
Hujan deras malam itu membuat Eunha harus berlari kecil menuju asrama, jam menunjukkan pukul 20.50 sebentar lagi pintu asrama akan ditutup bibi penjaga. Eunha tak ingin terlambat lagi, baru kemarin malam ia terlambat dan mendapat ceramah panjang dari bibi penjaga asrama. Sambil berlari kecil Eunha menutupi kepalanya dengan tas agar tak terlalu membasahi tubuhnya. Hampir mendekati asrama sesosok pria sedang berdiri memegang telfonnya seperti menghubungi seseorang. Eunha tak mengindahkan sosok tersebut, sampai saat ada suara yang memanggilnya.
“Hey Oh Eunha, darimana saja kamu?” suara agak berat itu mengejutkan Eunha. Refleks ia memalingkan badannya melihat ke sumber suara. Ternyata sosok itu adalah Choi Mingyu yang sudah basah kehujanan. “Aku dari tadi menunggumu, telfonmu tak kau angkat. Kau dari mana? Jam segini baru pulang ke asrama?” serbuan pertanyaan yang mendadak membuat Eunha bingung.
Mingyu melangkah maju mendekati Eunha yang masih dalam keadaan bingung tak paham apa yang terjadi. “Kenapa kau diam? Tak mau menjawab pertanyaanku?” kembali pertanyaan yang diajukan oleh Mingyu
Eunha yang mematung tersentak ketika tangan kekar Mingyu mencengkram lengannya “Kau tak apa?” suara Mingyu berubah melembut setelah melihat Enuha yang mematung ada rasa bersalah pada dirinya karena membentak Eunha barusan. Ia menarik tangan Eunha untuk berteduh.
“Ohh aku tak apa, aku hanya terkejut karena kau tiba-tiba ada disini” jawab Eunha sembari berusaha melepaskan cengakraman Mingyu pada lengannya.
Mingyu pun sontak melepaskan cengkaraman tersebut, ia juga merasa kikuk. “Kau tak menjawab pertanyaanku, kau dari mana? Tanya Mingyu agak tergagap menahan kekikukannya.
Melihat Mingyu yang serba salah, ada senyum terbesit d bibir Eunha. “Aku baru pulang dari mencari pekerjaan paruh waktu” jawab Eunha sekenanya.
“Kenapa kau butuh kerja paruh waktu? Kau butuh uang?” Cerocos Mingyu tanpa pikir panjang.
“Tentu karena butuh uang aku mencari kerja paruh waktu dan tentang aku tak menangkat telfon aku sedang kehujanan bagaimana cara mengangkat telfon?” jawab Eunha agak cepat, ia teringat sebentar lagi pintu asrama akan di kunci. “Aku harus pergi, asrama akan ditutup. Kalau kau masih penasaran besok aku jelaskan” jawab Eunha sambil tersenyum manis. Melihat Eunha tersenyum seperti itu, detak jantung Mingyu bergerak cepat.
Mingyu yang semenjak meninggalkan pub tak tau mau kemana, langkah kakinya mengarahkannya ke asrama kampus. Sosok Eunha berkelebat dalam ingatnya, oleh sebab itu dia ada di asrama sekarang mencari Eunha memastikan apa yang ada dalam pikirannya. Semenjak pertemuan pertama bertabrakan dengan Eunha, Mingyu merasa ada sesuatu yang menariknya untuk terus bertemu dengan Eunha.
Sebelum meninggalkan asrama Mingyu ingin memastikan Eunha masuk asrama dengan selamat. Namun di luar prasangka, ternyata Eunha masih di luar mengetuk pintu asrama yang sepertinya telah terkunci. Tanpa babibu, Mingyu langsung menghampiri Eunha dan menariknya menjauh dari pintu asrama.
“Kau bisa menganggu mahasiswi yang lain, salahmu yang pulang telambat” pungkas Mingyu.
“Aku tak akan terlambat jika kamu tak muncul saat ini” jawab Eunha kesal
Mingyu diam, dia merasa bersalah. Apa yang dikatakan Eunha adalah benar, andai ia tak mencegat Eunha tentu gadis mungil itu akan masuk asrama tepat waktu.
__ADS_1
“Kabari teman sekamarmu, aku akan bertanggung jawab atas kesalahanku” kata Mingyu, ada nada sesal yang dirasa Eunha saat Mingyu berkata seperti itu.
“Bagaimana kau akan bertanggung jawab?” tanya Eunha sedikit curiga.
“Kau tak perlu takut. Agar kau tak takut katakan pada teman sekamarmu kalau kau bersamaku, jadi jika sesuatu terjadi mereka bisa mencariku” jawab Mingyu menjelaskan dan menyakinkan.
Eunha berpikir sejenak, ia tak tau bisa tidur dimana malam ini. Dengan sedikit terpaksa iapun menuruti kata-kata Mingyu. Eunha menelfon Hemi dan mengatakan apa yang di katakan oleh Mingyu barusan. Hemi tentu merasa khawatir, temannya terlalu polos untuk harus berhadapan semalaman dengan Mingyu.
