Dicampakkan Suami Dinikahi CEO

Dicampakkan Suami Dinikahi CEO
Mencari kesempatan


__ADS_3

POV YOGA


Aku meninggalkan rumahku dengan perasaan bersalah, sungguh aku sangat menyayangi Meisya istriku, namun aku harus bertanggung jawab pada Anggita karena ia telah mengandung darah daging ku hasil perbuatan kami berdua. cintaku kepada Mesya masih sangat besar dan ia masih bertahta di hatiku. Sementara Anggita wanita yang sangat menggairahkan dan bisa memuaskan ku, aku sangat membutuhkan kehangatan tubuhnya yang tidak pernah bisa Mesya berikan padaku.


Aku tidak pernah tahu apakah aku mencintai Anggita atau hanya sekedar pelampiasan nafsu ku saja, yang pastinya kami sama-sama terpuaskan.


Mobilku sudah sampai di depan gerbang rumah Mama, ku bunyikan klakson tanpa aku harus turun. Kedua wanita yang sangat aku sayangi keluar dari rumah sambil menenteng sebuah tas. Setelah Mama menggembok pintu gerbang, ia langsung masuk kedalam mobil dan duduk di samping ku. Sementara Geisha duduk di kursi belakang. ku jalankan mobil meninggalkan kediaman rumah Mama.


"Nggak ada yang tahu kan mah, kalau kita akan pergi ke Surabaya?


"Loh emang nya Kenapa kalau ada yang tahu? tanya Mama mendelik


"Bukan begitu Mah! bagaimna kalau Mesya tahu dan curiga kita pergi ke Surabaya dalam waktu yang sama. Sedangkan aku berbohong pada Mesya dengan mengatakan pergi ke Surabaya karena tugas dari kantor." ucapku yang mulai kesal.


"kamu tidak usah khawatir, tetangga tidak ada yang tahu Mama pergi ke Surabaya. Mereka tahunya Mama dan Geisha pergi menemui saudara di kampung."


Aku menarik nafas dalam-dalam, ada sedikit kelegaan dari ucapan Mama "Tolong rahasiakan ini mah, jangan sampai Mesya tahu dulu aku menikahi Anggita sahabatnya. pasti dia akan marah dan tidak akan pernah lagi memberikan Mama uang belanja bulanan.


"Ya nggak bisa begitu donk, kan masih ada kamu yang biayai Mama! kenapa sih Ga, kamu masih saja takut pada wanita mandul itu! seharusnya dia sadar diri dan memberikan izin suaminya nikah lagi! tukas Mama mencabik.


"Kenapa sih kak, kakak Nggak tinggalkan saja kak Mesya? lagian sekarang kakak sudah punya keturunan dari kak Anggita." Ucap adikku yang ikut menimpali.


"Kau bisa diam tidak! nggak usah ikut campur urusan kakak! tugas kamu selesaikan kuliah sampai tuntas! seharusnya kamu berpikir, darimana biaya kuliah mu kalau bukan di bantu oleh kak Mesya!" kataku yang mulai tersulut emosi.


"Apa yang dikatakan Geisha ada benarnya, Ga! kamu bisa saja ceraikan wanita mandul itu yang sudah tiga tahun tidak memberikan mu keturunan."

__ADS_1


"Mama sama saja dengan Geisha! aku masih sangat mencintai Mesya, hanya satu kekurangan dia, tidak bisa memberikan ku keturunan. Tapi aku akan terus mempertahankan Mesya sebagai isteri ku."


"Ya sudah lah terserah kamu saja! Mama nggak yakin kamu bisa mempertahankan dua istri!" ku diamkan saja mama yang terus mengoceh, rasanya malas menimpali omongan Mama yang hanya mau menang sendiri.


Mobil sudah berhenti di halaman rumah Anggita, menempuh perjalanan tujuh jam membuat ku sangat lelah. Anggita keluar dari rumah bersama keluarga nya dan menyambut kedatangan kami bertiga dengan ramah


"Sudah sampai mas? Anggita tersenyum sumringah, rasa lelah ku terbayar sudah saat melihat wanita cantik yang akan menjadi ibu dari anakku.


