Dia Masa Depanku

Dia Masa Depanku
Part Time 1


__ADS_3

“Drrt, drrt” handphone Eunha bergetar pagi itu. Itu juga yang membangunkan Eunha dari tidur lelapnya. Maklum saja, tadi malam ia begadang menyusun laporan tugasnya. Dengan sedikit rasa kantuk yang masih tertahan Eunha mengangkat panggilan telfon itu.


“Halo, selamat pagi” dari nomor asing yang tak diketahui Eunha, terdengar suara berat di ujung telefon.


“Apa benar ini nona Eunha?” tanya suara berat di sana.


“Benar, tapi mohon maaf anda siapa?” tanya Eunha dengan sopan.


“Maafkan aku, ini salahku tak mengenalkan diri terlebih dahulu” ujar suara berat itu.


“Aku adalah manajer dari kafe yang anda datangi kemarin, apakah nona bisa datang lagi ke kafe kami?” tanya sang manajer.


“Tentu saja, jam berapa saya harus berada di sana bapak manajer?” tanya Eunha antusias. Rasa akntuknya langsung menghilang, mengingat ia yang butuh uang tambahan karena tak mungkin memberatkan ibunya untuk kebutuhan dirinya sendiri.


“Jam berapapun nona bisa, kami ingin melakukan wawancara sekali lagi” jawab sang manajer.


“Aku akan disana saat jam makan siang, apakah tidak masalah pak?” tanya Eunha untuk meyakinkan.


“Tidak masalah, nanti langsung cari saya di ruangan” jawabnya.


“Baik pak, terima kasih banyak” ujar Eunha menahan rasa girangnya. Ia tak ingin bersikap terlalu heboh pagi-pagi karena teman-temannya masih terlelap.


“Sampai jumpa nanti nona Eunha” akhir sang manajer sambil menutup pembicaraan.


Eunha girang bukan kepalang, sudah beberapa hari ia berkeliling area sekitar kampus mencari pekerjaan sampingan. “Akhirnya ada kabar baik” ujar Eunha membatin.


~


Saat jam makan siang, Eunha dengan antusias menuju kafe yang memanggilnya untuk wawancara. Saat ia datang, kondisi kafe lumayan ramai karena memang jamnya makan siang. Kafe-kafe sekitar kampus memang selalu ramai saat jam makan, karena mahasiswa yang berkuliah di area itu bukan hanya dari kampus Eunha tapi ada juga beberapa universitas terdekat. Sehingga untuk membangun usaha di daerah itu sangat tepat dan strategis.


Karena sudah dibilang diawal bahwa Eunha akan langsung menemui sang manajer, ia langsung bertanya pada salah satu pegawai dimana kantor manajemen kafe tersebut.

__ADS_1


“Kau bisa masuk ke ruangan yang berada di sebelah kiri tersebut” ujar sang pegawai ramah.


“Terima kasih banyak” ucap Eunha sambil membungkuk tanda berterima kasih.


Sekilas Eunha melihat tag nama pada pegawai tersebut Jung Taeha, nama yang bagus sesaui dengan orangnya yang ramah ujar Eunha dalam hati.


Tok tok, Eunha mengetok ruangan manajer tersebut dengan sopan. Terdengar suara menyuruh masuk dari dalam, dengan sedikit gugup Eunha menarik gagang pintu ke bawah dan mendorongnya. Terlihat sesosok lelaki berpakaian kasual namun rapi sedang duduk di meja kerjanya. Melihat Eunha, orang tersebut refleks berdiri dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


“Selamat siang. Aku manager kefe ini, perkenalkan namaku Song Jinu” ucap pria tersebut ramah.


“Selamat siang pak, aku Oh Eunha yang tadi pagi bapak telefon” ujar Eunha sedikit kikuk. Sebab, ia tak menyangka pemilik suara berat tadi pagi masih begitu muda. Song Jinu, pemilik sekaligus manager kafe Classy ini baru berusia 31 tahun, memiliki perawakan yang tegap dan atletis.


“Sepertinya manager ini sering berolahraga” ucap Eunha bergumam sendiri. Dengan postur layaknya model, ia sangat bagus memakai kemeja informal itu.


“Aku mendengar kemarin nona melamar pekerjaan disini?” tanya Jinu sopan.


