Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku

Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku
Episode 1 - Terpaksa Menjadi Seorang Pemulung


__ADS_3

Hari yang cerah tengah menaungi sebuah kampung yang berada di area persawahan di kaki gunung Papandayan bernama Kampung Cijambu, Desa Karangkulon, Kecamatan Cisurup, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Kampung yang terletak 1 km dari terminal bus sekaligus pasar tradisional bernama pasar Cikapundung itu nampak masih asri dengan  luasnya area persawahan yang mengelilinginya.


 


Suara gemericik air irigasi persawahan yang mengalir cukup deras, bersumber dari hulu sungai yang berada tidak jauh dari kampung tersebut, menambah suasana syahdu pedesaan di tengah persawahan itu semakin terasa. Hembusan angin sepoi-sepoi menggoyangkan barisan tanaman padi yang terhampar luasnya serta tampak sudah mulai menguning tersebut menyebabkan butiran-butiran beras yang terlihat sudah berisi padat pada masing-masing tangkainya itu silih beradu menciptakan suara riuh rendah seirama dengan alur angin yang berhembus menerjangnya.


 


Lantunan suara seruling sunda terdengar samar-samar dari kejauhan menciptakan suasana damai yang membuat hati setiap orang yang mendengarkannya menjadi tentram dan tenang. Seakan-akan setiap orang yang mendengarkannya itu terbawa larut dan hanyut dalam kedamaian dan kesejukan hati yang seolah sanggup menghipnotisnya untuk sejenak melupakan semua beban hidup yang dimiliki.


 


Dari jauh terlihat dua sosok anak kecil kakak beradik bernama Tegar, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun, berkulit sawo matang, bermata belo serta berambut lurus dan Aisyah seorang gadis kecil periang yang memiliki senyum yang manis berusia 8 tahun, punya hobi membaca, berkulit sawo matang, bermata belo seperti halnya mata sang kakak, dengan menggunakan pakaian seragam putih merah yang sudah lusuh, mereka terlihat sedang berlarian melewati jalanan setapak pinggiran sawah menuju suatu  gubuk kecil sederhana di pemukiman penduduk yang berada di sekitar area persawahan tersebut yang lokasinya tidak begitu jauh dari pusat kota. Hari itu mereka nampaknya baru saja pulang dari sekolah.


 


Tidak beberapa lama kemudian kaki-kaki mungil mereka telah sampai menginjak halaman depan sebuah rumah berbilik bambu satu-satunya yang ada di pemukiman itu, karena memenag rumah-rumah yang lain yang ada di tempat tersebut terlihat telah menggunakan batu bata sebagai biliknya. Bangunan berdinding bilik bambu dan beralaskan lantai bambu itu lebih mirip seperti sebuah gubuk dibandingkan dengan sebuah rumah. Terlihat sebagian tiang penyangga yang berada di bagianteras depan rumah tersebut sudah keropos dimakan rayap


dan usia. Begitu pula dengan pintu dan dinding bilik bambunya yang terlihat sudah tidak kokoh lagi.


 


Tak ada hiasan dinding atau taman bunga di pelataran depan rumah itu. Hanya rumput-rumput liar yang terlihat tumbuh subur di sekitar halaman rumah tersebut.  Dari sekian banyaknya rumah-rumah warga yang berada di area pemukiman itu, rumah itulah satu-satunya rumah yang kondisinya begitu memprihatinkan. Rumah tersebut ternyata milik seorang nenek tua berusia 65 tahun bernama nenek Aminah yang tinggal di rumah yang lebih cocok disebut gubuk kecil itu bersama kedua cucunya yakniTegar dan Aisyah.


Tegar dan Aisyah sama-sama terlahir dan hidup di sebuah pedesaan yang terbilang masih asri namun telah tersentuh oleh arus modernisasi dan akulturasi. Selain Bahasa Sunda, mereka juga sudah mulai menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari.


 


Penggunaan dua bahasa sekaligus yaitu bahasa daerah (Sunda) dan bahasa Indonesia memang dinilai sedikit mengancam eksistensi bahasa Sunda itu sendiri di kalangan generasi-generasi muda desa itu. Terbukti dengan semakin banyaknya generasi muda desa itu yang menggunakan Bahasa Indonesia campuran dengan Bahasa Sunda pada aktivitas bersosialisasi mereka sehari-hari.


Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh dari tontonan di televisi dan juga oleh banyaknya warga desa itu yang menikah dengan orang-orang dari kota. Untungnya bahasa Sunda telah menjadi kurikulum wajib di setiap sekolah di desa itu sehingga kekhawatiran akan terasingnya bahasa Sunda di daerahnya sendiri bisa sedikit diatasi. Begitu pula dengan Tegar dan Aisyah, karena Ibu mereka bersuamikan orang Jakarta sehingga tanpa sadar sang Ibu dulu membiasakan anaknya, yakni Tegar dan Aisyah untuk berbicara dengan Bahasa Indonesia. Mereka pun akhirnya sangat familiar dengan bahasa Indonesia yang telah mereka gunakan sebagai bahasa mereka sehari-hari sejak dari kecil ketimbang dengan bahasa sunda itu sendiri.


Sesampinya di gubuk tersebut Tegar dan Aisyah langsung membuka sepatu mereka dan kemudian memberikan salam kepada sang nenek yang mereka kira sedang berada di dalam gubuk itu,


“Assalamualaikum,,,.” ucap Tegar dan Aisyah berbarengan.


“Assalamualikum nek,,nenek.” teriak Aisyah memanggil-manggil sang nenek.


“Waalaikum salam.” jawab sang nenek yang ternyata berada di bagian belakang rumah sedang membersihkan


rongsokan berupa bekas botol mineral yang telah mereka kumpulkan di hari


sebelumnya.


“Tegar,,,Aisyah, ayo ganti baju dan langsung makan. Nenek sudah siapkan makan siang buat kalian di dapur.” perintahnya dengan suara yang pelan dan sudah melemah.


Kemudian Tegar dan Aisyah pun mengganti baju seragam mereka masing-masing dengan baju yang biasa mereka pakai ketika tidak sedang bersekolah. Setelah itu mereka pergi ke dapur untuk makan siang bersama-sama. Sesampainya di dapur mereka melihat sudah ada 3 buah mangkok yang tersaji dengan kondisi masih tertutup rapat. Karena mereka sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam mangkok-mangkok itu, maka dibukalah satu persatu mangkok-mangkok tersebut dengan segera oleh sang kakak yaitu Tegar. Tegar, Aisyah dan sang nenek biasanya makan di dapur sambil lesehan dan menggunakan tangan langsung untuk menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka.


Ketika sang kakak terlihat berinisiatip membuka salah satu mangkok yang tersaji itu,tiba-tiba Aisyah berkata,


“Apa kak?” tanya Aisyah yang melihat sang kakak telah terlebih dahulu mengintip isi di dalam salah satu mangkok tersebut.


“Tempe dan Tahu goreng.” jawabnya sumringah.


“Asyik,,,aku mau Tahunya dong kak.” pinta sang adik.


“Aku juga mau.” jawab Tegar.


“Kakak tempenya aja.” bujuk sang adik.


“Gak mau.” jawab Tegar tegas.


“Yah.....!” seru Aisyah sambil terdengar menghela nafas panjang


sepertinya ia kecewa.

__ADS_1


“Jangan gitu dong dek, Kakak kan juga mau makan Tahu. Lagi pula ini kan ada 2 buah Tahu dan 2 buah Tempe jadi kita masing-masing satu Tahu dan satu Tempe supaya adil.” ucap Tegar memberikan penawaran kepada sang adik.


“Ya udah deh,,gak apa-apa.” sahut Aisyah.


Kemudian mereka membuka lagi 2 mangkok yang tersisa,


“Ini apa yak!” seru Aisyah penasaransambil membuka sendiri tutup mangkok tersebut.


“Oh,,,ikan teri.” ucapnyakemudian.


“Kalau yang itu apa kak isinya?” tanyanya kepada sang kakak sambil menunjuk 1 mangkok lagi yang belum terbuka, berada dekat dengan tempat duduk sang kakak.


Kemudian dibukalah mangkok terakhir, dan ternyata isinya adalah rempeyek teri yaitu berupa gorengan dari tepung terigu yang dicampurkan dengan ikan teri lalu digoreng.


“Rempeyek Dek.” sahut sang kakak sambil kemudian mulai bersiap-siap untuk makan. Setelah itu mereka pun menyantap hidangan yang menurut mereka sudah cukup mewah itu  karena jarang-jarang mereka bisa makan Tahu dan Tempe seperti halnya hari itu.