Eunha meyakinkan teman-temannya jika ia mampu menjaga diri. Percakapan via telfon pun putus setelah Eunha dapat meyakinkan teman-temannya.
“Aku sudah menelfon Hemi, lalu selanjutnya bagaimana?” tanya Eunha penuh selidik.
“Ayo ikut aku”ucap Mingyu sembari menarik tangan Eunha. Tak tahu mengapa ia refleks menarik tangan Eunha agar gadis itu mengikuti langkahnya.
Hujan sudah berhenti, mereka melangkah agak cepat karen udara dingin yang menusuk tubuh. Menuju parkiran tempat mobil Mingyu berada. Mingyu membukakan pintu mobil dan menyuruh Eunha untuk masuk.
“Pasang sabuk pengamanmu” ucap Mingyu sambil menaikkan suhu udara di dalam mobilnya.
Eunha mencoba menarik sabuk pengaman, namun macet. Melihat Eunha kesusahan dengan sabuk pengamannya, Mingyu pun berniat membantu. Tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan Enuha dan wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter saja dari wajah Eunha. Suara nafas Eunha dapat di dengarnya. Eunha refleks melepaskan tangannya dari sabuk pengaman dan mengangkatnya.
Ada debaran aneh di hati keduanya. Dengan cepat Mingyu memasangkan sabuk pengaman dan kembali ke posisinya. Menghidupkan mobil dan keluar dari lingkungan kampus.
Mobil melaju dijalanan yang basah. Sampai pada kawasan apartemen, ternyata Mingyu membawa Eunha ke apartemennya di kawasan Gangmu, tak jauh dari tempat ia bertemu dengan Naeun tadi.
“Loh kenapa kita ke rumahmu? Kau bisa saja meninggalkan ku di hostel dekat kampus, atau menitipkan ku pada teman wanitamu? Cerocos Eunha penuh selidik.
“Aku tak punya teman wanita dan mana mungkin kau bisa menginap di hostel sedangkan saat ini kau sedang butuh pekerjaan wapruh waktu, tentu kau sedang menghemat uangmu” pungkas Mingyu dengan percaya diri.
__ADS_1
“Tak perlu takut, kau bisa tidur id kamar tamu rumahku. Atau jika kau ingin, kau juga bisa tidur dengan ku” seringai Mingyu.
Pernyataan itu membuat Eunha bergidik, “Jangan macam-macam denganku, aku sabuk hitam Taekwondo” jawab Eunha dengan yakin. Memang Eunha sejak kecil sudah berlatih Taekwondo tapi sabuknya belum hitam baru biru namun setidaknya ia memiliki basic pertahanan diri.
Sambil terkekeh Mingyu berlalu dan meminta Eunha mengikutinya “Ayo, ikuti aku”.
Mereka menaiki lift dan menuju lantai 7. Kamar nomor 704, Mingyu menekan sandi rumahnya. Bunyi suara pintu terbuka. Mingyu mempersilahkan Eunha masuk “Silahkan masuk, anggap saja rumah sendiri, tak perlu sungkan”.
Eunha memasuki ruangan itu dengan sedikit segan. Mingyu melempar handuk pada Eunha “keringkan badanmu dan jangan lupa tutup pintunya”. Dengan sigap Eunha menerima lemparan handuk dan berbalik badan menutup pintu apartemen tersebut.
“Kamar mandi di sebelah kiri, kau bisa menggunakannya” lanjut Mingyu.
Ketika Eunha baru mau memasuki kamar mandi, dicegat oleh Mingyu yang memberikan pakaian ganti. “Aku tak punya pakaian wanita di rumah ini, jadi pakai yang ada saja” Mingyu memberikan satu set baju tidur pria yang ia rasa ukurannya paling kecil yang ia punya.
“Terimakasih” ucap Eunha sambil menerima baju tidur tersebut.
Sembari Eunha membersihkan badannya di kamar mandi, Mingyu pun berganti pakaian dikamarnya. Ada seberkas senyuman yang mengembang di bibirnya. Entah perasaan apa, tapi ia merasa lega dan nyaman dengan situasi saat ini. Rasa kalut mengenang sang nenekpun mulai hilang dari pikirannya. Ada rasa yang saat ini masih ia ingin tahu.
Eunha keluar setelah berganti pakaian dengan handuk di kepala mengeringkan rambutnya yang basah. Mingyu telah menunggu di sofa, ruang tamu
Melihat Eunha memakai baju tidur yang kebesaran, Mingyu pun tak bisa menahan tawanya.
“Bukan salahku, bajumu saja yang kebesaran” ucap Eunha seperti mengerti apa yang ditertawakan oleh Mingyu.
Walaupun begitu, Eunha tetap mengucapkan terimakasih “Terimakasih, walaupun kau tetap menertawakanku” ucap Eunha.
~
__ADS_1