Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku

Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku
Sang Nenek Menjadi Buruh Panen Padi Sementara Sang Cucu Memulung


__ADS_3

Di sisi lain Tegar dan Aisyah yang untuk pertama kalinya harus pergi memulung tanpa kehadiran sang nenek itu, nampak sedang berusaha mencari benda-benda rongsokan di sepanjang jalan yang mereka lalui.


 


Dengan membawa sebuah karung kecil mereka berjalan beriringan menelusuri setiap pojok tempat supaya dapat memenuhi karung yang mereka bawa dengan tumpukan barang-barang rongsokan yang mereka temui di tempat tersebut.


 


Ketika Tegar sedang sibuk mencari rongsokan tiba-tiba Aisyah berjalan menuju ke sebuah warung kecil di pinggir jalan yang berada tidak jauh dari tempat mereka memulung.


 


Ia kemudian duduk dan berdiam diri sambil memegang perutnya tepat di depan warung yang biasa menjual jajanan dan rokok yang saat itu nampak sedang di datangi oleh beberapa pembeli. Melihat sang adik bertingkah seperti itu, Tegar pun menghampirinya dan bertanya,


“Kamu ngapain duduk di sini dek?” tanya sang kakak.


 


Aisyah yang rupanya sedang kelaparan itu hanya cemberut dan enggan menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.


 


“Kamu kenapa?” tanya sang kakak untuk yang kedua kalinya sambil melihat ke arah perut sang adik yang dipeganginya terus.


 


“Aku lapar kak.” jawab Aisyah sambil memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan bunyi keroncongan yang terdengar nyaring.


 


“Bukannya kamu sudah makan tadi. Kakak juga dengar sendiri tadi waktu nenek tanya ke kamu apakah kamu sudah kenyang? kamu bilang sudah.” ujarnya.


 


“Sebenarnya Aisyah belum kenyang kak.” jawab Aisyah nanar sambil tetap memegangi perutnya.


 


“Kenapa kamu bilang sudah kenyang tadi?” tanya sang kakak kesal.


 


“Aisyah tidak suka rasa nasinya, jadi Aisyah gak mau makan. Oleh karena itu Aisyah bilang sudah kenyang padahal belum.” ujarnya menjelaskan sambil terlihat matanya mulai berkaca-kaca.


 


“Kakak juga tidak suka tapi kakak tetap makan.” selanya.


 


“Terus gimana dong kak, Aisyah lapar.....huuuuuuuuuuuuuuuu.” seru Aisyah mulai menangis.


 


“Ya sudah itu salah kamu sendiri. Kakak tidak mau tahu.” ucap sang kakak geram.


 


“Huuuuuuuuuuuuuuuu,,,Aisyah lapar kak.” rintih Aisyah kelaparan.


 


“Bodo.” sahut sang kakak tidak mau peduli.


 


Nampaknya Aisyah kesal dengan sikap sang kakak yang tidak mempedulikan dirinya yang sedang kelaparan itu sehingga ia pun memukul tubuh sang kakak agak kencang.


“Ouhhhh,,,huuuuhuuuuuuu..” jeritnya sambil memukul sang kakak.


 


Mendapat perlakuan kasar dari sang adik yang sedang marah itu Tegar terlihat membiarkannya dan tidak membalasnya. Ia membiarkan Aisyah memukulnya karena ia tahu sang adik bukan bermaksud menyakitinya.


 


Tanpa disadari kejadian tersebut ternyata diperhatikan oleh salah seorang pembeli di warung tersebut yang kebetulan sedang membeli rokok dan satu bungkus roti yang dijual di warung itu.


 


Karena merasa kasihan melihat ada seorang anak kecil perempuan menangis sambil memukul-mukul sang kakak, ia pun kemudian bertanya,


“Kenapa kamu dek, ko menangis?” tanya seorang laki-laki berusia 24 tahunan bernama Rizal.


 


“Huuuuuhuuuuuuu......hhhhhhhhhh.” tangisan Aisyah semakin menjadi.


