
Keesokan harinya ketika nenek Aminah baru saja bangun tidur, tiba-tiba ia merasa tidak enak badan. Tubuhnya terasa panas demam dibarengi dengan batuk-batuk berdahak serta sesak nafas. Mungkin hal tersebut disebabkan karena ia kehujanan sewaktu pulang dari memulung kemarin.
Sebenarnya nenek Aminah sudah dari sejak lama memiliki keluhan serupa hanya saja kali ini keluhan yang ia rasakan terasa begitu berat karena dibarengi dengan gejala demam yang membuat tubuhnya menjadi sangat lemah. Namun ia tetap berusaha bangkit dari tempat tidurnya untuk menyiapkan sarapan bagi kedua cucunya walaupun kondisi badannya sedang sakit.
Setelah berada di dapur ia kemudian bersiap-siap untuk mulai memasak nasi. Namun ternyata persediaan beras yang mereka miliki sudah hampir habis, hanya tersisa beras yang cukup untuk satu kali makan saja. Itu artinya ia harus segera membeli beras lagi yang harganya di warung-warung kini mencapai Rp. 9.000 per kilogram. Ia kemudian menuangkan semua beras yang tersisa itu ke dalam sebuah panci untuk kemudian membersihkannya.
Setelah selesai dibersihkan dan diairi, ia pun menaruh panci yang telah terisi beras dan air tersebut di atas hawu (perapian dari tanah liat). Lantas ia memasukan beberapa potong kayu sebagai bahan bakarnya ke dalam perapian tersebut dan mulai menyalakan api menggunakan korek api. Dan proses memasak nasi pun mulai berlangsung.
Setelah selesai memasak nasi, ia melanjutkan aktivitasnya di dapur dengan memasak lauk. Hari ini lauk yang tersedia di dapurnya hanya ikan asin. Dengan demikian nenek Aminah, Tegar dan Aisyah kali ini lagi-lagi sarapan pagi cukup dengan nasi putih dan ikan asin saja. Tidak seperti biasanya hari ini Tegar dan Aisyah sudah bangun tidur sebelum sang nenek membangunkannya.
Mereka kemudian langsung menghampiri sang nenek yang baru selesai memasak itu,
“Nek kami sudah bangun.” seru Aisyah.
“Ayo, sini kita makan nak.,,Ohooooo,,ohoooooo,ohooooooo.” ucap sang nenek sambil terdengar batuk-batuk.
“Nek, nenek sakit?” tanya Tegarterlihat khawatir.
“Tidak Tegar, nenek baik-baik saja. Oho...ohooooo, ohoooooo.” kilahnya mencoba menenangkan sang cucu yang terlihat panik itu.
“Tapi ko batuk-batuk terus.” sahut Aisyah.
“Tenggorokan nenek sedikit gatal, mungkin karena kurang minum air. Nanti juga baikan nak.” jawab sang nenek berusaha menenangkan kedua cucunya itu.
“Ayo, duduk dan segera makan.” perintah sang nenek.
Mereka pun lalu menyantap makanan yang sudah disajikan tersebut dengan lahapnya walaupun yang mereka makan kali ini hanya sebatas nasi putih dan ikan asin saja. Setelah selesai sarapan pagi, Tegar dan Aisyah berpamitan kepada sang nenek untuk pergi ke sekolah di hari yang terlihat akan cerah itu.
Setelah kedua cucunya itu berangkat ke sekolah, ia langsung bergegas keluar dari gubuk hendak berobat ke puskesmas Sumber Sari yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya itu.
