Dia Masa Depanku

Dia Masa Depanku
Tameng


__ADS_3

Choi Mingyu (21 tahun) memasuki salah satu klub malam, sepertinya para pengawal di depan sudah paham dan kenal siapa Mingyu. Dengan mudah tanpa pemeriksaan ia melenggang memasuki klub tersebut. Klub malam H, terkenal sebagai tempat hiburannya bagi kaum elite di kawasan Gangmu. Kalangan kelas atas, menjadikan Klub H sebagai tempat menghibur diri dengan privasi tingkat tinggi. Hanya kalangan tertentu saja yang dapat menjadi member tempat hiburan tersebut.


Mingyu memang telah terbiasa dengan suasana klub yang berisik oleh suara musik keras dan melihat beberapa wanita malam asyik bergeliat di lantai dansa. Dunia malam memang sudah menjadi kebiasaannya. Semenjak Appa dan Ammanya bercerai dari 3 tahun lalu, dunia hiburan malam menjadi salah satu pelampiasannya. Malam ini iya berniat mabuk dan sejenak melupakan beban pikiran yang di tanggungnya. 2 September, adalah hari kematian neneknya dari pihak ibu Kim Gyuol yang meninggal saat Mingyu masih kecil. Siang hari tadi, ia telah ke krematorium mengunjungi abu sang nenek. Semenjak kecil, Mingyu lebih senang di titipkan di rumah neneknya di desa dibandingkan harus tinggla bersama orangtuanya di Gangmu dikarenakan orangtuanya yang super sibuk. Sang appa adalah CEO salah satu agensi hiburan sekaligus pemilik klub malam yang dikunjungi Mingyu malam ini. Dan sang amma adalah Direktur Rumah Sakit terbesar di Gangmu, Rumah sakit Seumi. Appa dan amma Mingyu jarang berada dirumah, Mingyu tumbuh tanpa merasakan kasih sayang kedua orangtuanya. Bahkan ketika appa dan amma berceraipun, Mingyu tak merasakan apapun. Malah merasa lega karena tak harus lagi mendengar pertengkaran keduanya ketika bertemu di rumah.


“Setidak peduli itukah amma? Hingga hari kematian nenekpun amma tak menyisihkan waktu untuk berkunjung, apalagi melakukan persembahan” rutuk Mingyu sambil menenggak tequilla pesanannya. Bulir bening seperti tertahan di bola manik milik Mingyu, walaupun penampilan luarnya kasar dan angkuh, di dalam Mingyu adalah sosok yang sangat rapuh.


Seorang wanita cantik berambut panjang serta berpakaian minim berwarna merah terang menghampiri Mingyu yang sedang menggak minumannya.


“Sayang kamu kenapa?” ujar sang wanita sambil menggalungkan lengan cantiknya pada leher Mingyu. Aroma harum tercium dari rambutnya yang terurai, dia adalah Na Naeun kekasih Mingyu semenjak kuliah. “Aku tak apa” jawab Mingyu singkat tanpa menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


Tak puas karena di acuhkan, Naeun bergerak dan duduk di pangkuan Mingyu. Dengan pakain yang minim, dada Naeun terekspos dengan bebas menunjukkan lipatan buah dada. Indah, namun tak cukup untuk membuat seorang Mingyu tergoda malam itu. Hatinya terlalu kalut mengingat pedih hidupnya.


Merasa semakin diacuhkan, Naeun dengan agresif mulai melancarkan serangan menggoda kepada Mingyu. “Aku mau malam ini sayang” desah Naeun pada daun telinga Mingyu.


Sembari melepaskan kalungan tangan Naeun, Mingyu menyandarkan kepalanya pada dada Naeun. Ada gumpalan kenyal yang terasa di kulit kepala Mingyu, dia sedang mencoba mencari kenyaman yang selama ini dia tak pernah rasakan pada Naeun. Memang mereka berpacaran, lebih tepatnya Naeun menjebak Mingyu pada awak orientasi kampus. Jika mengenang malam itu, rasanya jijik bagi Mingyu, tapi ada untungnya juga jika orang tau bahwa dia adalah kekasih dari Na Naeun. Jadi, tak perlu risih dikelilingi wanita-wanita bodoh yang berharap dapat dekat dengannya. Karena, Naeun terkenal sebagai wanita yang kuat sehingga wanita lain yang ingin dekat dengan Mingyu akan urung jika harus berhadapan dengan Na Naeun.


