Dia Masa Depanku

Dia Masa Depanku
Apartemen 1


__ADS_3

Selesai makan, Eunha membersihkan peralatan makan. Mingyu sudah menawarkan diri untuk membantu, namun Eunha segan merepotkan tuan rumah yang telah membantunya malam ini.


Selesai berbersih, Eunha hendak menuju kamar tamu yang sudah dipersilahkan oleh Mingyu untuk Eunha gunakan namun matanya tertuju pada Mingyu yang duduk di sofa sambil memainkan handphone di tangannya.


Lama Eunha memperhatikan sosok senior yang beberapa hari yang masih membuatnya kesal dan jengkel namun berubah 180 derajat untuk saat ini. Eunha terpikir mungkin Mingyu yang sesungguhnya adalah saat ini, sosok anak muda yang kesepian namun ia bersikap tengil dan sombong karena tak ingin dikasihani.


“Apa yang kau lihat? Aku tau aku terlalu tampan untuk tak dipandangi seperti itu. Kau boleh memandangku sesukamu tapi jangan jatih hati padaku” kata Mingyu menyadarkan Eunha dari lamunannya.


“Aku tak akan jatuh pada senior aneh sepertimu, aku ngantuk. Aku tidur lebih dahulu, sebelumnya terimakasih sudah menampuangku untuk malam ini” sambung Eunha datar.


“Selamat malam” timpal Eunha kembali.


“Selamat malam, tidur yang nyenyak” ucap Mingyu.


Eunha berlalu menuju kamarnya, menarik gagang dan masuk ke kamarnya dengan tenang tanpa menyadari Mingyu memperhatikan sosok mungil yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya. Ada rasa damai yang ditemukannya saat ia menghabiskan waktu bersama Eunha.


Mingyu tersenyum kecil saat ia sadar apa yang dilamunkannya. “Iya, karena aku hanya kesepian dan ia bersikap seperti tak ada takutnya saat bersamaku. Iya, hanya karena aku tak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu” kata Mingyu dalam hati menyakinkan dirinya sendiri.


Mingyu pun beranjak menuju kamarnya untuk bersiap tidur, ia lelah secara fisik dan psikis.


Malam ini mereka lalui dengan damai.


Bunyi alarm memecahkan kesunyian pagi di apartemen itu. Eunha membuka lalu mengucek matanya sembari mematikan alarm yang sengaja ia pasang di handphonennya. Jam 06.00 terlihat di layar Handphone, Eunha memang biasa untuk bangun pagi. Melakukan perengangan sedikit karena kaku tidur yang disebabkan nyenyaknya tidur.


“Ternyata alas tidur juga mempengaruhi kualitas tidur” kata Eunha dalam hati.


Ia turun dari teman tidur lalu merapikan kembali kasur yang ia pakai, lalu keluar kamar menuju kamar mandi. Selesai urusannya di kamar mandi, Eunha menuju dapur. Ia merasa harus mempersiapkan sarapan untuk Mingyu yang telah mengizinkannya untuk menginap tadi malam.


“Anggap saja sebagai imbalan karena telah membantuku” ucap Eunha pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Selesai memasak bubur karena nasi semalam lumayan banyak berlebih, Eunha melihat jarum jam menunjukkan pukul 07.10 tapi Mingyu belum juga keluar dari kamarnya. Saat Eunha memasak pun ia sebenarnya takut, keributan dapur membuat Mingyu terbangun namun keresahannya itu tak beralasan sebab sampai ia selesai membuat sarapanpun Mingyu tak keluar kamar.


Eunha menuju kamar Mingyu dan mengetuknya, tak ada jawaban. “Lebih baik aku ganti baju sambil menunggunya tidur, agar nanti aku bisa langsung pergi setelah selesai makan dan mencuci piring” batin Eunha sendiri.


Setelah berganti pakaian dan memasukkan piyama Mingyu ke tasnya untuk dicuci di asrama kampus, Eunha keluar kamar mandi dan Mingyu tetap belum terlihat keluar kamar.


Eunha kembali memberanikan diri mengetuk pintu kamar Mingyu namun tetap tak ada jawaban dari empu kamar. Dengan ragu-ragu Eunha membuka pintu itu dengan pelan, takut Mingyu marah karena ia terganggu.


Namun yang dilihat Eunha adalah Mingyu yang masih tertidur, Eunha berjalan pelan menuju Mingyu yang berada di atas tempat tidur. Alangkah terkejutnya Eunha melihat Mingyu berkeringat banyak dan seperti mengigau dalam tidurnya. Dengan refleks Eunha mengusap kening Mingyu dengan ounggung tangannya dan betul saja dugaan Eunha, kening itu panas dan sepertinya Mingyu demam karena kehujanan semalam.


