Dendam Suami Lumpuh

Dendam Suami Lumpuh
Bab 4


__ADS_3

"Jadi ini orang-orang yang sudah ikut menyakiti dan menghina anakku?" Mama duduk dengan angkuh di hadapan 3 orang lelaki yang terus menunduk.


"Pandai sekali kalian berakting menjadi penghulu dan saksi, sampai berani menikahkan perempuan yang masih bersuami." Mama menatap mereka bertiga tajam.


Ketiga lelaki itu mengangkat kepala. Keterkejutan nampak jelas terpampang diwajah mereka. Raut mereka berubah pias, penuh rasa takut.


"Untung saya masih berbaik hati, dan nggak melaporkan perbuatan kalian kepolisi. Karena saya tahu, kalian hanyalah orang bayaran." Mereka kembali menundukkan kepala. 


"Berapa perempuan itu membayar kalian?" Tak ada jawaban. Ketiga lelaki itu terus menunduk.


"Jawab!" Pak Robi membentak, tangannya menggebrak meja kayu dihadapan ketiga lelaki itu.


"Du-du ...," terbata salah satu dari mereka menjawab.


"Du- apa? Dua juta? Atau ..." Mama berucap lirih.


"Du-a ratus ribu."


Tawa Mama menggema setelah mendengar jawaban itu. "Dua ratus ribu? Dan kalian mau?"


Mereka bertiga diam.


"Murah sekali harga diri kalian. Pantas saja kalian  masih mencuri, ternyata hanya segitu harga diri kalian dibeli." Mama kembali tertawa.


"Apa kalian nggak berfikir, uang dua ratus ribu itu nggak sebanding dengan dosa yang kalian dapat karena sudah menipu orang?" Mama menatap tajam orang-orang itu secara bergantian.


"Tapi, orang-orang seperti kalian mana kenal dosa. Halal haram, bagi kalian sama saja kan."


Hening, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ketiga orang didepan Mama.


Aku mengenali wajah orang-orang itu. Memang benar, mereka adalah penghulu dan saksi yang menikahkan istriku dengan lelaki lain beberapa hari yang lalu.


Tapi, benarkah mereka ini masih kerabat dekat laki-laki bernama Nandar itu?


Lalu, apa tidak beresiko Mama membawa mereka kerumah ini?


"Kalian tahu kenapa saya menjamin kalian dari kantor polisi dan membawa kalian kemari?"


Ketiga orang itu menggeleng cepat dengan posisi masih menunduk.


"Saya ingin informasi mengenai keberadaan anak saya, Azwar. Kalian tahukan dimana perempuan itu menyembunyikannya?"


Orang-orang tersebut kembali menggeleng dengan cepat.


"Ma-af, Nyonya. Kami hanya dibayar oleh Rahma untuk menjadi penghulu dan saksi palsu. Mengenai si lumpuh itu ..., eh, maksud saya anak Nyonya, kami nggak tahu apa-apa dan nggak ikut campur." Salah satu dari mereka menjelaskan.


Kulihat Mama mengepalkan tangan, menahan emosi. Sepertinya Mama tidak terima mereka menyebutku 'si lumpuh.' Padahal kenyataannya, aku memang seorang pria lumpuh, dan itu adalah fakta.

__ADS_1


"Benarkah begitu? Hah ..., sayang sekali. Padahal saya ingin menawarkan uang pada kalian, sebagai barter." Mimik wajah Mama seperti nampak kecewa.


Aku terus memperhatikan tindakan Mama dari ruangan sebelah melalui cermin dua arah. Aku masih menunggu, siasat apa yang ingin Mama mainkan pada ketiga orang tersebut.


"U-uang?" Hampir serempak, ketiga orang itu tergagap saat menjawab.


"Iya. Tapi saya batalkan, karena nggak ada yang bisa dibarter dari kalian." Mama berdiri.


"Tu-tunggu, Nyonya. Kami bisa menukar informasi yang lain mengenai Nandar dengan uang itu. Apa anda mau?" Salah satu dari mereka maju dan menghalangi jalan Mama.


"Maaf, saya nggak tertarik dengan kehidupan lelaki itu." Mama hendak melangkah, tapi kembali dihentikan.


"Nandar itu sebenarnya sudah beristri. Dan saat ini, istrinya sedang hamil tua." Setengah berteriak, lelaki itu berucap didepan Mama.


"Lalu apa urusannya dengan saya? Seharusnya kamu memberi tahu teman zinanya, bukan saya." Mama menghalau sebelah tangan lelaki itu, yang melintang didepannya.


"Nandar adalah seorang penipu. Dia sengaja mendekati Rahma demi menguras hartanya." Lelaki itu memegang lengan Mama.


"Tanpa kamu beritahupun, saya sudah  tahu.  Mana ada laki-laki baik yang mau berhubungan, bahkan sampai menikah palsu dengan istri orang. Bodoh!"


"Tunggu, Nyonya. Bagaimana jika kami mencari informasi dari Rahma dan Nandar mengenai keberadaan anak anda?" Mama yang awalnya acuh, sepertinya mulai tertarik.


Mama menatap ketiga lelaki itu bergantian. "Oke. Waktu kalian hanya seminggu. Saya akan memberi berapapun yang kalian minta. Asal, bisa mendapatkan informasi mengenai keberadaan anak saya."


Mereka mengangguk serentak. Wajah ketiga lelaki itu berbinar. Rona gembira tampak jelas terlihat dari senyum dibibir mereka yang terus mengembang.


