Dia Masa Depanku

Dia Masa Depanku
Kesalahan


__ADS_3

Mingyu menarik lengan Eunha hingga tepat berada di depannya, Eunha terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Mingyu. Dengan sekejap Mingyu mencium bibir Eunha dengan lembut. Sontak Eunha semakin terkejut dengan apa yang dilalukan oleh Mingyu. Ia tak menduga akan mendapat serangan mendadak seperti itu.


Spontan Eunha menjauhkan tubuhnya dari Mingyu, sambil memegang bibirnya yang telah dicium oleh Mingyu Eunha keluar kamar dalam keadaan bingung lalu mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan Mingyu yang tak kalah terkejutnya. Ia baru sekali ini menemukan wanita yang tak tertarik dengannya malahan terkejut dengan ciumannya, Mingyu pun semakin merasa tertantang untuk dapat menaklukkan Eunha. Ia tersenyum tipis membayangkan kembali reaksi dari Eunha barusan.


Bel apartemennya berbunyi, membuyarkan anganan Mingyu tentang ciumannya tadi. Ia beranjak dari ranjang, mengira Eunha yang kembali untuk menemui dirinya. Namun yang datang malahan Naeun, yang khawatir semenjak semalam telfonnya tak dapat menghubungi Mingyu.


Melihat Mingyu yang membukakan pintu Naeun langsung menghamburkan tubuhnya ke dekapan Mingyu.


“Aku khawatir padamu sayang, semenjak kau pergi semalam aku merasa ada yang aneh denganmu. Tapi kau tak bisa ku hubungi setelahnya” ucap Naeun tampak tulus.


Mingyu yang lebih terkejut dengan kedatangan Naeun hanya dapat menghela nafas.


“Aku tak apa, semalam aku langsung pulang. Sepertinya baterai ponselku habis makanya tak dapat kau hubungi” Mingyu memberi alasan. Memang semalam ia tidak mengaktifkan ponselnya.


“Badanmu panas, apakah kamu sakit?” tanya Naeun setelah merasa tubuh Mingyu yang memang panas. Sembari menempelkan punggung tangannya pada dahi Mingyu.


“Aku hanya kehujanan sedikit tadi malam, sudah tak apa. Aku sudah minum obat” ujar Mingyu sambil berusaha melepaskan dekapan Naeun dari tubuhnya.


Ketika hendak menutup pintu apartemen, Mingyu secara tak sengaja melihat Eunha yang memalingkan badannya kembali ke lift.


“Kenapa dia kembali?” ucap Mingyu dalam hati. “Pasti ia melihat Naeun, aku akan semakin sulit untuk dapat mendekatkan diri padanya” gumam mingyu kembali.


Sudut pandang Eunha


Setelah keluar dari apartemen Mingyu dan berlari menuju lift. “Ahh, aku lupa mengambil Handphoneku yang dicas di apartemen itu, haruskah aku kembali mengambilnya?” ucap Eunha ragu di dalam hati.


Ia masih syok karena ciuman pertamanya direnggut oleh yang tak dicintainya, memang benar kalau Mingyu tampan tapi dia bukan siapa-siapa dirinya, “Aku ingin ciuman pertamaku dengan orang yang saling mencintai denganku” gumamnya sambil masih berpikir.


Dengan sedikit keberanian ia akhirnya membulatkan tekad untuk menjemput ponselnya “Aku hanya akan cepat mengambil ponsel dan kembali keluar” rencana Eunha.


Namun apa yang disaksikannya, sungguh membuat semangat itu gontai. Ia melihat Mingyu berpelukan dengan wanita lain. Entah kenapa, ada rasa marah dalam dirinya.


“Baru saja ia mencuri ciuman pertamaku, lalu sekarang ia sudah bersama perempuan lain. Dasar cowok brengsek” gerutu Eunha sembari kembali ke lift yang membawanya naik.


Kembali ke apartemen Mingyu

__ADS_1


Naeun memasuki apartemen itu dengan sambil bergelayut mesra di lengan kekar milik Mingyu. Ia lalu melihat sarapan yang Eunha buat tadi yang belum sempat ia makan.


“Sekarang kamu memasak sayang?” tanya Naeun memperhatikan makanan di atas meja makan.


Melihat makanan itu, timbul rasa bersalah dalam diri Mingyu, Eunha ternyata sudah menyiapkan sarapan namun pergi tanpa memakannya.


Mingyu tertuju pada ponsel Eunha yang tercolok pengecas di meja dekat sofa. Naeun yang menduga itu masakan Mingyu mengajak Mingyu sarapan.


“Aku datang diwaktu yang tepat, kebetulan aku belum sarapan. Mari kita sarapan sayang, lalu ke kampus bersama” ujar Naeun tanpa tahu apapun.


“Bb, baiklah. Ayo sarapan” jawab Mingyu terbata. Namun Naeun tak terlalu memerdulikannya.


“Aku cuci wajah sebentar” kata Mingyu sambil mengambil ponsel Eunha saat Naeun menuju meja makan, mencegah Naeun tak banyak tanya tentang ponsel tersebut.