 


“Dimana orang tua kalian?” tanya Rizal.


 


“Gak ada.” jawab Tegar.


 


“Huuuu....huuuuuuu.......kak Aisyah lapar.” ujar Aisyah sambil terus terisak.


 


“Dek,,kenapa nangis?” tanya Rizal kepada Aisyah.


 


“Adek mau roti gak, nih om kasih adek roti tapi cuma satu. Dibagi dua yak sama kakaknya.” Ujar Rizal sambil mengasongkan sebungkus roti kepada Aisyah.


 


“Terimaaa huuuhhuuuhhuuhuuhh kasih,,huuu.” ucap Aisyah sambil mengambil roti tersebut dan nampak mulai menghentikan tangisannya.


 


Orang tersebut kemudian pergi meninggalkan Tegar dan Aisyah di tempat itu. Setelah itu Tegar dan Aisyah melanjutkan kembali perjalanan mereka untuk mengumpulkan barang-barang rongsokan.


 


Aisyah yang tadi menangis karena merasa lapar kini sudah lebih tenang karena makan sebungkus roti pemberian seseorang bernama Rizal tadi. Namun ternyata sang kakak diam-diam juga menginginkan roti tersebut. Ia pun berkata,


“Dek,,,,bagi dong kakak rotinya sedikit.” pinta sang kakak.

__ADS_1


 


“Enggak...om itu kan ngasih rotinya ke Aisyah.” jawab Aisyah menolak berbagi dengan kakaknya itu.


 


“Iya, tapi kan kata om yang tadi rotinya buat dibagi dua.” ucapnya berusaha membujuk sang adik.


 


“Kakak, Aisyah kan lapar.” timpal Aisyah merengek.


 


“Kakak juga lapar Aisyah.” Jawab sang kakak.


 


“Kakak kan tadi siang makannya banyak sedangkan Aisyah enggak.” Sahutnya.


 


“Ya, tapi sekarang kakak lapar lagi.” tungkasnya.


 


“Ya sudah nih saya kasih kakak rotinya separuh.” ujar Aisyah yang akhirnya mau berbagi dengan sang kakak.


 


Maka diberikannya separuh roti itu kepada sang kakak dan sang kakak pun berucap”


 


“Asyik,,terimakasih Dek.” ucap Tegar berterima kasih.


 


“Heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee.” Seru Aisyah kembali tersenyum ceria.


 


Tak terasa hari pun sudah mulai petang. Setelah berkeliling ke beberapa tempat akhrinya Tegar dan Aisyah memutuskan untuk menyudahi rutinitas memulungnya hari itu. Mereka pun kemudian bergegas kembali pulang ke gubuk.


 


Setibanya di gubuk seperti biasa terlebih dahulu mereka akan menaruh hasil memulungnya di bagian gudang belakang gubuk lalu setelah itu mereka pun masuk ke dalam gubuk sambil mengucapkan salam yang sudah menjadi kebiasaan mereka sehari-hari ketika hendak memasuki dan meninggalkan gubuk tersebut kepada sang nenek yang berada di dalam gubuk itu,


“Assalamualaikum, nenek kami pulang.” teriak Tegar dan Aisyah kompak.


 


“Waalaikum salam.” jawab sang nenek dari arah kamarnya.


 


“Nek,,nenek di mana?” tanya Aisyah.


 


“Nenek ada di tempat tidur nak.” Jawabnya dengan suara lemah.


 


“Nek kenapa di sini gelap. Lampunya mati ya nek?” tanya Tegar kepada sang nenek.


 


“Iya nak lampunya mati, mungkin sedang pemadaman bergilir.” sahut sang nenek mencoba menyembunyikan kebenaran tentang pemutusan arus listrik oleh PLN.


 


“Supaya terang nenek sudah siapkan lampu minyak di dapur. Tegar tolong ambilkan lampu minyaknya ya nak dan bawa ke sini.” perintah sang nenek.


 


“Baik nek.” Jawab tegar yang langsung bergegas ke arah dapur untuk mengambil lampu minyak yang dimaksud sang nenek.


