Dia Masa Depanku

Dia Masa Depanku
Berakhir


__ADS_3

Mobil Mingyu berhenti di depan klub malam terbesar di daerah Gangmu. Ia masuk tanpa pengecekan ID, maklum saja klub tersebut milik ayahnya. Mingyu memesan minuman pada bartender dan menuju salah satu ruangan privasi di sana. Suara bising di luar sana tak mampu membuat perasaan Mingyu lebih ceria, ia merasa kesepian.


Diambilnya ponsel yang ada di dalam saku, ditekannya beberapa nomor dan begitu tersambung di seberang terdengar suara wanita.


“Apa kau sibuk? Aku di Gangmu bisakah kau ke sini?” tanya Mingyu pada sang wanita. Selang beberapa saat wanita yang ditelfon Mingyu pun datang. Naeun datang dengan masih setelan kampus. Ia merasa perlu untuk bertemu dengan Mingyu setelah mendengar percakapan Mingyu dan Eunha siang tadi.


“Kenapa sendiri sayang?” ucap Eunha ketika baru sampai sambil menghamburkan dirinya di samping Mingyu dan mencium pipi Mingyu dengan lembut. Ia merasa perlu untuk mempertahankan posisinya untuk berada di sisi Mingyu saat ini. Jikalau Mingyu goyah dan memutuskan dirinya, bagaimana ia kedepannya.


“Ada yang kubicarakan” ucap Mingyu tak mengubris pertanyaan Naeun.


“Ada apa?” tanya Naeun sambil mengubah posisi duduknya.


“Aku ingin kita berpisah, sepertinya waktumu untuk bersamaku usdah selesai?” jawab Mingyu tanpa basa-basi.


“Kenapa? Apa karena wanita sialan itu?” Naeun balik bertanya spontan.


“Wanita? Siapa yang kau maksud?” tanya Mingyu penuh selidik


“Tidak ada, maksudku kenapa kau ingin kita berpisah. Sampai tadi pagi kita masih baik-baik saja” ungkap Naeun berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


“Jangan mengalihkan, siapa wanita yang kau maksud?” ujar Mingyu sedikit menaikkan nada bicaranya penuh curiga.


“Tak ada siapapun, aku hanya berpikir kamu telah bosan denganku” ujar Naeun meyakinkan


Mingyu yang tak mudah percaya kembali bertanya “Jika kau sudah tau, mari kita akhiri hubungan ini”


Naeun menggeleng tanda tak setuju, kau boleh dekat dengan wanita manapun aku tak apa, tapi jangan putuskan aku. Oke” ucap Naeun tak ingin berpisah.


“Aku tak mau dia berpikir buruk tentangku. Jadi, aku ingin kita berpisah” jawab Mingyu tetap pada kata-katanya di awal.


“Aku tak mau” tak kalah Naeun menjawab.

__ADS_1


“terserah dirimu, aku telah mengatakan padamu. Kalau kesepakatan kita berakhir, jangan lagi hadir di sekitarku” ucap Mingyu tegas. Lalu keluar ruangan meninggalkan Naeun masih bersunggut tak mau berpisah.


“Dasar wanita murahan” desisnya marah.


“Mulai sekarang hidupmu tak akan nyaman” ancamnya.


Naeun menelfon seseorang dan memintanya untuk memata-matai Eunha, ia tau nama gadis itu setelah seharian ia mengikuti Eunha dan bertanya pada teman sejurusan Eunha.


Na Naeun, bukanlah gadis biasa. Ayahnya adalah seorang pengusaha suskes dibidang energi. Namun sang ayah jarang memiliki waktu untuk ia dan ibunya. Sedangkan ibunya adalah seorang sosialita papan atas yang suka bermain dengan lelaki yang lebih muda bahkan pernah ada yang seusia dengan Naeun. Oleh sebab itu Naeun mencari kesenangan lain dengan keluar masuk klub hingga suatu saat bertemu dengan Mingyu dan berusaha merubah imagenya menjadi wanita baik yang hanya setia pada satu lelaki.


“Choi Mingyu, kau salah berurusan denganku” Naeun membatin.


Mingyu mengendarai mobilnya kembali ke kampus. Ia tak tenang sejak tadi bersitegang pendapat dengan Eunha. Kembali ia menunggu Eunha di depan asrama malam ini. Karena tadi ia menelfon Hemi menanyakan Eunha, sebab Eunha tak mengangkat telfon darinya.


