Dendam Suami Lumpuh

Dendam Suami Lumpuh
Bab 10


__ADS_3

Kematian Mama, benar-benar membuatku terpukul. Bahkan sampai detik ini, aku masih belum bisa menerima jika Mama benar-benar meninggal.


"Den, makan dulu ..."  Mbok Asih berdiri disampingku dengan sebuah nampan ditangannya.


"Saya belum lapar, Mbok." Tolak ku halus.


"Tapi dari kemarin Den Azwar belum makan. Aden harus makan, Mbok takut nanti Aden sakit." Mbok Asih setengah memaksa.


"Mbok tahu Aden masih berduka, tapi Aden juga harus memikirkan kesehatan Aden sendiri. Nyonya juga pasti sedih kalau melihat Den Azwar seperti ini."


Air mata perlahan meleleh dipipiku. Entah kenapa, hatiku begitu ngilu setiap kali mengingat Mama.


"Aduh ... Aden jangan nangis. Mbok jadi ikut sedih." Mbok Asih mulai terisak.


Diletakkannya nampan yang dipegangnya diatas meja, kemudian Mbok Asih memelukku. Kami berdua menangis ... menangisi kepergian Mama yang begitu tiba-tiba.


Bel pintu tiba-tiba berbunyi. Mbok Asih cepat melepaskan pelukannya, kemudian gegas berjalan keluar.


Tak lama, Mbok Asih kembali. "Den, ada tamu."


Aku mengernyitkan kening. Tamu? Siapa? Tidak ada orang yang tahu tentang keberadaanku disini selain Paman Fendi dan Dokter Herman.


Tapi tidak mungkin itu salah satu dari mereka kan.


"Kak, ini aku." Suara dari depan terdengar melengking.


Aku memberi isyarat pada Mbok Asih untuk mendorong kursi rodaku keluar dari kamar.


"Suci ...," ucapku lirih, begitu melihat seorang gadis berdiri diruang tamu.


"Kak, bisa minta waktu sebentar? ada yang ingin kutunjukkan padamu." Gadis itu menatapku lekat.


****


Aku menggenggam erat tanganku, saat melihat pemandangan didepan mata. Tampak didepan sana rekaman sepasang laki-laki dan perempuan tengah bersenda gurau.


"Beraninya, laki-laki cacat itu ingin memenjarakan kita. Dia pikir dia itu siapa?" Aku mendengar percakapan mereka melalui earphone yang terpasang ditelinga.


"Mentang-mentang Mamanya kaya, lalu berharap bisa menghancurkan kita. B0d0h sekali mereka ..." Tawa mereka membahana.

__ADS_1


"Mereka belum tahu, jika kita bukan hanya licik, tapi cerdik juga kejam." Tawa mereka kembali terdengar.


"Untung ada Papa, jika nggak, mungkin kita akan benar-benar berakhir dipenjara." Rahma tersenyum penuh kemenangan.


"Ini semua karena kecerobohanmu. Kalau waktu itu kau mendengarkanku untuk menyewa babysitter, mungkin perempuan tua itu nggak akan pernah menemukan suamimu." Nandar terlihat mencolek pipi Rahma.


"Aku nggak berfikir sampai kesana. Aku tahu jika 2 tahun terakhir dia selalu mengawasiku, makanya aku membawa laki-laki cacat itu pindah. Siapa sangka perempuan tua itu akan dapat menemukannya." Rahma bergelayut manja di lengan Nandar.


Dadaku bergetar hebat. Ada gemuruh yang mengisi rongga hati. Sungguh, semua ini diluar nalar. Bagaimana bisa mereka berdua berkeliaran diluar. Bukankah warga sudah membawa mereka ke kantor polisi?


"Untung Papa bertindak cepat menyingkirkan perempuan tua itu, jika nggak, pasti kita akan benar-benar membusuk dipenjara."


"Iya, sayang. Sekarang perempuan tua itu sudah mati, kacungnya juga sudah kita singkirkan. Tinggal menunggu waktu, untuk membuat laki-laki cacat itu  menyusul Mamanya," Nandar kembali tertawa.


"Apa!?"


Aku tersentak, ada rasa nyeri didalam hati. Dadaku semakin sesak, amarahku sudah sampai di ubun-ubun. Sungguh mereka bukan manusia, mereka adalah iblis.


"Kak ..." Suci memegang tanganku yang terkepal, mungkin dia tahu jika aku sudah dikuasai oleh emosi. "Tenang."


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang. Mereka sudah sangat keterlaluan, mereka tega membunuh Mamaku. Mereka benar-benar iblis." Aku berusaha melepaskan cekalan tangan Suci dilenganku.


"Kamu nggak akan mengerti, Suci. Aku telah kehilangan Mamaku karena ulah mereka. Apa kamu tahu bagaimana hancurnya aku, hah!?" Aku balik membentak Suci.


