
Pipi Eunha memerah, ia teringat kejadian tadi pagi di kamar Mingyu. “Apa yang kau pikirkan Eunha, dia sudah memiliki orang lain, kau hanyalah mainan baginya. Sadarlahh” Eunha membatin dalam hati.
Melihat pipi Eunha yang memerah, Mingyu pun tersenyum lebar “Apa yang kau pikiran?” ujarnya sambil membantu Eunha berdiri dengan benar.
“Aku tak memikirkan apapun, aku hanya lemes dari tadi belum makan makanya aku limbung” jawab Eunha.
Mingyu hanya mengangguk-angguk, tapi anggukan itu seperti ejekan bagi Eunha.
“Memang benar, aku tak sempat sarapan dan harus mengejar kuliah setibaku di asrama” kembali Eunha menegaskan.
“Iya, iya” jawab Mingyu sambil tersenyum lebar.
“Oh jantungku mengapa kau berdebar begitu kencang melihat orang ini tersenyum lebar” ucap Eunha pada jantungnya yang tetiba berdebar dengan kencang saat melihat Mingyu tersenyum lebar. “Manis sekali, aku baru kali ini melihatnya tersenyum begitu bebas” kembali Eunha membatin.
“Apa kau meninggalkan sesuatu di rumahku?” tanya Mingyu menyadarka Eunha dari monolognya.
“Iya senior, aku meningglkan ponselku di rumahmu. Ketika aku kembali berniat untuk mengambilnya aku melihat ada pacar senior di sana. Lalu aku mengurungkan niatku, aku baru berencana mencari senior untuk membawanya dan mengembalikannya padaku” ujar Eunha panjang lebar serta polos tanpa sadar menyebutkan apa yang dilihatnya tadi pagi.
“Dia bukan pacarku, jadi kau tak perlu sungkan” jawab Mingyu sembari memberikan ponsel Eunha pada eumpunya.
“Dia bukan pacar senior? Terus bagaimana bisa berpelukan pagi-pagi di depan pintu?” tanya Eunha polos. Ia ingin tahu, ada perasaan senang mendengar wanita yang ia lihat bukan kekasih Mingyu.
“Yaa orang-orang memang mengenalnya sebagai pacarku, tapi aku tak memiliki rasa untuknya” jawab Mingyu santai. Entah mengapa ada perasaan dalam dirinya mengharuskannya menjelaskan pada Eunha agar gadis mungil ini tidak salah paham pada dirinya. Tanpa sadarpun ia jujur akan perasaannya terhadap Naeun kepada Eunha.
“Bagaimana bisa berpacaran tanpa ada rasa cinta?” Eunha semakin polos bertanya. Ia memang belum pernah berpacaran, pacaran dalam persepsi Eunha adalah saat dua orang saling menyukai bukan hanya salah satunya.
__ADS_1
“Apa kamu cemburu?” tanya Mingyu yang membungkam mulut Eunha untuk kembali bertanya.
“Untuk apa aku cemburu pada senior dan pacar senior itu?” jawab Eunha cepat tak ingin memperlihatkan respon yang menyudutkan dirinya yang sebenarnya cemburu.
“Sudah kukatakan kalau aku tak menyukainya, aku membiarkannya berpura-pura menjadi pacarku agar gadis-gadis yang lain tak mendekatiku lagi. Bisa di anggap dia sebagai tamemg bagiku” ujar Mingyu menjelaskan pada Eunha.
“Apapun itu, tak ada hubungannya denganku” tutur Eunha cepat.
Mendengar jawab Eunha, ada rasa kalut yang tetiba menyerang Mingyu. “Perasaan apa ini, mengapa aku sedih ketika ia tak peduli padaku” Mingyu membatin.
“Mmm, soal yang tadi pagi aku anggap saja senior meracau. Anggap saja tak terjadi apapun kepada kita” ujar Eunha tiba-tiba membahas insiden mereka. Eunha merasa keceplosan membahas itu dengan Mingyu tapi ia merasa perlu untuk menjelaskan pada Mingyu.
“Kenapa? Aku tak meracau, itu aku lakukan dengan sadar” pungkas Mingyu tak terima ciumannya tak di anggap oleh Eunha.
“Aaaa, senior kan melakukannya tidak dengan perasaan. Jadi mari anggap tidak pernah terjadi saja” teguh Eunha.
Eunha yang berusaha menyakinkan Mingyu menjadi terdiam sesaat. “Mungkin senior terbawa perasaan sesaat saja” jawab Eunha tegas.
