
Sementara itu nenek Aminah yang harus berjalan kaki sejauh 300 meter pergi – pulang, ke dan dari puskesmas Sumber Sari akhirnya sampai juga di gubuknya. Dengan kondisi kecapekan karena telah berjalan jauh ditengah kondisi cuaca yang sangat terik dan kesehatannya yang kurang baik hari itu, ia kemudian menaruh setengah karung nasi aking yang ia beli dari Bu Homsiah yang ia bawa dengan cara digendong bak menggendong seorang anak kecil di punggungnya itu di teras depan rumahnya.
Nenek Aminah terlihat duduk-duduk di pelataran teras gubuknya itu untuk sejenak, sambil menghela nafas dan mengipas-ngipas wajahnya menggunakan tangan untuk mengusir rasa gerah sebelum masuk ke dalam gubuk miliknya tersebut.
Beberapa saat kemudian ia terlihat beranjak dari tempat duduknya itu lalu membuka pintu gubuknya tersebut dan membawa serta masuk setengah karung nasi aking yang ia beli di perjalanan pulang tadi ke dalam gubuk.
Setelah berada di dalam gubuk, barulah ia membuka karung tersebut dan bersiap-siap mengolah kembali nasi aking yang berada di dalamnya untuk dimakan.
Nenek Aminah terpaksa memasak nasi aking untuk dimakan bersama-sama dengan kedua cucunya lantaran ia sudah kehabisan uang untuk membeli beras yang harganya di toko-toko dan warung-warung kini sudah mencapai Rp. 9.000/kilogram.
Ia terpaksa mengganti beras dengan nasi aking lantaran harganya yang lebih murah ketimbang harga beras per kilogramnya. Bahkan nenek Aminah sudah 2 bulan belakangan ini menunggak pembayaran listrik karena uangnya tidak cukup.
Penghasilan nenek Aminah dari memulung yang semakin hari semakin berkurang dipengaruhi beberapa faktor. Selain faktor kesehatan, menurunnya jumlah rongsokan yang mampu ia kumpulkan terjadi karena kondisi cuaca yang tidak menentu.
Pagi ini terlihat cerah, ketika hari sudah beranjak sore bisa tiba-tiba turun hujan deras. Atau hari ini cerah dan besoknya tiba-tiba turun hujan. Beberapa hari belakangan ini terjadi perubahan cuaca yang tidak menentu di desa itu sehingga membuat hasil memulungnya berkurang.
Oleh karena itu nenek Aminah saat ini harus benar-benar mengencangkan ikat pinggannya lagi erat-erat supaya bisa bertahan hidup.
Selain itu nenek Aminah juga sudah merasa bahwa ia tidak bisa lagi memulung lantaran tubuhnya saat ini semakin melemah karena efek dari faktor usia dan cuaca itu tadi. Oleh karena itu, ia berharap persediaan 10 kilogram nasi aking yang ia beli dari Bu Homsiah dapat digunakan selama 1 minggu ke depan dan berharap kesehatannya akan kembali pulih seperti sedia kala sehingga bisa ikut memulung kembali seperti biasanya.
Seandainya ia tetap memaksakan untuk membeli beras yang harganya mahal, maka otomatis nenek Aminah dan kedua cucunya tidak bisa makan apapun di hari-hari selanjutnya karena tidak ada yang mencari uang lantaran ia sedang sakit dan tidak bisa ikut pergi memulung seperi biasanya.
Terlihat nenek Aminah mengambil satu liter nasi aking dari dalam karung dan kemudian memasaknya. Saat itu waktu sudah menunjukan pukul 12.30 Wib, itu artinya Tegar dan Aisyah sebentar lagi akan pulang dari sekolahnya.
Sekitar 1 jam kemudian terdengar samar-samar suara gaduh yang bersumber dari depan gubuk, suara tersebut tidak lain adalah suara dari Tegar dan Aisyah yang baru saja pulang dari sekolah hendak memasuki gubuk itu.
“Assalamualikum.” ucap Aisyah memberi salam keras-keras.
“Assalamualaikum.” ucap Tegar pula.
Sang nenek yang sedang berada di dapur, baru saja selesai memasak nasi dan membakar ikan asin untuk lauknya, langsung menjawab salam mereka,
“Waalaikum salam.” ucap sang nenek terdengar lemah.
__ADS_1
Setelah membuka sepatu mereka di depan pintu dan masuk ke dalam gubuk, Tegar terlihat langsung ke kamarnya untuk berganti baju sedangkan Aisyah malah langsung mendatangi sang nenek yang berada di dapur. Kemudian ia berkata,
“Nek, Aisyah sudah lapar.” ujar Aisyah sambil memegangi perutnya yang sudah mengeluarkan bunyi keroncongan itu.
“Iya..kalau sudah lapar makan saja nak. Ini sudah nenek siapkan makan siangnya, tapi kamu harus ganti baju seragam sekolah kamu dulu supaya tidak kotor.” jawab sang nenek.
“Pake apa lauknya nek?” tanya Aisyah penasaran.
