Dendam Suami Lumpuh

Dendam Suami Lumpuh
Bab 7


__ADS_3

PoV 3 ( Pov Author )


"Itu permintaan Azwar. Dia nggak mau bertemu dengan anda. Karena Azwar sudah nggak menganggap anda sebagai Mamanya lagi, semenjak keluar dari rumah 10 tahun lalu ..." 


'Lelaki ini, bukan orang sembarangan. Terlihat dari ucapannya, dia lihai bermain tak tik.' Nyonya Puspa menatap lelaki itu tajam.


"Bukankah anda sudah mengusirnya pergi dari rumah dan memutuskan hubungan ibu-anak dengan Azwar? Bahkan selama 10 tahun ini, sekalipun anda nggak pernah datang walau hanya sekedar untuk menjenguknya,"


Nyonya Puspa terdiam, tak sepatah katapun mampu keluar dari bibir tipisnya. Hatinya ragu, haruskah dia mengaku jika Azwar saat ini tengah berada bersamanya dan membongkar semua kebohongan lelaki itu?


Tapi di lain sisi, akalnya menimbang, jika ia bicara jujur maka semua bisa berbalik dan menyerang dirinya, mengingat lelaki didepannya itu sangat pandai memutar kata-kata.


Salah-salah, justru nyawa Azwar yang akan terancam.


"Apa saya salah berucap, Nyonya?" Senyum penuh kemenangan terukir dibibir lelaki bernama Bram itu.


"Ucapan anda nggak salah. Saya memang pernah punya masalah dengan anak saya, dan hubungan kami sempat merenggang selama bertahun-tahun. Tapi ...,"


"Tapi anda berbicara seolah hubungan anda dengan anak anda baik-baik saja." Bram semakin tersenyum lebar.


"Saya nggak tahu apa yang sudah membawa anda kesini. Tapi tolong, jangan fitnah anak saya, Rahma, dan membalikkan situasi seolah dialah yang berbuat jahat disini."


"Apa benar begitu?" ucap seorang warga.


"Oh, pantas saja saya nggak pernah melihat keluarga Azwar datang berkunjung. Ternyata hubungan Azwar dengan keluarganya kurang baik." Sela warga yang lain.


"Saya paham, Nyonya, jika anda nggak menyukai anak saya. Tapi apa harus dengan memfitnahnya seperti ini?" Bram semakin berusaha mengarahkan ujung tombak pada Nyonya Puspa. Dia memutar semuanya, dan melimpahkan semua kesalahan pada perempuan setengah baya itu.


"Saya, memfitnah anak anda? Untuk apa? Konyol sekali." Nyonya Puspa mulai terpancing emosi. Tapi dia tetap berusaha menguasai diri.


"Kalau masalah itu, hanya anda dengan Tuhan yang tahu." Bram melempar senyum penuh ejekan.


"Nggak masuk akal! Saya kemari hanya ingin bertemu dengan anak saya yang sudah selama 10 tahun nggak saya jumpai. Saya nggak tahu menahu tentang masalah yang menimpa anak anda. Jadi jangan berusaha melempar kesalahan pada saya!" Nyonya Puspa berucap lantang. Dia terus menatap Bram tajam seolah ingin menerkamnya.


"Benarkah? Tapi kenapa saya merasa semuanya begitu kebetulan." Bram terus menekan Nyonya Puspa.


"Kebetulan apanya? Kenapa anda nggak bertanya pada warga yang pertama kali mendapatkan bukti foto itu, sebelum melempar tuduhan pada saya!" Nyonya Puspa menatap warga yang pertama kali menunjukan foto bukti pernikahan Rahma dan Nandar.

__ADS_1


"Saya nggak kenal dengan Nyonya ini," ucap warga itu setengah berteriak.


"Siapa yang tahu jika kalian telah bersekongkol." Bram mengangkat bahu.


Nyonya Puspa meremas sebelah tangannya kuat. Hatinya begitu dongkol dan kesal melihat lelaki di hadapannya itu terus bersilat lidah.


"Bagaimana ini, Pak RT? Saya jadi bingung."


"Iya. Kenapa malah jadi seperti ini sih?"


"Jadi siapa yang salah disini? Rahma atau Nyonya itu?"


Warga terdengar ricuh dan terus saling berbisik.


"Dia berbohong ...!" Suara teriakan dari seorang gadis melengking, memecah suasana riuh di balai desa.


"Kak Azwar ..., Kak Azwar nggak berada di pesantren. Selama ini mereka mengurung Kak Azwar disebuah kontrakan sempit dipinggir kota.  Mereka menyiksanya." Gadis itu berucap dengan suara bergetar. Nampak sekali jika gadis itu menahan amarah yang membuncah.


