Dendam Suami Lumpuh

Dendam Suami Lumpuh
Bab 8


__ADS_3

"Nona, terimakasih karena sudah membantu kami." Pak Robi meletakkan sebuah amplop ke atas meja.


"No problem. Kita sama-sama orang bisnis. Selama ada harga, pasti akan selalu ada pengorbanan." Suci menarik amplop itu pelan.


"Jadi, kamu ini benar-benar adik kandung perempuan itu, atau hanya orang suruhan anak saya?" Mama menatap Suci tajam, menelisik penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.


Suci tertawa saat mendengar pertanyaan Mama. " Saya ini memang adik kandung Kak Rahma. Tapi saya nggak pernah setuju dan membenarkan, semua sikap licik Kakak saya itu."


"Kenapa?"


"No reason. Saya hanya nggak suka dengan orang licik." Suci tersenyum.


"Sekalipun itu Papa dan Kakakmu sendiri?" Mama memandang Suci intens.


"Ya, siapapun. Nggak perduli itu orang asing, atau orang yang saya kenal." Suci memainkan jarinya, menghitung jumlah kertas yang ada dalam amplop yang dia pegang.


"Tapi apa menurutmu, sikap dan tindakan yang kau lakukan ini juga bukan bentuk kelicikan?"


"Bukan. Saya hanya memperdaya orang licik. Membalas kelicikan mereka dengan kecerdikan." Suci menatap Mama.


"Menarik." Mama tersenyum penuh arti.


"Ehm ..., ehm ..." Aku berusaha berbicara pada Suci, memberinya isyarat jika aku berterimakasih atas bantuan yang dia berikan tadi.


"Sama-sama, Kak. Terimakasih juga untuk ini." Suci mengangkat amplop ditangannya.


"Sebaiknya anda bawa Kak Azwar pergi berobat keluar negeri. Alat medis dan teknik pengobatan disana lebih menjanjikan." Suci memberi saran kepada Mama.


"Masalah itu, biar jadi urusanku dengan anakku, kamu nggak perlu ikut campur." Ketus Mama menjawab ucapan Suci.


"It's oke, sorry about that." Suci masih tersenyum manis. "Kak Azwar, Suci pamit ya. Jangan sungkan hubungi Suci jika butuh bantuan." Gadis itu berdiri, bersiap untuk meninggalkan rumah Mama.


"Robi, antarkan gadis itu pulang," perintah Mama.


Suci yang sudah sempat melangkah, lantas berbalik dan menatap Mama.


"Nggak perlu, Nyonya. Saya bisa pulang sendiri. Lagipula, saya nggak suka jika orang lain tahu tempat tinggal saya." Seolah mengerti jalan pikiran Mama, Suci memberikan jawaban menyindir.


"Gadis itu ..." Mama berucap pelan, setelah Suci benar-benar pergi.


"Bagaimana bisa gadis itu tiba-tiba datang dan memihak kita?" Mama menatap aku dan Pak Robi bergantian.


"Sebenarnya, dia adalah satu-satunya orang yang membantu Tuan Azwar selama ini. Hanya saja, gadis itu ...," ucapan Pak Robi terhenti.


"Mata duitan. Gadis sepertinya pasti akan melakukan apa saja demi uang. Uang adalah segalanya, bahkan lebih penting dari keluarga dan saudara." Mama memotong ucapan Pak Robi.


Aku hanya menatap Mama tanpa mampu untuk menyanggah ucapannya.

__ADS_1


****


"Coba gerakkan jarimu pelan-pelan."


Aku mengikuti instruksi Dokter Herman, berusaha menggerakkan jariku dengan sangat pelan.


Rasanya sangat sakit, sendi dijari-jariku seperti tertarik kencang.


"Bagus, pelan-pelan saja."


"Bagaimana? Apa ada kemajuan dari kondisi Azwar?" Mama menatap antusias ke arahku.


"Sudah lumayan. Aku yakin Azwar akan segera sembuh, jika dia rutin melakukan pengobatan dan fisioterapi." Dokter Herman tersenyum.


"Terimakasih, karena sudah merawat anakku, Her." 


"Nggak perlu berterimakasih, itu sudah tugasku sebagai dokter." Dokter Herman menulis sebuah resep, lalu memberikannya pada Mama. "Berikan dia obat ini secara rutin, dan awasi pola makannya untuk sementara waktu."


"Oke."


"Aku pamit dulu, karena ada pasien IGD yang sudah menunggu di rumah sakit." Dokter Herman menepuk punggungku pelan. 


"Hati-hati." Mama mengantar Dokter Herman keluar dari kamar.


Aku menatap punggung Mama dengan perasaan gelisah. Entah Kenapa, tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Aku merasa seperti akan terjadi sesuatu yang buruk.


"Mama keluar sebentar, sayang. Ada keperluan mendesak. Nanti, Mbok Asih yang akan menemanimu." Mama mencium keningku.


