
Aku beserta Mbok Asih dibawa kerumah sakit oleh Paman Fendi. Hatiku tak menentu, rasa tak percaya masih menghinggapi diri, tak percaya jika Mama benar-benar telah pergi.
Setiap detik yang aku lewati terasa sangat lama. Bahkan jejak langkah Mbok Asih dan Paman Fendi terasa sangat lambat. Situasi disekelilingku saat ini, terasa bagai gerakan slow motion.
"Azwar ..." Paman Fendi memyentuh bahuku. Kami berhenti tepat didepan sebuah ruangan yang bertuliskan 'Ruang Jenazah'.
Aku terdiam, tak dapat lagi menahan hati dan perasaan. Pelan tapi pasti, air mataku luruh diiringi oleh isak tertahan.
"Den ...," lirih kudengar suara Mbok Asih.
Tangannya menggenggam erat tanganku, seolah berusaha menguatkan melalui sentuhan. Bayangan perempuan setengah baya itu tak tampak jelas karena pandanganku memburam, tertutup oleh air mata.
Pelan, pintu ruang jenazah terbuka. Wajah familiar menyapaku begitu pintu itu terbuka sempurna, wajah Dokter Herman.
"Masuklah." Kata pertama yang keluar dari bibir Dokter Herman, setelah melihat keberadaan kami.
Mbok Asih mendorong pelan kursi rodaku memasuki ruang jenazah. Jantungku terus bertalu, hingga dadaku terasa begitu sesak.
Air mata terus mengalir, walau sudah berusaha kutahan. Bahkan kini suara isakku semakin terdengar jelas ketika melihat sesuatu tertutup kain putih, terbujur kaku dihadapanku, itu tubuh Mama yang sudah tak bernyawa.
"Korban meninggal karena mengalami pendarahan dikepala. Selain itu ...," Dokter Herman menjeda ucapannya, dia menghela nafas panjang, seolah hatinya begitu berat untuk menyampaikan penyebab kematian Mama.
"Tubuh korban hangus hampir 75% ...," lirih Dokter Herman.
"Ma-ma ..." Tanganku terulur, ingin membuka penutup kain putih dibagian wajah Mama. Aku ingin melihat, wajah ayu nan teduh itu, wajah yang hampir 10 tahun lalu, sengaja kuhapus dari ingatan.
"Jangan ..." Paman Fendi memegang erat tanganku yang terulur. "Kamu nggak akan sanggup melihatnya, Azwar." Mata Lelaki bertubuh tinggi tegap itu bwrkaca-kaca.
"Biarkan aku melihat wajah Mama, Paman," lirihku disela isak yang tertahan.
"Tapi ...,"
"Biarkan dia, Fen." Dokter Herman mendekat, lalu memegang tanganku erat, menuntunku untuk membuka kain putih itu.
"Astagfirulloh ...," lirih Mbok Asih, kemudian memelukku dari belakang.
"Nyonya, Den! Nyonya ...!" Mbok Asih menangis pilu, sambil terus memelukku.
__ADS_1
Paman Fendi memegang ujung kain putih itu, hendak menutup kembali bagian wajah Mama yang terlihat hangus.
"Jangan, Paman." Cegahku.
"Tapi Azwar ..."
"Biarkan aku melihat wajah Mama untuk terakhir kali. Walaupun ..., walaupun ..." Tangisku semakin pecah.
"Mama ..., Mama ..." Aku terus mengumumkan kata itu, kata yang hampir 10 tahun lalu tak pernah lagi kusebut.
Terdengar helaan nafas dari Dokter Herman dan Paman Fendi. Mungkin mereka juga terpukul dengan kepergian Mama yang tiba-tiba.
"Lalu bagaimana dengan Robi? Apakah jenazahnya sudah ditemukan?" Pertanyaan yang Dokter Herman lontarkan, berhasil mengusikku.
"Belum. Kami belum berhasil menemukan jenazah Robi. Seharusnya, jenazahnya berada nggak seberapa jauh dari lokasi mobil yang meledak. Tapi, sampai sekarang kami belum berhasil menemukannya," jelas Paman Fendi.
"Bahkan, setelah memeriksa CCTV disekitar lokasi kecelakaan, kami nggak menemukan keberadaan Robi didalam mobil Puspa sebelum kecelakaan itu terjadi. Puspa, mengendarai mobil itu sendiri, tanpa Robi ...,"
"Lalu dimana Robi?"
"Itu yang masih kami cari tahu. Sopir mobil truk gandeng yang menabrak mobil Puspa juga menghilang. Bahkan kami menerima laporan, jika Truk gandeng itu hilang dicuri 2 hari yang lalu ...,"
"Kecelakaan ini disengaja ..." Aku memotong percakapan Paman Fendi dengan Dokter Herman.
