Dia Ada Disini

Dia Ada Disini
Bab 21. Apa yang terjadi?


__ADS_3

Aku dan Laras membawa Gino ke rumah sakit.


Begitu sampai disana, Gino langsung dibawa ke ruang UGD.


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan itu dan berbicara.


"Apa kalian saudara dari pasien?" tanya dokter itu.


"Bukan dok, tapi kita temennya." jawab ku.


"Oh, baiklah saya hanya ingin memberitahu. Bahwa pasien sudah tidak bisa diselamatkan." kata dokter.


"Maksud dokter, Gino udah meninggal?" tanya ku.


"Iya, dia kehabisan sangat banyak darah dan saat kami ingin melakukan transfusi darah, pasien sudah tidak bernafas." jelas dokter.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." kata aku dan Laras.


******


Besoknya, keluarga Gino datang dan pemakaman jasad Gino langsung dilakukan.


"Terimakasih, karena kalian sudah mau datang ke pemakaman Gino. Apabila semasa hidupnya, anak saya ini memiliki salah, mohon untuk dimaafkan. Dan apabila anak saya memiliki utang yang belum dibayar, bisa temui saya." kata bapak Gino.


Setelah itu, para pelayat pun pulang ke rumah masing-masing.


Hanya aku dan Laras yang masih ada disini bersama keluarga Gino.


"Loh, kalian enggak pulang?" tanya bapak Gino.


"Nanti om, kita mau doain Gino dulu." jawab ku.


"Baiklah, terimakasih ya. Kalian ini emang teman yang baik." kata bapak Gino.


"Sama-sama pak, kan udah kewajiban semua umat muslim untuk mendoakan siapa saja yang terkena musibah apalagi meninggal." kata ku.


"Kalau begitu, saya dan istri saya pamit duluan ya." kata bapak Gino.


"Oh, iya om." kata ku.


Orang tua Gino pun pergi dari makam Gino, kini hanya aku dan Laras yang tersisa.


"May, kenapa kita gak balik aja si? Tuh orangtuanya aja langsung pulang, kita ngapain masih disini?" tanya Laras.


"Kan tadi aku udah bilang, aku mau doain Gino dulu." jawab ku.


"Udah lah, orang kaya Gino tuh gausah di doain lama-lama! Dia kan orang jahat!" kata Laras.


"Gaboleh gitu Ras! Gimana juga dia kan sahabat kita." kata ku.


"Iya iya maaf." kata Laras.


"Lagian aku juga mau cari tau kenapa Gino bisa begitu kemarin, padahal sebelumnya kan dia dibawa polisi." kata ku.


"Eh iya juga ya. Kenapa dia tiba-tiba datang ke kuburan Fifin sambil berdarah-darah gitu ya?" tanya Laras.


"Nah makanya aku mau cari tau, tapi sekarang kita doain Gino dulu." kata ku.


Kami pun mendoakan Gino supaya ia mendapat tempat terbaik disana, dan semoga segala dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT.


Setelah selesai berdoa, kami bangkit dan berusaha mencari tau apa yang terjadi sebenarnya.


"Kita mau kemana May?" tanya Laras.


"Mau nemuin Marina." jawab ku.


"Marina lagi Marina lagi, siapa si Marina?" tanya Laras.


"Oiya aku belum cerita ke kamu ya. Jadi, Marina itu sosok yang selalu ngawasin aku selama ini. Tapi aku gak tau sekarang dia kemana, setelah dia mempengaruhi Gino kemarin, dia gak muncul lagi." jawab ku.


"Oh, jangan-jangan dia yang bikin Gino begitu." kata Laras.


"Aku juga curiganya begitu. Tapi, udah kita cari tau dulu baru menduga-duga." kata ku.


Kami pun mendatangi makam Fifin, tempat kemarin Gino datang dan tergeletak.

__ADS_1


"Ini tempat kemarin Gino pingsan. Tuh liat masih ada bercak darahnya May." kata Laras.


"Oiya kamu bener, ini bisa jadi petunjuk." kata ku.


"Hah gimana caranya?" tanya Laras.


"Minggir!" jawab ku.


Aku mendekati bercak darah itu dan memegang nya lalu menciumnya.


"Ih lu ngapain si jorok banget?" tanya Laras.


"Gak tau, aku liat di tv aja banyak orang indigo yang suka begini kalo mau nyelidikin sesuatu. Jadi aku ikutin deh." jawab ku.


"Terus bisa?" tanya ku.


"Enggak dapet info apa-apa, malah aku jadi mual gara-gara nyium darahnya." jawab ku.


"Lagian tv di ikutin." kata Laras.


"Kan nyoba-nyoba, siapa tau bisa." kata ku.


"Yaudah ah, kita pulang aja yuk! Disini juga percuma gak ada yang bisa kita peroleh." kata Laras.


"Bilang aja kamu takut, soalnya ini udah mau malam kan." kata ku.