Setelah selesai makan siang mereka lantas keluar dari dalam gubuk dan menghampiri sang nenek yang sedang berada di belakang gubuk tersebut. lalu sang nenek pun menegur mereka.


“Sudah makannya nak?” tanya sang nenek kepada kedua cucunya yang terlihat sedang berjalan menghampirinyaitu.


“Sudah nek.” jawab mereka kompak.


“Kalau sudah ayo...Tegar sama Aisyah ambil karungnya masing-masing satu. Kita berangkat memulung rongsokan lagi sekarang.” ajak sang nenek.


“Baik nek.” jawab mereka kembali kompak.


Diambilah karung kosong yang biasa mereka gunakan sebagai wadah penampung rongsokan hasil berkeliling kampung sehari-hari yang tersimpan di salah satu sudut tempat tersebut. Kemudian mereka pun bergegas bersama-sama untuk pergi mencari rongsokan seperti yang selalu mereka lakukan di hari-hari sebelumnya.


Memang sangat berbeda apa yang harus dialami oleh Tegar dan Aisyah bila dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya atau bahkan anak-anak kecil seusianya.


 


Di saat teman-teman sebaya mereka sedang asyik bersantai dan bercengkerama di rumah dengan keluarga mereka masing-masing, sepulangnya dari sekolah Tegar dan Aisyah masih harus bekerja membantu sang nenek mengumpulkan barang-barang rongsokan yang masih bisa dijual kembali untuk mendapatkan uang demi menyambung hidup mereka sehari-hari. Rutinitas tersebut sudah dilakoni mereka selama kurang lebih 6 tahun.


Sangat riskan memang bagi seseorang yang sudah berusia senja seperti halnya nenek Aminah ini untuk tetap bekerja.  Namun mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lagi bagi nenek Aminah selain ia harus tetap memaksakan diri bekerja mencari nafkah untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari dirinya dan kedua cucunya itu dengan cara memulung rongsokan. Walaupun kondisi fisiknya semakin hari sudah semakin melemah.


Barang-barang rongsokan yang berhasil mereka kumpulkan setiap harinya terlebih dahulu akan mereka kumpulkan di gudang yang berada di bagian belakang gubuk tempat mereka tinggal. Mereka tidak bisa langsung menjual rongsokan tersebut ke pengepul sebelum rongsokan tersebut  dibersihakan dan dirapihkan terlebih dahulu.


Setelah rongsokan tersebut rapih barulah mereka bisa menjualnya ke pengepul yang lokasinya berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka itu dan memanen hasil dari kerja kerasnya tersebut.


Satu kilogram barang rongsokan jenis botol kemasan air mineral dihargai oleh pihak pengepul rongsokan dengan harga Rp. 2.000, sedangkan untuk satu kilogram kardus bekas Rp. 1.000, dan untuk paku bekas Rp. 7.000. Mereka biasanya mengumpulkan barang-barang rongsokan tersebut dan menyimpannya terlebih dahulu selama kurang


lebih 3 hari untuk dibersihkan dan dirapihkan, setelah 3hari barulah mereka menjualnya ke pengepul.


Itu artinya mereka hanya 3 hari sekali baru bisa mendapatkan penghasilan dari memulung. Biasanya rongsokan yang terkumpul dalam waktu 3 hari itu mencapai 20 kilogram, tergantung kondisi fisik dan jangkauan jelajah mereka setiap harinya.


 


Uang hasil penjualan barang-barang rongsokan yang tidak seberapa itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari seperti membeli beras, membeli minyak goreng, membeli lauk-pauk sederhana dan bayar tagihan listrik.


Selain dari hasil memulung mereka juga terkadang memperoleh penghasilan dari belas kasihan orang yang merasa iba terhadap mereka. Terkadang ada saja orang yang memberikan uang kepada mereka secara cuma-cuma walaupun tidak mereka minta sebelumnya. Dan memang nenek Aminah tidak pernah mengajarkan kepada kedua cucu kesayangannya itu untuk meminta-minta kepada orang lain.


 


Ia menerapkan prinsip hidup “Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah” kepada kedua cucunya tersebut. Sehingga ia selalu menekankan untuk jangan jadi seorangpengemis.


