Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku

Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku
Listrik di Rumah Nenek Aminah Dimatikan oleh Petugas PLN Karena Menunggak Bayar


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siangnya, Tegar dan Aisyah langsung pergi memulung tanpa ditemani oleh sang nenek karena hari itu sang nenek sedang sakit. Sesaat setelah kedua cucunya pergi dari gubuk itu untuk memulung, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu gubuk kecil miliknya itu. “Tok...tok...tok..tok..tok” Terdengar suara seseorang mengetuk pintu dari bagian luar gubuk.


Mendengar pintu gubuknya ada yang mengetuk dari arah luar, nenek Aminah yang sedang beristirahat di tempat tidur sehabis meminum obat yang ia dapat dari puskesmas pagi tadi, berusaha bangkit dari tempat tidurnya itu dan berjalan menuju ruang tengah untuk segera membukakan pintu.


Ketika pintu gubuknya itu ia buka, sudah nampak di hadapannya seorang laki-laki berseragam dinas yang mengaku sebagai pegawai PLN setempat. Orang tersebut bernama pak Hadi berusia sekitar 46 tahunan.


“Dengan nenek Aminah?” tanya petugas tersebut sambil melihat sebuah catatan kecil yang ia bawa di tangannya.


 


“Iya betul, ada apa nak?” Nenek Aminah balik bertanya.


 


“Saya petugas dari PLN datang ke sini mau menagih tunggakan listrik atas nama nenek.” ujarnya menjelaskan maksud kedatangannya itu.


 


“Oh,,,dari PLN.” sahut sang nenek sedikit kaget.


 


Petugas PLN tersebut nampak mencari-cari kwitansi listrik milik nenek Aminah yang tertumpuk dengan kwitansi-kwitansi lain milik warga yang ia bawa di tangannya.


“Ibu,,Asiah,,,Ibu Aidah,,ibu Ani.!” Gumam Bapak petugas PLN tersebut terdengar mengeja satu persatu nama yang tertera di kwitansi yang ia pegang lalu kemudian ia menemukan kwitansi milik nenek Aminah yang ia cari-cari itu.


 


“Nah ketemu A.M.I.N.A.H..Ini nek kwitansinya. Di sini tercatat nenek sudah 2 bulan belakangan ini menunggak bayar tagihan listrik. Bagaimana nek apakah mau sekalian dilunasi sekarang bersamaan dengan tagihan listrik bulan ini yang total keseluruhannya menjadi sebesar Rp. 60.000?” tanya sang petugas PLN tersebut sambil kemudian memberikan sejumlah kwitansi kepada nenek Aminah.


 


Diambilah sejumlah kwitansi tersebut dari tangan sang petugas PLN itu yang ternyata ada 3 lembar dengan jumlah tagihan per lembarnya masing-masing Rp. 20.000.


“Nenek masih belum punya uang nak jadi belum bisa bayar sekarang.” ujar nenek Aminah kepada petugas PLN itu dengan wajah pucat pasi.


 


“Kalau begitu dengan sangat terpaksa kami akan memutuskan aliran listrik ke rumah nenek sampai nenek melunasi tunggakannya.” sahut petugas PLN tersebut mengancam nenek Aminah secara halus.


Nenek Aminah langsung terdiam beberapa saat untuk berpikir sejenak, kemudian ia menjawab,


“Ya,,,mau bagaimana lagi, kalau memang harus diputus aliran listriknya nenek ikhlas saja Nak.” jawabnya pasrah.


 


“Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu Nek. Mohon maaf mulai hari ini aliran listrik ke rumah Nenek kami putus. Terimakasih atas waktunya, saya pamit dulu.” tungkasnya sambil kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


 


Beberapa jam kemudian aliran listrik yang menerangi gubuk kecil milik nenek Aminah itu pun sudah benar-benar diputus oleh PLN sehingga ia terpaksa harus mempersiapkan sebuah lampu minyak sebagai penerangan gubuk mereka di waktu malam.


 


Nenek Aminah kemudian pergi ke warung yang berada tidak jauh dari gubuknya tersebut berencana untuk berutang guna mendapatkan 4 liter minyak tanah yang berharga Rp. 5.000/liter untuk diisikan ke dalam lampu minyak yang akan menjadi sumber penerangan di gubuknya mulai hari itu.


 


Dengan membawa sebuah jerigen berukuran sedang, ia pun pergi menuju warung yang berada tidak jauh dari gubuknya. Warung yang dimaksud adalah warung milik Bu Rosidah 36 tahun. Selain punya sebuah warung, dia juga memiliki lahan persawahan yang sudah mulai dipanen.


 


Sesampainya di warung tersebut, nenek Aminah kemudian bertanya kepada penjaga warung yang merupakan anak dari Bu Rosidah itu sendiri bernama Ulfah, 12 tahun seumuran dengan Tegar namun bersekolah di tempat yang berbeda, yang saat itu sudah pulang dari sekolahnya dan kebetulan sedang menjaga warung tersebut.