"Mas kangen banget, baru sehari nggak ketemu rasanya setahun." bisik ku sambil terkekeh.


"Ahh gombal! ucapnya manja sambil mencubit pinggang ku dan tersenyum malu-malu, membuat libido ku langsung naik.


"Awas ya, kalau sudah sah Mas terkam habis-habisan, sampai kamu nggak bisa bangun lagi." ucap ku menggoda dan membuat wajah Anggita bersemu merah


***


"Saya terima nikah dan kawinnya Anggita Damayanti dengan Mas kawin satu set perhiasan di bayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah!


"Alhamdulillah..."


Kini aku sudah sah sebagai suami dari Anggita, wanita yang akan melahirkan anakku. ku cium kening istriku dan ia mencium punggung tangan ku dengan takzim. Kami berdua merayakan pesta pernikahan besar yang sudah di persiapkan oleh kelurga Anggita setelah akad nikah. Banyak sambutan hangat dari para para tamu undangan dan kerabat Anggita yang ikut meriahkan acara pernikahan kami.

__ADS_1


Sudah tiga hari aku tidak menghubungi Mesya, rasa bersalah dan rindu yang memuncak membuat ku teringat dirinya. kami berdua baru saja menyelesaikan aktivitas olahraga malam yang terus kami lakukan selama di Surabaya. Tidak pernah kami absen melakukan hubungan intim. Dari pagi, siang, sore dan malam hari terus kami lakukan, seakan tidak pernah ada bosannya. kami keluar kamar kalau mau makan saja dan sesekali bercengkrama dengan kelurga.


"Sayang, mana ponsel mas?" tanya ku pada Anggita, yang sudah menyita ponsel ku tanpa memberikan aku ijin untuk menghubungi Mesya.


"Untuk apa sih Mas? pasti mau telpon wanita mandul itu kan?


"Mesya juga istri mas, kau jangan cemburu begitu dong yank." ku cium pipinya yang mulai chubby.


"Mas, cuma seminggu kita bersama disini. Setelah mas pulang sudah sepenuhnya milik Mesya, aku di apartemen sendiri tanpa ada Mas di sisiku." keluh Anggita seraya mengerucutkan bibirnya.


"Mas kan bisa bersama kamu setelah pulang kerja, dan malam nya baru pulang."


"Nggak bisa gitu mas, aku sedang hamil. Anak kita butuh perhatian ayahnya. kalau aku dan bayi kita kenapa-napa gimana?! wanita yang sudah menjadi istri ku itu merajuk walau hanya menjadi istri kedua.


Anggita benar, dia butuh perhatian ku karena ada anakku dalam kandungannya. Aku juga harus memikirkan hidup dan masa depannya. Aku harus bisa mengambil sikap agar kedua istriku bisa hidup damai. "Ya sudah nanti Mas Pikirkan ya, agar kita bisa selalu bersama." ucap ku meyakinkan Gita sambil mengusap perutnya yang masih datar.


"Aku keluar dulu Mas, mau ambil minum."


Aku mengangguk, lalu mencari ponselku di bawah laci nakas setelah kepergian Anggita.. filing ku benar, ternyata Anggita menaruh ponselku disana. Dengan cepat aku aktifkan ponsel dan mulai menghubungi Meisya. Padahal Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari tetapi rasa rindu dan khawatir terus menghantui pikiran ku, apalagi sudah tiga hari tidak ada kabar dari ku. ku lakukan panggilan pada istri sah ku Mesya, dalam panggilan tiga kali terdengar Mesya menyapaku.


"Hallo mas.."


kami mulai mengobrol walau sebentar, yang membuatku tidak tenang, tiba-tiba Mesya menanyakan keberadaan Mama, tentu saja aku bingung harus jawab apa? tidak mungkin aku berkata jujur, dan ku jawab hanya sekenanya. Tetapi Mesya masih terus mencecar menanyakan kepergian mama. belum sempat aku menjawabnya, Anggita sudah memanggil nama ku dan berdiri di ambang pintu. Aku memutuskan sambungan telepon Mesya sepihak, dengan alasan kalau ada sekretaris bosku yang memanggil.


💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2