Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku

Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku
Episode 2 - Suatu Malam di Sebuah Gubuk Derita


__ADS_3

Suatu Malam di Sebuah Gubuk Derita


 


Mentari perlahan-lahan sudah mulai terbenam di upuk barat. Warna-warni lembayung yang terlukis indah di langit sore kampung Cijambu itu. Dengan perlahan-lahan nampak area kampung tersebut mulai diselimuti oleh kegelapan malam. Kemudian seketika terdengar riuh rendah suara adzan magrib yang berkumandang dari masjis-masjid yang ada di sekitar pemukiman tersebut mengingatkan para kaum muslimin dan muslimat untuk segera mendirikan sholat serta mengagungkan nama sang penciptanya. Malam pun mulai tiba dan kini saatnya mereka beristirahat di peraduannya.


 


Ketika malam sudah tiba, sang nenek selalu mengingatkan kedua cucunya itu untuk belajar dan jangan lupa mengerjakan PR seandainya diberi PR dari sekolah, sebelum mereka tidur.


 


Sepertinya kali ini Tegar dan Aisyah tengah memiliki PR dari gurunya masing-masing sehingga mereka berdua nampak masih khusuk belajar bersama di area ruang tengah gubuk tersebut yang masihmenggunakan lampu pijar sebagai penerangannya.


Walaupun penerangan di ruang tengah tersebut tidak maksimal karena masih menggunakan lampu pijar bukan lampu neon yang sinarnya bisa lebih terang, namun tidak menyurutkan semangat Tegar dan Aisyah untuk giat belajar di waktu malam hari, satu-satunya waktu dimana Tegar dan Aisyah punya kesempatan untuk membuka kembali buku-buku pelajarannya.


Tegar selalu berusaha membantu sang adik untuk mengerjakan PRnya namun apabila ia kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari sang adik berkenaan dengan PRnya itu, ia akan menanyakan hal tersebut kepada neneknya. Sang neneklah yang selama ini menjadi guru pembimbing mereka ketika berada di gubuk.


Untungnya nenek Aminah sangat sabar dan telaten dalam mengajari kedua cucunya tersebut. Sehingga apapun pertanyaan yang ditanyakan oleh kedua cucunya itu akan berusaha dijawab sebisa mungkin olehnya.


Saat ini Tegar sudah duduk di bangku kelas 6 SD yang artinya ia sebentar lagi akan menghadapi ujian nasional dan kelulusan sekolah, sementara Aisyah masih duduk di bangku kelas 3 SD. Mereka berdua bersekolah di sekolah yang sama yang letaknya lumayan jauh yaitu sekitar 500 meter dari tempat mereka tinggal sekarang itu. Nama sekolahnya adalah SDN 1 Karangkulon.


Mereka bisa bersekolah di sana karena memang sekolah tersebut sudah digratiskan oleh pemerintah daerah. Hanya, selalu saja ada biaya-biaya tambahan yang dibebankan oleh pihak sekolah kepada murid-muridnya berupa pembelian LKS, seragam olahraga, iuran untuk acara-acara tertentu dll.


Sementara untuk biaya SPP, sudah 100 persen ditanggung oleh pemerintah daerah sehingga sudah tidak dibebankan lagi kepada orang tua murid.


 


Mereka bersekolah di tempat itu dari hari senin sampai hari sabtu dimulai sejak pukul 07.00 Wib– 12.00 Wib. Dan untuk waktu istirahat makan siangnya berlangsung selama 15 menit dimulai sejak pukul 10.15 – 10.30 Wib.


Di saat Tegar sedang terlihat khusuk mengerjakan soal Matematika miliknya, tiba-tiba ia merasa terganggu dengan suara bising dari sang adik yang sedang membaca buku bahasa Indonesia dengan suara yang keras.


“PADA HARI MINGGU AKU DAN IBUKU PERGI KE PASAR UNTUK MEMBELI BAJU BARU.” ucap Aisyah dengan lafal mengeja bacaan ketika ia sedang asyik membaca sebuah buku pelajaran Bahasa Indonesia yang ia pinjam di perpustakaan sekolah.


