
"Azwar, lihatlah keadaanmu sekarang. Andai dulu kau mau mendengarkan Mama dan nggak menikahi perempuan itu, mungkin nasibmu sekarang nggak akan seperti ini." Mama menarik satu-satunya kursi plastik yang ada dikamar kontrakan ini, lalu duduk berhadapan denganku.
Suara desah yang sangat berat terdengar keluar dari bibir Mama. Matanya sendu menatap kearahku, dengan raut wajah penuh rasa iba.
Sudah hampir 10 tahun aku tak melihat wajah Mama. Sejak aku memutuskan segala hubungan dengannya dan memilih untuk hidup bersama Rahma, sejak saat itu pula kami tak pernah bersua.
Seringkali disepertiga malam, aku memimpikan wajah teduh itu. Tapi egoku lebih besar dari rasa rindu. Hingga menutup semua keinginan, walau hanya sekedar ingin memandang dan memastikannya baik-baik saja.
"Kamu rindu Mama?" Mama menatapku intens. Manik netra perempuan yang sudah melahirkanku itu terlihat berkaca-kaca. Tapi beliau terlihat berusaha tetap bersikap angkuh, mungkin agar terlihat kuat didepanku.
Ingin sekali rasanya aku mengangguk, lalu berlari dan bersimpuh di kaki Mama. Meminta ampun atas segala khilaf dan dosa yang telah kuperbuat padanya selama ini. Bukankah mengabaikannya selama lebih dari 10 tahun itu sudah termasuk dosa besar?
"Sebenarnya Mama rindu. Tapi entah kenapa Mama masih belum bisa melupakan segala sumpah serapah dan kata makian yang kau lontarkan pada Mama dulu, demi membela perempuan itu." Mama menarik nafas panjang. Dikedipkannya netra tua itu beberapa kali, berusaha menghalau air mata agar tak menetes.
'Mama, ampuni aku. Maafkan aku.' Batinku berucap.
Air mata perlahan menetes membasahi pipi. Penyesalan menyeruak kini. Kenapa dulu aku bisa membuat keputusan yang begitu fatal. Tapi siapa yang tahu tentang masa depan. Akupun tak pernah menyangka, jika nasibku akan seperti ini.
"Tapi, sedendam-dendamnya seorang ibu pada anaknya, kasih sayang dan rasa cinta yang dimilikinya tetap jauh lebih besar." Mama menyentuh rambutku lembut.
"Ehm ..., ehm ..." Aku berusaha menggerakkan tangan, ingin menyentuh tangan Mama. Tapi apa daya, penyakit stroke yang kuderita membuatku tak bisa berbuat sesuai keinginan.
__ADS_1
"Mama memang masih menyimpan rasa sakit hati. Tapi Mama juga nggak terima jika anak Mama satu-satunya diperlakukan seperti ini." Mama memelukku lembut. Bahunya bergoncang pelan. Kuprediksi, Mama menangis.
Entah kenapa dadaku berdenyut nyeri. Hatiku seperti diiris sembilu, perih! Terlintas kembali peristiwa 10 tahun lalu. Peristiwa saat aku melukai hatinya, demi memenuhi egoku yang tinggi.
Mungkin, apa yang terjadi padaku saat ini adalah karma. Balasan karena dulu pernah sangat menyakiti hati Mama.
"Mama minta maaf, Azwar. Karena telah membiarkanmu menjalani hidup semenderita ini selama 2 tahun terakhir," bisik Mama pelan.
*****
"Pergi kemana mereka?" Mama melontarkan sebuah pertanyaan pada seorang laki-laki yang berdiri dihadapan kami.
"Ke Bali, Nyonya. Mereka berencana berbulan madu selama 3 hari disana." Lelaki itu menyerahkan beberapa lembar foto Rahma dan suami barunya saat ijab kabul kemarin.
"Tidakkah kau merasa terhina, Azwar? Istrimu lebih memilih lelaki bertampang pas-pasan ini, dan menelantarkanmu?"
"Ehm ..., ehm ...,"
"Ini data orang-orang yang kemarin datang sebagai penghulu dan saksi palsu. Ternyata, mereka adalah kerabat laki-laki bernama Nandar itu." Lelaki tersebut menyerahkan sebuah Map biru kepada Mama.
"Jadi mereka semua itu palsu?"
__ADS_1
"Nggak semua, Nyonya. Masih ada saksi asli, orang-orang yang tinggal disekitar sini."
"Apa mereka nggak tahu tentang pernikahan palsu kemarin?"
"Mereka tahu. Tapi sepengetahuan mereka, Rahma itu Janda."
"Apa mereka nggak tahu tentang keberadaan Azwar disini? Kok bisa mereka menganggap perempuan itu Janda."
"Rahma mengakui Tuan Azwar, sebagai kakaknya."
Hatiku berdenyut nyeri. Tega sekali Rahma mengakuiku sebagai kakaknya. Pantas saja, tidak ada seorangpun tetangga disekitar sini yang melarang terjadinya pernikahan kemarin.
"Aneh. Memang pamong setempat nggak menanyakan tentang dokumen atau kartu identitas perempuan itu dan Azwar, saat pertama kali pindah kesini?"
"Rahma ..., memberikan dokumen palsu."
"Pantas. Nggak ada yang curiga dan melarang terjadinya pernikahan palsu kemarin." Mama tersenyum. "Licik dan pintar."
"Untung kamu nggak memiliki anak dengannya, Azwar. Mama yakin, jika kau sempat memiliki anak, pasti akan mewarisi sifat licik istrimu itu."
"Sekarang bagaimana, Nyonya?" Lelaki itu menatapku dan Mama secara bergantian.
__ADS_1
"Kita bawa pulang Azwar, tapi jangan sampai perempuan itu tahu. Buatlah, seolah Azwar hilang begitu saja tanpa jejak, atau buat kematian palsu untuknya." Mama menatapku iba.
"Bereskan semuanya, Robi. Lakukan semuanya sebersih dan sesempurna mungkin. Aku akan membawa Azwar pergi untuk berobat. Sambil menunggu Azwar sembuh total, kita rancang rencana untuk membalas dendam pada perempuan licik itu ...."