
Di sisi lain, Tegar dan Aisyah yang berada di sekolahnya, terlihat sedang mendengarkan pengumuman mengenai ujian akhir sekolah (kenaikan kelas dan kelulusan) yang disampaikan oleh kepala sekolah SDN 1 Karangkulon, tempat mereka menuntut ilmu itu bersama-sama dengan seluruh murid sekolah tersebut di bagian aula sekolah itu. Dengan menggunakan pakaian formal sang kepala sekolah yang memiliki kumis tebal sebagai ciri khasnya bernama bapak Anwar berusia 47 tahun, nampak sedang berpidato di depan seluruh murid dan guru pengajar SDN 1 Karangkulon.
“Assalamualaikum wr.wb.” ucapnya membuka pidatonya itu.
“Waalaikum salam wr.wb.” jawab semua orang yang berada di tempat itu.
“Kepada seluruh staf pengajar dan murid-murid SDN 1 Karangkulon yang bapak hormati dan bapak sayangi. Pada kesempatan kali ini Bapak mau memberikan informasi bahwa sebentar lagi tepatnya 1 bulan lagi kita akan melakukan Ujian Nasional bagi siswa-siswi kelas 6.”
“Namun sebelum itu mereka juga harus menghadapi ujian akhir sekolah yang juga berlaku bagi seluruh kelas mulai dari kelas 1-6 yang akan berlangsung minggu depan. Oleh karena itu kepada semua murid SDN 1 Karangkulon diharapkan untuk mempersiapkan diri semaksimal mungkin supaya bisa meraih hasil ujian yang terbaik.”
“Kemudian untuk acara kelulusan dan pembagian raport nanti akan diadakan 1 bulan setelah Ujian Nasional kelas 6 selesai dilaksanakan. Kalian bisa mulai dari sekarang bilang ke orang tua kalian masing-masing untuk bisa hadir di acara kelulusan tersebut. Nanti tepatnya setelah pengumuman ini disampaikan, dari pihak sekolah akan membagikan undangan kepada seluruh orang tua wali kalian untuk bisa hadir di acara kelulusan tersebut.”
“Selain itu untuk memeriahkan acara kelulusan nanti, pihak sekolah juga akan mengadakan beberapa lomba seperti lomba menggambar dan lomba menulis puisi yang pemenangnya akan diumumkan dan ditampilkan di acara kelulusan murid kelas 6 nanti. Bagi kalian yang berminat untuk mengikuti lomba tersebut bisa kirimkan lukisan atau puisi hasil karya kalian ke wali kelas masing-masing dimulai sejak hari ini.” ujarnya panjang lebar menjelaskan.
Selang beberapa saat ia pun melanjutkan kembali pidatonya itu,
“Selanjutnya berkenaan dengan acara perayaan kelulusan atau kenaikan kelas akan diumumkan oleh para wali kelas kalian masing-masing. Pihak sekolah hanya akan mendukung selama acara yang akan dilakukan bernilai positif dan memiliki nilai edukasi serta rekreasi tanpa ikut campur dengan masalah biaya atau segala macamnya. Untuk informasi lebih lanjut tunggu saja informasi dari wali kelas kalian masing-masing. Sekian pidato pengumuman yang bapak sampaikan kali ini. Sekali lagi bapak ucapkan selamat belajar. Persiapkan diri kalian semaksimal mungkin dan raih prestasi setinggi-tingginya. Wassalamualaikum wr.wb” tungkas sang kepala sekolah menutup pidatonya tersebut.
Setelah pengumuman tersebut disampaikan oleh sang kepala sekolah SDN 1 Karangkulon, seluruh murid yang tadi berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan pengumumnan dari kepala sekolah mereka itu, terlihat mulai memasuki kelasnya masing-masing. Mereka nampak antusias membahas tentang apa yang diumumkan oleh bapak kepala sekolah di aula sekolah tadi.
Ada yang membicarakan tentang groginya menghadapi ujian kenaikan kelas, ada yang membicarakan tentang kekhawatiran tidak lulus ujian akhir khususnya bagi kelas 6 SD dan ada pula yang sibuk membahas tentang acara perayaan kelulusan padahal ujiannya saja belum diselenggarakan.
Hal mengenai acara perayaan kelulusan itu ternyata sedang dibahas oleh beberapa teman sekelasnya Tegar diantaranya adalah oleh Riswan, Husni, Deni, Andi dan Rudi.
“Hey,,,di hari kelulusan nanti kalian bakalan datang sama siapa?” tanya Riswan kepada Deni, Husni dan Rudi yang merupakan teman segengnya itu.
“Bukannya hari kelulusan masih lama Wan (sapaan untuk Riswan), emangnya kamu yakin akan lulus?” tanya Deni.
“Tenang saja kalau aku sih pasti lulus.” jawab Riswan percaya diri.
“Kalau aku akan mengajak Ibu dan Ayahku.” ujar Husni.
“Sama kalau begitu, aku juga akan mengajak Ibu sama Ayahku untuk datang ke acara kelulusanku nanti.” sahut Riswan.
“Kalau aku akan mengajak Ibu dan Kakakku saja soalnya Ayahku sepertinya tidak bisa pulang karena masih harus bekerja.” ujar Rudi.
“Memangnya Ayah kamu bekerja di mana?” tanya Riswan penasaran.
__ADS_1
“Ayahku bekerja di luar pulau jadi tidak bisa ikut deh.” jawab Rudi.
“Oh gitu!” seru Riswan.