“Dek,,,,jangan keras-keras dong bacanya.” Tegur sang kakak kesal karena merasa konsentrasinya terganggu dengan suara keras adiknya yang sedang membaca itu.


Tanpa menghiraukan teguran dari sang kakak, Aisyah kembali melanjutkan aktivitas membaca bukunya itu.


“KAMI BERDUDA MENAIKI SEBUAH DELMAN DARI DEPAN RUMAH MENUJU KE PASAR TERSEBUT.” ucap Aisyah tetap dengan suara yang lantang dan keras.


Kesal karena tegurannya tidak digubris oleh sang adik, akhrinya Tegar pun mengadu kepada sang nenek.


“Nek,,,nenek....Aisyah ni nek baca bukunya keras-keras jadi ganggu Tegar yang lagi belajar.” teriak Tegar mengadu kepada sang nenek yang sedang berada di dalam kamar tidurnya.


“Apaan sih kak,,,hmmmmmmm.” bentak Aisyah tak terima diadukan.


“Kecilin suaranya kenapa! Kakak tergangu nih.” perintah sang kakakgeram.


Beberapa saat kemudian sang nenek yang dari tadi sedang berada di dalam kamarnya datang menghampiri mereka dan berkata.


“Sudah-sudah jangan bertengkar terus. Kalian ini kan adik - kakak harusnya akur.” ujar sang nenek menasehati keduanya. Kemudian ia bertanyakepada Tegar.


“Kenapa Tegar?” tanyanya.


“Ini nek, Aisyah baca bukunya keras-keras padahal kan Tegar lagi mikir buat ngisi soal Matematika. Gara-gara berisik Tegar jadi susah mikir buat ngisi jawabannya.” keluhnya kepada sang nenek.


“Huuu,,,emang dasarnya aja kakak yang gak bisa ngisi jawaban. Ko jadi nyalahin Aisyah.” Timpal Aisyah geram, nampaknya masih tidak terima diadukan.


“Sudah-sudah.” ucap sang nenek melerai. “Aisyah, baca bukunya di kamar nenek aja yuk. Biarkan kak Tegar di sini sendiri supaya bisa berkonsentrasi mengerjakan PRnya. Kamu juga gak mau kan seandainya kamu yang sedang ngerjain PR terus diganggu sama kakakmu?” ujar sang nenek.


“Iya nek, baiklah Aisyah pindah ke kamar.” jawab Aisyah sambil kemudian berjalan menuju kamar sang nenek.


“Tegar,.....habis selesai mengerjakan PR, kamu harus langsung tidur yak nak supaya besok bangunnya tidak kesiangan.” perintah sang nenek menasehati.


“Baik nek.” jawab Tegar singkat dan langsung berkonsentrasi kembali untuk mengerjakan PRnya.


Beberapa lama kemudian akhirnya Tegar pun selesai mengerjakan PRnya itu dan ia lekas pergi ke kamar yang satunya lagi untuk tidur. Sementara itu Aisyah dan sang nenek masih tetap terjaga di dalam kamar yang lain,


“Aisyah kamu belum ngantuk nak?” tanya sang nenek yang terlihat sudah membaringkan badannya di atas kasur kamarnya itu.


“Belum nek, Aisyah belum ngantuk.” jawab Aisyah terdengar melanjutkan kembali membaca bukunyasambil duduk lesehan di lantai dekat dengan tempat tidur itu.


“Aisyaaaah,,,,Aisyaaaah!, kamu itu memang mirip seperti ibumu nak.” ujar sang nenek sambil tersenyum simpuldan bangkit dari berbaringnya.


“Mirip kenapa nek?” tanya Aisyah penasaran dan langasung menghentikan aktivitas membaca bukunya.


“Ibumu dulu waktu kecil juga senang membaca sepertimu. Memang buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya heeeeeee.” Ucap sang nenek sambil kemudian tertawapelan.


“Nek, Ibu Aisyah cantik gak nek?” Aisyah kembali bertanya.


“Iya Aisyah, Ibumu itu wanita yang cantik sama seperti kamu cantiknya.” jawab sang nenek.


“Aisyah boleh lihat lagi foto ibu?” tanyanya.


“Sebentar yak, nenek ambilkan dulu foto ibumu.” jawab sang nenek yang kemudian mengambil selembar foto dari balik kasurnya dan menunjukannya kepada cucunya itu.