Betapa beratnya pun hidup menjadi seorang pemulung rongsokan akan jauh lebih terhormat dari pada menjadi seorang pengemis yang hidup dari belas kasihan orang lain dengan cara meminta-minta. Namun apabila ada orang yang ingin memberikan bantuan dan berbagi rezeki kepada mereka, nenek Aminah menyarankan untuk tidak sungkan-sungkan menerimanya karena tidak baik juga menolak rezeki. Begitulah cara nenek Aminah mendidik kedua cucunya yang sangat ia sayangi itu.


Malang memang nasib nenek Aminah, di usianya yang sudah renta tersebut ia masih harus berjuang keras menghidupi dirinya dan kedua cucunya yang masih kecil-kecil itu dengan cara memulung barang-barang rongsokan agar bisabertahan hidup.


Tubuhnya yang semakin melemah di usia senjanya itu harus ia gunakan untuk bekerja keras banting tulang mencari


nafkah setiap hari. Pandangannya yang sudah mulai kabur serta kesehatannya yang sudah mulai sering terganggu karena faktor umur, merupakan cobaan terbesar baginya. Namun ia tetap tabah menjalani kehidupan dan jalan hidup berliku yang harus ia susuri itu.


Nenek Aminah sudah sekitar 6 tahun merawat dan membesarkan Tegar dan Aisyah seorang diri. Suaminya yang bernama Pak Sumarno telah meninggal 10 tahun yang lalu. Sang suami meninggal pada usianya yang ke 57 tahun disebabkan oleh penyakit TB Paru akut yang dideritanya.

__ADS_1


Gambaran mengenai sosok sang suami yang sangat ia cintai itu hanya bisa ia kenang melalui memori-memori otaknya yang kini sudah mulai terancam hilang oleh kepikunan. Tidak ada selembar foto wajah dari sang suami pun yang bisa ia lihat kembali ketika rasa rindu sedang membuncah di dalam dadanya.


Satu-satunya benda yang menjadi kenangan dirinya bersama sang suami tercinta adalah sebuah cincin kawin emas seberat 2 gram yang sengaja ia simpan baik-baik supaya tidak hilang, di dalam sebuah brangkas kecil beserta surat-surat penting seperti surat tanah, akta kelahiran, surat nikah dll. Brangkas tersebut ia tempatkan di bawah ranjang kasur kamar tidurnya.


Sudah beberapa kali ia berniat untuk menjual cincin kawin tersebut karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi namun karena rasa cinta dan kerinduannya kepada mendiang suaminya yang begitu besar, ia pun kemudian berkali-kali pula mengurungkan niatnya tersebut. Ia selalu berusaha mencari cara lain untuk mendapatkan uang selain harus menjual cincin kawin tersebut.


Sementara itu anak semata wayangnya yang merupakan Ibu kandung dari Tegar dan Aisyah bernama Nurhayati (35 tahun), semenjak terakhir kali ia pamit kepadanya untuk pergi ke kota Jakarta mencari sang suami yang bernama Joni (42 tahun) yang tiba-tiba menghilang entah ke mana, sampai saat ini belum ada kabar terbaru lagi mengenai nasibnya di kota Jakarta.


Sebelum berpamitan untuk pergi ke Jakarta, Nurhayati, anak semata wayang nenek Aminah itu sempat menitipkan Tegar dan Aisyah yang ketika itu masih sangat kecil untuk dirawat baik-baik selama kepergiannya ke Jakarta.


Ia berjanji akan segera pulang kembali ke kampung halaman sesaat setelah mendapatkan kepastian dari suaminya yang tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar sama sekali selama lebih dari 2 tahun semenjak kelahiran anaknya yang kedua yaitu Aisyah.


Namun apa yang terjadi, bak ditelan bumi kabar mengenai Nurhayati yang pergi ke Jakarta untuk mencari suaminya tersebut pun tidak kunjung ia terima.


Tak terasa kini sudah 6 tahun waktu berlalu semenjak kepergiannya ke Jakarta itu, sampai saat ini Nurhayati tidak pernah sekali pun memberikan kabar mengenai kondisi serta keberadaannya di Jakarta. Sudah berulang kali nenek Aminah mencoba untuk meminta bantuan tetangganya yang kebetulan bekerja di Jakarta sebagai kuli bagunan bernama Asep untuk mencari keberadaan Nurhayati namun hasilnya selalu nihil. Ia pun sempat meminta bantuan kepada kepala Desa untuk mencari keberadaan Nurhayati di Jakarta tapi usaha tersebut juga tidak membuahkan hasil yang signifikan, Nurhayati tetap sulit untuk dilacakkeberadaannya.