Malam itu, setelah orientasi kampus Mingyu yang notabene adalah mahasiswa baru dan teman-teman seangkatannya harus ikut minum dengan para senior. Disanalah ia bertemu dengan Naeun untuk pertama kalinya, Naeun adalah salah satu seniornya di kampus namun tak sejurusan, Na Naneun adalah mahasiswi Fakultas Manajemen. Entah memang karena paras tampan Mingyu, semenjak pertemuan pertama Naeun telah jatuh hati pada Mingyu. Dengan akal bulusnya, ia menjebak Mingyu dengan minum hingga teler dan akhirnya di bawa ke motel yang dekat dari pub mereka minum. Sebenarnya tak ada yang terjadi malam itu, Mingyu hanya dijebak dengan kondisi terbangun tanpa benang sehelaipun di tubuhnya dan disebelahnya terlelap Na Naeun dengan kondisi yang sama. Begitulah cara Naeun hingga ia meminta pertanggung jawaban dari Mingyu, dan jadilah mereka sepasang kekasih walaupun yang mencintai dalam hubungan ini hanya Naeun sedangkan Mingyu hanya menjadikan Naeun sebagai tameng.


“Sayang” desah Naeun pada telinga Mingyu yang sedang bersandar pada dadanya. Mingyu mendongakkan kepalanya melihat Naeun yang sedng menahan hasrat. Mingyu tau itu, bukan sekali Naeun menggodanya dengan tatapan seperti itu. Sembari melepas pelukan sandarannya Mingyu sekilas menepis airmata yang tertahan di kelopak matanya. Ia tak ingin siapapun melihat menangis, ia merasa tak ingin dikasihani oleh siapapaun.

__ADS_1


Dengan santai Mingyu membelai rambut Naeun, menyisipkan anak rambut ke belakang telinga dengan lembut. Naeun terperanjat dengan aksi tak terduga dari Mingyu. Dia tak menyangka akan mendapat reaksi yang sedemikian dari Mingyu, membuat jantung Naneun berpacu memompa darah yang menaikkan gairahnya. Dalam pikirannya Naeun berkata “Inilah waktunya aku menjadi kekasih Mingyu seutuhnya, Mingyu akan aku miliki seutuhnya”.


Mingyu berdiri, menggeser Naeun yang sedari tadi duduk di pangkuannya. Dengan lembut diciumnya kening Naeun, dia sudah mencoba untukjatuh hati pada Naeun namun tak bisa walaupun kadang ia juga ingin. Hanya lelaki bodoh yang tak tergoda dengan Na Naeun, dialah dewinya kampus Universitas XX. Saat ini Naneun dengan gaun merah dengan potongan minimalis yang membalut tubuhnya sungguh terlihat seksi menggoda. Namun, bukan itu yang diinginkan Mingyu untuk saat ini. Dia mencari kenyamanan yang tak pernah ia rasakan dari Naeun walaupun terlihat Naeun juga telah berusaha memberikan kenyaman itu.


“Aku saat ini sedang ingin sendiri” Mingyu berkata sambil berlalu meninggalkan Naeun yang tak menduga kalau kesempatannya kembali hilang. “Tunggu” cegah Naeun sambil menarik tangan Mingyu yang melewatinya. “Apa aku kurang menarik untukmu? Apa aku tak bisa menggoyahkan hatimu?” serudu Naeun bertanya dengan wajah yang memerah karena menahan malu dan kesal.


“Kau sangat menarik Naeun, hanya aku yang bodoh tak bisa membalas perasaanmu. Jadi, tolong berhentilah saat ini jika kau masih ingin berstatus sebagai pacarku” ungkap Mingyu sambil mengancam.


Naeun undur, ia tak ingin kehilangan Mingyu. Setidaknya untuk saat ini, ia masih ingin mencoba mencuri hati Mingyu. Naeun mengalah dan melepaskan cengkraman tangannya dari Mingyu. Mingyu pun berlalu pergi.

__ADS_1


~


__ADS_2