“Ini nak, ini foto Ibumu.” ucap sang nenek.


Dipeganglah foto sang Ibu tersebut oleh Aisyah dan kemudian ia berkata,


“Terus menurut nenek apakah Ibu itu sayang kepada Aisyah?” tanyanya polos.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu nak? tentu saja Ibumu sangat sayang kepadamu dan juga kepada kakakmu.” ujar sang nenek meyakinkan sang cucu.


“Kalau memang Ibu sayang kepadaku kenapa Ibu tidak mau pulang untuk menemuiku?” tanyanya lagi.


“Bukan tidak mau pulang tapi belum waktunya nak. Suatu hari nanti Ibumu pasti akan pulang untuk menemuaimu dan kakakmu.” jawab sang nenek berkilah.


“Tapi……!” belum selesai Aisyah berkata tiba-tiba sang nenek memotong kata-katanya itu.


“Sudah terlalu malam nak, waktunya Aisyah untuk tidur. Besok kan Aisyah harus masuk sekolah.” sela sang nenek.


“Tapi Aisyah masih mau dengar cerita tentang Ibu.” seru Aisyah yang nampak kecewa.


“Iya, kita lanjutkan ceritanya di lain waktu saja yak nak. Sekarang kamu harus segera tidur.” ujar sang nenek.


“Janji yak nek. Baiklah Aisyah akan tidur.” tungkasnya.


Aisyah kemudian beranjak dari tempatnya dan naik ke atas kasur sang nenek untuk tidur. Tidak beberapa lama kemudian Aisyah pun sudah nampak terlelap tidur. Bagi anak-anak seumuran Aisyah langung tertidur dalam waktu singkat merupakan perkara yang mudah.

__ADS_1


 


Memang pada dasarnya anak-anak seperti Aisyah akan langsung tertidur sesaat setelah mereka memejamkan mata sambil berbaring di tempat yang mereka anggap nyaman. Melihat Aisyah yang sudah tertidur pulas tepat di sampingnya, sang nenek kemudian mengambil sebuah selimut dan menyelimutkannya ke badan Aisyah.


Ia kemudian mencium kening sang cucu yang sudah tertidur itu dan berkata,


“Kamu sudah mulai besar Aisyah, kini kamu sudah mulai mencari tahu tentang keberadaan Ibumu. Nenek sudah mulai tidak bisa mencari-cari alasan lagi untuk menghindar dari pertanyaan soal ibumu yang sering kamu tanyakan kepada nenek. Cepat atau lambat kamu pasti akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bersabarlah ya nak, jadilah wanita tangguh.” ujar sang nenek sambil terlihat matanya berkaca-kaca. Kemudian ia melanjukan kembali kata katanya itu:


“Maafkan nenek, sekali lagi maafkan nenek nak.” tungkasnya.


Lalu sang nenek pun merebahkan badannya di atas kasur dan berbaring di samping Aisyah untuk tidur bersama dengan cucunya tersebut.


Waktu sholat subuh yang merupakan waktu di mana nenek Aminah biasanya bangun setiap paginya belumlah tiba namun kali ini nenek Aminah tiba-tiba saja terbangun dari tidur singkatnya itu disebabkan oleh sesuatu hal. Ia terbangun lantaran mendengar suara jeritan dan tangisan yang bersumber dari sang cucu yang ternyata sedang mengigau.


 


Dalam jeritannya tersebut Aisyah terus menerus memanggil-manggil sang Ibu,


 “Ibuuuu,,,,huuuuuu..Ibuuuuuuu,” teriak Aisyah sambil tetap memejamkan matanya.


“Cup..cup..cup..cup..nak.” ucap sang nenek mencoba menenangkan sang cucu yang sedang mengigau itu.


“Ibuuuu,,,,huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.” teriak Aisyah sambil terisakpilu.


“Cup..cup..cup…nak, yang sabar ya nak. Kasihan kamu Aisyah, pasti kamu sangat rindu pada ibumu.” ujar sang nenek pelan sambil terlihat khawatir.


Nenek Aminah langsung mengelus-elus kening Aisyahsambil berusaha menenangkannya.