“Pake ikan asin bakar.” jawab sang nenek.
“Huuaaaaaa,,,,” hela Aisyah nampak kecewa. Lalu ia pergi ke kamar untuk menganti bajunya itu.
Setelah selesai mengganti baju baik Aisyah maupun Tegar langsung menuju ke dapur dan siap-siap untuk makan siang bersama. Aisyah yang dari tadi sudah sangat lapar langsung buru-buru mengambil nasi dalam jumlah yang lebih banyak dari porsi biasanya ia makan, supaya rasa laparnya bisa hilang. Barulah sang kakak dan sang nenek terlihat mengambil nasi tersebut setelahnya.
Disuapkannya nasi tersebut ke dalam mulutnya namun ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan rasa nasi yang ia makan hari ini dibandingkan dengan rasa nasi yang biasa ia makan di hari-hari sebelumnya.
Merasa jikalau rasa nasinya aneh dan berbeda dari rasa nasi yang biasa ia makan, ia pun kemudian bertanya kepada sang nenek.
“Nek, ko rasa nasinya aneh?” tanya Aisyah.
“Nasinya ko tidak seenak biasanya.” jawab Aisyah protes.
Nampaknya keanehan tersebut dirasakan pula oleh sang kakak yaitu Tegar yang kemudian juga bertanya kepada
sang nenek.
“Iya nih nek, warnanya juga ko tidak putih seperti nasi yang biasa nenek masak?” tanya Tegar menambahkan.
Kemudian sang nenek pun menjawab pertanyaan kedua cucunya itu.
“Bagaimanapun bentuk dan rasa nasinya yang penting hari ini kita masih tetap bisa makan nasi kan nak.” jawab sang nenek coba menjelaskan.
“Tapi Aisyah gak suka memakannya.” ucap Aisyah mengeluh.
“Rasanya tidak enak.” tambahnya.
__ADS_1
“Iya, rasanya tidak enak. Memangnya ini beras apa sih nek?” tanya Tegar penasaran.
“Nasi ini nenek masak bukan dari beras nak, tapi dari sisa nasi yang dikeringkan atau yang biasa disebut nasi aking.” jawabnya menerangkan.
Kemudian ia melanjutkan kembali kata-katanya:
“Mulai hari ini kalian harus terbiasa makan nasi dengan rasa seperti ini.” ujarnya sang nenek menasehati.
“Tapi kenapa nek?” tanya Aisyah nampak tidak terima dengan keputusan sang nenek.
“Aisyah sayang, harga beras sekarang mahal. Uang nenek hanya cukup untuk membeli beras seperti ini. Apakah kalian mau makan nasi yang warnanya putih dan enak seperti dulu tapi tidak bisa makan untuk hari-hari berikutnya?” tanya sang nenek sambil terlihat nanar.
“Terlebih nenek hari ini sepertinya tidak bisa memulung karena nenek sedang tidak enak badan, sehingga kita terancam tidak punya uang untuk bekal bertahan hidup keesokan harinya.” tambahnya.
Mendengar hal tersebut Tegar dan Aisyah hanya terdiam. Mereka sadar bahwa sang nenek tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli beras dengan kualitas bagus.
Terlebih sekarang ia sudah tidak bisa ikut memulung bersama lagi dikarenakan kondisi kesehatannya yang sedang menurun.
Berdiri saja ia sudah mulai gemetar apalagi kalau harus pergi berjalan jauh untuk memulung rongsokan, hanya saja ia tetap paksakan memasak di dapur demi mempersiapkan makanan untuk kedua cucunya tersebut.
Setelah itu Aisyah nampak langsung menaruh piringnya yang berisi nasi aking dan ikan asin bakar itu ke bawah, tanpa menghabiskannya terlebih dahulu sehingga membuat sang nenek bertanya:
“Aisyah, kenapa makanannya tidak dihabiskan nak?” tanya sang nenek.
“Aisyah sudah kenyang nek.” ucap Aisyah terlihat dingin.
Tentu saja Aisyah tidak benar-benar sudah kenyang. Ia hanya beralibi bahwa dirinya sudah kenyang supaya sang nenek tidak mengkhawatirkannya. Padahal perutnya masih belum terisi penuh namun karena ia tidak suka dengan rasa nasinya yang aneh dan membuat selera makannya tidak ada itu, sehingga ia memutuskan untuk tidak menghabiskannya.
Berbeda dengan Aisyah, sang kakak yaitu Tegar, meskipun awalnya kurang suka dengan rasa nasi aking tersebut namun lama kelamaan ia pun tidak terlalu mempermasalahkannya.
Ia nampak dengan lahapnya memakan suap demi suap nasi aking dengan tambahan lauk berupa ikan asin bakar itu ke dalam mulutnya.
“Ya sudah kalau Aisyah sudah merasa kenyang langsung siap-siap untuk berangkat mulung sama kakak yak. Nenek hari ini tidak bisa ikut kalian memulung karena sedang tidak enak badan.” ujar sang nenek menjelaskan kembali alasannya tidak ikut memulung hari itu.
__ADS_1
***