“Benar pak, kemarin siang saya bertanya ke salah satu pegawai. Namun ia bilang bapak gak ada ditempat dan orang tersebut tidak tahu apakah kafe ini membutuhkan pegawai tambahan, dan ia meminta saya meninggalkan cv dan kontak yang bisa dihubungi” jawab Eunha menjelaskan.


“Kalau boleh tau, tepatnya jam berapa hingga berapa jam kerjanya pak?” tanya Eunha mempertegas.


Song Jinu tersenyum mendengar reaksi Eunha, ia tak mengira jika Eunha akan setegas ini padanya, padahal saat memasuki ruangan ini jelas gestur tubuh Eunha menunjukkan bahwa ia sedikit gugup.


“Tepatnya jam 4 sore hingga jam 8 malam” jawab Jinu sambil sedikit tersenyum.


“Saya bisa pak” jawab Eunha cepat yang membuat Jinu tergelak tawa.


Hal itu membuat Eunha seketika menyadari respon berlebihannya. “Maaf pak” ujarnya cepat.


“Aku suka semangatmu dan cara berpikirmu nona Eunha, kapan kamu bisa masuk kerja?” tanya Jinu lebih lanjut dengan penuh selidik.


“Tunggu dulu pak, kita harus membicarakan gaji dan kontraknya” ucap Eunha tegas.

__ADS_1


Senyum sumringah terukir di wajah Jinu, “Aku kira, ketika kamu excited, kamu melupakan hal yang paling mendasar itu nona Eunha. Ternyata nona orang yang cukup jeli juga, sepertinya ini bukan pekerjaan pertamamu” tanya Jinu sedikit ingin tahu.


“Aku sebelumnya saat masih sekolah pernah menjadi kasir minimarket pak” jawab Eunha jujur.


Eunha hanya tersenyum membalas pujian tersebut, baginya itu bukanlah hal baru. Saat masih sekolah menengah atas ia telah mulai bekerja sebagai pegawai minimarket. Tentu itu adalah hal yang paling mendasar yang harus ditanyakan saat membicarakn kontrak kerja.


“Aku akan menggajimu perjam, setiap jamnya kamu akan aku gaji 25.000 won dan uang lembur dua kali lipat gaji umummu, bagaimana? tanya Jinu lagi.


“Bagaimana dengan masa magangnya pak?” Eunha membalas dengan mengajukan pertanyaan lain.


“Kau sangat jeli dan teliti nona Eunha, disini kami memiliki masa satu bulan training. Jika kinerja mu bagus, maka otomatis setelah sebulan kamu akan menjadi karyawan part time resmi” jelas Jinu


“Aku setuju pak, kapan aku bisa menanda tangani surat kontraknya” tanya Eunha


“Sebentar aku akan menyiapkan kontraknya, kau bisa menandatanganinya hari ini” ujar Jinu sambil menyiapkan kontrak kerja.


Setelah membaca dengan seksama isi surat kerja, Eunha menandatangani kontrak itu dan sesuai perjanjian ia akan mulai bekerja besok. Setelah itu ia berpamitan dengan Jinu sang manager dan berjalan menuju keluar kafe. Saat hendak keluar ia kembali bertemu dengan Jung Taeha yang tadi ia temui, Eunha baru sadar ia pegawai yang kemarin menerimanya.


“Bagaimana wawancaramu?” tanya Taeha seperti tahu apa yang terjadi.


“Aku akan mulai bekerja besok, mohon bimbingannya” ujar Eunha sambil membungkuk hormat.


“Syukurlah, sampai bertemu besok Eunha” jawab Taeha sambil berlalu mengantarkan menu pesanan pelanggan.


Deg, “Bagaimana ia tahu namaku?” batin Eunha penuh tanda tanya. “Perasaan kemarin aku tak menyebutkan namaku, ohh mungkin ia melihat cv ku” ujar Eunha kembali membatin menjawab pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya.


“Sampai bertemu besok” ucap Eunha sambil berlalu menuju pintu keluar. Ia perlu menyusun jadwalnya kedepan agar kuliah dan pekerjaannya tidak menganggu.


Dengan sedikit melompat girang Eunha meningglakn kafe Classy itu. Ia tak menyadari bahwa mata Taeha dan Jinu mengikuti sosoknya yang semakin menghilang di keramaian wilayah itu.


“Wanita yang menarik” ujar keduanya dalam hati.

__ADS_1


~


__ADS_2