 


Akhirnya beberapa saat kemudian, sudah tidak terdengar lagi terikan-teriakan dari sang cucu sehingga ia pun bisa kembali melanjutkan tidurnya. Namun matanya yang telah terbuka itu kini tak kunjung bisa ia pejamkan kembali untuk melanjutkan tidurnya yang tadi sempat tergangu. Alhasil ia pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya itu dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu serta dilanjutkan dengan mendirikan sholat Tahajud.


Jam dinding yang tergantung di sudut kamar sederhana tersebut masih menunjukkan pukul 03.30 Wib ketika nenek Aminah telah selesai mengerjakan rakaat terakhir dari 2 rakaat sholat malam yang ia dirikan kala itu. Setelah selesai mengucap salam ia pun lantas berdoa kepada sang pencipta tepat di serpertiga waktu malam.


 


Waktu dimana menurut sebagian kalangan dipercayai sebagai waktu paling tepat untuk memanjatkan doa karena pada waktu itu pintu langit sedang terbuka sehingga doa-doa yang dipanjatkan oleh hamba-hambanya akan langsung sampai kepada sang pencipta yang bersemayam di atas arasy.


Dengan posisi duduk sambil bersimpuh di atas sebuah sajadah lengkap dengan mukena yang masih ia kenakan sehabis sholat Tahajud beberapa saat yang lalu,  nenek Aminah pun langsungmemulai doanya,


 “Ya Alloh, berikanlah kami kesabaran dan ketabahan dalam menjalani hidup ini. Berikanlah kami kekuatan untuk bisa menghadapi semua cobaan hidup yang kau berikan kepada kami.”  ucapnya memulai doa.


“Ya Alloh kuatkanlah hati cucu-cucuku, Tegar dan Aisyah. Berikanlah mereka keikhlasan, berikanlah mereka kesabaran, berikanlah mereka kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan selama ini. Ya Alloh apabila Nurhayati, anak semata wayangku, Ibu dari cucu-cucuku masih hidup, maka lindungilah dia. Berikan dia keselamatan. Berikan dia rejeki yang cukup untuk bisa kembali bertemu dengan anak-anaknya yang sudah sangat merindukan kehadirannya. Namun apabila ia sudah wafat maka terimalah semua amal baiknya. Maafkanlah dosanya dan lapangkanlah kuburnya.” ucapnya sambil berurai air mata, ia membiarkan suasana hening beberapa saat lalu melanjutkan kembali doanya itu.


“Pun untuk hambamu ini ya Alloh. Berikanlah hambamu ini kesehatan, rejeki yang halal dan berikanlah hambamu ini umur panjang setidaknya sampai Tegar dan Aisyah bisa mandiri dalam menjalani hidup. Namun apabila waktuku telah habis maka wafatkan aku dalam keadaan khusnul khotimah. Dan kirimkanlah pelindung bagi kedua malaikat-malaikat kecilku supaya mereka tidak terombang ambing tanpa arah tujuan di tengah-tengah samudera kehidupan yang sangat luas ini. Amin..amin ya robal alamin.” tungkas sang nenek yang kemudian mengusapkan kedua tangannya ke arah muka untuk menutup doanya malam itu sambil bercucuran air mata.


Setelah selesai mengerjakan sholat malam dan berdoa, nenek Aminah memutuskan untuk mulai memasak nasi di dapur sembari menunggu waktu sholat subuh tiba. Nenek Aminah khawatir seandainya ia melanjutkan kembali tidurnya, ia akan bangun kesiangan dan tidak sempat menyiapkan sarapan pagi untuk Tegar dan Aisyah yang sudah harus berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali mengingat jarak sekolah mereka yang cukup jauh dari tempat tinggalnya itu dan harus mereka tempuh dengan cara berjalan kaki.


Ia kemudian berjalan meninggalkan kamar tidurnyaitu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Beberapa lama kemudian, suara Adzan subuh sudah mulai terdengar berkumandang memecah kesunyian kampung tersebut sesaat setelah nenek Aminah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk kedua cucunya di dapur. Waktu tak terasa telah menunjukan pukul 04.50 Wib. Ia kemudian beranjak dari dapur untuk kembali mengambil air wudlu.


