
Aku dan Laras pergi ke perkampungan waktu itu dan mencari tau dimana rumah kosong yang ada di dekat sana.
Saat sampai disana, kami bertemu lagi dengan mang Aris. Kami pun bertanya padanya.
"Misi mang, kita mau tanya dong." kata ku.
"Wah si Eneng cantik datang lagi, kangen ya sama mamang?" kata mang Aris.
"Enggak mang, kita kesini tuh mau tanya di deket sini ada rumah kosong gak ya mang?" tanya ku.
"Rumah kosong? Mau apa neng ke rumah kosong?" kata mang Aris.
"Kita mau tau aja mang. Gimana mang ada gak?" kata ku.
"Oh ada." kata mang Aris.
"Kalau boleh tau dimana ya mang?" tanya ku.
"Di ujung sana neng, ada rumah kosong. Dulunya itu rumah orang paling kaya di desa ini, tapi ternyata kekayaan dia itu hasil dari ngepet neng. Akhirnya mereka sekeluarga meninggal secara tragis dirumah itu neng. Sampai sekarang, kami enggak berani mendekati rumah itu, karena konon katanya ada penunggunya neng." jawab mang Aris.
"Ih serem banget ceritanya." kata Laras.
"Mang, bisa anterin kita kesana gak?" tanya ku.
"Mau ngapain neng? Mending disini aja sama aa." kata mang Aris.
"Kita tuh lagi ada tugas buat nyelidikin tempat-tempat horor gitu mang, makanya kita mau kesana." kata ku.
"Tapi neng, rumah itu tuh beneran angker! Waktu itu pernah ada yang kesurupan disana pas lewat malam-malam. Terus ada juga bocah yang mau ngambil bola di dalam rumah itu, katanya dia ngeliat hantu cewek gitu neng. Sampe sekarang tuh bocah masih ketakutan, katanya dia didatengin terus sama arwah itu." kata mang Aris.
"Serem ya mang, tapi kami harus kesana, mamang tolong anterin kita ya." kata ku.
"Yaudah lah kalo maksa mah, tapi saya cuma bisa anter sampe belokan aja ya neng. Saya gak berani lewat depan rumahnya." kata mang Aris.
"Iya mang gapapa." kata ku.
"May, gua gak ikut ya, lu aja yang kesana, gua tunggu disini." bisik Laras.
"Hah kok gitu sih? Kita kan mau nyelamatin Gino tau!" kata ku.
"Ih tapi gua takut banget, denger ceritanya aja bulu kuduk gua udah berdiri gimana datengin tempatnya coba." kata Laras.
"Yaudah terserah kamu, kalo gitu aku pergi sama mang Aris ya." kata ku.
Mang Aris menyalakan motornya dan berbicara.
"Ayo neng!"
"Emm mang, saya dibonceng sama mamang aja ya. Soalnya teman saya gak mau ikut kesana." kata ku.
"Oh yaudah ayo, malah saya seneng seperti dapet rejeki nomplok. Ayo naik neng!" kata mang Aris.
"Iya mang. Yaudah Ras, aku pergi ya, tapi kamu disini jangan pulang duluan!" kata ku.
"Iya, hati-hati ya May!" kata Laras.
Aku pun naik ke motor mang Aris dan lalu mang Aris menjalankan motornya.
"Duh mimpi apa saya semalam" batin mang Aris.
"Nah neng, saya anter sampe sini aja ya. Itu rumahnya ada disana, yang ada pohon besar itu neng." kata mang Aris.
"Oh iya mang, makasih ya." kata ku.
"Eh neng, yakin nih mau kesana sendirian?" tanya mang Aris.
"Ya mau gimana lagi mang, mamang mau nemenin emangnya?" kata ku.
"Waduh enggak dulu dah, saya gak berani kalo berurusan sama yang begituan. Nanti aja saya nemenin neng nya di rumah aja." kata mang Aris sambil nyengir.
"Yaudah gapapa mang, saya langsung pergi ya." kata ku.
"Hati-hati ya neng! Banyak-banyak baca bismillah! Sebelum masuk, baca doa dulu neng sama salam!" kata mang Aris.
"Iya mang." kata ku.
Aku berjalan menuju rumah kosong itu, aku benar-benar penasaran apa benar Gino ada disana?
__ADS_1
Baru saja kaki ku berjalan 10 langkah, aku langsung merasakan hawa yang seram.
Bulu kuduk ku berdiri dan aku semakin merasa bahwa tempat ini benar-benar berhantu.
Aku ketakutan sambil memegangi tangan dan leherku.
Lalu, aku sampai di depan gerbang rumah itu.
Rumah itu terlihat benar-benar tak terurus, banyak lumut menempel di dinding nya.
Pagarnya pun sudah sangat berkarat, aku kesusahan membukanya.
Setelah berhasil membuka pagar nya, aku melangkah masuk kedalam halaman rumah itu.
Halamannya benar-benar luas, pantas saja jika pemiliknya adalah orang terkaya di kampung ini.
Kulihat rumah ini dari bawah sampai atas, ternyata terdapat 3 tingkat.
Aku menghela nafas ku dan melanjutkan perjalanan ku.
Aku sekarang sudah berada di depan pintu rumah itu, banyak sekali debu disana.
Selain itu, juga terdapat sarang laba-laba di gagang pintu nya.
Aku membersihkan terlebih dahulu gagang pintu nya, baru aku coba membukanya.
Krieetttt....
Pintu itu terbuka dan memperlihatkan sebuah ruangan yang cukup besar namun kondisi didalam sana sangat buruk.
