Dia Ada Disini

Dia Ada Disini
Bab 23. Sebuah teror


__ADS_3

"Halo, May. Maya! Kok mati sih?" kata Laras.


"Gimana neng?" tanya mang Aris.


"Telponnya tiba-tiba mati sendiri mang." jawab Laras.


"Waduh gawat! Jangan-jangan terjadi apa-apa sama neng Maya." kata mang Aris.


"Iya bener mang, saya khawatir dia kenapa-napa." kata Laras.


"Yaudah kita susul aja dia kesana!" usul mang Aris.


"Iya bener tuh mang, tapi ajak warga yang lain juga ya mang, soalnya saya takut." kata Laras.


"Iya neng, saya juga takut kalau cuma berdua." kata mang Aris.


*di rumah kosong


Aku masih berusaha membuka pintu nya.


Namun, usahaku sia-sia saja. Pintu itu tidak bergerak sama sekali.


Tiba-tiba terdengar suara barang terjatuh di lantai atas.


"Gubrakkk... prang prang.."


Aku merasa takut tapi juga penasaran, bagaimana lemari bisa jatuh begitu saja?


Dengan yakin, aku melaju menuju arah tangga.


Aku menaiki tangga itu perlahan, sambil menengok kiri-kanan takut sosok itu muncul lagi.


Wajahnya yang seram masih terbayang di pikiranku.


Bagaimana tidak, tiba-tiba saja dia melesat cepat dan sudah ada tepat di depan wajahku.


Aku sampai di depan kamar tidur.


"Sepertinya asal suara tadi dari sini." batin ku.


Aku memberanikan diri membuka pintu kamar itu.


"Krieekkk.."


Pintu itu terbuka.


Namun, aku melihat di dalam kamar itu rapih sekali. Tidak ada bekas barang terjatuh.


Aku melangkah masuk kedalam kamar itu.


Aku melihat foto wanita cantik di dinding kamar itu, aku yakin ini pasti kamarnya.


Aku memandangi nya, aku merasa kagum dengan kecantikan nya.



Aku terkejut karena foto itu tiba-tiba menangis.


"Bagaimana bisa? Itu kan cuma foto." batin ku.


Aku memalingkan wajahku dari foto itu.


Pandangan ku tertuju pada sebuah buku diary


yang terletak di meja.


Buku itu berdebu dan terlihat kotor sekali, ya mungkin karena sudah lama tidak di pegang.


Aku mengambilnya dan coba membukanya.


Debu-debu nya beterbangan, membuat ku bersin karena tidak tahan.


Aku membuka nya, terdapat tulisan di lembar pertama diary itu.


"Hai diary, hari ini lagi-lagi aku bahagia karena aku bertemu sosok laki-laki tampan yang selama ini ku impikan. Kamu tau ga? Dia ternyata tinggal desa ini juga loh, aku seneng banget pas tau itu, berarti aku bisa liat dia terus."


Aku tersenyum membacanya.


Selanjutnya, aku membuka lembaran kedua diary itu.


"Hai diary! Kenapa ya dia gak mau aku deketin? Padahal aku cuma mau kenalan sama dia, apa karena aku jelek?"


Aku membuka lembar selanjutnya.

__ADS_1


"Hari ini, dia lewat depan rumahku. Aku melihatnya dari jendela kamarku. Tapi, dia berjalan berdua dengan seorang wanita. Aku rasa itu pacarnya deh."


Di lembar ini, terdapat bekas air. Mungkin saja, dia menulisnya sambil menangis. Kasian juga dia.


Aku pun melanjutkan membaca diary itu.


Aku sudah sampai di lembar ke 10.


"Setelah sebelumnya aku diteror sosok wanita seram, tadi malam aku mimpi ada disebuah tempat kaya ritual gitu. Aku melihat mamah dan papah ku ada disana, lalu mereka membawa ku dan meletakkan ku di atas batu. Aku tidak mengerti apa maksudnya?"


"Hah? Dia mimpi mau ditumbalin?" batin ku.


Aku membuka lembar selanjutnya.


"Lagi-lagi aku mengalami teror, aku hampir mati karena hantu itu. Aku benar-benar ketakutan! Tapi papahku bilang kalau semua itu cuma khayalan aku aja."


Aku terus membaca isi diary itu.


"Diary, aku gak nyangka banget. Ternyata selama ini aku dijadikan tumbal oleh orang tuaku. Aku takut, aku ingin pergi saja dari rumah ini."


Aku coba membuka lembar selanjutnya, tapi ternyata itu tadi adalah tulisan terakhir.


Aku jadi keinget kata mang Aris, kalau pemilik rumah ini dulunya melakukan pesugihan.


Aku menaruh kembali diary itu dan ingin keluar dari kamar ini.


Tapi, pintu kamar itu tiba-tiba tertutup sendiri.


"Brakkk!"


Aku langsung berlari dan coba membukanya, ternyata tidak bisa, pintu itu terkunci.