Terlebih mereka tidak tahu alamat lengkap tempat yang akan dituju oleh Nurhayati di Jakarta. Nenek Aminah hanya diberi tahu oleh anaknya itu bahwa ia akan pergi ke Jakarta mencari sang suami untuk meminta kejelasan atas status pernikahan kepada suaminya tersebut tanpa menjelaskan detail alamat lengkap tujuannya di Jakarta itu.


Kini nenek Aminah sudah pasrah dengan apa yang terjadi pada anak perempuan yang merupakan anak satu-satunya itu apakah ia masih hidup atau sudah meninggal ia pun tidak tahu pasti. Namun ia tetap menyimpan keyakinan bahwa Nurhayati masih hidup.


 


Ia masih yakin kalau Nurhayati akan kembali ke kampung halaman dan mengurus anak-anaknya seperti dulu lagi, walaupun tanpa bantuan sang suami yang tidak bertanggung jawab itu karena telah menelantarkan dirinya dan kedua anaknya begitu saja. Untuk keselamatan puteri semata wayangnya itu, nenek Aminah tak pernah alfa menyelipkan pesan kepada sang pencipta di setiap doa-doanya selepas menunaikan ibadah Sholat lima waktu dan Sholat malamnya.


Sejengkal demi sejengkal jalanan setapak di tengah sawah menuju desa seberang telah mereka lalui. Langkah kaki mereka terus berayun dan berjalan menyusuri tiap sudut kampung untuk mencari barang-barang rongsokan yang bisa dijual kembali.


 


Teriknya sinar matahari siang itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk mengumpulkan satu demi satu barang rongsokan yang mereka temui tengah tergelatak di jalanan.


Mereka terus memantapkan hati berjalan beriringan di sepanjang jalan menuju suatu tempat tujuan yang tidak pasti. Sesekali nampak penduduk kampung yang menyaksikan keberadaan mereka menatap fokus ke arah mereka seakan merasa iba sampai-sampai mengelus dada.


Namun ada pula sebagian dari mereka yang memilih tidak peduli dan sama sekali tidak menghiraukan keberadaanmereka.


“Nenek karung  punyanya Aisyah sudah penuh nih, Aisyah jadi berat bawanya.” keluh Aisyahkepada sang nenek.


“Huuuuu,,,cemen, masa karung sekecil itu aja disebut berat. Nih lihat punya kakak karungnya besar.” seru


Tegar meledek sang adik.


“Yah,,,kan kakak sudah besar sedangkan Aisyah masih kecil iya kan nek!” seru Aisyah kepada sang nenek


berharap mendapat pembelaan.


“Sudah-sudah jangan bertengkar terus. Aisyah sini, isi karung punyanya Aisyah separuhnya boleh dipindahkan ke


dalam karung punya nenek supaya kamu tidak terlalu berat membawanya.” ujar sang


nenek.


“Terimakasih nek.” sahut Aisyah girang.


Sang nenek pun kemudian memindahkan separuh isi rongsokan dalam karung yang dibawa oleh Aisyah tersebut ke dalam karung miliknya.


Lantas mereka pun kemudian melanjutkan lagi perjalanannya hari itu untuk mencari rongsokan.


Tak terasa hari pun sudah berganti menjadi petang. Tumpukkan rongsokan sudah berhasil terkumpul menyesaki karung-karung yang dibawa oleh mereka.


Nampaknya hari itu adalah hari keberuntungan bagi mereka karena berhasil mengumpulkan rongsokan dalam jumlah yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Setelah semua karung yang dibawa mereka masing-masing terisi penuh oleh barang-barang rongsokan, mereka pun tampak mulai bergegas untuk pulang kembali ke gubuk.


 


Sesampainya di gubuk, mereka langsung menaruh hasil memulung mereka hari itu di gudang belakang gubuk tersebut. Setelah itu mereka sama-sama masuk ke dalam gubuk untuk beristirahat melepas rasa lelah setelah hampir seharian berkeliling menyusuri perkampungan. Setelah hampir seharian penuh bekerja keras, kini tibalah saatnya bagi mereka untuk beristirahat di dalam gubuk kecil yang menjadi istana bagi mereka selama ini.


***

__ADS_1


__ADS_2