Dia Masa Depanku

Dia Masa Depanku
Part Time 2


__ADS_3

Besoknya setelah usai perkuliahan Eunha dengan agak tergesa menuju kafe Classy. Ia tak ingin dihari pertamanya ia bekerja terlambat, itu akan menurunkan penilaian kinerjanya. Eunha sampai di kafe saat sebelum 10 menit pergantian shift. Ia diberikan seragam dan loker sendiri untuk menyimpan barang-barangnya.


Lalu ia diberitahukan bahwa senior yang akan membimbinginya adalah Jung Taeha yang kemarin bertemu dengannya, ternyata Taeha juga pegawai part time seperti dirinya. Namun Taeha sudah lebih bekerja di kafe tersebut, Taeha memiliki beberapa pekerjaan paruh waktu dengan alasan ia tak ingin dikekang oleh pekerjaan tetap. Alasan yang aneh bagi Eunha, tapi ia tak ingin bergosip saat jam kerja.


Eunha diajari cara melayani tamu, mulai dari menerima pesanan hingga mengantarkannya. Eunha yang memang sudah terbiasa bekerja saat zaman sekolah, mempelajari itu dengan giat. Ia telah terampil melayani pelanggan bahkan saat ia bekerja sebagai kasir minimarket dekat sekolahnya dulu.


Tak butuh waktu lama untuk Eunha beradaptasi dengan pekerjaan barunya. Dengan beberapa kali arahan dari Taeha, Eunha sudah sepenuhnya paham akan pekerjaannya.


Kafe ini ternyata memiliki pelanggan yang cukup ramai, mungkin karena letaknya yang strategis namun juga karena dekorasi dan rasa makanannya sesaui dengan target pasar merea yaitu mahasiswa yang berkuliah di beberapa universitas sekitar.


Hari pertama Eunha bekerja dilalui dengan baik, Jinu memuji hasil kerja Eunha yang gesit dan teliti.


“Pertahankan etos kerjamu nona Eunha” ujar Jinu saat memberikan gaji harian Eunha.


“Terimakasih banyak pak, saya akan meningkatkannya etos kerja ini bukan hanya mempertahankannya” ujar Eunha dengan penuh semangat yang membuat sang manager tergelak.


“Baiklah, aku tunggu” ucap sang manager sambil berlalu dengan senyum yang masih tersungging diwajahnya.


Saat seusai berganti seragam, Eunha bersamaan dengan Taeha yang juga sudah selesai jam kerjanya.


‘Bagaimana hari pertama kerja?” tanya Taeha memulai.


“Untung ada senior yang membimbingku, jadi aku tak terlalu merasa kikuk saat melayani pelanggan” jawab Eunha. Taeha memang yang menyuruh Eunha seperti itu, awalnya ia membiarkan saja Eunha memangil dengan namanya tapi entah kenapa saat istirahat sebentar tadi Eunha berinisiatif memanggilnya senior. Ia menerima saja, agar Eunha tak terlalu kaku saat bersamamnya.


“Kamu pulang kemana?” tanya Taeha.

__ADS_1


“Aku akan kembali ke asrama kampus senior, kalau senior mau pulang kemana?” jawab Eunha kembali membalikkan pertanyaan.


“Aku masih ada beberapa pekerjaan sampingan lagi” jawab Taeha sambil mengeluarkan sebuah kartu.


“Sopir pengganti?” ujar Eunha sedikit heran, “Ada berapa pekerjaan yang senior lakukan biasanya?” tanya Eunha memang penasaran.


Taeha terdiam tak menjawab, bukan ia tak ingin menjawab namun ia merasa belum sedekat itu untuk bercerita pada Eunha.


“Jika senior keberatan, tidak apa-apa. Aku hanya bertanya sekedarnya, maaf aku yang lancang” ujar Eunha menyadari sikapnya yang tak sopan.


“Kalau begitu, aku permisi senior, sekali lagi aku mohon maaf jika membuat senior merasa terganggu dan tak nyaman” ucap Eunha sambil membungkuk lalu berusaha melangkah menjauh.


“Tak apa, nanti akan aku ceritakan” ujar Taeha yang membuat langkah Eunha terhenti dan membalikkan badannya menghadap sosok pria hangat namun misterius itu.


“Baiklah senior, aku akan dengan sabar menunggu saat itu. Selamat berisitirahat nanti, sampai jumap besok” jawab Eunha dengan senyuman merasa lega karena Taeha tak marah padanya.