"Iya itu alasan pertamanya. Ayo ah pulang!" ajak Laras.


"Yaudah yuk!" kata ku.


Aku berdiri dan pergi dari makam Fifin.


Saat sedang di mobil, handphone ku berbunyi.


Ada pesan masuk di hp ku, aku pun membuka dan membaca isi pesan itu.


"May, tolongin gua! Gua disekap di rumah kosong sama hantu." isi SMS itu.


Setelah membacanya aku baru sadar ternyata itu pesan dari Gino. Aku pun kaget karena Gino baru saja dimakamkan.


Laras yang sedang menyetir, melihat ke arahku dan bertanya.


"Kenapa May? Kok lu kaya panik gitu?" tanya Laras.


"Ini ada SMS dari Gino." jawab ku.


Laras juga terkejut lalu ia memberhentikan mobilnya secara mendadak.


"Serius lu May?" tanya Laras.


"Iya, kamu liat aja sendiri." jawab ku.


Aku memberikan hp ku kepada Laras, lalu Laras membaca pesan itu dan ia kembali terkejut.


"Kok bisa si May? Gino kan udah meninggal, baru aja tadi kita dari pemakaman nya kan." kata Laras.


"Aku juga kaget Ras pas tau yang ngirim SMS itu ternyata Gino." kata ku.


"Disini dia bilang, kalo dia disekap di rumah kosong sama hantu. Kok bisa hantu nyekap manusia?" tanya Laras.


"Gak tau, jangan-jangan yang dimaksud hantu itu, Marina lagi." jawab ku.


"Mungkin tuh bisa jadi, tapi kalau ini beneran Gino. Yang tadi kita kuburin tuh siapa?" tanya Laras.


"Gak tau Ras aku juga bingung." jawab ku.


"Yaudah sekarang kita datengin rumah kosong itu." kata Laras.


"Tapi dimana Ras? Rumah kosong kan banyak." tanya ku.


"Rumah kosong di dekat perkampungan kemarin, kan terakhir Gino ada disana sama kita." jawab Laras.


"Oiya bener tuh, ayo kita kesana sekarang!" kata ku.


"Eh jangan sekarang! Ini udah mau malam tau, tar gua dicariin ortu gua. Lagian emangnya lu gak dicariin bokap lu nanti?" kata Laras.

__ADS_1


"Iya ya pasti papah nanyain nanti." kata ku.


"Yaudah sekarang kita pulang dulu, besok baru kita lanjutin misi kita." kata Laras.


"Dih masa apaan?" tanya ku.


"Misi penyelidikan kasus Gino ini lah." jawab Laras.


"Emangnya kita detektif apa?" tanya ku.


"Iya. Sekarang kita jadi detektif dan nama kita berubah. Lu Rengganis, gua Rahayu." kata Laras sambil tertawa.


"Ih apaansi! Kamu mulai gak waras ya?" kata ku.


"Yaelah becanda dikit May." kata Laras.


"Udah ayo pulang!" kata ku.


Laras kembali menjalankan mobilnya.


********


Malam harinya, aku mengambil foto yang kupajang di meja. Itu adalah foto aku dan kelima teman ku.


Aku sangat rindu berkumpul bersama lagi seperti dulu, namun itu tidak akan bisa terjadi lagi.


Sekarang yang tersisa dari kami hanya aku dan Laras. Semoga saja aku bisa bertemu lagi dengan mereka di akhirat nanti.



Ket.


- Biru : Maya


- Ungu : Gino


- Merah : Fifin


- Kuning : Laras


- Oren : Ghifari


- Hijau : Jordi


Lalu, aku juga melihat kembali kenangan foto saat kami di puncak. Foto itu terdapat di Instagram milik Fifin, lalu aku mengunduh nya dan memandangi nya.


Aku benar-benar rindu dengan Fifin, aku menangis sambil meraba layar hp ku.



Selamat tinggal sahabatku. Ku tahu aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Tapi, kenangan kebersamaan kita akan menghilangkan air mata ini.


- Linda Ronstadt, Goodbye my friend


Selamat jalan Fifin, Ghifari, Jordi, Gino.


Semoga kalian semua selalu mendapatkan kebahagiaan disana.


Semua kenangan tentang kalian, akan selalu aku ingat didalam hati ku.


Tiba-tiba ada suara orang mengetuk jendela kamarku.


"Tek Tek Tek.."


Aku coba melihatnya dan membuka gorden jendela kamarku.


Tapi, tidak ada siapa-siapa disana.


Aku kembali ke tempat tidurku lalu menaruh handphone ku di meja dan berbaring di atas kasur.


Aku memejamkan mata ku, namun aku merasa seperti ada cairan yang menetes di kepalaku.


Aku pun membuka mataku, aku terkejut melihat rambut panjang menggelantung dan terlihat sosok seram berada di langit-langit kamar ku.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2