke taman belakang. Sedangkan Mama, hanya duduk memandangiku dari arah samping.


Aku tidak tahu pasti apa yang sedang dipikirkan Mama saat ini.


"Hah ..."


Terdengar helaan pelan dari Mama, setelahnya Mama berlalu meninggalkan aku dikamar seorang diri.

__ADS_1


Mungkinkah Mama belum bisa melepas rasa sakit hatinya dan memaafkanku? Entahlah, hanya Mama dan Allah saja yang tahu.


*****


"Stroke Azwar sebenarnya nggak terlalu parah. Hanya saja, mungkin selama ini perawatan yang dia terima kurang efektif, jadi kondisinya terlihat lemah dan memprihatinkan seperti ini."


Mama hanya menganggukan kepala beberapa kali, saat mendengar penjelasan yang disampaikan dokter Herman.


Memang, selama ini Rahma kurang mengurusku. Bahkan terkesan acuh tak acuh seperti menghendaki aku mati perlahan.


"Kenapa nggak dirawat dirumah sakit saja? Azwar bisa sekaligus mengikuti Fisioterapi disana. Dan kemungkinan untuk sembuh akan jauh lebih cepat." Dokter Herman memberi usul.


"Apakah Azwar bisa sembuh total?" Mama mengajukan pertanyaan, yang entah kenapa membuat dadaku berdebar.


"Aku nggak bisa menjamin, tapi aku akan berusaha menyembuhkan Azwar." Dokter Herman menatapku iba.


"Bisa kita bicara diluar?" Mama memandang Dokter Herman penuh arti, sebelum akhirnya berlalu pergi.


Sepeninggal Mama dan Dokter Hendra, pikiranku melayang tertuju pada Rahma. Wanita yang telah kubela mati-matian didepan Mama itu, tega sekali menghianatiku.


Aku masih tak habis fikir, dimana hati nurani perempuan yang masih sah berstatus istriku itu. Apakah cintanya padaku sudah benar-benar luntur, hingga dia dengan mudah berpindah kelain hati?


Bayangan Rahma bergumul dengan laki-laki itu datang melintas, membuat ulu hatiku kembali nyeri.


Dan rasa nyeri itu perlahan berubah menjadi sakit hati, yang menimbulkan dendam membara di dalam diri. Aku harus mendapatkan kembali harga diriku sebagai laki-laki dan seorang suami.


Ya, akan ku balas perlakuan dan hinaan mereka padaku. Bahkan mereka akan mendapatkan balasan yang jauh lebih menyakitkan, dari apa yang aku rasakan saat ini. Aku bersumpah!!!!


****


"Iya, Nyonya. Setelah pulang dari Bali mereka pindah."


"Kamu nggak kehilangan jejak mereka kan?" Mama menyuapkan bubur padaku.


"Mereka kembali kerumah lama."


"Oh, rumah yang kubeli untuk Azwar itu?" Mama menoleh, sedikit terkejut sepertinya. "Bukankah rumah itu sudah dijual?"


"Hanya digadaikan sertifikatnya pada Lintah Darat."


"Lalu siapa laki-laki yang kita temui disana waktu itu, saat kita menyamar dan mencari keberadaan Azwar?" Mama semakin nampak terkejut.


"Kerabat Nandar."


"Hebat! Dia membawa anakku pindah kekontrakan sempit, lalu membiarkan keluarga lelaki benalu itu menempati rumah anakku. Benar-benar licik."


"Ehm ..., ehm ..." Aku memotong kata-kata Mama. Meminta penjelasan dari hal yang sedang Mama bicarakan dengan Pak Robi.


Rumah? Rumah apa yang mama maksud? Kenapa Mama mengatakan pernah membeli rumah untukku? Kapan? Setahuku, setelah aku memutuskan untuk meninggalkan Mama, aku tidak pernah sekalipun berhubungan lagi dengannya.

__ADS_1


"Kau pasti bingung, Azwar." Mama tersenyum.


"Mama ...," Ponsel milik Mama yang tiba-tiba berdering, urung membuatnya memberi penjelasan.


"Mama tinggal sebentar," ucap Mama setelah menatap layar ponselnya. "Robi, tolong temani Azwar." Mama berlalu.


Manik netraku mengikuti tubuh tinggi semampai Mama, sampai menghilang dibalik dinding teras belakang.