"Tolong! Tolong!" teriak ku.


Aku berusaha teriak sekeras mungkin, tapi aku sadar kalau itu percuma.


Tidak ada orang disekitar sini.


**********


Mang Aris dan Laras mengumpulkan warga untuk menolong ku.


"Ayo, sekarang kita semua pergi ke rumah kosong itu!" kata mang Aris.


Mereka semua sampai disana, tapi saat ingin masuk ke dalam, angin kencang tiba-tiba muncul.


Mereka ketakutan, banyak yang berlari pulang dan masih banyak juga yang bertahan.


Angin itu kemudian hilang, namun pohon besar di depan rumah itu tiba-tiba tumbang.


"Awas!"


BRRUUUKKKKK...


Pohon itu jatuh dan merobohkan pagar rumah itu.


Mereka berjalan kembali dan masuk ke halaman rumah itu.


Saat ingin membuka pintu, tiba-tiba saja pintu itu langsung terbuka sendiri.


"Hah, Maya?" kata Laras.


Laras langsung menghampiri ku dan memeluk ku.


"Syukur deh lu gapapa May, gua cemas banget sama lu tadi, gua takut lu kenapa-napa." kata Laras memegangi pipiku.


"Eh May, kok pipi lu dingin banget si? Terus kenapa muka lu pucat begini? Lu sakit May?" tanya Laras.


"Enggak kok." jawabku dingin.


"Yaudah kita langsung pergi aja yuk dari sini! Gua takut, gua gak mau lama-lama disini. Hii serem." kata Laras lalu menggandeng tanganku.


Mereka pergi dari tempat ini, lalu pintu rumah itu tertutup sendiri.


"Emmmhhhh.. Emmmhhhh.."


"Ras, tolong aku Ras! Itu bukan aku, aku disini Ras!" batin ku.


#flashback#


Aku ketakutan karena pintunya tidak bisa dibuka, aku menangis dan terduduk di belakang pintu kamar ini.


"Seandainya aja aku gak maksain kesini." batin ku.

__ADS_1


"Hihihihihi.. Hihihihihi.."


Terdengar suara cekikikan dari dalam lemari.


Aku semakin dibuat takut dengan suara itu.


Tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan keluar lah sosok wanita berbaju putih yang tadi kulihat dibawah.


Dia terbang ke arahku dan duduk disamping ku.


"Kamu mau keluar?" tanya nya.


"Iya aku mau." jawab ku.


"Hahaha, kamu bisa saja keluar dari sini, tapi setelah aku membunuh orang-orang terdekat mu. Hahaha!" kata nya sambil cekikikan.


"Maksud kamu apa? Kenapa kamu pengen bunuh orang terdekat aku? Kamu siapa?" tanya ku.


"Dasar manusia! Sudah salah tapi pura-pura tidak tahu!" kata nya.


Lalu, terdengar suara orang ramai dari luar, aku yakin itu Laras dan warga disini.


"Laras!" kata ku.


"Laras? Siapa itu?" tanya nya.


"Dia itu temanku. Dia pasti akan menyelamatkan ku." jawab ku.


"Oh, temanmu ya. Baiklah, dia akan kubunuh! Hahaha!" kata nya.


"Apa? Jangan! Kamu gaboleh lakuin itu!" kata ku.


"Kamu gak bisa mencegah ku May!" kata nya.


Dia menarik tanganku dan mengikat nya, lalu dia menutup mulutku dengan kain kafan nya, dan dia merubah dirinya menjadi seperti diriku.


Lalu, dia turun kebawah dan menemui Laras.


#flashback end#


"May, kamu kenapa? Kok diem aja daritadi?" tanya Laras.


"Hahaha hahahaha ahahahaha!"


"Loh kenapa kamu tiba-tiba ketawa May? Kamu sakit ya?" tanya Laras.


Dia menengok kearah Laras dan memelototi nya.


Laras ketakutan karena wajahnya sangat seram.


"Kamu kenapa May?" tanya Laras.


"Kamu akan mati!"


Dia mengangkat tangannya dan mencekik leher Laras.


"Uhuk uhuk uhuk, May.. lep.. lepas!" kata Laras.


"Hahahaha, mati kamu! Hahahaha!"


Laras tidak bisa mengendalikan stir mobil nya, karena dia berusaha melepaskan cengkraman tangan sosok itu dari lehernya.


Lalu, dari arah berlawanan muncul sebuah truk.


"Tttiiiinnnnn tiiiiiiiinnnnnn!!!"


truk itu mengklakson.


Laras melihat dan sosok itu melepaskan tangannya.


Dengan cepat Laras membanting stir ke kiri dan mobilnya menabrak pembatas lalu terlempar dan terjatuh ke jurang.


"Aaaaaaaaa!!" teriak Laras.


BRAAKKKK BRRRAAAKKKKK


JEDER! BYYUUUURRRRRR


Mobil Laras masuk ke sungai dibawah sana.


Sosok itu melihat nya dari atas sambil tersenyum.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2