Dendam Suami Lumpuh

Dendam Suami Lumpuh
Bab 6


__ADS_3

"Pergi kalian dari sini. Bos kami sudah menjual rumah ini pada orang lain." 


Aku menarik sudut bibir, saat kulihat sepasang lelaki dan perempuan diseret keluar dari sebuah rumah oleh beberapa orang. 


Aku terus memperhatikan adegan demi adegan yang bagiku sangat menyenangkan itu, dari dalam mobil Mama.


Kasihan sebenarnya. Tapi mengingat apa yang pernah mereka lakukan padaku dulu, rasa iba itu berubah menjadi amarah.


"Itu pantas untuk mereka. Bahkan ini belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yang pernah mereka perbuat padamu, Azwar." Mama mengelus punggungku lembut.


"Ehm ..., ehm ..." Aku memasang wajah marah. Berusaha memberi tahu Mama, jika aku sangat membenci mereka.


"Mama tahu, sayang. Mama nggak akan berhenti sampai disini. Mama akan terus membuat hidup mereka menderita. Mama janji." 


"Bang, jangan usir kami. Beri kami waktu untuk melunasi semua hutang-hutang kami. Kami berjanji akan menebus sertifikat rumah ini. Tapi tolong beri kami waktu." Sang lelaki terlihat memohon. Bahkan sampai bersimpuh dihadapan seorang lelaki yang memiliki postur tubuh lebih besar dibanding yang lainnya.


"Diam! Banyak bicara kamu ini! Sadarlah, hutang kalian itu sudah membengkak. Kalian nggak akan mungkin sanggup untuk membayarnya." Lelaki itu mendorong tubuh Nandar hingga terjungkal.


"Bang, Bang! Hentikan!" Nandar terus berusaha mencegah orang-otang itu mengeluarkan barang mereka dari dalam rumah.


"Apa mereka hanya tinggal berdua, Robi? Kemana laki-laki yang kita temui waktu itu, yang mengaku sebagai pemilik rumah?" Mama bertanya tanpa menoleh pada Pak Robi. Matanya terus mengawasi keadaan diluar.


"Sepertinya, laki-laki itu hanya ditugaskan untuk menjaga rumah ini, selagi mereka menyiksa Tuan Azwar dikontrakkan, Nyonya."


Ya, aku ingat. Rahma memang pernah membawa pulang seorang laki-laki setengah baya kerumah, sebelum membawaku pindah ke kontrakan kecil.


Kalau aku tidak salah dengar, dia pernah memanggil laki-laki itu dengan sebutan 'Pa'. Tapi bukankah Rahma mengaku sudah tidak memiliki orangtua? Lalu kenapa dia memanggil laki-laki itu 'Pa'?


"Rahma, lakukan sesuatu!" Lelaki itu berteriak pada perempuan yang masih sah berstatus istriku itu.


"Tenanglah, Mas." Rahma mengeluarkan ponsel dari saku celana. "Tolong kami. Cepatlah kemari." Itulah kalimat yang aku dengar terlontar dari bibir Rahma, begitu ponsel menempel ditelinganya.


"Ada apa ini?" Kulihat Mama sudah berdiri disana, di hadapan Rahma dan Nandar. 


'Kapan Mama keluar dari mobil.' Batinku.


"Mama ...!" Rahma memandang Mama tanpa berkedip. Raut wajahnya tampak syok. "Kenapa Mama ada disini?"


"Mama? Kau siapa? Lancang sekali memanggilku Mama!" Mama menatap Rahma jijik.


"Ma, ini aku Rahma. Istrinya Mas Azwan." Rahma berusaha tersenyum. "Mama apa kabar?" Tangannya cekatan mengambil sebelah tangan Mama untuk disalami.


"Jangan sentuh saya! Saya nggak merasa pernah punya menantu seperti kamu!" Mama menampik tangan Rahma kasar.


"Ma ...," Rahma tampak lesu. Ditatapnya Mama dengan mata berkaca-kaca. 

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa semua isi rumah dikeluarkan?" Mama pura-pura terkejut. 


"Itu, Ma. Anu ...,"


"Itu mereka Pak, pasangan kumpul kebo yang saya maksud!" Pandanganku teralih kearah teriakan seorang warga.9


Beberapa warga beserta Pak Rt tampak berdiri berkerumun tak jauh dari Mama dan Rahma.. Mereka berjalan mendekat, sambil terus berteriak.


"Usir! Usir saja mereka! Jangan biarkan pezina tinggal dikampung ini."


"Ini ada apa lagi? Siapa yang kalian maksud pezina? Dan siapa yang kumpul kebo?" Mama bertanya, seolah beliau memang tidak mengetahui perihal Rahma dan Nandar.


"Itu, perempuan yang berdiri di samping anda. Dia itu pezina. Dia tinggal dengan laki-laki yang bukan muhrim tanpa ikatan pernikahan. Apa itu namanya jika bukan kumpul kebo." Seorang warga kembali berteriak lantang.