"Dugaan kami juga seperti itu, Azwar. Tapi kami masih terus melakukan penyelidikan. Sebelum hasilnya keluar, kita nggak bisa mengambil kesimpulan apapun ...," jelas Paman Fendi.
"Siapa yang tega membunuh Mamaku ...,"lirihku, lalu menatap Paman Fendi dan Dokter Herman bergantian.
****
Rinai hujan membasahi tubuhku, jatuh di atas kepala dan mengalir pelan melewati mata. Air hujan ini seolah mengerti, sengaja jatuh untuk menyamarkan air mataku yang tak bisa berhenti mengalir.
Aku patah hati, aku kecewa. Rasa sakit yang teramat sangat memenuhi dada. Sungguh aku belum bisa menerima semua ini, meskipun kini jasad Mama sudah terkubur dibawah gundukan tanah merah dihadapanku.
"Den, ayo kita pulang." Mbok Asih memegang bahuku lembut.
"Mbok Asih pulang duluan saja. Aku masih ingin disini." Aku menatap sendu batu nisan yang terukir nama Mama.
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari Mbok Asih, tapi suara langkahnya terdengar menjauh.
"Ma, kenapa kau tega meninggalkan aku. Sepuluh tahun, Ma ..., sepuluh tahun kita berpisah. Selama ini, aku terpaksa harus menahan rindu yang teramat besar, hanya demi sebuah ego. Tapi kenapa, setelah sekarang kita bertemu, Mama meninggalkanku. Kenapa Ma, kenapa ...,"
Tenggorokanku sakit karena berusaha menahan isak. Sungguh, sebenarnya aku ingin berteriak keras, tapi tenagaku seperti terkuras habis saat ini.
"Azwar ..." Aku menoleh sesaat, ketika suara Dokter Herman terdengar. Lelaki setengah baya itu berdiri disamping, tanpa sedikitpun menoleh atau menatapku. Tangannya memegang payung berwarna hitam, warna yang biasa dikaitkan dengan kedukaan.
Raut wajah Dokter Herman tampak suram, sama suramnya seperti cuaca hari ini.
"Sabar, Nak. Segala sesuatu yang terjadi sudah suratan dari Sang Pencipta. Ajal tetap akan datang tepat waktu, meskipun sekuat tenaga kita berusaha mencegahnya." Dokter Herman terus menatap lurus kedepan, dimana gundukan tanah merah yang ditaburi bunga berada.
"Jadi, apa sebenarnya yang menyebabkan kecelakaan Mama?"
Tak langsung menjawab, Dokter Herman terdengar menghela nafas panjang. "Luka dikepala Puspa yang menyebabkannya meninggal ...,"
"Aku nggak bertanya tentang penyebab kematian Mama, tapi aku ingin tahu apa penyebab sebenarnya mobil Mama bisa terbalik dan terbakar!" Suaraku meninggi.
Sesak rasanya dada ini, setiap kali membayangkan Mama berada didalam mobil yang terbalik dan terbakar itu. Rasanya otakku tak Mampu membayangkan seperti apa keadaan Mama saat itu.
Aku tahu persis, seperti apa Pak Robi. Dia adalah orang paling hati-hati yang pernah aku kenal, jadi tidak mungkin jika mobil yang dikendarainya terbalik dan terbakar karena kecelakaan tunggal.
"Azwar ..., tenang." Dokter Herman menepuk pundakku lembut.
"Aku nggak akan tenang, sampai tahu pasti apa penyebab sebenarnya kecelakaan Mama."
"Tentang hal itu ..., masih diselidiki oleh Fendi. Kita baru bisa menerima hasilnya, seminggu kedepan."
"Terlalu lama!"
"Azwar ..., semua butuh proses. Kita bisa saja mengambil kesimpulan dari penyelidikan awal. Tapi itu semua belum tentu sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi ..."
"Bagaimana dengan Pak Robi? Apa ada yang melihat dan mengetahui keberadaannya?" Aku menyela ucapan Dokter Hendra.
"Belum ada. Kami masih terus mencari keberadaan Robi."
Aku termangu. Otakku penuh oleh berbagai prasangka serta kemungkinan-kemungkinan penyebab kecelakaan yang merenggut nyawa Mama.
__ADS_1
Semua terasa timpang. Apalagi, dengan menghilangnya Pak Robi, semakin membuatku berfikir bahwa kecelakaan itu bukanlah kecelakaan biasa.
Ma, aku berjanji, akan kuselidiki semua ini ... dengan caraku sendiri.