“Kapan-kapan aku akan mengantarmu pulang, Eunha” batin Taeha sambil melangkah menjauh dari tempat ia berdiri.


~


Saat perjalana pulang Eunha menyempatkan menelfon sang ibu, memberi kabar bahwa ia telah dapat pekerjaan paruh waktu dan hari ini adalah hari pertama ia bekerja. Sang ibu yang mendengar itu, antara sedih dan senang. Sedih karena anak gadisnya bekerja keras untuk mencukupi hidupnya di Seoul, senang karena anak gadisnya maampu beradpatsi dan mengerti kondisi keuangan keluarga mereka. Memang, semenjak ayah Eunha meninggal saat Eunha masih SMP keluarga mereka langsung mengalami dampaknya. Sang ayah yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal karena kecelakaan, namun tersangkanya tak pernah ditemukan. Eunha dan ibunya pasrah karena polis tak mampu memecahkan kasus tersebut dengan dalih tak ada kamera pengaman di daerah tempat ayahnya kecelakaan.


Semenjak itu, ibunya mengambil alih posisi kepala keluarga. Ibunya yang semenjak menikah menjadi ibu rumah tangga, kesulitan mencari pekerjaan. Hingga saat ia menjual cincin pernikahannya dengan ayah Eunha untuk modal membuat toko roti. Ibu Eunha memang gemar memanggang roti, yang awalnya dari produksi rumah hingga memiliki toko kecil di pasar dekar perumahan mereka. Walaupun begitu, Eunha tak berpangku tangan. Namun ia dengan sukarela mencari tamabahn dengan menjadi kasir, awalnya sang ibu marah saat mengetahui anak semata wayangnya bekerja, hingga Eunha menjelaskan tujuannya agar ia bisa menabung dan berkeinginan kuliah di ibukota. Ibunya dengan berat hati mengizinkan putrinya untuk bekerja dengan syarat tak menganggu belajar Eunha kedepannya.


Eunha menyanggupi itu dan membuktikannya dengan diterima ia di Universitas XX. Jadilah ia di sini sekarang, di Seoul bertarung dengan waktu dan tenaga yang ada.

__ADS_1


~


Saat memasuki area asrama, Eunha melihat sosok yang beberapa hari ini tak ia lihat. Ada rasa senang saat melihat sosok Mingyu malam ini. Eunha mendekati Mingyu, dari jarak dekat tecium bau alkohol dari Mingyu.


“Senior mabuk?” tanya Eunha menghadapkan tubuhnya tepat di depan Mingyu.


Melihat sosok yang di tunggu-tunggunya dari tadi, Mingyu tersenyum dalam kondisi masih mabuk.


“Mengapa kau tak ada menghubungi ku, setelah aku mengungkapkan perasaan padamu. Apa kau tau bagaimana resahnya aku sat tak ada kabar darimu?” ujar Mingyu cemberut sedih yang justru dinilai Eunha sangat imut.


“Aku tak tau jika senior menungguku, kenapa tidak senior saja yang menghuungiku lebih dulu?” tanya Mingyu yang mabuk. Konon orang akan jujur saat ia mabuk.


“Aku takut kamu tak merespon dan menolak ku” jawab Mingyu jujur.


Ada senyum yang terbentuk di wajah Eunha, ia merasa senang mendengar jawaban Mingyu yang takut ditolak olehnya.


“Baiklah, maafkan aku. Tapi sebaiknya senior pulang dan beristirahat” ujar Eunha.


“Aku akan mengantar senior pulang, jadi mari pulang” kembali ujar Eunha sambil memapah Mingyu yang mabuk.


Eunha memberhentikan taksi yang lewat, awalnya ia ingin mengantar hanya sampai Mingyu dapat taksi namun saat memapah tadi, ia merasa badan Mingyu yang sedikit panas. Ia merasa khawatir jika Mingyu kembali sakit dan sendirian di apartemennya.


Jadilah Eunha mengantar Mingyu sampai apartemennya dan memapah Mingyu menuju kamarnya. Sandi kamar yang sudah diberi tahu Mingyu sebelumnya membuat Eunha dengan mudah membawa Mingyu masuk ke dalam dan menidurkan Mingyu di kamarnya.


Eunha kembali ke kamar Mingyu sambil membawa sapu tangan dan air hangat untuk mengompres dahi Mingyu yang demam karena mabuk.

__ADS_1


~


__ADS_2