Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku

Dibuat Gila (Tidak Waras) Oleh Suamiku
Episode 4 - Tidak Pergi Memulung Sama dengan Tidak Makan


__ADS_3

Sesampainya di gubuk setelah mereka pulang dari sekolah, masih ada aktivitas rutin lain yang harus mereka lakukan setiap harinyayaitu memulung. Setelah mengganti baju dan makan siang, Tegar, Aisyah dan sang nenek harus pergi memulung rongsokan.


Aktivitas itu telah lama mereka jalani. Bahkan bagi Aisyah yang sedari lahir sudah ditinggal dan belum pernah merasakan dinafkahi oleh sang ayah, memulung sudah menjadi kewajibannya. Memulung sudah menjadi bagian dari hidupnya sehari-hari. Memulung juga sudah menjadi keharusan yang mau tidak mau harus ia lakukan setiap hari.


Nampaknya hari itu bukanlah hari yang baik bagi mereka. Selain kondisi cuaca yang tidak bersahabat karena tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat disertai petir ketika mereka sedang sibuk memulung, mereka pun harus pasrah dengan hasil memulung mereka yang hanya terkumpul sedikit.


Meskipun demikian mereka tetap bersyukur atas besar kecilnya rejeki yang telah mereka peroleh hari itu.


“Yah hujan nek!” seru Tegar.


“Ayo nak, kita berteduh dulu di depan pelataran rumah itu.” ajak sang nenek kepada kedua cucunya menyuruh mereka untuk berteduh.


“Baik nek.” jawab mereka kompak.


Kemudian mereka berlarian untuk berteduh di pelataran salah satu rumah warga yang ada di sekitar tempat memulung mereka saat itu. Di tempat itu,  mereka terlihat berteduh sewaktu hujan deras mengguyur sambil terus menunggu hujan tersebut berhenti sehingga mereka bisa kembali melanjutkan aktivitas memulungnya. Ketika mereka sedang berteduh tiba-tiba Asiyah bertanya,


“Nenek, hujannya kok gak berhenti-berhenti sih nek.” ucap Aisyah.


“Iya nek malah hujannya semakin deras.” sahut Tegar menimpali.


Sang nenek kemudian menengadahkan kepalanya sambil menerawang ke atas langit setelah itu ia berkata,


“Ya sudah kalau begitu kita sudahi saja memulung kita hari ini dan langsung pulang.” ujar sang nenek.


“Ini kan masih hujan nek. Terus kita kan gak bawa payung.” sahut Aisyah.


“Sepertinya hujannya akan berlangsung sampai malam nak, kalau kita tidak segera pulang bisa-bisa kita terjebak di sini sampai malam nanti.” kata sang nenek mengira-ngira.


“Jadi kita boleh hujan-hujanan dong nek?” tanya Tegar yang malah terlihat antusias.


“Jangan, nanti kalian sakit. Kebetulan di karung nenek ada kardus bekas yang nenek pungut tadi di jalan, jadi kita bisa gunakan kardus bekas itu sebagai pengganti payung.” sahut sang nenek.

__ADS_1


Kemudian ia megorek isi di dalam karungnya dan mengeluarkan beberapa buah kardus bekas yang sudah ia lipat rapih dari dalam karungnya itu.


“Ini nak, gunakan kardus ini untuk menutupi bagian kepala kalian supaya tidak terkena air hujan langsung.” perintah


sang nenek.


“Baik nek.” jawab mereka kembali kompak sambil bergegas mengambil kardus bekas dan menggunakannya


sebagai pengganti payung.


“Ayo nak, kita mulai berjalan lagi.” ajak sang nenek.


“Baik nek.” jawab mereka sambil terlihat mengikuti sang nenek yang mulai berjalan dari arah belakang.


Akhirnya dengan penuh perjuangan menerjang derasnya hujan yang turun hari itu, mereka pun bisa sampai di gubuk. Dengan kondisi basah kuyup mereka langsung memasuki gubuk kecil tersebut untuk berteduh. Air hujan yang jatuh dari langit dengan derasnya nampak membasahi setiap jengkal wilayah yang tandus itu yang sudah lama tidak tersiram air hujan dari langit.


