
Senin pertama, minggu perkuliahan. 4 sekawan yang baru saling mengenal keluar asrama bersama-sama menuju gedung perkuliahan. Kelas pertama Eunha adalah Dasar-dasar pengenalan bahan makanan. Setelah selesai kelas pagi, Eunha menuju perpustakaan. Walaupun ini pertemuan kelas pertama tapi Eunha sudah mendapat tugas dari dosennya. Sungguh dunia perkuliahan yang sesuangguhnya gumam Eunha.
Sambil berjalan santai Eunha menuju perpustakaan, handphonenya berdering nomor yang tak dikenali. Awalnya Eunha ragu untuk menjawab, takutnya hanya telfon iseng yang menawarkan asuransi atau malah penipuan. Namun pada akhirnya tetap juga diangkat, terdengar suara agak meninggi dari ujuang seberang “Kenapa kau lama sekali menjawab telfonku? Kau mau lari dari tanggung jawab ya?” cerocos suara di telfon.
Dengan agak kikuk dan kaget Eunha menjawab “Mohon maaf, aku tak mengenali nomormu. Tapi ini siapa? Jawabnya polos.
“Kau langsung melupakan ku? Aku cowok yang kau tabrak kemarin? Ujarnya dengan angkuh
“Ohh senior, sekali lagi maafkan aku. Aku tak mengenali suaramu, apakah kau ingin aku bertanggung jawab sekarang?” Eunha sedikit terkejut dengan dirinya sendiri, mengapa menggunakan kata-kata ambigu seperti itu.
Terdengar kekehan dari seberang, “Kau bertanggung jawab? Ya, aku memang menuntut pertanggung jawaban darimu. Datanglah ke fakultas teknik sekarang juga”.
Dengan sedikit menahan malu Eunha menjawab
“Apakah harus sekarang? Aku sedang menuju perpustakaan dan jarak antara perpustkaan ke fakultas teknik itu lumayan jauh”. Dari denah kampus Eunha mengetahui tata letak dari kampusnya, dan jarak perpustakaan ke fakultas teknik yang berada paling ujung dari kampus akan memakan waktu yang lama, sedangkan Eunha hanya berjalan kaki.
“Sudah kukatakan kemarin kepadamu, kau harus siaga kapanpun aku memamnggilmu” kata Mingyu menjawab pertanyaan dari Eunha. Eunha yang terlanjur berjanji tak dapat mengelak, mau tak mau ia harus mengikuti perkataan dari Mingyu, ia tak mau mencari masalah. Eunha hanya mau belajar dengan tenang lulus dan membahagiakan ibunya.
Dengan sedikit keterpaksaan Eunha mengiyakan perintah Mingyu “Baiklah, aku akan segera kesana”.
Tanpa ada jawaban dari Mingyu, telfon langsung dimatikan.
Eunha sampai di fakultas teknik dengan sedikit berlari hingga dia berkeringat, namun keadaan itu tidak melunturkan pancaran kecantikan yang dimilikinya. Fakultas teknik yang dikenal sebagai sarangnya para lelaki menjadikan Eunha tontonan yang menarik siapapun yang melihatnya, Eunha menjadi sorotan hanya dengan berdiri sambil memperbaiki cara bernafasnya.
Dari kejauhan ada yang memanggil Eunha, sontak Eunha menoleh ke sumber suara “Mengapa kamu ada di sini Eunha?” tanya Hemi dengan nada kaget karena melihat Eunha jadi sorotan di lapangan depan lobby fakultasnya.
“Aku lupa kamu mahasiswa jurusan teknik Hemi, aku datang karena kemarin aku menumpahkan kopi seseorang dan sepertinya ia dari jurusanmu. Makanya aku ada disini sekarang untuk menemuinya dan mengganti biaya loundry dan kopinya” jelas Eunha panjang lebar.
“Siapa namanya? Mana tau aku tau dengan psikopat yang mengerjaimu?” tanya Hemi santai tanpa tahu siapa yang akan dihadapi oleh temannya.
“Aku si psikopat itu” jawab suara dibelakang Hemi. Tanpa Hemi dan Eunha sadari Mingyu ternyata telah berada di dekat mereka saat mereka berbincang barusan.
__ADS_1
“Ooh sunbaenin, maafkan aku. Aku tak tahu kalau sunbaenimlah yang dicari oleh temanku” tutur Hemi sambil membungkuk memberi hormat dengan nada menyesal. Melihat Hemi ketakutan seperti itu, Eunha merasa kikuk.
“Jadi dia adalah temanmu? Kamu Hemi kan satu-satunya mahasiswi baru di angkatanmu? Berani juga tekad mu” ungkap Mingyu sedikit selidik.
Eunha yang sedari tadi memperhatikan keduanya menengahi “Iya aku teman sekamar Hemi, aku datang memenuhi janjiku untuk mencucikan bajumu yang kemarin kotor olehku dan membelikamu kopi yang baru” kata Eunha dengan santai
“Kamu memang menarik” pungkas Mingyu singkat. Kemudian Mingyu mengeluarkan baju putih yang terkena bercak noda tersebut kepada Eunha.