“Kalau aku sih berencana mengajak Ibu, Ayah dan Kakakku untuk datang di hari kelulusanku nanti.” ucap Andi.
Kemudian salah seorang dari mereka terdengar memanggil Tegar yang sedang duduk di bangkunya.
“Hey Tegar ke sini.” teriak Riswan memanggil.
“Ada apa?” tanya Tegar yang kemudian langsung berjalan menghampiri mereka.
“Di hari kelulusan nanti kamu akan mengajak siapa saja dari anggota keluargamu?” tanya Riswan.
“Aku nanti akan mengajak Nenekku.” jawab Tegar.
“Tegar kan sudah tidak punya Ayah dan Ibu lagi, makanya hanya neneknya saja yang akan dia ajak.” sahut Andi.
“Kalau kamu punya Ibu, kenapa yang akan kamu ajak untuk datang di acara kelulusan nanti adalah Nenekmu bukan Ibumu?” tanya Andi.
“Ibuku tidak ada di rumah, dia sedang pergi ke .........” jawab Tegar tampak kebingungan untuk menjawabnya.
“Ke mana?” tanya Riswan.
“Ke,,,,,,, pokoknya Ibuku sedang pergi jauh dan akan segera kembali.” jawabnya kesal.
“Kalau memang Ibumu itu sayang kepadamu, seharusnya dia mau dong pulang dulu untuk hadir di acara kelulusanmu. Kecuali kalau Ibumu itu bekerja di luar pulau seperti Ayahnya Rudi. Iya kan teman-teman.” ucap Riswan.
“Betul itu.” sahut Husni.
“Jangan-jangan Ibu kamu tidak sayang kepadamu Tegar.” ujar Riswan.
“Jangan bilang begitu! kata nenek, Ibuku sayang ko sama aku.” Jawab Tegar marah.
__ADS_1
“Haaaaa itu kan kata Nenekmu, bukan kata Ibumu sendiri. huuuuu.” Sahut Riswan sambil meledeknya.
“Kasihan deh kamu Tegar gak disayang sama Ibu kamu sendiri ..haaaaaaaa.” Tambahnya sambil tertawa puas.
“Jangan bicara seperti itu…..eheheheuuu.” ucap Tegar sambil kemudian memukul badan Riswan sehingga terjadilah perkelahian diantara mereka berdua pada saat itu juga.
Perkelahian pun tak bisa dielakkan lagi. Tegar yang merasa kesal karena dikata-katain bawa sang ibu tidak sayang kepadanya oleh Riswan, melampiaskan kekesalannya dengan cara berkelahi. Seluruh penghuni kelas itu menjadi gaduh menyaksikan perkelahian mereka.
Kebanyakan dari teman-teman sekelasnya yang perempuan nampak histeris ketakutan sedangkan teman-teman sekelasnya yang laki-laki malahan ikut memanas-manasi dengan mendukung salah satu dari mereka. Dan dukungan dari teman-teman sekelasnya yang laki-laki itu kebanyakan diberikan kepada Riswan.
“Ayo..Wan,,pukul..pukul tuh si Tegar biar tahu rasa dia.” ujar beberapa teman baik Riswan memanas-manaskan situasi yang sedang tegang itu.
Mendengar kegaduhan yang terjadi di kelas itu, Pak Ahmad berusia 34 tahun, yang merupakan wali kelas mereka yang saat itu hendak masuk ke dalam kelas tersebut, langsung buru-buru berlari dan masuk ke dalam kelas untuk segera melerai perkelahian yang terjadi antara Tegar dan Riswan itu.
Dengan raut wajah seperti menahan emosi, pak Ahmad pun berkata,
“Hey,,,,,heyyyy Tegar,,,,Riswan,,,,apa-apaan kalian ini!” Seru pak Ahmad geram.
“Hentikan,,,,sudah jangan berkelahi!” Ucapnya lagi.
“Sudah hentikan!” Tungkasnya.
“Mau jadi apa kalian ini ketika sudah besar nanti kalau masih kecil saja sudah hobi berkelahi seperti ini?” tambahnya sambil terlihat memisahkan Tegar dan Riswan yang sedang berkelahi itu.
“Tegar duluan pak yang mukul Riswan.” ucap Riswan.
“Iya pak Tegar duluan tuh yang mukul.” seru Andi membenarkan pengakuan Riswan.
“Apa benar itu Tegar?” tanya pak Ahmad kepada anak didiknya itu.
Tegar hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.
“Baiklah Tegar, karena menurut teman-temanmu yang menyaksikan perkelahian kalian dari awal, bahwa kamu yang duluan memukul Riswan, jadi kamu lah yang akan bapak hukum. Sekarang kamu pergi ke depan kelas dan berdiri dengan satu kaki diangkat ke atas. Kamu bapak setrap sampai bapak bilang selesai baru kamu boleh kembali ke dalam kelas. Ayo! Ujar pak Ahmad tampak kesal.
Lalu Tegar pun berjalan menuju ke depan kelasnya untuk menjalani hukuman dari pak Ahmad, berdiri dengan satu kaki di depan kelas selama waktu yang belum ditentukan. Setelah Tegar pergi ke luar kelas itu untuk menjalani hukumannya, pak Ahmad terdengar berkata kembali,
“Sudah semuanya, kembali ke tempat duduk kalian masing-masing kita akan mulai belajar sekarang.” ucap pak Ahmad kepada murid-muridnya itu.
__ADS_1
***