Air hujan itu sendiri merupakan sebuah berkah yang tak terhingga dari sang pencipta bagi setiap makhluk yang


Namun ternyata dibalik keberkahan tersebut terkadang air yang tercurah dari langit bisa menyebabkan masalah tergantung situasi dan kondisi tempat di mana air itu bermuara. Kondisi itulah yang nampaknya selalu dialami oleh nenek Aminah dan kedua cucunya ketika hujan deras turun.


Setiap kali hujan deras turun, mereka selalu merasakan kesusahan dikarenakan akan muncul banyak bagian bocor pada gubuk kecil tempat mereka bernaung selama ini. Gubuk kecil tersebut kinisudah tidak terlalu ampuh lagi dijadikan sebagai tempat berteduh di kala hujan turun.


 


Kebocaran di sana-sini akan langsung tampak di beberapa bagian gubuk kecil mereka apabila hujan deras mengguyur gubuk tersebut.


Di tengah-tengah hujan deras yang dibarengi dengan suara petir yang mengelegar-gelagar tersebut mereka berusaha untuk tetap bertahan mencari perlindungan dari dinginnya cuaca di dalam gubuk kecil tersebut. Sesampainya di dalam gubuk, sang nenek langsung pergi ke dapur untuk mulai memasak nasi.


Kondisi dapur tersebut tidak luput dari kebocoran sehingga nampak di beberapa bagian dapur tersebut terdapat tetesan-tetasan air yang keluar dari atap gubuk yang bocor sehingga menimbulkan kubangan air yang menggenang di lantai dapur yang masih beralaskan tanah itu.


Aisyah kemudian datang dari arah ruangan tengah menuju sang nenek yang sedang berada di dapur,

__ADS_1


“Neneeeek, lagi ngapain?” tanya Aisyahsambil berjalan mendekati sang nenek.


“Nenek sedang memasak nasi nak.” jawab sang nenek.


“Susah gak nek memasak nasi itu?” tanyanya.


“Gampang ko nak, sini nenek ajarin.” ujar sang nenek menawarkan.


Kemudian sang nenek pun mencontohkan cara memasak nasi yang benar kepada cucunya itu dengan telaten.


“Pertama-tama kamu harus siapkan dulu beras secukupnya, kemudian cuci terlebih dahulu beras tersebut dengan air hingga bersih.” ucap sang nenek menjelaskan.


“Bagaimana cara mengetahui berasnya sudah bersih atau belum nek?” tanya Aisyahdengan rasa ingin tahu yang besar.


“Sini nenek kasih tahu, kalau seandainya air yang ada di rendaman beras ini masih berwarna putih seputih susu seperti ini.” ucap sang nenek sambil menunjukan contohnya. “Berarti berasnya masih belum bersih. Kamu harus terus mengucek-nguceknya seperti ini sampai air rendaman berasnya berwarna agak bening.” lanjutnya sambil mempraktekannya langsung.


“Oh,,gitu yak nek. Terus setelah itu bagaimana lagi?” tanyanya kemudian.


“Setelah itu kamu masukan beras ini ke dalam panci seperti ini, kemudian tuangkan air secukupnya ke dalam panci berisi beras yang sudah bersih ini.” ujar sang nenek menuturkan.


“Setelah itu kamu tinggal menunggu aja sampai airnya surut. Ketika air dalam pancinya sudah surut dan mengering segeralah angkat panci tersebut dari atas perapian karena itu tandanya nasi di dalamnya sudah matang.” tungkasnya.


“Oh begitu ya nek, horee Aisyah sekarang jadi tahu bagaimana cara memasak nasi. terimakasih ya nek.” ucap Aisyah.


“Iya nak, kamu juga harus mulai belajar memasak sendiri, soalnya kalau seandainya nenek lagi sakit, otomatis kamu dan kakakmu yang harus bisa mandiri melakukannya. Aisyah mengerti?” tanya sang nenek.


“Mengerti nek.” Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2