
PoV 3 ( PoV Autor)
"Bagaimana?"
"Sesuai dugaan Anda, Nyonya. Mereka langsung memindah-tangankan semua aset serta harta kekayaan anda ketangan Tuan Azwar." Lelaki itu memberikan sebuah amplop besar pada perempuan didepannya.
"Sudah kau selidiki, siapa dalang dibalik kecelakaan yang menimpa sekretarisku?" Nyonya Puspa mengajukan pertanyaan, sambil membalik beberapa kertas dari dalam amplop tadi.
"Sudah. Tapi belum membuahkan hasil."
Nyonya Puspa mendesah pelan, setelah sebelumnya meletakkan amplop tersebut diatas meja didepannya.
Dia memijat pelipisnya lembut, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa yang ia duduki.
"Aku nggak pernah menyangka, kalau semua akan menjadi rumit begini, Robi. Niat awal ingin memberi pelajaran pada mereka yang sudah menyiksa dan menghina Azwar, justru membuatkuĀ menguak rahasia besar yang selama ini nggak pernah kuketahui," lirih Nyonya Puspa.
"Sebenarnya, saya sudah lama curiga. Hanya saja, saya belum bisa mendapatkan bukti yang kongkrit mengenai masalah itu, Nyonya."
"Siapa yang kau curigai, Robi? Otakku nggak bisa berfikir jernih untuk saat ini." Nyonya Puspa tampak memejamkan mata.
"Tuan Fendi, Nyonya. Saya menduga, dia adalah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa Tuan Bagas 10 tahun lalu. Juga ...,"
"Kecelakaan yang sudah merenggut nyawa sekretarisku kemarin!" Tegas, perempuan itu berucap.
Pak Robi berdiri diam. Lelaki itu terus menatap Bosnya dengan tatapan sendu. Sepuluh tahun lalu, beliau kehilangan suami tercinta dalam sebuah kecelakaan. Siapa sangka, kecelakaan itu ternyata disengaja dan diatur sedemikian rupa, oleh orang terdekat Nyonya Puspa sendiri.
"Hah ..." Nyonya Puspa mendesah pelan.
"Lalu, sekarang bagaimana, Nyonya? Apakah kita akan terus bersembunyi seperti ini?"
"Mungkin untuk sementara waktu lebih baik begini. Aku ingin menenangkan diri, sekaligus menunggu titik lemah mereka dan mengumpulkan bukti." Nyonya Puspa masih terpejam.
"Tapi ...," Nyonya Puspa membuka matanya perlahan. " Aku mengkhawatirkan keadaan Azwar."
"Saya mendapat kabar, jika sekarang Tuan Azwar sudah bisa berbicara."
Nyonya Puspa mendelik, kemudian menegakkan badan dan menatap kearah Pak Robi. "Benarkah?"
Pak Robi mengangguk.
"Azwar ..." Kedua netra Nyonya Puspa berkaca-kaca. Tampak sekali kekhawatiran yang berbalut rindu pada raut wajah perempuan setengah baya itu.
"Suruh orangmu terus mengawasi Azwar, Robi. Pastikan jika anakku baik-baik saja. Tapi jangan sampai dia tahu, jika aku masih hidup."
__ADS_1
"Biarlah rasa kehilangan, mengajarkannya untu menjadi lebih kuat," bisik Nyonya Puspa, kemudian kembali menyandarkan kepala dan menutup kedua netranya.
*****
"B4jing4n kamu, Mas! Berani sekali kamu bermain api dibelakangku! Rasakan ink, rasakan!" Perempuan bernama Sarah itu terus mengarahkan tinju kearah sang suami.
Berkali-kali dia melayangkan pukulan dan tendangan ketubuh suaminya, Nandar.
"Ampun, Ma! Ampun! Kau sudah salah paham. Aku ..., aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Rahma. Dia hanya memintaku untuk membantu menyingkirkan suaminya yang lumpuh, itu saja," suara Nandar terdengar memelas.
"Jangan bohong kamu, Mas! Kamu kira aku ini b0d0h, hah! Aku sudah menyelidiki semuanya sebelum aku datang kemari. Jadi jangan berusaha berkelit lagi!" Sarah berteriak lantang.
"Aku nggak bohong, Ma. Aku memang hanya membantu Rahma."
"Iya, membantu memuaskannya setiap malam, kan!" Tatapan Sarah begitu tajam, mengarah pada Nandar.
"Bukan begitu, Ma. Aku ...,"
"Aku apa? Aku terlanjur menikmati hubungan panas dengan Rahma, begitu? Atau, aku sudah kecanduan liarnya perempuan bin4l itu, begitu? Katakan, Mas. Ayo cepat katakan!"