Setelah selesai berwudlu nenek Aminah langsung mendirikan 2 rakaat sholat subuh. Setelah selesai mendirikan sholat subuh, barulah ia membangunkan kedua cucunya yang masih tidur di kamar mereka masing-masing.


Aisyah tidur di kamar yang sama dengannya sedangkan Tegar tidur di kamar satunya lagi yang dahulu dipakai oleh sang Ibu serta sang Ayah ketika mereka masih tinggal bersama di gubuk itu,


“Aisyah,,, bangun nak, sudah waktunya untuk mandi kemudian sholat subuh dan siap-siap berangkat ke sekolah. Ayo bangun nak!” seru sang nenek sambil menggoyang-goyangkan badan Aisyah supaya bangun.


“Baik nek.” jawabnya singkat sambil terlihat masih terkantuk-kantuk.


Kemudian sang nenek berjalan ke kamar yangsatunya lagi untuk membangunkan Tegar,


“Tegar,,, bangun nak, ayo lekas mandi kemudian sholat subuh dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.” perintahnya.


“Sebentar lagi nek, Tegar masih ngantuk.” jawab Tegar yang masih enggan beranjak dari tempat tidurnya itu.


“Ayo nak, jangan malas-malasan. Bangun dan langsung mandi sana.” perintah sang nenek lagi.


“Baik nek.” jawabnya sambil terlihat mulai bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah berhasil membangunkan kedua cucunya itu nenek Aminah kembali ke dapur untuk membereskan tempat makan mreka. Lalu tiba-tiba terdengar suara Aisyah berkata dari arah kamar mandi.


“Nek,, air di dalam gentongnya sudah kosong.” teriak Aisyah ketika mengetahui bahwa gentong tempat penampungan air di kamar mandi sudah tidak berisi air lagi. Itu artinya dia harus menimba air terlebih dahulu melalui sumur kerekan yang ada di kamar mandi tersebut.


“Minta tolong saja sama kakakmu buat ditimbain airnya nak. Nenek soalnya sedang sibuk beres-beres di dapur!.” jawab sang nenek dengan berteriak pula dari arah dapur.


“Tegar,,,Tegar….!” seru sang nenek yang berada di area dapur gubuk tersebut, terdengar berteriak memanggil Tegar.


“Iya nek, ada apa?” jawab Tegar sambil berjalan menghampiri sang nenek.


“Tolong timbain air buat Aisyah sana, gentong penampunganairnya sudah kosong katanya.” Perintah sang


nenek menjelaskan.


“Baik nek.” tungkasnya.


Tegar akhirnya membantu menimbakan air untuk sang adik. Setelah gentong tempat penampuangan air tersebut penuh terisi oleh air, mereka kemudian bergiliran untuk mandi.


“Kalau kalian sudah mandinya, langsung ganti baju seragam dan langsung ke dapur untuk makan ya nak.” teriak sang nenek dari arah dapur.


“Iya nek.” jawab mereka kompak dari kamar mereka masing-masing.


Beberapa menit kemudian mereka tampak sudah mengenakan seragam sekolah lengkap,kemudian terdengar sang


nenek kembali bertanya kepada mereka dari arah dapur.


“Tegar,,,Aisyah, apa kalian sudah selesai memakai baju seragamnya?” tanya sang nenek yang sedang menyiapkan hidangan sarapan pagi di bagian dapur gubuknya yang sangat sederhana itu, sekedar memastikankembali.


“Sudah nek.” jawab Aisyah sambil terlihat keluar dari dalam kamar tidur yang biasa ia tempati bersama dengan sang nenek menuju ke dapur.


Setibanya di dapur, Aisyah langsung mengambil piring dan segera mengisinya dengan nasi. Jangan bayangkan mereka makan dengan berbagai jenis lauk-pauk yang tersedia di atas meja makan bak orang-orang berada di sinetron-sinetron televisi.


Setiap harinya, mereka selalu makan dengan lauk yang sangat sederhana. Tidak lebih dari 3 jenis hidangan yang selalu tersaji setiap kali mereka makan bersama.


