
"Sayang! satu setel jas dan celana putih nya sudah di masukkan kedalam koper? awas jangan sampai salah bawa atau ketinggalan. Bisa-bisa Mas di kasih peringatan oleh pak manager." seru Yoga dari dalam kamar mandi.
"Iya Mas sudah aku masukkan kedalam koper, juga pakaian santai dan pakaian kerja selama satu minggu di Surabaya." balas Mesya seraya menaruh pakaian terakhir yang sudah di lipat, lalu menarik resleting untuk di tutup.
"Ceklek!
Pria tampan beralis tebal dan berkumis tipis itu keluar dari kamar mandi. Aroma sabun dan shampo menguar bebas di penciuman Mesya. Wanita cantik tersebut menatap kagum pada sang suami saat melihat tubuh atletis Yoga bersama berjatuhannya air dari rambutnya yang hitam. Yoga menyugar rambutnya yang basah dan berdiri di depan cermin sambil menyugar rambutnya dengan tangan. Dari cermin Yoga menangkap wajah sang istri yang sedang menatap dirinya.
"Kenapa kau perhatikan aku seperti itu? Yoga tersenyum dan mendekati sang istri yang duduk di tepi ranjang. Terlihat kedua pipi Mesya bersemu merah. Di raihnya wajah sang istri lalu di ciumnya bibir ranum yang selalu menjadi candu bagi Yoga. Tidak ada penolakan sama sekali dari Mesya, sungguh ia sangat menikmati ciuman hangat dari Prayoga.
Tiba-tiba Yoga melepaskan pagutan nya "Ma'af kan Mas sayang, mas takut terlambat bila kita melakukannya dulu. Minggu depan setelah mas pulang dari dinas, mas janji akan membawa mu liburan ke pulau Dewata dan kita habiskan berdua disana." ujar Yoga, tangan kanannya mengusap-usap kepala Mesya.
Mata Mesya berbinar cerah, sebuah senyuman terukir di bibir mungilnya "Benarkah Mas? kita akan liburan di pulau Bali?
"Iya sayang, mas janji!"
Mesya langsung tersanjung dan masuk kedalam pelukan tubuh atletis yoga, di sandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. "Mas, berjanji lah untuk tidak akan pernah menduakan aku. Aku takut kau akan pergi meninggalkan ku." ucap Mesya getir
Deg! seketika jantung Yoga berdetak kencang, tenggorokan nya terasa tercekat, yoga menelan ludahnya berkali-kali. Ada perasaan bersalah karena telah mengkhianati dan menduakan istrinya yang setia.
"Hey kau ini bicara apa?! Diusapnya kepala Mesya "Tidak akan sayang, Mas tidak akan pernah mengkhianati mu, kau adalah cinta pertama dan terakhir ku, susah payah Mas mengejar dan mendapatkan cinta mu, tidak akan pernah Mas sia-siakan." Mesya semakin kuat memeluk tubuh atletis suaminya yang selalu menjadi candu bila sedang bermesraan.
Yoga menarik nafas dalam dan dihembuskan perlahan "Ma'afkan aku Mey, aku telah menduakan mu, tapi aku janji setelah Anggita melahirkan, aku akan menceraikan nya." gumam yoga dalam hati.
Sungguh Mesya sangat terpesona dengan kata-kata manis Prayoga, Pria tampan yang pernah menaklukan hatinya dan hidup bersamanya selama tiga tahun, namun Tuhan belum mempercayakan keturunan pada sepasang suami istri itu.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Mesya mengantarkan suaminya hingga depan pintu. "Mas berangkat dulu ya sayang, jaga dirimu baik-baik." Mesya mencium punggung tangan suaminya dan Yoga mencium kening sang istri penuh cinta.
Mobil sedan hitam milik yoga meninggalkan perkarangan rumah. Mesya pun telah bersiap-siap untuk berangkat ke butik, sebab begitu banyak pesanan di butik nya akhir-akhir ini.
***
Dua hari sudah Yoga pergi ke Surabaya tanpa ada kabar berita. Berkali-kali Mesya menghubungi dan mengirimkan pesan, namun masih saja ceklis.
"Mas kemana saja dirimu, kenapa sudah dua hari telpon mu tidak aktif, bahkan pesan ku masih ceklis satu." gumam Mesya lirih.
Ditaruhnya iPhone diatas meja kerjanya. Wanita itu mendorong kursi roda kebelakang dan berjalan kearah jendela, di tatapnya jalanan kota yang padat merayap "Tidak biasanya Mas yoga mematikan'telpon hingga berhari-hari." Mesya mendesah kuat, hingga suara ketukan pintu mengalihkan atensinya, pandangan matanya pindah kepintu yang tertutup.
__ADS_1
"Masuk!
'Ceklek, kreeekkk..