Berbekal surat keterangan tidak mampu dari Desa yang ia dapatkan dari ketua RT setempat beberapa waktu yang lalu, nenek Aminah pun memutuskan untuk pergi berobat gratis ke puskemas tersebut. Ia merasa bahwa sakitnya kali ini berbeda dari biasanya. Ia tidak mau menyusahkan kedua cucunya apabila sakitnya bertambah parah gara gara tidak segera berobat ke puskesmas. Karena kalau seandainya ia jatuh sakit otomatis Tegar dan Aisyah lah yang akan menjadi tulang punggung mereka yang harus mencari uang dengan cara memulung guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Nenek Aminah pergi ke puskesmas Sumber Sari dengan berjalan kaki. Hal tersebut dilakukan olehnya lantaran ia tidak punya uang untuk naik ojek atau pun angkutan umum yang tersedia. Puskesmas Sumber Sari berada di dekat kota berjarak 700 meter dari terminal bus Cikapundung dan 300 meter dari tempat tinggalnya.
Sumber Sari itu sendiri adalah sebuah nama wilayah kecamatan yang masih terdapat dalam satu kabupaten yaitu kabupaten Garut sama dengan wilayah kecamatan Cisurup. Di wilayah itu sudah terdapat banyak pertokoan dan perumahan warga. Nampak pula sebuah apotik, mesin ATM, super market yang telah tersedia di kawasan itu.
Sementara itu fasilitas kesehatan yang ada di wilayah itu baru hanya ada sebuah puskesmas saja. Satu-satunya rumah sakit terdekat dari wilayah itu adalah rumah sakit Cisurup yang berada 900 meter dari tempat tersebut, 200 meter dari terminal bus Cikapundung dan 1.200 meter dari tempat tinggal nenek aminah yang berada di kampung Cijambu.
Sesampainya di puskesmas Sumber Sari ia kemudian menyodorkan sebuah KTP miliknya dan sepucuk surat keterangan tidak mampu dari desa ke petugas puskesmas setempat supaya dapat berobat dengan gratis.
Setelah didata oleh petugas puskesmas tersebut, ia kemudian diberi nomor antrian. Nenek Aminah harus mengantri terlebih dahulu untuk beberapa saat sebelum namanya dipanggil, dan pada pagi itu ia mendapat nomor antrian ke 11.
Ketika beliau sedang duduk sambil menunggu nomor antriannya dipanggil, tiba-tiba ada seorang ibu yang bertanya kepadanya. Ibu tersebut bernama ibu Zubaidah berusia sekitar 38 tahun yang pada waktu bersamaan hendak berobat di puskesmas tersebut dan ia mendapatkan nomor antrian ke 10.
__ADS_1
“Sakit apa nek?” tanya Ibu Zubaidah yang datang ke tempat tersebut dengan menggunakan kerudung dan baju muslimah berenda khas ibu-ibu pengajian.
“Ini nak, nenek batuk-batuk berdahak terus. Ohooo,,ohooo..ohooo.” jawab nenek Aminahsambil terdengar batuk batuk.
“Nenek rumahnya di mana?” tanyanya.
“Rumah nenek di kampung Cijambu. Oho…ohooooo..ohoooo.” jawabnya masih terdengar batuk-batuk.
“Kampung Cijambu, jauh juga ya nek. Nenek sama siapa datang ke sini?” tanya bu Zubaidah penasaran.
“Sendiri saja.” jawabnya singkat.
“Naik apa?” tanyanya kembali penasaran.
“Jalan kaki.” sahut nenek Aminah.
“Ya ampun nek, nenek masih kuat jalan kaki sejauh itu. Dari kampung Cijambu ke sini itu jauh lho nek. Kenapa gak naik ojek saja?” tanya bu Zubaidah keheranan seakan tak percaya bahwa jarak sejauh itu ditempuh oleh nenek Aminah dengan cara berjalan kaki.
“Nenek gak punya uang nak untuk bayar onkos ojeknya.” jawab nenek Aminah pelan.
“Terus nanti pulangnya nenek mau jalan kaki lagi?” tanya bu Zubaidah kembali.
“Iya, jalan kaki lagi saja.” jawabnya pasrah.
Mendengar hal tersebut Ibu Zubaidah merasa kasihan dengan nenek Aminah sehingga ia mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan memberi nenek Aminah uang sebesar Rp. 20.000 untuk ongkos naik ojek ketika pulang nanti.
