
Aku lapar” tiba-tiba Mingyu berkata oada Eunha.
“Mau aku masakan sesuatu?” jawab Eunha sembari menuju kulkas dan melihat-lihat isi kulkas Mingyu, entah mengapa ia merasa santai saja berada satu ruangan dengan pemuda tertampan versi mahasiswi Universitas XX ini.
“Kau pandai memasak?” Tanya Mingyu ragu.
“Tentu saja, aku hanya tinggal berdua dengan ibuku. Kalau ibu bekerja dan pulang terlambat, aku sudah biasa memasak untuk diriku sendiri bahkan ibuku memuju hasil masakanku.” jawab Eunha
“Kau mau makan apa?” tanya Eunha lagi tanpa memperdulikan wajah kagum yang terpancar dari Mingyu.
Sambil melihat isi kulkas Mingyu yang ternyata kosong hanya diisi beberapa air mineral dan minuman beralkohol.
“Isi kulkas ku tak ada” sahut Mingyu pelan.
“Ada minimarket didekat sini?” tanya Eunha lagi
“Ada di seberang gedung ini” timpal Mingyu.
“Kau tunggu ya, aku akan berbelanja sebentar’ ujar Eunha sembari mengambil dompet yang ada di tas yang ia bawa.
“Aku ikut” ucap Mingyu sambil sedikit berteriak, “Tunggu sebentar, aku ambil hoodie dulu” imbuh Mingyu.
Eunha melihat sambil mengerutkan dahinya tanda tak paham.
“Kau kan tak tau lingkungan sekitar sini, lagian ini sudah malam” timpal Mingyu sambil berlalu menuju kamar mengambil jaketnya.
“Baiklah” ucap Eunha.
Beberapa saat Mingyu kembali dengan menggunakan hoodie abu-abu dengan mash dengan celana tidurnya. Sederhana namun terlihat menawan jika Mingyu yang mengenakannya. Eunha sampai terdiam memandang pria tampan didepannya
“Ayo” ucap Mingyu menyadarkan Eunha dari lamunannya.
__ADS_1
“Oohh oke, ayo” ujar Eunha gelagapan.
Mingyu hanya menyengir melihat Eunha yang salah tingkah. Entah kenapa ia kembali merasa nyaman saat bersama Eunha walaupun mereka baru bertemu seolah-olah mereka telah mengenal dalam waktu yang lama. Ada rasa ingin melindungi ketika ia bersama Eunha.
Sesampai di minimarket, Eunha menyeletuk “Hari ini aku yang traktir, tapi kau jangan ambil bahan makanan yang mahal, oh iya kau ada alergi atau makanan yang tidak kau suka?” tanya Eunha pada Mingyu sembari mengambil troli belanja.
“Aku hanya alergi kacang-kacangan, selain itu aku makan semuanya” jawab Mingyu yang tatapannya tak lepas dari gadis mungil yang memakai baju kebesaran itu.
Eunha memilih beberapa bahan makanan dan Mingyu mengikuti kemana arah langkah kaki Eunha, setelah merasa cukup Eunha mendorong troli menuju kasir. Saat ditotal semua belanjaan, Mingyu mengeluarkan Kartu kreditnya. Eunha menoleh “Kan sudah kukatakan aku yang traktir malam ini” katanya pelan.
“Tak apa, kau lain kali saja. Sandinya hari ini” jawab Mingyu sambil berlalu menuju pintu keluar meninggalkan Eunha sendiri dengan keranjang belanja. Eunha merasa aneh, kenapa sandinya adalah tanggal hari ini. Ada apa dengan hari ini, pikir Eunha dalam otaknya.
Setelah membayar dengan kartu kredir miliki Mingyu, Eunha menyusul Mingyu yang menunggu di teras minimarket.
“Ini kartu kreditmu, kenapa sandinya adalah hari ini? Apakah ini hari ulang tahunmu?” tanya Eunha sambil memberikan kartu kredit ke empunya.
“Ini adalah hari peringatan kematian nenekku” ucap Mingyu sambil menerima kartu kredit dan memasukkannya ke dompet.
“Aku tak pernah melakukan persembahan, lagian tadi siang aku sudah mengunjungi nenek” jawab Mingyu dengan nada sedikit menahan sesak. Kembali ingatan bahwa ammanya tak ikut ke krematorium kembali lewat di pandangannya.
Sambil menghela nafas Eunha berkata “Dalam persembahan yang terpenting adalah buah apel, untung tadi aku mengambilnya. Ayo kembali rumahmu, mari kita persiapkan persembahan untuk nenekmu” sambil menarik lengan pria kekar itu menuju apartemennya.