Hidangan tersebut meliputi nasi putih, ikan asin dan sambal. Namun seandainya nenek Aminah mendapatkan rejeki lebih dari hasil memulung barang rongsokan, ia selalu berusaha menyediakan lauk lebih yang bagi mereka sudah sangat istimewa keberadaannya di tempat makan yaitu Tahu dan Tempe.


 


Ya, Tahu dan Tempe sudah menjadi hidangan yang sangat istimewa bagi mereka karena tidak setiap hari mereka dapat menikmatinya.

__ADS_1


“Ayo duduk dan langsung makan, mana kakamu?” tanya sang nenek kepada Aisyah yang sudah terlebih dahulu


tiba di bagian dapur.


“Masih ganti baju nek.” jawab Aisyah.


“Tegar apakah kamu sudah selesai ganti bajunya nak?” teriak sang nenek dari arah dapur, bertanya


kembali.


“Sudah nek, tapi Tegar lagi membereskan buku pelajaran yang harus di bawa hari ini nek.” sahut Tegar dari dalam kamarnya.


“Ya, kalau sudah selesai beres-beres buku pelajarannya langsung ke dapur ya nak.” Perintahnya.


“Iya nek.” jawab Tegar.


Tegar yang sudah memakai baju seragam lengkap dan telah selesai membereskan buku-bukunya langsung bergabung degan nenek dan adiknya yang sudah terlebih dahulu makan di dapur. Ia pun langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi secukupnya ditambah lauk-pauk seadanya yang tersaji pagi itu.


Disaat sang nenek dan Tegar masih berusaha menghabiskan makanan yang ada di atas piring mereka masing-masing, Aisyah nampaksudah terlebih dahulu menyelesaikan aktivitas makannya. Sang nenek pun lantas menegurnya,


“Aisyah kamu sudah kenyang nak?” tanya sang nenek.


“Sudah nek, Aisyah sudah kenyang.” jawabnya.


“Ya sudah kalau kamu sudah kenyang, tunggu kakakmu selesai makan dulu baru berangkat ke sekolah yak.” ujarnya.


“Iya nek.” jawab Aisyah sambil kemudianmeminum segelas air putih.


Kemudian Aisyah kembali berkata,


“Nek,,!” seru Aisyah.


“Iya nak.” sahut sang nenek.


“Aisyah boleh tanya sesuatu gak nek?” tanya Aisyah kepada sang nenek.


Sang nenek yang sedang berusaha mengunyah makanan dengan mulutnya yang sudah tak bergigi lengkap itu kemudian menghentikan aktivitasnya sejenak untuk meladeni pertanyaan dari cucunya tersebut.


“Tanyakan saja nak, apa yang mau kamu tanyakan kepada nenek?” sahut sang nenek yang langsung bertanya


balik kepada Aisyah.


“Aisyah punya Ayah gak nek?” tanyanya polos.


“Tentu saja punya nak.” jawab sang nenek.


“Kalau Aisyah punya Ayah, terus Ayah Aisyah ke mana?” tanyanya kembali.


Mendengar pertanyaan tersebut sang nenek terdiam sejenak. Kemudian ia berkata,


“Ayah kalian sudah lama tiada.” jawabnya.


 “Mulai dari sekarang Aisyah jangan pernah tanyakan lagi tentang hal itu pada nenek yak nak.” ucap sang nenek terlihat sedikit tidak bisa mengontrol emosinya ketika mengungkit-ngungkit soal menantunya itu.


“Kalau Ibu, sebenarnya Ibu Aisyah itu ke mana sih nek, ko lama sekali perginya gak pulang-pulang?” tanya Aisyah dengan wajah polos.


“Kenapa kamu tiba-tiba tanya hal itu, Aisyah kangen ibu?” sang nenek malah kembali balik bertanyakepadanya.


“Hhhhhhhhhhuuuuuuuuuuuu.” tiba-tiba Asiyah pun langsung menagis tersedu-sedu yang membuat sang nenek sedikit kaget dan khawatirmelihatnya.


“Kemari nak, peluk nenek.” ucap sang nenek kepada Aisyah yang sedang menangis itu.


Aisyah pun kemudian memeluk sang nenek sambil tetap melanjutkan tangisannya di pelukan neneknya itu.


