Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku

Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku
Episode 3 - Antara Sekolah dan Memulung


__ADS_3

Setibanya di sekolah, Tegar dan Aisyah langsung masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Di kelasnya baik Tegar maupun Aisyah adalah murid yang sama-sama tidak terlalu menonjol. Meskipun demikian setiap kali pembagian raport mereka selalu mendapatkan rangking 10 besar. Di dalam kelas mereka masing-masing,baik Tagar maupun Aisyah sama-sama agak dijauhi oleh teman-teman kelasnya.


 


Mungkin karena pakaian mereka yang terlihat paling kumel diantara pakaian teman-teman sekelas mereka yang lain, membuat teman-teman sekelasnya itu enggan berteman dengan Tegar dan Aisyah. Setiap kali jam istirahat tiba, di saat teman-temannya yang lain asyik jajan dan makan-makan, mereka hanya duduk di dalam kelas menanti jam istirahat berakhir atau jika mereka bosan, mereka akan pergi berjalan-jalan ke depan kelas untuk sekedarmelihat teman-temannya bermain.


Sering kali tidak ada satu orang pun yang mau mengajak mereka bermain bersama sehingga mereka hanya bisa menjadi penonton saja.


Siang itu ketika semua teman-teman wanita Aisyah sudah beristirahat makan siang sementara ia masih ada di dalam kelasnya, tiba-tiba datang 3 orang teman kelasnya yang laki-laki sambil terlihat memakan Es lilin. Mereka bertiga terdiri dari Hasan, Udin dan Wawan. Aisyah nampaknya tergiur untuk membeli Es lilin yang sama seperti yang teman-temannya itu sedang makansehingga ia terus memperhatikan mereka dari bangkunya.


Ketika ia sedang asyik memperhatikan teman-temannya itu memakan Es lilin, tiba-tiba salah satu dari mereka melihat ke arah Aisyah dan kemudian berkata,


“Hai Aisyah ngapain kamu lihat-lihat ke sini? Mau yak,...haaaaaaaaaa!” celoteh salah satu teman kelas laki-lakinya itubernama Hasan.


 


“Siapa yang lihat-lihat kalian, aku tadi cuma kebetulan aja melihat ke arah sana. Huh!” jawabnya mencoba mengelak.


Kemudian Aisyah mencoba meraba-raba saku roknya dan ternyata ia menemukan uang Rp. 1.000 di dalam saku roknya tersebut. Ia lantas ingat kalau uang tersebut adalah uang pemberian dari sang nenek tadi pagi sebelum ia berangkat ke sekolah.


Tanpa berpikir panjang lagi ia pun segera meninggalkan ruang kelasnya dan berlari menuju penjual Es lilin yang berada di depan gerbang sekolahnya itu. Perlahan-lahan ia mendekati tukang Es lilin tersebut dan kemudian bertanya:


“Pak harga Es lilinnya berapa?” tanya Aisyah malu-malu.


“Harganya Rp. 2.000 Dek,” jawab tukang Es lilin tersebut.


Ternyata uang yang ia punya belum lah cukup untuk membeli sebatang Es lilin tersebut. Namun ia tidak kehabisan akal, ia pun bergegas meninggalkan tukang Es tersebut dan memutuskan untuk mendatangi sang kakak. Ia kemudian mencari kakanya di ruangan kelas 6. Akan tetapi setibanya ia di kelasnya sang kaka, ternyata Tegar sedang tidak berada di tempat. Ia sempat menunggu sang kakak di tempat itu untuk beberapa saat hingga akhirnya ia mendapati kakanya itu sedang berada di salah satu sisi lapangan yang berada di depan kelasnya, sedang asyik menyaksikan teman-temannya bermain bola.


Dengan wajah sumringah Aisyah pun berlari menghampiri sang kakak,


“Kak,,,kakak.” tegur Aisyah.


“Ada apa?” tanya Tegar.


“Kakak sedang apa di sini?” tanya Aisyah berbasa-basi terlebih dahulu kepada kakaknya itu.

__ADS_1


“Kakak lagi nonton taman-taman kakak yang sedang bermain bola.” jawabTegar.


“Kenapa kakak tidak ikutan main bola bareng sama teman-teman kakak?” tanyanya lagi.


“Kakak gak diajakin sama mereka jadinya kakak gak bisa ikut main.” sahut Tegar nampak kecewa.


“Eh,,,ka aku punya uang Rp. 1.000 dari nenek nih.” ujar Aisyah sambil menunjukan selembar uang kepada kakaknya itu. “Kakak dikasih juga kan tadi?” tanyanya.


Kemudian Tegar pun meraba-raba saku celananya dan ternyata ia juga baru ingat kalau hari ini ia diberi uang oleh sang nenek dengan jumlah yang sama dengan jumlah uang yang diberikan kepada sang adik,


“Iya,,kakak juga ada nih.” jawab Tegar sambil menunjukan uang sebanyak satu lembar nominal seribu rupiah.