 


“Cuma ada satu yak nek. Yang di dekat tempat nasi aja.” tanya Tegar memastikan setelah ia berada di area dapur.


 


“Ada dua ko, yang satu lagi nenek taruh di dekat perapian.” jawab sang nenek.


 


“Iya nek baru ketemu.” sahut Tegar.


 


“Bawa dua-duanya ke sini ya nak. Jangan lupa juga bawa serta korek apinya.” perintah sang nenek.


 


“Baik nek.” tungkas Tegar.


 


Tegar kemudian datang ke kamar sang nenek dengan membawa dua lampu minyak lalu menyalakannya bersama-sama dengan sang adik. Setelah kedua lampu minyak itu dinyalakan maka gubuk kecil yang tadi kondisinya gelap gulita akhirnya kembali terang walaupun sealakadarnya.


 


Sebelum pergi tidur, mereka tidak lupa untuk terlebih dahulu mengerjakan PR. Di tengah remang-remangnya cahaya lampu minyak, Tegar dan Aisyah berusaha mengerjakan PRnya masing-masing dengan penuh semangat. Setelah selesai mengerjakan PR, Tegar lantas membawa salah satu lampu minyak tersebut untuk ditaruh di kamarnya sedangkan lampu minyak yang satunya lagi dibiarkan tetap di kamar tersebut, yang biasa digunakan nenek dan adiknya untuk tidur.


 


Hari demi hari mereka lalui dengan penuh perjuangan dan air mata. Aisyah yang awalnya tidak suka makan dengan nasi aking kini ia terlihat lahap menyantap nasi itu tanpa mengeluh lagi.


 


Sementara itu sang nenek yang seharusnya beristirahat malah tetap memaksakan diri untuk ikut kerja memanen padi di sawah milik bu Rosidah. Setiap hari setelah Tegar dan Aisyah berangkat ke sekolah, nenek Aminah langsung bergegas pergi ke sawah untuk bekerja memanen padi milik tetangganya tersebut yang dimulai sejak pukul 06.00 wib sampai dengan pukul 12.00 wib. Ia menawarkan diri bekerja sebagi buruh panen padi supaya tetap bisa mendapatkan penghasilan tambahan.


 


Karena kalau menjadi buruh panen padi, ia tidak perlu berjalan jauh menyusuri sudut-sudut desa sedangkan kalau memulung ia harus berjalan jauh dan harus kuat memikul hasil rongsokan yang telah ia kumpulkan ketika memulung untuk dibawa pulang ke gubuknya.


 


Sedangkan kondisi kesehatannya tak kunjung membaik walaupun ia selalu rutin minum obat yang diberikan oleh Dokter puskesmas Sumber Sari. Meskipun demikian hasil dari bekerja sebagai buruh panen padi yang berupa pembagian ¼ dari hasil panen yang para buruh panen padi peroleh itu baru bisa dibagikan setelah masa panen selesai.

__ADS_1


 


Satu hari ketika para buruh panen padi yang terdiri dari 4 orang diantaranya: Bu Jamilah, Bu Euis, Bu Lilis dan nenek Aminah itu sendiri, sedang beristirahat sejenak dari aktivitas memanen padinya.


 


Salah seorang dari mereka yang bernama Bu Lilis melihat nenek Aminah yang memanfaatkan waktu istirahatnya hanya untuk sekedar berteduh dan minum air putih saja tanpa makan seperti halnya dirinya dan buruh panen padi yang lainnya yang setiap hari selalu membawa bekal makanan ke tempat tersebut, sehingga ia kemudian berinisiatip untuk menegur nenek Aminah dan mengajaknya untuk makan bersama.


 


“Nek ke sini....istirahatnya di sebelah sini bareng-bareng saya.”ajak Bu Lilis sambil melambai-lambaikan tangannya kepada nenek Aminah.


 


Kemudian nenek Aminah pun berjalan menghampiri Bu Lilis yang sedang berteduh di bawah saung sederhana beratapkan jerami yang ada di lokasi tersebut.