“Nek, ini buat nenek supaya nanti nenek pas pulang dari sini bisa naik ojek ke rumah gak jalan kaki lagi.” ujar ibu Zubaidah sambil memberikan satu lembar uang sebesar Rp. 20.000 kepada nenek Aminah.
Tiba-tiba dipanggilah nomor antrian selanjutnya yaitu antrian nomor 10 yang ternyata adalah nomor antrian milik Bu Zubaidah. Namun kemudian ia menukarkan nomor antriannya dengan nomor antrian milik nenek Aminah supaya nenek Aminah bisa diperiksa terlebih dahulu karena ia merasa iba dengan kondisi nenek Aminah saat itu.
“Nek,,,,pakai nomor antrian ini saja, biar saya pakai nomor antrian yang punya nenek. Jadi nenek bisa segera diperiksa.” ujar Ibu Zubaidah yang baik hati itu.
“Terimakasih banyak ya nak.” ucap nenek Aminah kembali berterimakasih.
Dengan menggunakan nomor antrian milik Ibu Zubaidah, nenek Aminah pun bisa langsung masuk ke ruangangan Dokter untuk segera mendapatkan pelayanan. Sesampainya ia di dalam ruangan Dokter, ia langsung disambut oleh seorang Dokter wanita bernama Dokter Ratna.
Dokter umum yang masih berusia muda sekitar 25 tahunan itu langsung mempersilahkan nenek Aminah untuk duduk di kursi yang telah disediakan sesaat setelah nenek Aminah masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Selamat pagi nek, silahkan duduk.” ucapnya mempersilahkan.
Maka nenek Aminah pun duduk, kemudian sang Dokter bertanya,
“Keluhannya apa nek?” tanyanya dengan ramah.
“Badan nenek demam dan lemas, terus sering sesak nafas disertai batuk-batuk berdahak yang bunyinya keras. Ohoo....ohooooo.ohooooo.” jawab nenek Aminah menjelaskan keluhannya kepada sang Dokter sambil terdengar batuk-batuk kembali.
“Sudah dari kapan nenek merasakan keluhannya?” tanya Dokter tersebut.
__ADS_1
“Sebenarnya keluhan seperti ini sudah dari lama nenek rasakan, hanya saja nenek baru kali ini saja memeriksakannya.” sahut nenek Aminah.
“Baiklah kalau begitu, sekarang nenek saya periksa terlebih dahulu yak. Silahkan berbaring di sebelah sana nek.” perintah sang Dokter sambil menunjukkan tempat berbaring yang biasa digunakan oleh para pasiennya ketika sedang diperiksa.
Nenek Aminah kemudian bangkit dari tempat duduknya itu dan berjalan menuju ranjang pasien. Ia kemudian berbaring di tempat tersebut untuk kemudian mulai diperiksa. Selanjutnya sang Dokter dengan membawa sebuah senter kecil dan sebuah stetoskop yang menggantung di lehernya mulai memeriksa nenek Aminah.
“Buka mulutnya nek.” perintah sang Dokter yang langsung dilaksanakanoleh nenek Aminah.
“Kemudian silahkan tarik nafas dalam-dalam, tahan, buang perlahan-lahan.” ujar Dokter tersebut mengintruksikan.
“Iya,,ayo ulangi lagi, tarik, tahan, buang.”
“Lagi...tarik, tahan, buang. lagi,,tarik, tahan, buang.” Ujarnya mengintruksikan hal yang sama kepada nenek Aminah beberapa kali.
“Oke nek cukup. Sekarang nenek sudah bisa bangun dari tempat ini dan duduk kembali di kursi.” tungkasnya.