"Robi ...!" Mama memberi isyarat agar Pak Robi mendekat.


"Ini satu juta. Anggap sebagai uang muka." Mama melemparkan uang ditangannya ke hadapan ketiga lelaki itu. Mereka tampak saling berebut mengambil uang yang tercecer kelantai. Bahkan hampir saling tubruk.


"Kalian akan mendapatkan lebih banyak lagi, jika kalian bisa memberi informasi mengenai keberadaan anak saya." Mama berjalan pergi setelah berucap lantang.


"Ehm ...ehm ..." Aku menyambut Mama dengan teriakan, begitu beliau masuk ke ruangan tempatku berada saat ini.


Mama tersenyum lembut, lalu duduk mensejajarkan tubuh dengan posisiku.


"Tenang sayang. Semua tadi hanya intrik dan manipulatif agar mereka nggak mencurigai Mama. Mama sengaja membuat mereka berfikir, jika Mama memang sedang mencarimu. Anggap sebagai alibi yang menegaskan, jika Mama memang nggak pernah membawamu pergi." Mama menyentuh pipiku pelan.


"Juga, agar mereka semakin kebingungan mencari keberadaanmu saat ini ... Karena Mama tahu, istrimu itu masih membutuhkanmu ...."


*****


"Terimakasih karena sudah bersedia membantuku, Fen. Jika tanpa bantuanmu, mungkin rencanaku untuk memberi pelajaran kepada manusia-manusia licik itu, nggak akan berjalan mulus." Mama menyeruput secangkir kopi ditangannya.


"Sama-sama, Pus. Aku hanya melakukan apa yang kubisa. Hanya sebatas itu bantuan yang bisa kuberikan." Laki-laki dihadapan Mama menatapku iba.


"Kenapa nggak langsung kamu laporkan saja mereka kepolisi atas kasus penipuan dan pemalsuan identitas? Kenapa harus bermain siasat seperti ini?" Ditatapnya Mama penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


"Kamu lihat anakku, Fen?" Mama mengelus rambutku.


"Terlalu ringan hukum yang akan mereka terima, jika aku melaporkan mereka kepolisi. Nggak akan sebanding dengan penderitaan dan hinaan yang diterima oleh anakku selama ini." Mama tersenyum getir.


"Aku ingin, mereka merasakan lebih dari apa yang pernah mereka lakukan pada Azwar." Mama menatapku teduh.


Aku setuju. Memang benar apa yang dikatakan Mama. Jika aku dalam posisi normal dan sehat, mungkin akupun akan melakukan hal yang sama seperti yang Mama lakukan.


Mereka terlalu kejam dan sadis. Terlebih Rahma.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"


"Membuat sedikit kejutan untuk mereka." Mama tersenyum penuh arti.


*****


"Saya minta, usir mereka dari rumah itu. Buat saja alasan yang masuk akal, Pak." Pak Robi menyodorkan satu gepok uang ratusan ribu, kedepan Lintah darat yang ditemuinya.


Kami membuat janji temu dengan lintah darat, tempat Rahma menggadaikan sertifikat rumah pemberian Mama.


Sengaja kami memilih tempat yang jauh dari lingkungan tempat mereka tinggal, agar lebih leluasa.


Pak Robi berinisiatif turun dan berbicara dengan lintah darat tersebut. Sedangkan aku dan Mama tetap menunggu didalam mobil.


Kami sengaja memarkirkan mobil tepat disamping tempat mereka duduk, jadi walaupun tak begitu keras tapi suara mereka masih dapat kami dengar dengan jelas.


"Memang punya masalah apa anda dengan mereka? Terus terang, saya nggak mau terlibat, apa lagi ikut campur tangan." Ketus lintah darat itu menjawab.


"Anda nggak perlu tahu masalah saya dengan mereka. Yang harus anda lakukan hanya mengusir mereka, itu saja." Pak Robi terdengar memberi jawaban tak kalah ketus.


"Apa keuntungan yang akan saya dapat, jika saya menuruti permintaan anda?"


"Saya akan menebus sertifikat rumah itu, dua kali lipat," Jawab Pak Robi tho the point, lalu mengeluarkan koper berisi uang.


Lintah Darat itu sedikit terkejut. Tapi tak urung senyumnya mengembang saat melihat isi didalam koper itu.


"Bagaimana?" Pak Robi meminta kepastian.


"Anda tunggu saja. Secepatnya, kabar mereka keluar dari rumah itu akan sampai ketelinga anda." Lintah darat itu menjawab pasti.


Sudah dapat kuprediksi, jika rencana Mama untuk menendang Rahma dan Nandar keluar dari rumahku itu pasti akan berhasil.


Karena tak mungkin lintah darat itu akan menolak pemberian uang dalam jumlah sebesar itu.


"Nggak ada yang nggak bisa diselesaikan dengan uang, Azwar. Di jaman sekarang, uang berkuasa atas segalanya." Mama menatap kearah luar melalui jendela mobil yang tertutup.


"Tapi bagi Mama, mengeluarkan uang segitu nggak jadi masalah. Yang terpenting, Mama bisa mengembalikan harga dirimu. Seperti kata pepatah orang jaman dulu, lebih baik kalah uang dari pada kalah orang ...." Mama tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kita tunggu saja Azwar, bagaimana nanti istrimu beserta teman zinanya itu hidup terlantar ditempat sampah ...."


Rahma ..., nikmatilah hari-hari kelabumu mulai sekarang. Aku pastikan, kau tidak akan pernah hidup dengan tenang ....


__ADS_2