Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku

Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku
Aisyah Ikut Lomba Menulis Puisi Tentang Ibu


__ADS_3

Sementara itu di ruangan kelas 3 SD tepatnya di dalam kelasnya Aisyah, sang wali kelas bernama bu Wati berusia 35 tahun, sedang menyuruh semua murid kelas 3 tersebut untuk mengikuti lomba melukis dan menulis puisi yang diadakan oleh pihak sekolah dalam rangka memeriahkan hari kelulusan kelas 6 nanti. Semua murid kelas 3 tersebut nampak begitu antusias untuk mengikuti lomba itu tak terkecuali dengan Aisyah.


 


“Anak-anak sekarang Ibu menyuruh kalian untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh pihak sekolah. Silahkan kalian pilih mau menggambar atau menulis puisi atau mau ikut kedua-duanya juga boleh.” ujar sang wali kelas kepada murid-muridnya itu.


 


“Jika ada yang sudah selesai membuat karyanya bisa langsung dikumpulkan kepada Ibu dimulai dari hari ini dan terakhir minggu depan ya.” tambahnya.


Sesaat kemudian Bu Wati kembali berkata,


“Berhubung hari ini Ibu ada rapat guru di kantor guru, jadi kalian bisa mempergunakan waktu luang ini untuk mulai membuat karya kalian. Nah nanti kalau sudah selesai bisa langsung kalian berikan kepada Ibu baik ketika Ibu sedang mengajar di kelas atau langsung mendatangi Ibu di ruang guru. Mengerti?” tanyanya.


 


“Mengerti Bu...” jawab semua murid kompak.


 


“Baiklah sebelum Ibu meninggalkan kelas ini, kira-kira ada yang mau kalian tanyakan kepada Ibu mengenai lomba tersebut?” tanya bu Wati sambil menolehkan pandangannya ke semua anak didiknya di kelas 3 itu.


 


“Saya Bu....” teriak Ihsan yang tidak lain adalah ketua murid kelas tersebut. Ia berteriak sambil mengacungkan satu jari telunjuk tangan kanannya ke atas.


 


“Iya Ihsan ada apa?” tanya sang wali kelas.


 


“Bu,,untuk lomba menggambar kira-kira temanya apa?” tanyanya lantang serta penuh percaya diri yang tinggi.


 


“Pertanyaan yang bagus Ihsan. Iya,,,Ibu sampai lupa menjelaskannya tadi. Begini anak-anak untuk lomba menggambar, tema yang diberikan adalah pemandangan alam. Jadi kalian harus membuat gambar yang berkaitan dengan keindahan alam saja seperti pemandangan di sawah, pemandangan di laut, pemandangan di kaki gunung, gambar tumbuhan seperti pohon-pohonan, buah-buahan, bunga-bungaan, sayuran dll. Mengerti!” serunya.


 


“Mengerti.” jawab semua murid kompak.


 


Kemudian terlihat kembali ada seorang murid yang mengacungkan tangan, murid tersebut adalah Fatimah, teman sebangkunya Aisyah,


 


“Bu guru saya mau tanya.” Ucap Fatimah sambil mengacungkan tangannya.


 


“Iya Fatimah silahkan.” Jawab sang wali kelas itu mempersilahkannya untuk bertanya.


 


“Bu kalau untuk lomba puisi temanya apa?” tanyanya.


 


“Pertanyaan bagus Fatimah. Baik anak-anak, bagi kalian yang tertarik untuk mengikuti lomba menulis puisi kalian bebas memilih tema apa pun yang kalian inginkan. Tidak ada batasannya seperti halnya lomba menggambar tadi. Paham ya!” ujar sang wali kelas.


 


“Paham Bu.” sahut semua murid kompak.


 


“Ada lagi yang mau ditanyakan?” tanyanya kembali, namun sepertinya kali ini tidak ada lagi murid yang mengacungkan tangan tanda mereka sudah tidak memiliki pertanyaan sehingga ia pun langsung pamit untuk meninggalkan kelas tersebut guna menghadiri rapat guru.


 


“Baiklah kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, Bu Wati sekarang mau rapat dulu yak. Kalian tetap di dalam kelas jangan keluar sebelum bel istirahat berbunyi. Kalau ada yang keluar sebelum jam istirahat tiba dan kelihatan sama Ibu, nanti akan Ibu hukum. Mengerti semua!” ucap Bu Wati menasehati sambil sedikit mengancam.


 


“Mengerti Bu.” jawab semua muridnya kompak.


