
Setelah satu minggu sejak kepulanganku ke Jakarta, Mas Bas belum pernah meneleponku. Apa dia benar-benar melupakan aku atau ada alasan tertentu sehingga ia tetap diam saja? Dia bahkan tidak menjelaskan padaku, apalagi meminta maaf atas perbuatannya.
Aku bingung harus mengambil sikap apa. Haruskah aku bertahan dalam keadaan seperti ini? Namun, aku juga tak sanggup melepaskannya karena jujur saja, aku masih sangat mencintainya. Bagaimana dengan anakku nanti? Apakah dia harus kehilangan ayah? Jika Mas Bas bersamaku, bagaimana dengan Chloe dan Brian? Ya Tuhan, ijinkan aku menjadi kuat dan memutuskan yang terbaik untuk kami.
Sekarang, aku harus bangkit dan memulai hidupku. Aku harus bekerja karena anakku butuh uang untuk bertahan hidup. Aku tidak dapat menanggung semua penderitaan ini karena bukan aku yang melakukannya.
"Selamat pagi, Kristin."
"Dian, selamat pagi. Apa kamu sudah membaik? Kamu tidak boleh sakit, Dian. Pikirkanlah Bastian kecil. Kesehatannya harus menjadi prioritasmu. Oh ya, Dian, kenapa Bastian belum pulang padahal kerjanya sudah selesai? Kemarin kamu bertemu dengannya, kan?"
"Iya, Itin. Mas Bas masih di Bali. Dia sedang mengurus proyek yang kemarin aku kunjungi, bersama Pak Riko."
"Oh, jadi Mas Bas melanjutkan proyek itu lagi? Kok bisa gitu? Emang dia nggak memikirkan kamu dan anaknya? Apa dia lupa, bahwa dia sudah memiliki istri, bahkan calon ayah lagi? Bas harus diajari pelajaran. Nggak gampang menjadi wanita hamil, kan?"
"Itin, sudah dulu ya. Aku harus ke tempatku dan menyelesaikan laporan kemarin, mau diantar soalnya."
"Ok, The. Entar aku temani kamu ya?"
"Ok."
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak Riko."
"Selamat pagi, Kristin. Diandra sudah masuk, kan?"
"Sudah, Pak. Namun dia sibuk menyelesaikan laporan."
"Diandra, ke ruanganku sekarang."
"Baik, Pak."
"Selamat pagi, Pak."
"Sesuai yang kamu lihat, Ko. Aku bingung harus melakukan apa. Haruskah aku bertahan atau mengakhirinya? Aku tak bisa menentukannya, Ko. Sakit, benar-benar sakit."
"Diandra, sekarang tenanglah dan dengarkanlah kata hatimu. Itu yang terbaik. Oh iya, kamu diundang oleh ibumu ke rumah."
"Untuk apa, Ko?"
"Aku nggak tahu, nanti aku jemput kamu."
__ADS_1
"Ok, Ko. Apakah Bastian sudah menghubungimu?"
"Belum, tapi mungkin dia juga bingung harus apa."
"Iya. Keputusan yang kamu ambil nantinya harus dipikirkan dengan sebaik-baiknya."
"Ok, Ko. Hmm ... apa aku harus memberi tahu orangtua ku? Terus bagaimana nanti? Bagaimana dengan mereka? Aku malu, Ko. Aku tidak tahu, apa dosaku di masa lalu begitu berat, sehingga aku harus menghadapi ini sekarang. Tuhan, aku tak sanggup dengan salib ini."
"Diandra, kamu harus tenang. Kamu tidak boleh begini. Bagaimana dengan anakmu nanti? Kamu harus memikirkannya juga, karena dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Hanya kamu dan Bastian yang menginginkannya. Jadi, ingatlah, kalau kamu begini, bagaimana dengan keadaannya di dalam sana? Dan berada di posisi kamu, aku pun pernah merasakannya. Kami tidak boleh lemah, kita harus kuat menghadapi semuanya walaupun dunia menertawakan dan mengatai kita. Kita harus menghadapi itu dan tidak boleh lari."
"Ko, aku tidak bisa. Aku harus bagaimana?"
"Diandra, lihat dulu aku. Aku selalu ada di sampingmu dan aku akan selalu menemanimu, apapun itu. Aku tahu semua yang kamu rasakan. Kamu harus kuat. Kalau begini, mari kita keluar sebentar dan tenangkan pikiranmu."
"Ko, aku sedang di kantor."
"Iya, aku tahu kamu sedang di kantor. Oleh karena itu, aku mengajakmu keluar. Ayo kita jalan."
"Ok, Ko."
__ADS_1