~


Eunha sampai di asrama dengan wajah lelah, ia belum sarapan ditambah ponselnya tertinggal di apartemen Mingyu.


“Bagaimana aku mendapatkan ponsel itu kembali?” ucap tanya Eunha pelan saat hendak bersiap-siap menuju gedug perkuliahan.


“Aku meninggalkan ponselku disana” jawabnya singkat.


“Kau hanya harus memintanya kembali” ujar Hemi tanpa tahu hal apa yang telah di lalui oleh teman sekamarnya itu.


“Entahlah, aku sekarang tak mau bertemu dengan orang itu” ucap Eunha yang membuat Hemi mengernyitkan kening tak paham apa maksud Eunha.


“Nanti aku bantu ambilkan pada senior” ujar Hemi menenangkan temannya itu.


“Terimakasih banyak Hemi, aku mohon bantuanmu” jawab Eunha sedikit lega.


Mereka kelura kamar bersama dan menuju gedung perkuliahan masing-masing.


Saat Hemi memasuki gedung Fakultas Teknik ia melihat Mingyu yang datang bersama Naeun.


Melihat Hemi, Mingyu buru-buru menyuruh Naeun untuk menuju gedung kuliahnya yang berada di Fakultas Ekonomi. Dengan sedikit terpaksa Naeun memang harus menuju fakultasnya.

__ADS_1


Hemi yang hendak memasuki ruangan kuliah dicegat oleh Mingyu.


“Apa Eunha telah kembali ke asrama?” tanya Mingyu sambil mengambil nafas setelah tadi berlari mengejar Hemi.


“Tentu saja senior, Oh iya. Apakah ponsel Eunha ada tertinggal di tempat senior?” Hemi balik bertanya teringat wajah lesu temannya ketika kembali ke asrama tadi.


“Apakah senior ada melakukan sesuatu pada temanku?” kembali Hemi bertanya penuh selidik.


Yang ditanya hanya terdiam tak memberikan jawabanya. “Senior” ucap Hemi sedikit keras yang membuat Mingyu tersadar dari ingatannya tadi pagi.


“Soal ponsel aku akan kembalikan sendiri, syukurlah temanmu kembali dengan selamat” jawab Mingyu sembari berlalu meninggalkan Hemi yang belum puas dengan jawaban sang senior dan berjalan menuju ruang kuliahnya sendiri.


~


Saat jam makan siang, Eunha dan teman-teman sejurusannya menuju kantin. Saat itu ia melihat Mingyu sudah berdiri di depan pintu kantin dengan gestur seperti mencari seseorang. Eunha hendak pergi menghindar namun ia melihat ponselnya yang berada ada di tangan Mingyu.


“Kalau ibu menghubungiku bagaimana? Kalau bos tempatku mencari kerja sampingan kemarin menghubungi bagaimana?” tanya Eunha dalam hati.


“Eunha, kau tak jadi makan siang?” salah seorang teman Eunha membuat Eunha tersadar ia telah tertinggal saat temannya berjalan menuju kantin sedangkan ia terhenti saat melihat Mingyu di pintu masuk.


“Kalian duluan saja, aku baru ingat ada hal yang harus aku lakukan” ucap Eunha beralasan. Ia hanya tak ingin teman-temannya melihat ia harus berhadapan dengan Mingyu sang idola kampus.


“Padahal di pintu masuk ada senior Mingyu, jarang-jarang kita bisa melihatnya” ujar teman Eunha begitu senang bisa melihat sosok yang menjadi incaran wanita satu kampus.


Teman Eunha berlalu menuju kantin dengan semangat sambil berjalan pelan agar lebih lama bisa memandangi sosok Mingyu.


Ternyata Mingyu menemukan Eunha saat ia berbincang dengan temannya yang tadi. Dengan cepat Mingyu menuju tempat Eunha berdiri, melihat Mingyu berjalan menuju dirinya Eunha sontak memberi isyarat diam dan meminta Mingyu mengikutinya berjalan menjauh agar tak menjadi pusat perhatian.


Melihat isyarat Eunha bergerak menjauh darinya, Mingyu pun mengikuti Eunha dalam diam. Ada seutas senyum di bibir Mingyu melihat tingkah Eunha barusan.


Setelah dirasa jauh dari keramian, Eunha pun berhenti dan membalikkan badannya. Ternyata Mingyu sudah berada tepat di depan dirinya, menyadari hal itu Eunha kaget dan keseimbangannya pun hilang. Ketika tubuh Eunha bergerak hendak jatuh, dengan sigap Mingyu mengalungkan tangannya di pinggang Eunha agar gadis itu tidak sampai terjatuh.


Ketika mata keduanya bertemu dalam posisi seperti berpelukan itu, keduanya sama-sama merasakan getaran yang menjalar keseluruh tubuh. Bagi Mingyu itu adalah getaran baru yang tak ia temukan dari gadis manapun yang selama ini pernah dekat dengan dirinya, tak berbeda jauh bagi Eunha itu adalah getaran karena selama ini ia tak pernah dalam posisi seperti ini.


~

__ADS_1


__ADS_2