Kursi dan meja berserakan dimana-mana, foto-foto berjatuhan di lantai.
Aku melangkah masuk kedalam rumah itu.
Brak...
Tiba-tiba pintu itu tertutup sendiri, aku kaget dan ketakutan.
Aku coba membuka lagi pintu itu, namun tidak berhasil.
Aku pun baru teringat pesan mang Aris,
"Hati-hati ya neng! Banyak-banyak baca bismillah! Sebelum masuk, baca doa dulu neng sama salam!" kata mang Aris.
Aku melepaskan tanganku dari pintu itu, lalu kembali mencoba masuk lebih dalam untuk mencari tau dimana Gino.
Tiba-tiba handphone ku berdering, aku mengambil nya dari saku celana ku, ternyata ada telepon dari Laras.
"Halo Ras, ada apa?" tanya ku.
"Halo May, gua barusan dapat kabar dari papahnya Gino, ternyata itu benar jenazah Gino. Dia abis bongkar lagi makam Gino untuk memastikan itu." jawab Laras.
Aku terdiam sejenak dan berpikir.
"Lalu siapa yang SMS aku pake nomor Gino?" batin ku.
"May, May lu masih disitu kan? Mending sekarang lu balik kesini deh! Gua takut lu kenapa-kenapa!" teriak Laras.
Tiba-tiba ada sesosok perempuan berjalan pelan dengan rambut menutupi seluruh wajahnya.
Aku masih terdiam dan pandangan ku teralihkan ke arah sosok itu, aku tidak mendengar perkataan Laras.
Sosok itu berjalan ke arahku, aku mencoba untuk mundur dan pergi dari tempat ini, tapi kakiku terasa kaku. Aku tidak bisa bergerak.
Sosok itu semakin mendekat dan tiba-tiba berjalan lebih cepat lalu ia sudah ada di depan wajah ku.
Aku berteriak.
"Aaaaaaaa"
Aku menjatuhkan ponsel ku dan berlari ke arah pintu. Aku coba lagi membuka pintu itu namun masih belum bisa.
Aku menengok kebelakang dan ternyata sosok itu telah hilang, aku bernafas lega.
Namun aku tak yakin dia benar-benar hilang.
Dia pasti masih ada disini.
__ADS_1
#flashback#
Aku memejamkan mata ku, namun aku merasa seperti ada cairan yang menetes di kepalaku.
Aku pun membuka mataku, aku terkejut melihat rambut panjang menggelantung dan terlihat sosok seram berada di langit-langit kamar ku.
Sosok itu cekikikan dan menggoyangkan tubuhnya sehingga rambutnya bergerak kesana kemari.
Makin banyak darah berceceran di wajahku.
Aku ketakutan dan mencoba bangun, namun badanku seperti kaku.
Sosok itu loncat dan turun ke kasur ku, dia berada tepat di atas tubuhku. Wajahnya menatap wajahku, sangat seram sekali, aku menutup mataku dan coba membaca ayat kursi.
Namun dia membuka paksa mataku dan berteriak di depan wajahku.
"Kamu akan matiiiiii!!!" teriaknya sehingga membuat darah di mulutnya muncrat ke wajahku.
Aku tidak bisa menahan rasa takut, aku berteriak ketakutan.
"Aaaaaaaaa"
Papah ku yang mendengar teriakkan ku langsung masuk ke kamarku dan menenangkan ku.
"Kamu kenapa sayang?" tanya nya.
"Ta tadi ada hantu pah." jawab ku sambil terengah-engah.
"Apa? Kamu ngeliat hantu lagi?" tanya papah.
"Iya pah, serem banget." jawab ku.
"Yaudah gapapa, sekarang kan dia udah pergi, kamu tenang ya sayang." kata papah sambil mengusap-usap kepala ku.
"Loh sayang, kok rambut kamu ada yang kasar sih?" tanya papah.
"Masa sih pah?" tanya ku.
"Iya nih coba kamu pegang." kata papah.
"Hah iya pah, ini kenapa ya?" kata ku.
Aku panik karena benar rambut ku terasa keras sekali.
Aku melihat ke kaca lemari ku, ada sosok itu ternyata di belakang ku, dan dia tertawa sambil menatap tajam ke arah papahku.
"Aaaaaaaaa" teriak ku.
"Kenapa lagi sayang?" tanya papah.
"Ada dia pah, ada dia disini! Itu tadi rambut dia pah. Aku takut pah, tolongin aku!" jawab ku.
"Kamu gausah takut ya! Yaudah papah temenin sampe kamu tidur ya." kata papah.
"Pah, aku mau tidur di kamar papah aja. Aku gak berani tidur disini, nanti gimana kalau ada sosok itu lagi?" pinta ku.
"Yaudah kamu boleh tidur di kamar papah, biar papah tidur disini ya." kata papah.
"Makasih ya pah, aku langsung ke kamar papah ya." kata ku.
Aku langsung turun dari kasur dan berjalan keluar kamar menuju kamar papah ku.
Papah ku tidur di kasurku, namun saat dia ingin memejamkan matanya, ada suara-suara aneh yang menyebut namanya.
"Haris Haris Haris..."
"Hah, siapa itu? Tunjukkan wujud kamu!" teriak papah ku.
"Aku disini Haris, lihat lah ke cermin."
Papah ku berjalan ke cermin, ia kaget karena tiba-tiba muncul tulisan dengan darah.
"Kamu akan mati! Setelah anak mu ku ambil!"
#flashback end#
*disarankan baca sendirian dan di tengah malam.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...