Kemudian nenek Aminah bangun dari ranjang pasien tersebut dan kembali duduk di kursi yang tadi ia duduki.Terdengar sang Dokter berkata kepada nenek Aminah,
“Setelah tadi saya memeriksa nenek, ternyata paru-paru nenek sedang dalam kondisi tidak baik. Terdengar tadi ketika saya periksa pake alat ini, (ujar Dokter tersebut sambil menunjukan sebuah stetoskop kepada nenek Aminah) sepertinya nenek kesulitan bernafas. Nah itu disebabkan karena di paru-paru nenek banyak lendirnya sehingga nenek sering batuk-batuk disertai dahak atau dengan kata lain nenek menderita gejala penyakit TB paru. Untuk memastikannya kami harus mengambil sampel dahak nenek untuk diperiksa di laboratorium terlebih dahulu.” ujar sang Dokter panjang lebar menjelaskan.
Kemudian sang Dokter melanjutkan kata-katanya kembali,
“Untuk saat ini saya kasih dulu nenek obat untuk diminum selama satu minggu. Kalau seandainya selama satu minggu setelah meminum obat ini kesehatan nenek tidak kunjung membaik, nenek kembali ke sini lagi untuk diperiksa lebih lanjut. Ini saya berikan obat beserta resepnya.” ucapnya.
“Apakah penyakit nenek bisa cepat sembuh kalau minum obat ini nak?” tanya nenek Aminah.
“Kalau mau sembuh nenek harus terus minum obat seperti ini jangan sampai telat selama kurang lebih 9 bulan. Tapi saya kasih obatnya hanya cukup untuk satu minggu dulu saja soalnya nanti kita lihat dulu perkembangannya.” jawab sang Dokter berkilah.
Diberikannya beberapa bungkus jenis obat-obatan berbeda beserta resepnya lengkap dengan kwitansi harganya oleh Dokter tersebut kepada nenek Aminah. Tertera jelas dalam kwitansi tersebut total harga keseluruhan biaya untuk perawatan dan obat sebesar Rp. 200.000 dengan ricnian Rp. 50.000 untuk biaya konsultasi Dokter dan Rp. 150.000 untuk biaya obat-obatan. Nominal yang terbilang mahal untuk ukuran nenek Aminah tentunya. Namun kali ini nenek Aminah bisa berobat secara gratis tanpa harus mengeluarkan biaya sedikitpun.
Kemudian nenek Aminah bertanya kepada sang Dokter,
“Kalau seandainya setelah seminggu masih belum mendingan tapi nenek tidak bisa datang ke sini lagi untuk
berobat, apakah bisa nenek menyuruh orang datang ke sini untuk mengambilkan obat-obatannya saja?” tanyanya.
“Maaf nek, ketentuannya tidak seperti itu. Bantuan kesehatan ini diberikan kalau si pasiennya sendiri yang datang, jadi tidak bisa diwakilkan seperti itu.” jawab sang Dokter.
“Memangnya kenapa nek?” sang Dokter langsung bertanya balik.
“Enggak nak,,,,,gak kenapa-napa.” jawab nenek Aminah nampak enggan memberi tahu alasan mengapa ia bertanya seperti demikian.
“Mohon maaf ya nek, memang sudah seperti itu peraturannya. Kalau seandainya nenek tidak datang sendiri ke sini, nenek harus beli sendiri obat-obatannya sesuai resep itu menggunakan uang pribadi.” ujarnya.
“Memangnya di mana nenek bisa beli lagi obatnya?” tanyanya.
“Kalau sudah habis nenek bisa membelinya lagi di apotik yang tidak jauh dari puskesmas ini dengan mengacu pada resep terlampir.” jawab sang Dokter.
“Baiklah nek, Jangan telat makan dan telat minum obatnya yak nek, Terus nenek harus istirahat yang cukup jangan terlalu capek selama seminggu ini. Dan satu lagi nenek harus menjaga supaya barang-barang yang telah dipakai nenek seperti gelas, piring makan dll, tidak dipakai oleh anggota keluarga nenek yang lain untuk menghindari penularan penyakit TB paru yang saya diagnosa sedang diderita oleh nenek saat ini. Semoga cepat sembuh ya nek.” ucap sang Dokter mendoakan.
__ADS_1
“Terimakasih nak.” sahut nenek Aminah sambil bergegas meninggalkan ruangan Dokter tersebut.
***