
Mesya hanya mengangguk pasrah tanpa bisa mencegah. Gegas ia bersiap-siap untuk berangkat ke butik. Mesya menutup pintu rumah dan melihat Marni sudah masuk kedalam mobil dan meninggalkan kediamannya. Ia hanya gelengkan kepala melihat kelakuan ibu mertuanya yang tidak pernah berubah.
Mobil sedan merah melaju dengan cepat membelah jalanan ibu kota yang masih regang. Satu jam kemudian, Mesya sampai di depan pertokoan butik.
Seorang sekurity yang berjaga di depan pintu, membuka pintu kaca untuk Mesya masuk.
"Selamat pagi Bu.." sapa pak Alan sopan.
Mesya mengangguk bersama senyuman tipis di bibirnya. wanita berparas cantik berpostur tinggi semampai itu mulai mengamati satu-persatu pekerjaan karyawan nya yang sudah datang lebih awal.
"Pagi bu.." lima orang karyawan yang terdiri dari satu orang kasir, satu orang operator dan tiga orang bagian pelayanan membungkuk hormat.
Mesya mengangguk sebagai respon.
"Apa stok barang sudah cukup? seperti yang sudah saya jadwal kan dari kemaren, hari ini akan ada diskon besar-besaran hingga sampai 50%, tetapi khusus untuk stok barang yang sudah tidak ada seri nya lagi."
"Sudah kami kumpulkan produk pakaian yang sudah tidak berseri bu, dan sudah kami taruh di dalam box pakaian." kata salah seorang karyawan yang memakai seragam biru.
"Ya sudah saya keatas dulu. Nanti setelah jam makan siang kita adakan meeting. Sebab ada beberapa produk lokal yang akan masuk kedalam butik kita."
"Kenapa tidak produk kita sendiri saja yang di banyakin bu? kebanyakan pelanggan mencari produk buatan Mesya collection."
"Beberapa bulan ini kita keteteran, ada beberapa pelanggan yang minta dibuatkan pakaian seragam kantor yang jumlahnya tidak sedikit, sedang penjahit yang profesional dan handal belum banyak, tetapi saya masih mencari penjahit yang pengerjaannya berkualitas, makanya untuk sementara kita bekerja sama dengan produk lokal yang kualitas barangnya juga bagus."
"Baik bu.."
Mesya melangkah kakinya menaiki lantai dua. Sebelum ia naik ke lantai tiga, tempat yang sudah disulap menjadi kantor dan ruangan desain. Mesya berjalan masuk kedalam sebuah ruangan produksi, dimana beberapa karyawan sedang menjahit pola yang Mesya berikan. Suara mesin jahit terdengar nyaring hingga Mesya memanggil salah satu karyawan nya untuk menemuinya di lantai tiga.
Mesya memasuki ruangan kerja, dan melihat Rara dan Inez, asisten pribadinya yang sangat profesional dalam mengerjakan tugas-tugas yang ia berikan.
"Sudah sampai mana pengerjaan nya? Mesya bertanya pada Inez yang sedang memayet gaun kebaya putih.
"Sudah 80% pengerjaan nya bu."
"Semoga nanti malam selesai, biar besok bisa ibu berikan pada sahabat ibu, Anggita." Mesya memperhatikan pekerjaan dua orang gadis yang sudah ia percaya, melihat secara mendetail pemasangan pernak-pernik dan payet-payet yang bertebaran di kebaya pengantin itu.
"Anggita pasti tampak cantik memakai gaun kebaya ini." gumam Mesya tersenyum lembut.
"Rara!
"Iya bu?
"Tolong kau carikan pakaian Pria. kemeja putih, dan setelan jas berwarna putih yang berada di etalase khusus pakaian pria."
__ADS_1
Rara mengentikan aktivitas nya yang sedang memasang pernak-pernik payet gaun malam milik istri pejabat.
Tok, tok, tok...
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Mesya "Masuk!
"Siang bu. Tadi ibu meminta saya kesini."
"Silakan duduk pak Maman."
"Terima kasih bu." ucap Maman, yang bertugas sebagai kepala produksi, dan duduk di salah bangku yang berada di ruangan Mesya.