“Assalamualaikum, ada minyak tanah nak?" tanya nenek Aminah.


 

__ADS_1


"Ada nek, mau beli berapa liter?” tanya Ulfah.


 


"4 liter tapi ngutang dulu gak apa-apa nak?" tanya nenek Aminah kembali.


 


"Sebentar ya nek saya tanya Ibu saya dulu. Buuuuuu....." terdengar Ulfah berteriak memanggil sang Ibu yang berada tidak jauh dari tempat itu.


 


"Ada apa nak manggil-manggil Ibu!" Seru sang ibu sambil terlihat berjalan mendekati sang anak yang sedang berjaga di warungnya itu.


 


Sesampainya sang Ibu di warung miliknya itu, Ulfah kemudian berkata,


 


"Ini Bu, nenek Aminah mau beli 4 liter minyak tanah tapi ngutang dulu katanya." ujar Ulfah menjelaskan.


 


Kemudian nenek Aminah menyela percakapan mereka dan berkata,


"Boleh tidak kalau nenek ngutang dulu, nanti setelah nenek punya uang langsung nenek bayar utangnya?" tanya nenek Aminah terlihat memelas.


 


"Bagaimana Bu?.” tanya Ulfah yang terlihat bingung harus menjawab apa kepada nenek Aminah itu.


 


“Buat apa sih nek ngutang minyak tanah banyak-banyak?” tanya Bu Rosidah ketus.


 


 


“Memangnya kenapa nek, kemarin-kemarin saya lihat sekilas gubuk nenek masih ada lampunya.” ujar Bu Rosidah.


 


“Iya kalau kemarin memang masih ada, tapi hari ini sudah mulai diputus sama petugas PLNnya nak.” jawabnya.


 


“Kenapa diputus nek?” tanyanya penasaran.


 


“Ya,,karena nenek sudah nunggak tidak bayar listrik selama 3 bulan termasuk bulan ini.” jawab nenek Aminah menjelaskan.


 


Merasa kasihan dengan nenek Aminah, akhirnya hati Bu Rosidah pun melunak, ia lantas membolehkan nenek Aminah untuk berutang di warungnya itu.


 


"Ya sudah gak apa-apa, bisa ko. Nenek bisa ngutang dulu di sini." tungkasnya.


 


Terlihat setelah dari bagian jerigen yang dibawanya telah terisi oleh minyak tanah. Nenek Aminah kemudian bertanya kepada Ibu Rosidah.


 

__ADS_1


“Sudah mulai panen ya nak?” tanyanya.


 


"Iya nek, baru saja kemarin mulai panennya." sahutnya.


 


"Ngajak siapa saja buat bantuin panennya nak?” tanyanya kembali.


 


"Ngajak Bu Jamilah, Bu Euis sama Bu Lilis nek." Jawab Bu Rosidah sambil menyebutkan satu per satu nama orang-orang yang dipekerjakan untuk menjadi buruh panen padi di sawah miliknya.


 


"Kira-kira boleh tidak kalau nenek ikut bantuin nak Rosidah panen padi?" tanya nenek Aminah berharap diajak.


 


Mendengar pertanyaan tersebut, Bu Rosidah malah balik bertanya kepadanya,


 


"Memangnya nenek masih kuat bekerja memanen padi di sawah?" tanyanya.


 


"Masih..nenek masih kuat." jawab nenek Aminah mencoba meyakinkan Bu Rosidah.


 


"Kalau begitu nenek boleh ko ikut bantu panen bareng-bareng buruh panen padi yang lain. Besok langsung saja nenek turun ke sawah saya di sebelah sana buat ngaritin (memotong) padi." ujarnya menginstruksikan.


 


"Jam berapa nenek harus datangnya nak?" tanya nenek Aminah kembali.


 


"Kami biasanya mulai panen dari pagi sekitar pukul 06.00 wib sampai siang pukul 12.00 wib, jadi nenek kalau bisa pukul 06.00 wib sudah ada di sawah saya yak!." serunya.


 


"Kalau boleh tahu kira-kira berapa lama masa panennya berlangsung nak?" Nenek Aminah kembali bertanya.


 


“Seselesainya saja nek. Paling juga satu minggu." jawab Bu Rosidah.


 


"Kalau nenek mau, sebagai upahnya nanti nenek akan dapat pembagian hasil 1/4 dari hasil panen yg nenek kumpulkan?" ucapnya menambahkan.


 


Kemudian ia kembali berujar,


“Tapi kami tidak menyiapkan makan ya nek, sehingga nenek harus bawa sendiri dari rumah." tungksanya.


 


"Iya nak gak apa-apa, terimakasih sebelumnya ya nak Rosidah." ucap nenek Aminah terlihat gembira.


 


***

__ADS_1


__ADS_2