 


Setelah sang wali kelas keluar meninggalkan ruangan itu, semua murid kelas tersebut nampak khusuk dengan aktivitasnya masing-masing.


 


Mereka semua ternyata tertarik mengikuti lomba yang diadakan oleh pihak sekolah itu. Terlihat ada yang sedang sibuk menggambar dan ada juga yang sedang sibuk menulis puisi. Lomba menggambar nampaknya lebih disukai oleh para murid laki-laki sedangkan untuk lomba menulis puisi lebih disukai oleh para murid perempuan.


 


Namun ada juga murid baik laki-laki maupun perempuan yang mengikuti kedua lomba tersebut secara bersamaan.


 


Antusiasme tersebut juga nampak pada Aisyah dan Fatimah.


 


“Hei Aisyah kamu mau pilih ikutan lomba apa?” tanya Fatimah teman sebangkunya itu.


 


“Sepertinya aku mau pilih ikutan lomba menulis puisi aja. Kalau kamu?” Aisyah balik bertanya kepadanya.


 

__ADS_1


“Kalau begitu kita sama, aku juga pilih ikutan lomba menulis puisi. Ini aku sudah mulai menulisnya.” Jawab Fatimah dengan begitu antusias.


 


“Iya aku juga mau mulai nulis puisinya ah.” sahut Aisyah.


 


Tidak lama kemudian Aisyah terlihat bingung harus memulai tulisannya dari mana. Sehingga ia memutuskan untuk bertanya kepada Fatimah, taman sebangkunya yang sudah dari tadi terlihat menulis puisi hasil karyanya tanpa ada kendala berarti.


 


“Fatimah,, aku boleh tanya gak?” tanya Aisyah.


 


“Boleh.” jawab Fatimah.


 


“Kamu sudah selesai nulis puisinya?” tanyanya.


 


“Sebentar lagi nih Aisyah. Memangnya kenapa?” Fatimah balik bertanya.


 


“Enggak, cuma bertanya saja. Sebenarnya aku bingung harus mulai menulis puisinya dari mana.” ucap Aisyah.“Emangnya kamu tidak bingung ya?” tanyanya lagi.


 


“Lumayan sih, tapi kan aku menulis puisi tentang hal yang aku suka jadinya enggak terlalu bingung.” jawab Fatimah.


 


“Emangnya kamu menulis puisi tentang apa?” tanya Aisyah penasaran.


 


“Puisiku tentang bunga. Aku kan suka sekali dengan bunga-bunga. Aku dan Ibuku menanam banyak sekali bunga-bunga di hamalan rumahku. Dan aku selalu menyiraminya setiap hari.” jawabnya panjang lebar menjelaskan.


 


Mendengar kata “Ibuku” yang diucapkan oleh teman sebangkunya itu membuat Aisyah memiliki ide untuk menulis puisi tentang Ibunnya. Ia pun kemudian mulai merangkai kata-kata, menulis puisi dengan “Ibu” sebagai tema utamanya.


 


“Yeahh,,aku juga sudah punya ide. Terimakasih Fatimah.” ucapnya berterima kasih.


 


“Sama-sama Aisyah.” jawabnya kemudian.


 


 


“Aisyah,,aku tinggal yak.” ujar Fatimah sambil terlihat bangkit dari tempat duduknya dan kemudian berjalan menghampiri teman -temannya yang lain untuk pergi jajan bersama.


 


“Iya.” jawab Aisyah singkat.


 


Beberapa saat kemudian, tinggalah Aisyah seorang diri di dalam kelas itu. Ia masih terlihat khusuk menyelesaikan puisinya supaya bisa langsung dikirim hari itu juga kepada sang wali kelas.


 


Dengan gaya anak kecil yang polos ia terlihat begitu menggemaskan. Terkadang ia memegang-megang kepalanya karena pusing, setelah itu ia menempelkan pipinya ke meja. Dan juga berulang kali ia terlihat menghapus kata-kata yang telah ia tulis di bukunya karena dinilai jelek olehnya sendiri.


 


Namun beberapa saat kemudian setelah bersusah payah merangkai kata-kata akhirnya ia pun sanggup menyelesaikan puisinya sesuai apa yang ia harapkan. Sekarang ia tinggal mengumpulkan puisi hasil karyanya itu kepada sang wali kelas. Aisyah lantas beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke luar kelas menuju ruangan guru, hendak menemui Bu Wati untuk mengumpulkan puisi hasil karyanya itu.