Bugh ...!
Lagi, sebuah tendangan mengenai tepat pangkal ************ Nandar.
"Akkhhh ...!! Ma ..., tega sekali kamu ... Hancur sudah masa depanku," ucap Nandar pelan, kemudian ambruk dan pingsan.
"Sekarang saatnya memberi pelajaran pada pelak0r itu," bisik Sarah pelan.
*****
"Ada kabar baik, Kak." Suci bergegas datang menemui Azwar, setelah mendengar berita penganiayaan yang dilakukan Sarah kepada Nandar.
"Apa?" Azwar yang tengah duduk menghadap taman, lantas memutar kursi rodanya.
"Lihat ini." Gadis berambut sebahu itu menunjukan sebuah rekaman video kepada Azwar.
Azwar menatap video itu dengan tegang. Mungkin Azwar merasa ngeri, melihat bagaimana marahnya seorang perempuan, yang hatinya telah koyak karena dihianati.
"Apakah ini benar-benar perempuan yang kita temui kemarin?" Azwar menatap Suci lekat.
Gadis itu mengangguk beberapa kali, tampak senyum tipis mengembang dibibirnya.
"Mbak Sarah itu jago berkelahi. Makanya, Nandar takut padanya."
__ADS_1
Azwar mengangguk, tanda mengerti. Jadi ini rencana Suci, membuat Nandar tak berkutik ditangan Sarah. Dengan begitu akan lebih mudah bagi mereka untuk membalas dendam jika mereka terpecah.
Pintar dan licik. Ternyata Azwar sudah salah menilai gadis di hadapannya ini.
Awalnya Azwar sempat ragu, apakah tindakan yang Suci lakukan akan berhasil. Nyatanya, semua berjalan diluar dugaan Azwar.
"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" Azwar bertanya penasaran.
"Sekarang giliran Papa ..." Suci tersenyum licik.
*****
"Ada kabar apa, Robi?" Nyonya Puspa bertanya tak sabar ketika melihat Robi kembali ketempat persembunyian mereka.
"Nyonya, 45% saham perusahaan berpindah ketangan Heri," jawab Pak Robi ragu.
"Bagaimana bisa?"
"Dia mendapatkan saham itu, melalui rapat direksi. Sebagian pemegang saham bersedia menyerahkan hak kuasa pada Heri untuk mengelola perusahaan."
"Benar-benar bencana. Perusahaan bisa hancur jika kepemimpinan berpindah ketangannya." Nyonya Puspa mengepalkan kedua tangan.
"Berita bagusnya, Tuan Azwar belum menandatangani surat kuasa yang melimpahkan hak penuh pada Heri untuk mengelola semua aset dan bisnis milik Nyonya." Pak Robi menatap Nyonya Puspa tenang.
"Jangan sampai Azwar menandatangani surat kuasa itu,"
"Saya pastikan itu nggak akan terjadi, Nyonya. Saya sudah menyuruh dan membayar seseorang untuk selalu berada disisi Tuan Azwar. Dia akan melindungi dan membantu Tuan Azwar, selama kita bersembunyi."
"Siapa orang itu? Apakah dia bisa dipercaya?" Nyonya Puspa menyipitkan mata.
"Nona ... Suci."
"Apa?" Nyonya Puspa menatap Pak Robi penuh keraguan.
"Apa kamu nggak salah orang, Robi? Bagaimana jika gadis itu menghianati kita?" Perempuan setengah baya itu tampak was-was. Dia merasa tidak puas dengan tindakan orang kepercayaannya.
"Dia bisa menghianati Papa dan saudaranya. Bukan nggak mungkin jika dia juga bisa menghianati kita nanti,"
"Saya pastikan, jika Nona Suci adalah satu-satunya orang yang bisa kita percaya untuk saat ini, selain Dokter Herman."
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu, Robi? Apakah kamu sudah mengenal Gadis itu cukup lama?"
"Saya nggak perlu mengenalnya lama, untuk mengetahui karakter seseorang. Dan saya yakin, Nona Suci adalah orang yang tepat. Lagipula, dia memiliki tujuan yang sama dengan kita," jelas Pak Robi.
__ADS_1
Nyonya Puspa menatap Pak Robi lekat. Perempuan setengah baya itu berusaha mencari keseriusan diwajah orang kepercayaan itu.
"Satu hal yang harus anda Ingat, Nyonya, jika musuh dari musuh kita, adalah teman ..." Pak Robi menatap Nyonya Puspa disertai senyum tipis dibibir ....