Mingyu yang melihat respon Eunha pun hanya mampu pasrah mengikuti kata wanita yang menarik lengannya itu.
Sesampai di apartemen, Eunha langsung bersiap untuk memasak. Mingyu memperhatikan dari sofa yang tak jauh dari tempat Eunha melakukan kegiatannya. Sosok Eunha sungguh telah mulai meruntuhkan benteng pertahanannya akan wanita.
Eunha dengan sigap memasakkan nasi goreng kimchi dan membuat sedikit japchae lalu menyiapkan apel untuk persembahan.
Selama Eunha memasak, pandangan Mingyu tak lepas dari sosok Eunha. Ia ingin membantu tapi ada perasaan malu-malu yang entah sejak kapan ia rasakan.
Selesainya Eunha memasak dan membersihkan perkakas yang digunakannya. Eunha menata makanan di piring dan meletakkan di meja makan. Sederhana hanya nasi goreng kimchi dan japchae. Eunha meletakkan beberapa apel di piring lalu bertanya pada Mingyu dimana meja persembahan.
__ADS_1
Mingyu yang sedari tadi hanya melamunkan Eunha terkejut saat Eunha menghampirinya menanyakan meja persembahan. Dengan sedikit kelagapan Mingyu menjawab “Biar aku saja” sambil berlalu menahan malu. Ia seperti tertangkap tangan melamunkan wanita itu.
Mingyu kembali dengan membawa meja kecil dan foto sang nenek, lalu merapikannya untuk menjadi meja persembahan.
“Nenek mu cantik” puji Eunha, sambil meletakkan sepiring apel dan menghidupkan lilin.
Eunha lalu mengatakan agar Mingyu segera melakukan persembahan karena waktu hampir jam 23.20. “Selagi nenek masih ada di sini, ayo cepat” begitulah Eunha mengingatkan Mingyu.
Saat Mingyu melakukan persembahan, Eunha menata meja makan dengan menambahkan 2 gelas berisi air putih dan sepasang sendok garpu dan sumpit. Lalu dengan tenang menunggu Mingyu selesai persembahan di meja makan.
Setelah melihat Mingyu selesai persembahan, Eunha dengan refleks memeluk Mingyu yang sedang berjalan ke arah meja makan. Mendapat pelukan tiba-tiba dari Eunha, Mingyu hanya bisa terkesiap. Dengan lembut Eunha membelai punggung pria itu, ia tau betul rasanya ditinggal oleh seorang nenek. Saat itu juga liran darah Mingyu mengalir lebih cepat kerena jantung memompa lebih kuat. Seketika ia merasakan kenyamanan yang dulu ia dapatkan dari sang nenek
Airmata mengalir begitu saja dari mata Mingyu, airmata yang susah payah ia tahan seharian. Akhirnya tumpah saat ia berada dalam pelukan Eunha.
Saat Eunha melepaskan pelukan, ia baru sadar apa yang telah ia lakukan. “Maafkan aku, aku terlalu terbawa suasana” ucap Eunha sembari mundur dari hadapan Mingyu.
Melihat Eunha yang gelagapan, Mingyu hanya menyengir sambil menyeka airmatanya. “Terimakasih” ucap Mingyu sambil tersenyum lebar.
Eunha tak bergeming ketika Mingyu rersenyum kepadanya. Senyum yang selama ini tak pernah Eunha lihat dari wajah yang selalu dingin itu.
“Ayo makan, tapi lau sudah lapar dari tadi” uacp Eunha ingin mencairkan suasana.
Mingyu mengangguk tanda mengiyakan dan berjalan menuju meja makan, Eunha mengikuti Mingyu di belakang. Punggung lebar yang rapuh kata Eunha dalam hati.
Mereka duduk berhadapan, Eunha memperhatikan Mingyu mengambil suapan pertamanya.
“Bagaimana? Sesuai seleramu?” tanya Eunha ingin tahu.
“Not bad” jawab Mingyu nyengir, padahal rasa masakan rumahan itu sudah lama tak ia rasakan. Enak, makanan yang dibuat Eunha sangat enak. Mingyu hanya tak ingin melihat Eunha terbang kalau ia memuji berlebihan.
“Kapan-kapan aku masakin yang lain, saat ini hanya menu ini yang tersimpel dan tercepat yang bisa aku buat” ungkap Eunha bangga.
__ADS_1
Mereka makan malam saat jarum jam hampir menunjukkan angka 24.00.