"Siang bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan ibu." Rara masih berdiri dan memegang handle pintu.
"Dimana tamunya?
"Dibawah, di ruangan tunggu."
"Ya sudah aku temui sekarang, kebetulan pekerjaan ku sudah selesai."
"Baik bu!" Rara menutup pintu itu kembali.
Mesya menuruni anak tangga dan berjalan mendekat kearah seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik
"Tante Merry! Sapa Mesya, wanita yang sapa itu sedang berdiri sambil melihat-lihat pakaian buatan Mesya, ia menoleh dan tersenyum saat pemilik butik itu jalan mendekat.
"Hey Mbak Mesya, apa kabar?' mereka berdua saling cipika-cipiki.
"Tante baru pulang dari Melbourne dua hari yang lalu. Gimana gaun pesta Tante sudah jadi?"
Mesya mengangguk "Sudah dari sebulan yang lalu Tan."
"Ya sudah aku transfer sisanya, juga tolong buatkan aku gaun pesta couple dengan suamiku, nanti modelnya Tante kirim. kebetulan Tante sudah ada desain nya sendiri kau tinggal merancang nya saja, soal harga Tante tidak masalah."
"Baiklah Tante akan aku kerjakan."
"kamu total semuanya, Tante bayar lunas."
"Nanti aku hitung-hitung dulu setelah Desain nya Tante kirim."
"Okeh kalau begitu, ya sudah Tante pulang dulu, nanti kabari saja ya."
"Oke Tan!
Mesya mengantarkan Tante Merry pelanggan setianya sampai depan pintu. Setelah itu ia berjalan kearah stand pakaian yang berjejer, lalu melihat satu-persatu model desain yang ia buat. Ada kebanggaan pada dirinya sendiri karena telah sukses menelurkan berbagai model pakaian wanita, khususnya busana muslimah. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi hingga banyak pelanggan dari kalangan sosialita datang berkunjung ke butiknya, sudah berapa banyak pakaiannya laris terjual bahkan sampai keluar kota.
__ADS_1
Tanpa sengaja seorang wanita bertubuh gempal menabrak Mesya yang sedang membetulkan patung manekin.
Patung manekin yang hampir jatuh, berhasil Mesya pegang.
"Ma'af Mbak! ibu itu merasa tak enak.
Mesya menoleh dan menatap wanita yang pernah ia kenal "Bukan kah anda ibu ketua RT di perumahan mertua saya?
Wanita paruh baya itu mengeryitkan keningnya "Iya saya bu RT, ibu mertua anda siapa?
Nesya tersenyum lalu mengulurkan tangannya "Perkenalkan bu, saya Mesya mantunya ibu Marni, waktu itu saya pernah datang kerumah ibu minta surat pengantar untuk mengurus KTP dan surat berharga milik Mas Yoga yang kecopetan."
"Oh iya.. iya saya ingat! mantu bu Marni, apa Mbak juga sedang belanja?
"Nggak bu, saya pemilik butik ini." ucap Mesya sambil tersenyum.
"Walah, nggak nyangka. Bu Marni punya mantu kaya dan cantik pula, pasti anaknya Bu Marni sangat beruntung mendapatkan wanita cantik dan kaya raya." ujar wanita gempal itu terkekeh.
Mesya hanya tersenyum, tiba-tiba ia teringat sesuatu "Ohya bu, bukankah ada arisan PKK di puncak dan menginap disana? kenapa ibu Rt tidak ikut?"
Wanita paruh baya itu mengeryitkan alisnya "Arisan PKK? nggak tuh! lagian untuk apa arisan pake menginap di puncak segala, ngabisin kantong suami jeung." wanita tersebut kembali terkekeh memarkan gigi nya yang berkawat.
Mesya terkejut dan hampir tak percaya, Kenapa mertuanya harus berbohong dan untuk apa ia meminta uang 5 juta? tapi ia memberikan 4juta. "Jadi, nggak ada arisan PKK di puncak ya bu?
"Nggak ada dan belum pernah kita adakan di puncak, paling juga di rumah warga yang kedapatan arisan." Bu Rt melihat raut wajah Mesya yang tiba-tiba pias "Memang nya ada apa ya jeung?"
"Ahh, Nggak ada apa-apa kok bu." Mesya memaksakan senyuman nya.
"Ya sudah silakan di lanjut belanja nya, saya mau ke ruangan saya dulu."
"Iya, silakan jeung."
Setelah berpamitan pada bu Rt, Mesya menaiki anak tangga dengan perasaan kalut dan bertanya-tanya "kenapa Mama harus berbohong padaku? memangnya kemana Mama pergi? Mesya membuang nafas kasar "Aku akan pergi kerumah mama dan mencari tahu sendiri."
💜💜💜
@Bersambung
__ADS_1