"Pak, saya minta tolong. Bisa di percepat lagi pengerjaan baju batik seragam perkantoran PT Surya sentosa? mereka meminta secepatnya selesai dalam minggu ini, di karenakan akan adanya acara launching perkantoran baru."
"Pengerjaan sudah 70% bu, saya usahakan secepatnya selesai dalam minggu ini."
"Kalau begitu, mereka di lemburkan saja. Saya akan bayar 2x lipat saat perhitungan lembur. karena saya tidak ingin mengecewakan pelanggan yang sudah memberikan kepercayaan di butik saya ini."
"Wah ide bagus itu bu. Baiklah saya akan umumkan pada para penjahit agar mereka lebih semangat lagi bekerja."
"Terimakasih Pak Maman."
"Kalau begitu saya pamit keluar."
Mesya mengangguk. Setelah kepergian Pak Maman, Mesya meneruskan aktivitas nya.
["Mas, aku udah nunggu di depan lobby!"]
["Oke, aku kebawah."]
Gegas Pria tampan beralis tebal itu membereskan berkas-berkas nya yang berada di atas meja, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan nya.
"Pak Yoga!
Suara seorang wanita menghentikan langkahnya saat ingin memasuki lift.
"Ada apa?!
"Bapak mau kemana? jam setengah satu akan ada meeting di ruangan direktur utama." ujar sekretaris baru Yoga.
Yoga melirik jam di pergelangan tangannya "Masih ada waktu 25 menit untuk bertemu Anggita." gumam nya.
"Baiklah, nanti saya keruangan pak direktur. Saya mau makan siang dulu sebentar."
__ADS_1
"Tapi pak__"
Yoga masuk kedalam lift yang sudah terbuka, tanpa menghiraukan panggilan sekertaris nya.
"Mas! kenapa lama banget sih! aku nungguin udah lumutan tau! gerutu Anggita sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tadi lagi banyak kerjaan, Mas kan harus selesaikan tugas untuk satu minggu kedepan, karena udah ajukan cuti satu minggu."
"Ya udah deh, aku udah laper banget nih!"
"Ya sudah yuk kita ke cafe dekat sini saja makannya, soalnya jam setengah satu ada meeting dadakan di ruangan direktur."
Anggita mengangguk dan mengikuti langkah yoga menuju sebuah kafe yang berada di dekat perkantoran nya.
"Kamu mau makan apa?
"Beef steak sama es jeruk Mas!
Yoga menjentikkan jarinya kearah seorang waiters, pria seragam putih hitam itu mendekati meja yoga "Siang pak, Bu. Anda ingin pesan apa?
"Dua beef steak premium dan es jeruk nya juga dua ya."
"Baik Pak! tolong di tunggu pesanan nya."
Setelah kepergian waiters itu, Anggita mulai bersuara "Mas, bagaimana? apa kau sudah minta izin dengan Mesya?
Wajah Yoga berbinar cerah, tersungging senyuman sumringah. Yoga menggenggam tangan Anggita erat dan dicium nya. "Tentu saja! Mesya percaya dengan Mas, kalau akan perjalanan dinas ke luar kota. Awalnya aku keceplosan bilang Surabaya' saat ia bertanya mau tugas di kota mana."
"Terus..." Anggita masih penasaran mendengar cerita suami sahabatnya.
"Ya akhirnya percaya setalah Mas meyakinkan Mesya."
Anggita bernafas lega "Apa dia tidak curiga padamu Mas, kalau aku akan nikah di Surabaya, dan mas juga bilang perjalanan bisnisnya ke kota yang sama dengan ku."
"Kalau di lihat dari raut wajahnya, ada kecurigaan sedikit, tapi akhirnya Mesya percaya setelah aku meyakinkan."
Tak berapa lama seorang waiters datang dengan membawa pesanan mereka berdua.
"Oiya Mas, Mama, Papa dan Geisha pasti ikut kan? soalnya di Surabaya banyak keluarga aku orang terpandang loh! Anggita berbicara sambil memasukkan potongan beef kedalam mulutnya.
"Pasti donk, apalagi ada calon cucu di rahim mu, sudah pasti mereka ikut ke Surabaya."
Anggita tersenyum puas, sebentar lagi ia akan menjadi Nyonya Prayoga Damarwangsa. pria tampan yang sudah lama menjadi incarannya.
__ADS_1
💜💜💜💜
@Bersambung....