Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku

Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku
Terpaksa Makan Nasi Aking (Nasi Sisa yang Dikeringkan)


__ADS_3

Sekeluarnya nenek Aminah dari puskesmas Sumber Sari, hendak kembali pulang ke rumah, ia langsung teringat jikalau tadi ia diberi uang sebesar Rp. 20.000 untuk ongkos pulang naik ojek oleh seorang Ibu yang baik hati bernama Ibu Zubaidah.


 


Namun seketika itu pula nenek Aminah teringat bahwa persediaan beras di rumahnya sudah habis. Ia pun akhirnya memutuskan mempergunakan uang pemberian dari Ibu Zubaidah tersebut untuk memberi beras walaupun itu artinya ia harus pulang dengan berjalan kaki menempuh jarak yang cukup jauh dengan kondisi badannya yang tidak sehat itu.


 


Nenek Aminah kemudian berencana menggunakan uang tersebut untuk membeli beras yang terlihat didagangkan di beberapa toko yang ada di sekitar tempat itu. Setelah bertanya ke beberapa toko yang ada di sekitar puskesmas itu ternyata uang sejumlah tersebut hanya cukup untuk membeli maksimal 2 liter beras yang saat ini harganya di toko-toko sudah mencapai Rp. 9.000/liter.


 


Jumlah tersebut hanya cukup untuk kebutuhan makan dirinya dan kedua cucunya selama satu hari saja. Oleh karena itu akhirnya ia pun mengurungkan niatnya tersebut dan langsung melanjutkan perjalananya untuk kembali pulang dengan berjalan kaki.


 


Langkah demi langkah kaki nenek Aminah yang sudah terlihat bergetar itu berjalan menyusuri jalanan dari puskesmas Sumber Sari menuju tempat tinggalnya yang berjarak 300 meter. Teriknya matahari siang itu terasa menyengat di kulit sehingga tak terasa tubuh nenek Aminah sudah bermandikan keringat.


 


Rasa haus dan gerah yang menyergapnya harus ia tahan mana kala masih tersisa berpuluh-puluh meter lagi jarak yang harus ia tempuh untuk bisa segera tiba di gubuknya. Tak jarang ia mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang lemah itu di bawah pohon-pohon rindang yang ia temui di sepanjang jalan menuju gubuknya itu.


 


Hingga pada akhirnya nenek Aminah tiba di sebuah kampung yang jaraknya sudah hampir dekat dengan kampungnya. Ia melewati sebuah rumah penduduk dan nampak ada seorang warga yang sedang menjemur sesuatu di halaman rumahnya itu.


Nenek Aminah pun kemudian menegurnya,


“Nak sedang menjemur apa?” tanya nenek Aminah kepada orang tersebut yang bernama bu Homsiah berusia sekitar 40 tahunan, yang terlihat sedang menjemur sesuatu di pekarangan rumah miliknya.


 


“Eh,,nenek Aminah.” sahut ibu-ibu tersebut yang ternyata mengenalinya.“Ini saya sedang menjemur nasi sisa yang tidak termakan nek.” Jawabnya sambil terlihat sedang sibuk membereskan jemurannya (nasi sisa) tersebut.


 


“Ko banyak sekali ya nak, nasi sisanya!” seru nenek Aminah.


 


“Iya nek, kebiasaan orang-orang rumah makannya suka sedikit jadi nasinya selalu tersisa banyak.” ujarnya.


 


“Nenek sudah dari mana?” tanya Bu Homsiah.

__ADS_1


 


“Nenek habis berobat dari puskesmas Sumber Sari nak. Oho,,,oho,, oho.” jawabnya sambil terdengar batuk-batuk.


 


“Nenek pulang dari puskesmas Sumber Sari sana jalan kaki?” tanyanya nampak keheranan dan tidak percaya.


 


“Iya nak, nenek ke sana pulang-pergi dengan berjalan kaki.” sahutnya.


 


“Puskesmas Sumber Sari kan jaraknya jauh dari sini nek, kenapa nenek gak naik ojek saja?, dari sini ke sana kan cuma Rp. 10.000.” ucapnya memberi saran kepada nenek Aminah.


 


Uang Rp 10.000 bagi nenek Aminah bukanlah sekedar “Cuma”. Uang dengan nominal sebesar itu bisa ia gunakan untuk membeli kebutuhan makan dirinya dan kedua cucunya satu hari.


 


Sedangkan untuk orang lain seperti halnya Bu Homsiah uang sebesar itu sudah tidak ada apa-apanya lagi karena memang mereka mampu mendapatkanya dengan mudah.


“Nenek masih kuat berjalan kaki, jadinya tidak perlu naik ojek.” kilahnya.


 


Kemudian nenek Aminah bertanya kembali kepada Bu Homsiah,


“Nak kalau boleh tahu nasi yang dijemur ini nantinya buat apa?” tanya nenek Aminah penasaran.


 


“Begini nek, dari pada nasi-nasi yang sering tersisa di rumah saya ini basi dan dibuang, lebih baik saya jemur supaya kering dan tidak jadi basi untuk nantinya dijadikan sebagai pakan ternak.


 


Kebetulan saya memelihara beberapa ekor bebek di belakang rumah.” jawabnya memberikan penjelasan.


 


“Jadi nasi ini dijemur supaya kering dan tidak basi untuk kemudian dijadikan pakan ternak bebak!” seru nenek Aminah.


 

__ADS_1


“Iya nek, lumayan kan bisa sedikit menghembat pengeluaran untuk pembelian pakan ternak bebek saya. Heeeeeeeee.” jawab Bu Homsiah sambil terbahak.


 


“Kalau nenek mau beli kira-kira berapa per kilogramnya nak?” tanya nenek Aminah.


 


“Ini gak saya jual nek.” jawab Bu Homsiah.


 


“Memangnya nenek mau beli nasi aking ini buat apa, punya ternak juga ya nek?” tanyanya.


 


“Heeeeeeeee,,,nenek tertarik untuk membeli saja nak. Lagian kan nak Homsiah ini punya banyak stok nasi seperti ini setiap harinya.” jawab nenek Aminah.


 


“Boleh juga nek, harganya saya tawarkan Rp. 3.000 per kilogram, gimana?” tanya bu Homsiah memberikan penawarkan.


 


Mendapat penawaran tersebut Nenek Aminah terlihat berpikir sejenak, lalu kemudian ia berkata,


“Harganya bisa turun tidak nak, nanti kan nenek akan langganan beli nasi aking di sini?” tanya nenek Aminah berusaha menawar.


 


“Ya sudah nek, harganya saya turunkan jadi Rp. 2.000 per kilogram. Bagaimana nek?” ujar bu Homsiah kembali memberikan penawarkan.


 


“Baiklah kalau begitu, nenek beli 10 kilogram ya nak.” tungkas nenek Aminah menyepakati harga yang ditawarkan oleh Bu Homsiah tersebut.


 


Kemudian bu Homsiah mengisikan 10 kilogram nasi aking ke dalam sebuah wadah karung dengan total harga Rp. 20.000, lalu nenek Aminah membayarnya dengan uang yang ia terima dari seseorang bernama bu Zubaedah yang telah berbaik hati memberinya uang ketika berada di puskesmas Sumber Sari beberapa waktu yang lalu. Setelah membayarnya nenek Aminah pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk pulang.


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2