“Nenek bawa makanan tidak?” tanya Bu Lilis.


 


“Tidak nak.” jawabnya


 


“Ya sudah kalau begitu kebetulan hari ini saya membawa bekal makanan lebih, jadi ayo kita makan bareng-bareng di sini.


 


Silahkan dimakan nek.” ujar Bu Lilis menawarkan dan mempersilahkan nenek Aminah makan.


 


“Terimakasih nak.” jawab nenek Aminah.


 


Kemudian Bu Lilis berinisiatip memulai percakapan dengan nenek Aminah terlebih dahulu,


 


“Sudah dapat berapa karung padi nih yang berhasil nenek kumpulkan dari hari pertama sampai hari ini?” tanya Bu Lilis kepada nenek Aminah.


 


“Heheheh..nenek baru dapat sedikit nak. Maklum tenaga nenek sudah lemah.” jawab nenek Aminah sambil terkekeh nampak enggan memberitahukan berapa karung pastinya hasil panen padi yang telah ia peroleh.


 


“Kalau nak Lilis sendiri sudah mengumpulkan berapa karung?.” Nenek Aminah balik bertanya.


 


“Baru 3 karung nek.” jawabnya.


 


“Enak yak kalau masih muda seperti nak Lilis ini, tenaganya masih kuat sehingga bisa cepat dapat banyak panennya.” ujar sang nenek kagum.


 


“Iya nek, mumpung masih kuat heeeeee.” jawab Bu Lilis sambil tertawa.


 


Kemudian ia kembali menawarkan nenek Aminah untuk mengambil lagi makanan yang dibawanya yakni berupa lemper dan pisang goreng,


 


“Ayo nek silahkan dimakan lagi jangan sungkan-sungkan.” suruh Bu Lilis.


 


“Terima Kasih.” jawabnya singkat.


 


Lalu Bu Lilis kembali mulai bertanya,


“Bagaimana kabar cucu nenek, Aisyah dan Tegar. Sudah kelas berapa mereka sekarang?” tanyanya.


 


“Aisyah sudah kelas 3 SD, kalau Tegar sudah kelas 6 SD.” jawab nenek Aminah.


 


“Wah sudah mau lulus dong nek Tegar sekolahnya.” ucapnya.


 


“Iya ya..nenek baru sadar. Haduh sudah tua memang suka pikun heeeeee.” ucap nenek Aminah kembali terkekeh.


 


“Ngomong-ngomong bagamana kabar anak nenek si Nur. Sudah diketemukan belum Nek?” tanyanya penasaran.


 


“Belum nak, Entah lah nenek sudah pasrah dengan nasib Nurhayati sekarang.” sahut nenek Aminah nampak pasrah.


 


“Yang tabah ya nek pasti dibalik ini semua nanti akan ada hikmahnya buat nenek dan keluarga.” tungkasnya.


 


“Iya nak termakasih.” ucap nenek Aminah.


 


Setelah cukup beristirahat mereka pun kemudian melanjutkan kembali aktivitas memanen padinya hari itu. Tak terasa kini nenek Aminah dan teman-teman buruh panen padi yang lainnya sudah sekitar 5 hari bekerja menjadi buruh panen padi di sawah milik Bu Rosidah.


 


Kalau tidak ada aral melintang, panen padi tersebut akan selesai 2 hari lagi. Itu artinya mereka akan segera mendapatkan hasil dari kerja kerasnya selama menjadi buruh panen padi.


 


Sementara itu hasil dari memulung yang berhasil dikumpulkan oleh Tegar dan Aisyah selama nenek Aminah tidak ikut bersama mereka yang sudah berlangsung selama 6 hari, setelah ditimbang terkumpul total berjumlah 40 kilogram dengan harga jual per kilogramnya Rp. 2.000. Setelah dijual ke pengepul ternyata hanya menghasilkan uang sebesar Rp. 80.000 saja. Itu pun telah habis untuk membeli lauk pauk sederhana sehari-hari.


 

__ADS_1


***


__ADS_2