“Iya nek, Aisyah kangen Ibu. Aisyah mau ketemu sama Ibu. Huuuhuuuu.” ucap Aisyah sambilmenangis sesegukan.


“Sabar ya nak, kamu pasti secepatnya akan ketemu dengan Ibumu. Sabar ya nak.” tungkas sang nenek mencoba menenangkan cucunya itu.


Kemudian Tegar yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka berdua tiba-tiba ikut-ikutan menanyakan kabar sang Ibu kepada neneknya itu sepertihalnya sang adik bertanya.


“Iya nek, Tegar juga rindu pada ibu. Sebenarnya Ibu itu pergi ke mana sih nek, Tegar juga mau tahu?” tanya Tegar dengan rasa ingin tahu yang besar.


Sang nenek pun menatap mata Tegar dalam-dalam. Dari sorot matanya nampak terpancar kerinduan yang sangat mendalam kepada sang Ibu. Namun ia tidak mampu untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh cucunya itu.


 


Ia hanya bisa memalingkan wajah dan kemudian langsung mengalihkan pembicaraan mereka kala itu.


“Sudah ya nak, ini sudah siang. Saatnya bagi kalian untuk berangkat ke sekolah. Ayo cepat nanti kalian terlambat.” perintah sang nenek langsung mengalihkan pembicaraan mereka tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Tegar tadi.


“Baik nek.” jawab Tegar agak kecewa.


Sementara itu Aisyah terlihat masih menangis sesegukan di pangkuan sang nenek. Namun ia pun akhirnya menuruti perintah sang nenek untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah bersama sang kakak. Mereka lantas mengambil sepatu mereka masing-masing yang mereka simpan di dekat pintu masuk gubuk tersebut dan kemudian memakainya.


 


Sang nenek lalu datang menghampiri mereka dan berkata,


“Tegar,  Aisyah ke sini nak. Ini ada uang jajan buat kalian hari ini.” ujar sang nenek sambil memberikan dua helai


uang kertas masing-masing senilai Rp. 1.000 untuk kedua cucunya tersebut.


“Terimakasih nek.” jawab mereka kompakdan terlihat kegirangan.


“Hati-hati di jalan ya nak, belajar yang sungguh-sungguhdi sekolah.” ucap sang nenek menasehati kedua cucu kesayangannya itu.


“Baik nek.” timpal mereka kembali kompak.


Kemudian Tegar dan Aisyah pun segera bergegas untuk berangkat ke sekolah setelah terlebih dahulu mencium tangan sang nenek untuk berpamitan.


Sang nenek kemudian berjalan mengikuti mereka namun hanya sampai di bagian teras gubuk saja. Ia kemudian berdiri di samping sebuah tiang penyangga gubuk yang ada di teras itu sambil memandangi terus menerus kedua cucunya yang tengah berjalan melintasi pesawahan menuju tempat mereka bersekolah.


Melihat kedua cucunya tersebut dari jarak jauh, tak terasa tetasan air mata yang dari tadi sudah berusaha ia tahan yang nampak sudah menggelayut di kelopak matanya tiba-tiba keluar tak terbendung lagi membasahi pipinya yang sudah keriput termakan usia itu.


Kemudian ia menutup rapat-rapat mulutnyadengan jari-jari tangannya supaya suara tangisannya tidak terdengar keras.


 


Nenek Aminah pun akhirnya tak kuasa lagi membendung tangisannya melihat dan merenungi nasib kedua cucunya yang begitu memprihatinkan itu. Dalam hati ia barkata,

__ADS_1


“Tegar,,Aisyah, maafkan nenek yang telah membuat kalian harus menanggung beban ekonomi di usia kalian yang masih sangat belia. Maafkan nenek yang tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada kalian. Tegar, Aisyah yang sabar ya nak. Nenek doakan kalian akan mendapat kebahagiaan. Kalian harus mendapat kebahagiaan dan nenek  akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat kalian bahagia. Yang sabar ya nak. Alloh maha melihat hamba-hambanya. Dia tidak akan memberikan cobaan terhadap hambanya di luar batas kemampuan hambanya.” Gumam nenek Aminah sambil terus menerus menangis dan kemudian membalikan badannya untuk kembali masuk ke dalam gubuknya itu.


***


__ADS_2