"Tuan ...," Fokusku teralih pada Pak Robi, yang kini menggantikan posisi Mama menyuapiku.


"Pasti Tuan bertanya-tanya tentang rumah yang baru saja kami bicarakan. Sebenarnya, rumah yang tuan tempati bersama istri Tuan selama ini, adalah rumah pemberian Nyonya." 


Netraku membulat sempurna. Andai saja aku mampu untuk berbicara normal, sudah pasti aku akan memekik karena terkejut.


Bagaimana mungkin, bukankah rumah itu adalah rumah yang kubeli dengan cara mencicil menggunakan uang gajiku selama ini?


Mungkinkah ini alasannya, kenapa harga rumah yang dulu kucicil itu jauh lebih murah dibanding harga rumah pada umumnya?


Jadi, ada campur tangan Mama dibalik itu semua.


"Sebulan setelah Tuan Azwar memutuskan untuk keluar dari rumah ini, Nyonya terus mencari keberadaan Tuan. Berbulan-bulan, bahkan sampai 2 tahun kemudian, tak juga kami temukan." Pak Robi mulai bercerita.


"Sampai akhirnya Nyonya mendapat kabar dari teman kuliahnya dulu, bahwa Tuan Azwar melamar pekerjaan dipabrik roti miliknya. Bahkan Nyonya sempat mengunjungi rumah kontrakan Tuan, tapi enggan untuk bertemu langsung. Nyonya, hanya memperhatikan Tuan dari jauh saja."


"Nyonya benar-benar terpukul, saat melihat kondisi Tuan Azwar saat itu yang serba kekurangan. Sampai akhirnya, Nyonya memutuskan untuk memberikan sebuah rumah pada Tuan, melalui tangan temannya itu."


Nuraniku benar-benar terpukul. Dadaku terasa semakin sesak, bahkan ada sesuatu yang terasa seperti menghantam jiwaku hingga membuatnya nelangsa.


Mama, ternyata selama ini kau masih sangat memperdulikan aku? Bahkan disaat aku sudah menghancurkan hatimu hingga berkeping-keping, kau masih sanggup memberiku sesuatu.


"Nyonya tahu, Tuan Azwar nggak akan menerima pemberian rumah itu jika diberikan oleh Nyonya secara langsung. Itu sebabnya, Nyonya memberikannya melalui perantara orang lain." Pak Robi menghela nafas. Diusapnya ujung bibirku dengan tisu.


"Beliau tahu, ego, harga diri dan gengsi Tuan sangat tinggi, jadi beliau memutuskan untuk mengambil jalan itu. Dan uang yang Tuan gunakan untuk mencicil rumah itu setiap bulannya, akan kembali pada Tuan sebagai bonus."


"Nggak ada yang lebih mengerti sifat dan prilaku seseorang, melebihi seorang ibu, Tuan."


Air mataku meleleh perlahan. Isakku pecah, tapi tanpa suara. Kasih sayang Mama ternyata tidak pernah berubah. Bahkan disaat hatinya telah terluka oleh perlakuanku, kasih sayang dan cinta itu tetap masih ada.


"Itu hakmu, Azwar. Walaupun kau sudah pergi meninggalkan rumah dan juga Mama, tapi kau masih berhak menerima apa yang memang sudah menjadi hakmu. Karena biar bagaimanapun juga, kau tetap anak Mama." Mama berjalan perlahan mendekatiku, lalu mengusap air mataku dengan telapak tangan.


"Maafkan Mama, karena telah membiarkanmu menderita selama 2 tahun terakhir. Mama hanya ingin kau tahu, dan menunjukkan padamu bagaimana sifat asli perempuan yang kau bela mati-matian didepan Mama dulu."


"Sekarang kau sudah kembali, Nak. Nggak akan Mama biarkan siapapun menyakitimu lagi." Mama memelukku erat.


Air mata semakin deras mengalir dipipi. Dosaku pada Mama sungguh sangat besar. Tuhan, ampuni aku!


"Nyonya ...," lirih Pak Robi memanggil. "Penghulu dan saksi palsu itu, sudah berada dikantor polisi." 


Mama melepas pelukannya, lalu memandangku dengan sumringah.

__ADS_1


"Siapapun yang pernah terlibat dalam duka dan hinaan yang kau tanggung, Mama pastikan akan menyesal hingga maut menjemput ...."


'Mama ....'


__ADS_2