Eunha merasa bersalah karenanya. Eunha mencoba membangunkan Mingyu untuk bertanya apakah ia mau berobat ke rumah sakit. Eunha dengan lembut membangunkan Mingyu.


“Sunbae, bangunlah ayo kita kerumah sakit” pinta Eunha lembut pad Mingyu.


Mingyu mendadak membuka matanya dengan keringat yang membasahi baju kaos yang dipakainya.


Mingyu yang terbangun mendadak melihat Eunha sudah berada dikamarnya, sedikit menghela nafas berat karena kerongkongannya serak akibat demamnya.


“Aku masuk daritadi dan berusaha membangunkanmu, tapi sepertinya kamu demam, ayo kita kerumah sakit, sepertinya demammu tinggi’ cerocos Eunha pada MIngyu.


“Aku tak apa, demam segini saja harus ke rumah sakit? Aku tak mau” jawab Mingyu tegas lalu membalikkan badannya memunggungi Eunha.


“Kau sudah mau pergi? Tak apa, pergilah” kata Mingyu sambil tetap membelakangi Eunha


“Bagaimana aku bisa pergi meninggalkanmu seperti ini?” ujar Eunha cemas.


“Tunggu sebentar, aku tadi sudah membuat sarapan. Kau duduklah, setelah sarapan kau bisa meminum obat” ujar Eunha lalu dengan sedikit berlari menuju dapur.


Eunha kembali dengan membawa sarapan dan baskom berisi air hangat.

__ADS_1


Eunha menarik lengan Mingyu yang membelakanginya agar kembali ke posisi telentang, “Sini aku kompres dulu dahimu” ujar Eunha tanpa memperhatikan wajah terkejut Mingyu.


Eunha memeras sapu tangan yang sudah ia rendam dengan air hangat lalu meletakkannya di dahi Mingyu. Ia juga mengambil sapu tangan lain untuk mengeringkan badan Mingyu dari keringatnya.


“Aku lap badan mu sebentar, agar kau tak masuk angin” ujar Eunha


Melihat Eunha yang sigap merawatnya, Mingyu pun hanya bisa menurut.


Eunha melapkan sapu tangan ke lengan dan leher Mingyu, ia sedikit menelan ludah saat melapkan leher dan dada Mingyu yang bidang. “Sepertinya ia sering berolahraga” batin Eunha. “Apa yang aku pikirkan” batin Eunha kembali sambil mengusir pikiran kotor dari otaknya.


Selesai membersihkan keringat Mingyu, Eunha mempersilahkan Mingyu untuk sarapan. “Ini aku buatkan air jahe untukmu lalu ini aku tadi sudah membuatkan sarapan” ujat Eunha sembari meletakkan nampan berisi sarapan untuk Mingyu agar lebih dekat.


“Aku tak berselera makan” tolak Mingyu.


“Kau harus makan agar bisa minum obat dan sembuh, kau harus paksakan” paksa Eunha. Lalu ia mengambil gelas berisi air jahe dan menyuapkannya pada Mingyu. Mingyu yang kaget dengan aksi Eunha hanya bisa pasrah, ia tak bisa menolak apapun yang Eunha lakukan. Dengan sedikit rasa terpaksa Mingyu menyisip beberapa teguk air jahe. Lalu Eunha dengan santai menyuapkan sarapan bubur ayam yang telah ia buat tadi.


Melihat aksi Eunha tersebut Mingyu terdiam, saat sendok yang digunakan Eunha untuk menyuapinya telah berada didepan mulutnya. Mingyu melihat dengan tatapan kebingungan pada Eunha, menyadari aksinya Eunha pun kembali menarik sendok tersebut dan meletakknya kembali ke dalam mangkuk.


“Kalau kau mau makan sendiri, bilang” jawab Eunha kikuk.


Mingyu tersenyum tipis melihat Eunha yang salah tingkah, “Badanku lemas dan tak bertenaga, tolong suapi aku” pinta Mingyu


Mendengar jawaban Mingyu, Eunha merasakannya wajahnya menghangat menahan malu.


“Baiklah, kalau kau meminta” ujar Eunha singkat.


Mingyu sarapan dengan lahap bubur yang dibuat oleh Eunha tersebut. Tanpa Eunha sadari ternyata Mingyu memandangi dirinya lekat-lekat. Hingga akhirnya Eunha sadar saat kedua mata mereka bertemu. Seketika detak jantung Eunha berdegup tak karuan. “Bagaimana wajah itu bisa begitu tampan” ujar Eunha dalam hati.


Mingyu yang mengamati Eunha dari tadipun tak kuasa menahan hasrat untuk tak menyiakan sosok yang ada di depannya, bibir merah jambu Eunha yang mungil. Mingyu lalu mengambil mangkuk dan sendok yang ada di tangan Eunha dan meletakkan di meja samping tempat tidurnya.

__ADS_1


~


__ADS_2