“Cucikan sampai bersih, aku tak mau masih ada tertinggal noda kopi di bajuku” bisik Mingyu di telinga Eunha, yang membuat Eunha seketika mematung terkejut.
Hemi tak kalah terkejut melihat temannya diperlakukan begitu oleh Mingyu, walaupun baru hari pertama kuliah. Tetapi reputasi Mingyu di jurusannya sudah melegenda sehingga mahasiswa barupun aku dengan cepat mengetahuinya.
Dengan cepat Hemi sadar bahwa temannya adalah incaran sang playboy kampus.
Setelah membisikkan di telinga Eunha itupun, Mingyu berlalu begitu saja. Tanpa memperdulikan Eunha yang masih mematung menahan geli karena udara yang menyentuh telinganya.
“Eunha, bagaimana ceritanya kamu bisa berususan dengan Mingyu sunbae?” tanya Hemi penuh selidik.
"Seperti yang kuceritakan barusan, aku menumpahkan kopinya” jawab Eunha jujur.
Sebagai Playboy pemangsa wanita, belum ada bunga-bunga tiap jurusan yang belum jatuh ke pangkuannya. Semuanya takluk dengan pesona seorang Choi Mingyu” terang Hemi dengan semangat.
“Kamu terlalu berlebihan Hemi, aku hanya merasa perlu bertanggung jawab atas kerugian yang ditimpanya karena diriku, walau harus kuakui wajah itu sangat tampan tapi tak lebih dari rasa tanggung jawab yang membawaku ke sini. Bahkan aku baru tau namanya hari ini, dari kamu” jelas Eunha yang tak kalah semangat.
“Baiklah, semoga saja begitu. Aku hanya tak mau kamu menjadi salah satu dari sekian banyak korban asmaranya Choi Mingyu” tutur Hemi lebih lanjut.
“Aku sangat senang kamu memikirkan ku Hemi, terimakasih” pungkas Eunha meyakinkan.
Lalu keduanya berjalan bersama menuju asrama.
Dari kejauhan sepasang bola mata memperhatikan keduanya berlalu “Sepertinya ini akan menarik, melihatnya bisa santai dihadapanku” gumam Mingyu.
__ADS_1
Lalu melanjutkan permainan bola basketnya bersama di lapangan.
Besoknya Eunha hendak mengembalikan baju Mingyu agar tidak menjadi gosip di asrama. Ternyata dia membawa baju lelaki pulang membuat heboh seisi kamar terutama Yuna yang si biang kepo. Dengan sabar dan tenang Eunha kembali menjelaskan bagaimana ia dan Mingyu bisa seperti saat ini.
Eunha menelfon nomor Mingyu yang menghubunginya kemarin, dan Mingyu mengangkatnya lalu setuju bertemu di lobby fakultas teknik seperti kemarin siang.
Sesampainya di lobby Eunha mengirimi Mingyu pesan mengatakan bahwa ia telah berada di lobby dan berharap Mingyu segera menemuinya. Dalam beberapa menit Mingyu datang sambil berkeringat mengenakan baju basket. Ketampanan yang paripurna, dengan bekas keringat yang masih basah menambah kesan seksi pada sosok Mingyu. Dalam hitungan beberapa saat, Eunha secara tak sadar menatap ciptaan Tuhan yang begitu indah.
“Kapan lagi aku bisa melihat pemandangan begini” gumamnya.
Tersadar dari gumaman, Eunha langsung memberikan baju Mingyu yang telah dicuci bersih dan di setrika Eunha.
“Ini bajumu telah ku cuci bersih dan ku setrika, setengah hutangku sudah lunas” kata Eunha mencoba santai.
“Cepat juga kerjamu, tapi mari kulihat dulu bagai mana hasil kerjamu” kata Mingyu sambil cengengesan. Setelah melihat-lihat Mingyu harus mengakui hasil kerja Eunha yang rapi dan bersih.
“Baiklah aku nyatakan lulus, tinggal kapan kau mau mentraktirku kopi?” tanya Mingyu sambil melirik pada Eunha dengan tatapan mautnya.
“Sekarang aku bisa membelikan mu kopi, tak perlu menunggu” pungkas Eunha menyela.
“Kau sepertinya ingin cepat mengakhiri urusan dengan ku” tebak Mingyu sambil tersenyum menggoda. Senyum yang mampu membuat jantung Eunha berdetak lebih cepat.
“Eunha kau harus tenang jika berhubungan dengan buaya seperti ini” gumam Eunha dalam hati.
“Aku hanya tak ingin berhutang kepada siapapun” jawab Eunha singkat.
“Baiklah, tunggu panggilan dariku kapan aku ingin kau mentraktirku kopi. Saat ini aku tak bisa, aku sedang dalam permainan basket” pungkas Mingyu.
“Okey, aku tunggu” kata Eunha sambil berlalu.
Melihat Eunha yang tak bergeming membuat Mingyu makin bersemangat untuk menaklukannya.
__ADS_1
“Memang sangat menarik” kata Minyu sambil kembali ke lapangan basket.
~