Aku seperti merasakan dejavu. Perasaan ini menarikku kembali ke masa lalu. Masa dimana aku masih menjadi baby kecil untuk Mama, walaupun usiaku sudah menginjak 15 tahun.


Saat itu, situasinya sama. Aku terbaring lemah di atas tempat tidur, karena menderita tipes. Siang malam Mama menungguiku, bahkan kesehatannya sendiri tak dipikirkannya. Hingga Mama jatuh sakit, tepat sehari setelah aku sembuh.


Semua bayangan itu kembali berputar dikepala. Seolah berusaha mengingatkan, betapa besar cinta dan kasih sayang Mama padaku. Ah, kalau mengingat semua dosa dan kesalahan yang telah aku lakukan, rasanya tak pantas jika sekarang aku kembali mendapatkan cinta dan kasih sayang Mama itu.


"Mama, sayang Azwar." Mama menatapku dalam kemudian mengelus keningku.


"Ehm ..., ehm ..." 


"Nyonya, bisa kita berangkat sekarang?" Pak Robi muncul diambang pintu.


Mama mengangguk kearah Pak Robi, kemudian kembali menatap dan memelukku. Rasanya, Mama seperti enggan untuk meninggalkanku. Akhirnya, Mama keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi padaku.


'Mama ...'


*****


"Azwar ..., tolong Mama!" 

__ADS_1


Aku terbangun dari tidurku dengan terkejut, saat samar-samar kudengar suara minta tolong. Suara itu, mirip suara Mama.


Aku berusaha melirik sekeliling. Sejauh mata memandang, tak ada bayangan siapapun yang dapat ditangkap oleh netraku didalam kamar ini.


'Mama ...' Batinku pelan. ' Apa terjadi sesuatu pada Mama?'


Pikiranku berkecamuk, hatiku menerka-nerka tentang kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Perasaan takut tiba-tiba saja menyergap, aku takut perasaan gelisah yang tadi siang aku rasakan, adalah suatu pertanda buruk. 


Mama, semoga itu hanya perasaanku, dan Mama baik-baik saja saat ini.


"Den, Den Azwar!" Teriakan Mbok Asih membuyarkan lamunan ku tentang Mama. 


Perempuan setengah baya itu berlari menghampiriku, yang terbaring tak berdaya diatas tempat tidur. Wajah Mbok Asih tampak sembab, matanya juga memerah. Sepertinya dia baru saja menangis. 


"Ehm ..., ehm ..." 


"Den, Nyonya Den. Nyonya ..." Mbok Asih memelukku sambil menangis. Berkali-kali dia menyebut kata 'Nyonya'.


Pikiran negatif semakin menguasai diri, mungkinkah ...


"Ehm ..., ehm ..." Aku menyentuh pelan tubuh Mbok Asih menggunakan jari telunjuk, satu-satunya anggota tubuh yang bisa aku gunakan saat ini.


"Nyonya Den, Nyonya! Mobil milik Nyonya ... terbalik dan terbakar!" Tangis Mbok Asih kembali pecah.


'Apa ... Apa maksud perkataan Mbok Asih barusan?' Pikiranku masih belum mampu mencerna ucapan Mbok Asih.


"Ehm ..., ehm ..."


"Nyonya kecelakaan, Den. Nyonya ... Nyonya meninggal ditempat." Mbok Asih kembali memelukku dengan tangis yang semakin keras.


'Ma-ma ...' Aku tak mampu bereaksi apapun. Ucapan Mbok Asih barusan benar-benar menghantam jiwaku hingga membuatku begitu syok. 


"Den, Nyonya ... Nyonya meninggal Den." 


'Nggak! Nggak mungkin! Ini pasti salah, Mama nggak mungkin meninggal,' 


Aku terus berusaha menyangkal semua ucapan yang Mbok Asih sampaikan. Tidak mungkin Mama meninggal. Pasti Mbok Asih mendapatkan informasi yang salah. Mungkin ada orang yang sengaja ingin membuat ricuh keadaan. Atau mungkin ...


"Nak Azwar ...," suara Paman Fendi mengusik indra pendengaranku. Entah sejak kapan beliau ada dikamar ini.


Lelaki bertubuh tinggi tegap itu sudah berdiri di samping tempat tidur dan terus menatapku iba. 


"Yang sabar ya, Nak ..." Tangan Paman Fendi menggenggam tanganku erat. 


Aku menatap Paman Fendi tidak percaya. Tapi tatapan matanya menyiratkan jika apa yang disampaikan oleh Mbok Asih tadi, adalah sebuah kebenaran.


'Ehm ..., ehm ..." Aku berusaha menggelengkan kepala, walaupun tidak berhasil. Tidak, aku tidak bisa menerima semua ini. Ini pasti bohong ...

__ADS_1


"Ma-ma ...," kata-kata itu terlontar spontan dari bibirku. "Ti-dak! Ma-ma ..., Ma-ma!" Teriakku terbata ....


__ADS_2