Jawaban itu sukses membuat Mingyu terdiam. Bukan jawaban yang ia ingin dengar, ada rasa sesal dalam diri Mingyu, mengapa ia tak bisa menahan diri untuktidk sedih mendengar jawaban teguh Eunha.
“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan” jawab Mingyu sambil berbalik dan pergi meninggalkan Eunha mematung sendiri.
“Apa aku salah bicara? Kenapa ekspresinya seperti itu?” gumam Eunha pelan. Ia melihat ponselnya yang tadi diberikan Mingyu. Eunha mengecek panggilan masuk, ternyata belum ada panggilan dari Manager kafe tempat Eunha melamar menjadi pegawai paruh waktu kemarin.
Eunha tersadar ketika perutnya berbunyi, “Aaah, aku harus makan siang” tutur Eunha sembari kembali menuju kantin. Tanpa tau, sedari tadi ada mata memperhatikannya saat bersama Mingyu.
__ADS_1
“Apa, ia tak mencintaiku? Aku hanya tameng?” tutur sang wanita merasa marah. Ya dia adalah Na Naeun yang sedari tadi menguping pembicaraan keduanya. Tadinya Naeun hanya berniat makan siang dikantin namun ketika hampir sampia ia melihat Mingyu seperti mengikuti seseorang, Ia yang awalnya hanya ingin mengajak Mingyu untuk makan siang bersama berakhir mendengar penuturan Mingyu akan perasaannya.
“Siapa gadis tak tau diri tadi?” ujar Naeun geram. “Dia berusan dengan orang yang salah” ucap Naeun pergi dalam keadaan marah yang memuncak.
~
Mingyu terdiam di sudut salah satu lapangan basket. Ia mengingat kembali ucapan teguh Eunha tadi, ia merasa ditolak bahkan saat iya belum mengungkapkan isi hatinya.
“Wanita seperti apa dia, kenapa begitu sulit untuk mendekatinya?” tanya Mingyu pada dirinya sendiri.
“Apa yang kau lamunkan?” suara itu membuat Mingyu memalingkan kepalanya mencari arah sumber suara. Suara yang sudah lama tak ia dengar. Mendekat sesosok lelaki yang gagah dengan perawakan mirip Mingyu dengan gaya yang lebih santai nan rapi. Dia adalah kakak sepupu sekaligus sahabat Mingyu dari kecil dia adalah Jeon Namjoon. Seorang presiden mahasiswa Universitas XX, seorang yang cerdas dan disegani satu universitas, dia adalah mahasiswa kedokteran satu angkatan diatas Mingyu.
“Hyung, kapan kau kembali? Kenapa tak memberi kabar?” pungkas Mingyu kepada sang kakak. Maklum Namjoon baru kembali dari pertukaran mahasiswa ke John Hopkins University 2 bulan lalu.
“Aku baru kembali hari ini, langsung mencarimu” jawab Namjoon sambil memainkan rambut sang adik.
“Apa ada hal yang menganggumu? Sepertinya kau sedang kesal?” tanya Namjoon yang seperti sudah paham bagaimana karakter dan ekspresi sang adik.
“Kau memang yang paling tahu tentangku Hyung, tak ada apapun. Apa kau sudah ke tempat nenek?” balik Mingyu bertnya tak ingin membahas hal yang sedang ia pikirkan.
“Nanti, setelah mengurus administrasi kedatanganku kembali ke kampus. Kau temani aku kan?” tanya Namjoon.
“Aku sudah kesana kemarin, kau sendiri sajalah hyung” jawab Mingyu. Tak ingin kembali larut dalam perasaannya. Lagian semalam ia juga sudah melakukan persembahan untuk sang nenek dibantu oleh Eunha.
Namjoon mengalah dan membiarkan sang adik untuk menenangkan diri. “Aku akan mengurus administrasi, walalupun kau tak ikut aku menjenguk nenek. Besok kita makan malam bersama ya” ujar Namjoon seperti tahu sang adik tak ingin di ganggu untuk saat ini.
__ADS_1
Mingyu hanya mengangguk tanda setuju, setelahnya sang kakak menuju ke bagian admistrasi kampus untuk mengurus dokumen yang ia perlukan. Dan Mingyu pun tak tahan dengan isi kepalanya, berjalan menuju parkiran dan menghidupkan mobilnya. Ia ingin pergi kemanapun, baru juga ia merasakan senang namun dalam hitungan beberapa saat perasaannya dipatahkan oleh Eunha. Walaupun semuanya tak dapat disalahkan kepada Eunha, memang Mingyu masih dalam hubungan dengan Naeun. Namun ia sudah terlanjur nyaman dengan keberadaan Eunha.
~