“Eh kak, kita beli Es lilin yuk di sebelah sana. Harganya itu tadi kata penjualnya Rp. 2.000, Aisyah kan punya uang Rp 1.000 dan kakak punya uang Rp. 1.000 jadi kita gabungin uang kita buat beli ES lilinnya. Nanti kita bagi dua deh, gimana kak?.” ujar Aisyah menyampaikan idenya.


“Ayo.!” jawab Tegar langsung menyetujui ide dari sang adik.


Mereka pun lantas pergi untuk membeli sebatang Es lilin yang dijual oleh seorang pedagang di depan gerbang sekolah.


 


Setibanya Aisyah di dalam kelasnya ternyata bangku miliknya sedang diduduki oleh Fitri, salah satu teman sekelasnya yang sedang asyik bermain boneka Barbie dengan teman-teman kelasnya yang lain yang biasa duduk di bangku yang berada tepat di belakang bangku yang ditempati olehnya. Aisyah kemudian berjalan perlahan-lahan menghampiri mereka yang terlihat sedang asyik bermain boneka Barbie bersama-samaitu.


Mereka semua terdiri dari empat orang anak perempuan sebaya dengannya diantaranya ada Fitri, Linda, Agisni dan Fatimah.


Aisyah nampak segan menegur Fitri untuk meminta agar tempat duduknya tidak ditempati olehnya sehingga ia hanya terdiam dan berdiri saja sambil memperhatikan teman-temannya itu asyik bermain boneka, sampai salah seorang dari mereka menyadari keberadaannya di tempat itu dan berkata,


“Eh,,Aisyah…!” seru Fatimah yang tidak lain adalah teman sebangkunya.


Lantas teman-temannya yang lain pun menoleh ke arah Aisyah,


“Maaf ya Aisyah bangkunya saya pakai dulu.” ujar Fitri langsung meminta izin.


“Iya gak apa-apa, duduk saja.” jawab Aisyah merelakan bangukunya ditempati untuk sementara oleh teman sekelasnya itu.


Kemudian terdengar Fatimah berkata,

__ADS_1


“Aisyah  kamu mau ikutan gak main Barbie bareng sama kami?” ajaknya.


“Aku tidak punya boneka Barbienya.” jawab Aisyah.


“Ya iyalah boneka Barbie kan harganya mahal, mana bisa Aisyah membelinya.” sahut Linda yang tiba-tiba mensela pembicaraan antara Aisyah dan Fatimah.


“Minta dibeliin aja sama Ibukamu Aisyah.” ucap Agisni memberi saran.


“Aku juga minta sama Ibuku untuk dibelikan boneka Barbie dan besoknya Ibuku langsung membelikannya untukku.” tungkasnya menambahkan.


“Tapi Ibu Aisyah...,” Ujar Aisyah ragu, sambil terlihat bingung ingin menjawab apa kepada temannya itu.


“Ibukamu kenapa?” tanya Agisni.


“Aisyah tidak tahu di mana Ibu Aisyah berada sekarang, yang ada cuma nenek!” jawab Aisyah menjelaskan.


 “Ya minta dibeliin aja sama nenek kamu, gampang kan!” ucap Linda ketus.


Mendengar ucapan dari temannya itu Aisyah hanya bisa terdiam dan tidak bisa lagi berkata apa-apa untuk menjawabnya. Ia sadar tidak mungkin meminta sang nenek membelikannya boneka Barbie yang harganya lumayan mahal itu sementara untuk membeli makanan sehari-hari saja mereka masih kesusahan.


“Hei,,ayo kita lanjutkan lagi main Barbienya sebelum jam istirahat berakhir nih.” ujar Agisni kepada teman-temannya itu.


“Ayo.” jawab yang lainnya kompak.


Mereka kemudian melanjutkan aktivitas bermain Barbinya sementara Aisyah memilih untuk duduk di bangku milik temannya yang lain yang masih kosong karena belum kembali ke dalam kelas itu, sambil terus memperhatikan ke tiga temannya tersebut bermain boneka Baribie dari bangku itu.


Beberapa jam kemudian, bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Seperti biasanya ketika pulang sekolah,Tegar dan Aisyah selalu saling menunggu satu sama lain di depan gerbang sekolah untuk pulang bersama. Jarak antara rumah mereka ke sekolah cukup jauh sehingga mereka tidak berani kalau harus pulang sendiri-sendiri.


Mereka setiap hari harus berjalan kaki pulang dan pergi ke sekolah yang membutuhkan waktu untuk sampai di tujuan sekitar 1 Jam perjalanan. Walaupun demikian mereka tetap bersemangat untuk pergi ke sekolah setiap harinya.


Bagi mereka jarak bukanlah halangan untuk tetap pergi ke sekolah bahkan mereka nampaknya sudah terbiasa berjalan jauh karena bisa dipastikan mereka melakukan hal tersebut setiap hari baik ketika pergi - pulang sekolah atau pun ketika pergi - pulang memulung.


 


***

__ADS_1


__ADS_2