"Dia?" Mama menatap tak percaya kearah Rahma. 


"Iya. Sudah lama kami mengintai mereka."


"Usir saja! Usir!"


Teriakan-teriakan provokatif terus menggema. Aku tidak tahu pasti, apakah ini termasuk dalam rencana Mama, atau hanya sebuah kebetulan belaka.


Tapi apapun itu, yang pasti kejadian ini sangat menguntungkan bagi kami. Khususnya aku.


"Tunggu! Kami nggak kumpul kebo. Lelaki itu ...," Rahma menoleh sebentar kearah Mama sebelum melanjutkan kata-katanya. "Dia saudara saya dari kampung." 


"Mana buktinya kalau dia itu saudara kamu?" Seorang lelaki meragukan ucapan Rahma.


"Ini ..., ini foto istri dan anak saya di kampung. Saya, sudah berkeluarga." Nandar mendekat, mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya lalu diberikan pada salah satu warga.


"Hanya sebuah foto, mana bisa membuktikan kalau kalian memang nggak kumpul kebo?" 


"Iya. Banyak kok pasangan yang sudah menikah tapi masih kumpul kebo dengan orang lain." 


"Iya, itu benar!" 


"Sudah, usir saja!"


"Iya, usir mereka!" 


Teriakan orang-orang itu semakin keras. Kulihat sebuah senyum tersungging dibibir Mama. Mungkinkah ini bagian dari rencana Mama?


"Tunggu, Pak. Lihat ini! Saya dapat dari saudara saya." Seorang lelaki berjalan mendekat, lalu menunjukan sesuatu pada rombongan itu.


"Ini ...?" Beberapa orang tampak syok setelah melihat apa.yang ditunjukan oleh orang tadi..

__ADS_1


"Ternyata mereka sudah menikah. Tapi ..."


"Perempuan nggak tahu malu. Masih punya suami, tapi menikah lagi. Dasar nggak punya akhlak." 


"Bisa-bisanya dia melakukan poliandri. Dasar perempuan murahan!" 


"Suaminya masih hidup, tapi menikah lagi. Hukumnya tetap haram, sama saja mereka berzina." 


"Tunggu! Siapa yang kalian maksud? Perempuan ini?" Mama menunjuk wajah Rahma.


"Ma, tolong jangan percaya pada mereka. Itu bohong! Itu semua nggak benar!" Rahma memohon pada Mama.


"Benar kamu menikah lagi?" Mama menatap Rahma penuh emosi. "Kurang adab kamu! Jadi kamu menduakan anak saya? Berani sekali kamu!" 


"Ma, bukan begitu ..."


"Azwar! Azwar!" Mama meneriakkan namaku sambil berlari masuk kedalam rumah, berpura-pura mencari keberadaanku disana.


"Dimana kamu menyembunyikan anak saya?" Mama berlari keluar, sambil berteriak


"Ma ...," Rahma terlihat gemetar. Sedangkan Nandar, nampak dipegangi oleh beberapa orang, mungkin takut kabur.


"Nyonya ini ibunya Pak Azwar?" Seorang lelaki yang mengenakan peci mendekati Mama. Mama nampak mengangguk pelan.


"Bukannya Pak Azwar anda bawa keluar negeri untuk berobat?" 


"Keluar negeri? Berobat?" Mama memasang wajah bingung.


"Hampir 10 tahun saya nggak pernah bertemu dengan anak saya. Ini kali pertama saya datang kemari untuk menjenguknya. Bagaimana mungkin saya membawa anak saya pergi. Lagipula, anak saya sakit apa?" 


"Menurut pengakuan Bu Rahma, Pak Azwar dibawa pergi oleh Mamanya untuk berobat, karena Pak Azwar menderita stroke."


"Apa? Anak saya sakit stroke? " Mama memekik. Berakting seolah beliau sangat terkejut.


"Jadi dia berbohong? Kejam sekali!"


"Lalu dimana Pak Azwar? Jangan-jangan mereka sudah membunuhnya."


"Mengerikan sekali perempuan ini."


"Nggak! Kejadiannya nggak seperi itu!" Rahma berusaha membela diri.


Berbagai macam spekulasi, terkaan serta cacian terlontar dari bibir orang-orang yang berada disana. Mereka semua mengutuk perbuatan Rahma.


Sedangkan Mama kembali berakting menangis, bahkan Mama terus berteriak histeris memanggil namaku. Sungguh hebat Mamaku.

__ADS_1


"Bawa mereka kebalai desa. Kita introgasi mereka disana." Rahma dan Nandar diseret pergi oleh warga.


"Sepertinya dewi fortuna sedang berpihak pada kita,Tuan. Ini semua, diluar rencana." Pak Robi tersenyum puas.


__ADS_2