"Anda ini siapa?" Pak RT bertanya pelan. Kebingunan menghiasi wajah lelaki ceking itu.


"Saya ..., saya adalah adik kandung Rahma." 


Bukan hanya warga, Nyonya Puspa pun sempat terdiam, berusaha mencerna semua yang sedang terjadi didepan matanya saat ini.


"Kak Rahma memang menikah siri dengan lelaki itu. Foto itu adalah foto asli pernikahan mereka, bukan foto yang di buat untuk memberi kejutan pada Kak Azwar."


"Jangan ngawur kamu, Suci! Papa tahu kamu memendam sakit hati pada kakak mu, tapi nggak harus ikut memfitnah dia seperti ini!" Bram berteriak pada perempuan yang dipanggil Suci itu.


Matanya memerah, seperti menahan amarah. Raut wajah Bram pun terlihat gelisah, seperti ada sesuatu yang membuatnya khawatir.


"Itu bukan fitnah! Saya punya saksi!" Suci berbalik, lalu berjalan kearah belakang. Gadis itu menghampiri sebuah mobil pickup, lalu menarik seseorang keluar dari dalam mobil tersebut.


Bram sangat terkejut, begitu juga dengan Rahma dan Nandar. Wajah mereka bertiga, berubah pucat pasi.


"Ba-bagaimana mungkin ...," bisik Rahma pelan.


"Dia adalah saksi kunci dari pernikahan siri yang telah dilakukan oleh Kak Rahma dengan lelaki itu ..." Jari telunjuk Suci tertuju kearah Nandar.

__ADS_1


'Lelaki ini ...' Nyonya Puspa berbisik dalam hati.


"Jadi mereka benar-benar telah menikah siri? Keterlaluan sekali!" Teriak seorang warga.


"Benar. Saya berani bersumpah, jika mereka benar-benar melangsungkan pernikahan. Foto itu asli." Suci menatap Papa dan Kakaknya penuh rasa benci.


"Tanyakan saja pada orang ini." Suci mendorong seorang lelaki yang ada disampingnya.


"Cepat katakan pada mereka semua, apa yang telah dilakukan oleh Kak Rahma, Papa dan lelaki itu pada Kak Azwar!" Suci berteriak, memberi perintah pada lelaki itu.


"Sa-saya nggak tahu apa-apa," jawab lelaki itu pelan.


"Sa-saya ... hanya  diperintahkan oleh Tuan Bram untuk menjadi penghulu palsu dipernikahan anaknya. Saya bersumpah, saya nggak tahu apa-apa." Lelaki itu bersimpuh.


"Badrun ... beraninya kau!" Bram memekik.


"Iya, wajah lelaki itu ada di foto ini. Sama persis dengan penghulu yang menikahkan mereka,"


"Keterlaluan! Jadi lelaki itu berbohong untuk membela anaknya?"


Nyonya Puspa tersenyum. Walaupun dia tidak tahu siapa dan darimana gadis itu berasal, tapi setidaknya kehadirannya sangat membantu situasinya saat ini.


"Maaf, sebaiknya masalah ini kita bawa ke pihak berwajib saja. Karena ini bukan masalah tentang perselingkuhan saja, tapi sudah masuk kepenipuan publik." Pak RT memberi solusi.


"Nggak! Tolong jangan bawa kami ke kantor polisi. Kami mohon!" Rahma meraung, sambil bersimpuh di lantai.


Bram tampak mengusap wajahnya dengan kasar beberapa kali, sedangkan Nandar hanya terduduk sambil terus menunduk.


"Tunggu!" Nyonya Puspa berteriak. Otaknya bekerja keras, berusaha memaafkan situasi untuk menambah tuduhan pada ketiga orang itu.


"Katakan dimana kalian menyembunyikan anakku, Azwar! Pasti kalian sudah menyekapnya di suatu tempat kan! Katakan, dimana anakku!" Nyonya Puspa menarik kerah kemeja Bram, dan menatapnya sengit.


*****


"Ehm ... ehm ..." Azwar menatap Pak Robi, berusaha bertanya menggunakan bahasanya tentang rencana yang telah mereka buat.


"Tenang, Tuan. Semua berjalan sesuai rencana. Rahma dan Papanya, nggak akan bisa berkutik lagi sekarang." 

__ADS_1


Azwar berusaha tersenyum, walaupun bibir kakunya sangat sulit untuk digerakkan.


'Nggak akan aku biarkan kamu menang, Rahma. Akan kutempuh seribu cara untuk membalas dendam dan menghancurkanmu. Akan kubuka kedokmu, dan akan kubongkar semua kejahatan yang pernah kau lakukan selama ini." Batin Azwar.


__ADS_2