Gadis itu terdiam. Bahkan kini, wajah gadis itu tertunduk lesu.


"Mama yang sudah selama lebih dari 10 tahun aku tinggalkan. Mama yang selama ini menahan rindu pada anak satu-satunya ini. Tapi dengan begitu kejam dan bengis, Papa serta Mbakmu itu tega menghilangkan nyawanya!" Aku terus berteriak, berusaha meluapkan emosi yang sudah membuncah.


Aku memukul dadaku berkali-kali. Rasa sesak ini benar-benar menyiksa.


"Kamu bisa mengatakan supaya aku menahan diri, karena kamu nggak pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan!" Aku menatap Suci tajam.


Pelan gadis itu mengangkat wajah, tampak air mata bergelayut dikedua netranya.


"Berteriaklah, Kak. Luapkan emosimu," lirih Suci, hampir tak terdengar.


Gadis itu menyeka air matanya, kemudian berbalik. Tapi teriakanku berhasil menghentikan langkahnya yang sudah mulai terayun.


"Apa kamu akan pergi begitu saja, setelah membuatku hancur? Apa kamu nggak ingin bertanggung jawab atas ulah Papa dan Mbakmu itu?!" Teriakanku melengking.

__ADS_1


"Untuk apa aku harus bertanggung jawab?" Pelan Suci berbalik. Tampak mata gadis itu memerah. "Aku sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan mereka."


"Mungkin benar, kami masih tertaut secara darah, karena darah mereka mengalir didalam tubuhku. Tapi secara nyata, mereka sudah bukan Papa dan Mbakku lagi." Suci menatapku.


"Bahkan akupun ingin menghabisi mereka berdua, jika aku bisa ...," lirih Suci.


"Apa maksudmu?"


"Aku juga pernah hancur seperti kakak saat ini. Bahkan disaat usiaku belum mampu untuk menerimanya." Suci mendekatiku. Perlahan emosiku menghilang.


"12 tahun lalu, saat usiaku 8 tahun, aku kehilangan sesorang yang sangat berharga dalam hidupku. Dan itu semua, karena Papa dan Mbak Rahma." Suci membuang pandang.


"Mama, terpaksa harus bekerja banting tulang siang malam demi memenuhi segala keinginan glamour Papa dan anak pertamanya. Mama mau nggak mau harus menggantikan peran Papa untuk mencari nafkah, karena Papa menolak untuk menafkahi kami."


"Papa selalu mengancam, akan menjualku, jika Mama berhenti bekerja. Tapi kerja keras Mama tetap nggak bisa memenuhi ambisi mereka untuk hidup dengan gaya penuh kemewahan."


Suci menarik nafas perlahan, kemudian menghembuskannya. Mata gadis itu tampak sendu. Raut wajahnya menyiratkan kedukaan yang begitu dalam.


Baru kali ini aku melihat gadis itu tampak rapuh. Berbeda sekali dengan apa yang terlihat selama ini.


"Puncaknya, Papa dan Mbak Rahma memaksa Mama untuk menjual ginjalnya, demi untuk membiayai hidup glamour mereka dan berfoya-foya. Hidup dengan satu ginjal, membuat kondisi Mama ..., memburuk ... Dan akhirnya, meninggal ..." Suci terus menatap kearah jendela dengan tatapan kosong.


Hening. Aku terhanyut dalam cerita yang Suci beberkan. Dapat aku rasakan, seperti apa hancurnya gadis ini saat kehilangan sang Mama, diusia yang masih sangat belia.


Perlahan, timbul rasa simpati didalam hati. Begitu kuatnya gadis didepanku ini, yang bahkan masih mampu hidup satu atap dengan orang-orang yang sudah membunuh Mamanya.


Sedangkan aku ....


"Kak ...!" seruan Suci berhasil membuat kesadaranku kembali.


"Aku mengerti, sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat ini.  Tapi amarah nggak akan menyelesaikan masalah yang ada." Gadis itu duduk, mensejajarkan tinggi tubuhnya denganku.


"Selama ini, ingin sekali aku membunuh mereka. Tapi mereka terlalu licik dan licin. Jika aku memaksakan diri, maka diriku akan terbunuh lebih dulu, bahkan sebelum bisa menyentuh mereka."


"Aku sengaja datang kemari, untuk meminta bantuanmu. Aku ingin menghancurkan mereka. Aku ingin memberi pelajaran pada pembunuh-pembunuh itu." Suci mengepalkan sebelah tangan.


Tatapan mata kami bertemu. Mata yang tadi sempat sendu dan diliputi kesedihan, kini berubah penuh amarah.


"Bagaimana caraku membantumu?"

__ADS_1


Bibir gadis itu terkatup rapat. Tak ada sepatah katapun yang terlontar. Suci menjawab pertanyaan ku dengan senyuman smirk ....


__ADS_2