Jarum jam menunjukkan pukul 20.30, “Sebentar lagi Eunha pasti pulang” Mingyu membatin. Dan benar saja sesosok wanita mungil kembali ke asrama dengan sedikit berlari kecil. Sepertinya ia senang, terlihat dari wajahnya yang berseri.


Eunha terhenti melihat Mingyu kembali ada di asramanya seperti malam kemarin. Eunha dengan santainya berjalan melalui Mingyu, ia tak melihat ke arah Mingyu dengan sengaja. Ia tak mau kembali terlibat dengan senior itu kembali.


“Aku hanya tak ingin berurusan denganmu senior” Eunha berucap.


“Apa maksudmu?” tanya Mingyu penuh tanya


“Aku telah mendengar dari teman-teman kalau Senior Naeun adalah pacar senior” jawab Eunha.


“Lalu?” kembali Mingyu bertanya.


“Aku dengar, jika ada wanita yang ketahuan dekat dengan senior. Orang itu akan bermasalah di kampus dan karena itu, aku hanya ingin belajar dan lulus dengan damai di kampus ini” jawab Eunha mencoba meyakinkan Mingyu untuk tak lagi terlibat dengannya.


Mendengar ucapan Eunha, Mingyu mencoba mencernanya.


“Eunha, aku ingin mengatakan kalau aku telah putus dengan Naeun dan aku ingin berkata jujur kalau aku tertarik kepadamu” ungkap Mingyu mencoba jujur.

__ADS_1


“Apa maksud senior?” tanya Eunha lebih lanjut.


“Aku menyukaimu Eunha” jawab Mingyu sambil berjalan ke arah Eunha. Mingyu meraih tangan Eunha, lalu mendekatkan telapak tangan Eunha pada dadanya yang bidang.


“Kamu merasakan degup jantungku? Aku serius dengan perkataanku Eunha. Aku tak tau semenjak kapan, tapi aku yakin ini perasaan yang berbeda” ungkap Mingyu.


Eunha terkejut dengan perlakuan Mingyu. “Apakah senior masih sakit? Senior kembali meracau” ujar Eunha.


“Aku serius Eunha, tolong pertimbangkan. Jangan langsung dijawab sekarang, aku pergi dan kamu bisa beristirahat” kata Mingyu dan berlalu.


Eunha berjalan ke arah Mingyu dan menarik lengan kemejanya.


“Sepertinya senior masih demam” sembari meletakkan telapak tangannya pada dahi Mingyu. Sontak Mingyu terkejut tak menyangka Eunha akan mengejarnya. Ada desiran dlam dirinya, ia senang Eunha mengkhawatirkan dirinya.


“Aku sudah tak apa”jawab Mingyu menenangkan dan menarik tangan Eunha dari dahinya.


“Kalau kau khawatir, kau bisa kembali merawatku” ujar Mingyu menggoda Eunha.


“Tidak, aku hanya sedikit tak enak sebab kemarin senior hujan-hujanan karena aku” jawab Eunha berkilah. Sebenarnya ia memang khawatir akan kondisi Mingyu namun ia tak ingin memperlihatkannya.


“ya sudah, kalau senior baik-baik saja. Hati-hati jalan dan langsung beristirahat saat sampai di rumah” pituah Eunha sambil berlalu menuju asrama. Iia tak ingin kembali terkunci di luar asrama.


Mingyu pun mengangguk tanda patuh dengan petuah Eunha untuknya. Lalu memperhatikan Eunha hingga masuk asrama, memastikan gadis itu bisa masuk asrama tidak seperti malam sebelumnya.


Ketika sampai di asrama, Eunha tak dapat menahan ekspresi wajahnya. Untungnya yang masih terbangun hanya Hemi. Dengan desakan dari Hemi, akhirnya Eunha bercerita apa yang dikatakan Mingyu padanya barusan.


Hemi ikut senang namun ia juga mengingtakan sahabat agar tak terlalu terpedaya dengan perkataan Mingyu, bukan tanpa alasan. Melainkan karena track record Mingyu yang sudah dikenal sudah tak baik. Eunha pun memahami maksud dari Hemi.


“Aku hanya senang, ia telah putus dengan pacarnya. Jikapun ternyata aku menyukainya, aku menyukai pria lajang sekarang bukan pria yang masih memiliki kekasih” ungkap Eunha.


Hemi hanya bisa ikut tersenyum bahagia, walau namun ia tau kehidupan kampus Eunha tak akan mulus setelahnya.

__ADS_1


~


__ADS_2