 


Namun ketika sedang di perjalanan menuju ruangan guru, ia melihat sang kakak yakni Tegar, sedang berdiri sambil mengangkatkan satu kakinya ke atas tepat di depan kelas kakaknya tersebut.


 


Karena penasaran ia pun kemudian menghampiri sang kakak dan bertanya,


“Kakak sedang apa? Ko berdiri terus di sini.” tanya Aisyah sambil membawa selembar kertas berisi puisi yang hendak ia kumpulkan kepada Bu Wati, wali kelasnya di kelas 3.


 


“Kakak sedang disetrap oleh Pak guru.” Jawab sang kakak nampak malu-malu.


 


“Memangnya kakak salah apa kok bisa disetrap seperti ini?” tanyanya heran.


 


“Kakak disetrap gara-gara tadi kakak berkelahi.” jawabnya menerangkan.


 


“Berkelahi……berkelahi dengan siapa kak?” tanyanya kembali sambil terlihat kaget.


 

__ADS_1


“Dengan teman sekelas kakak.” ucapnya sambil tertunduk malu.


 


“Kok bisa, memangnya dia ngusilin kakak ya?” ujar sang adik masih penasaran.


 


“Gak, dia cuma ngata-ngatain kakak aja.” jawab sang kakak.


 


“Ngata-ngatain apa kak?” tanya sang adik kembali.


 


“Ngata-ngatain kalau ………..ah lupakan saja!” seru sang kakak tampak enggan menjelaskan panjang lebar tentang apa yang terjadi kepada adiknya itu.


 


“Ya sudah kalau kakak tidak mau cerita, Aisyah tidak akan memaksa ko.” ujar Aisyah.


 


Kemudian Aisyah memberitahukan kepada sang kakak kalau ia mengikuti lomba menulis puisi yang diadakan oleh pihak sekolah untuk memeriahkan acara kelulusan kelas 6 nanti.


 


“Eh Kak, tahu gak kalau Aisyah ikutan lomba.” ucap sang adik.


 


“Gak tahu, memangnya kamu ikutan lomba apa?” tanya sang kakak.


 


“Lomba menulis puisi Kak, untuk ikut memeriahkan acara kenaikan kelas dan kelulusan kelas kakak nanti.” ujarnya antusias.


 


“Memangnya kamu bisa membuat puisi?” tanya sang kakak ragu.


 


“Bisa dong, kan aku senang membaca banyak buku.” jawabnya.


 


“Mana coba, Kakak mau baca puisi buatanmu.” pinta sang kakak.


 


“Gak ah,,,aku malu kalau dibaca sama kakak.” Ujar sang adik nampak keberatan kalau puisi karyanya dibaca oleh sang kakak karena merasa malu.


 


“Ya udah, sebenarnya Kakak juga males ko kalau disuruh bacanya.” kilah sang kakak.


 


“Ih,,,,Kakak, Dasar sirik.” sahut Aisyah kesal.


 


Beberapa saat kemudian datanglah pak Ahmad menghampiri mereka. Sambil kemudian berkata kepada Tegar yang ia hukum untuk berdiri di depan kelas karena berkelahi itu.


 


“Tegar, sekarang kamu boleh kembali ke dalam kelas. Hukuman dari Bapak sudah selesai.” ucap pak Ahmad menyudahi hukuman yang ia berikan kepada Tegar.


 


“Tapi inget yak, jangan pernah diulangi lagi atau kalau tidak, Bapak akan kasih kamu hukuman yang lebih berat dari ini. Mengerti!” seru sang wali kelas tegas.


 


“Baik pak, Mengerti.” jawab Tegar sambil tertunduk nampak menyesali perbuatannya.


 


Tiba-tiba terdengar bunyi bel tanda masuk kelas berdering kencang.


“Tenggg,,,,tenggggg,,tenggggg,,,,,tengggggg.” suara bel berbunyi nyaring.


 


“Nah tuh bel masuk sudah berbunyi, ayo cepat kalian masuk ke dalam kelas masing-masing dan belajar yang rajin.” perintah pak Ahmad kepada Tegar maupun Aisyah.


 


“Baik pak.” jawab mereka kompak.


 


Setelah itu Tegar langsung masuk ke dalam kelasnya sementara Aisyah langsung pergi ke ruangan guru untuk menemui Bu Wati dan menyerahkan puisi hasil karyanya kepada beliau.


 


Setelah ia menyerahkan sendiri puisi karyanya itu, ia kemudian kembali ke dalam kelasnya untuk memulai pelajaran setelah jam istirahat berakhir beberapa saat yang lalu.


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2